Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
41. Pertemuan dua guru BK!


__ADS_3

Jessi tampak senang menguasai pikiran Jeniffer sepenuhnya. Entitas lain dari Jeniffer melakukan sesuka hati tanpa memperdulikan dampak perbuatannya. Seperti halnya Mister Alvin yang mulai mencurigai keanehan yang ditunjukkan oleh Jeniffer.


Sang guru BK bertekad akan menyelidiki kecurigaannya tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun karena dia merasa akan terjadi hal buruk jika kebenaran mulai terungkap.


"Jeniffer Sukmajaya. Apa kamu tahu perilaku kamu seperti ini menimbulkan prasangka buruk mengenai kamu?" tanya Mister Alvin pada dirinya setelah mempersilahkan ketiga murid itu keluar dari ruangannya.


"Sejak kapan Jeniffer bertingkah aneh seperti ini?" tanyanya kembali sembari membuka catatan siswa yang bermasalah.


Dengan seksama Mister Alvin membuka profil dari Jeniffer dan saat mengetahui bahwa guru BK Jeniffer semasa SMP adalah Mister Andrew barulah dia menyadari bahwa Andrew itu adalah teman semasa SMAnya. Mungkin melakukan pertemuan sesekali dengan Andrew untuk membicarakan masalah Jeniffer dapat membantu mengatasi masalahnya.


Mister Alvin dengan cepat mencari nama Andrew di dalam grup chat alumni SMAnya, setelah memeriksa satu persatu barulah dia menemukan apa yang dia cari. Charles Andrew Jonathan.


[Bro, ini saya Alvin Tirtayasa. Bisa kita ketemu? Saya mau membicarakan tentang mantan murid kamu yang bernama Jeniffer Sukmajaya. Kebetulan saya adalah guru BK Jeniffer bersekolah di SMA.]


Send dan tercentang 2 abu-abu. Mister Alvin menunggu semenit namun centang abu-abu tak kunjung menjadi biru, akhirnya pria pertengahan 30 tahunan itu menyimpulkan bahwa Andrew sedang sibuk dengan muridnya. Wajar saja karena ini masih jam pelajaran sekolah.


"Ya sudahlah, tunggu dia menjawab saja. Lebih baik aku menyegarkan diri dengan kopi hangat," ucapnya lalu beranjak keluar dari ruangan kerjanya.


Saat sedang membayar kopi pesanannya, smartphone Mister Alvin berbunyi. Dan setelah menentukan di mana dirinya duduk, barulah Mister Alvin mengambil smartphonenya yang di letakkan di saku celana.


[Hai, sori baru balas. Tadi sibuk natar anak-anak yang badung. Mau membicarakan tentang Jeniffer ya? Boleh, bagaimana kalau kita ketemu sore ini jam 5 atau 6 di Mall XXX]


Mister Alvin pun tersenyum saat mendengar jawaban dari teman SMA yang sekarang menjadi rekan sejawatnya. Mungkin saja dari Andrew, dia dapat mengumpulkan kepingan puzzle yang hilang.


[Oke, sampai ketemu nanti sore.]


Setelah itu tidak ada jawaban dari chatnya dan Mister Alvin berpendapat bahwa Mister Andrew sudah menangkap maksudnya. Dengan segera dia menghabiskan kopi yang tersisa, setidaknya ada rekan yang akan memberi petunjuk meskipun sedikit.


***

__ADS_1


Sesuai dengan kesepakatan awal, kedua guru BK itu bertemu di Mall XXX, karena ini sudah Jumat sore para pengunjung pun semakin banyak memadati pusat perbelanjaan ini.


Mister Alvin tersenyum saat mendapati sosok yang melambai ke arahnya. Dan dia juga baru tersadar jika keduanya memakai seragam batik pada hari ini. Yang membedakannya adalah tentu saja warna motif batik keduanya. Batik yang dikenakan oleh Mister Alvin berwarna coklat dengan gambar bunga teratai emas, sementara batik yang dikenakan oleh Mister Andrew berwarna biru langit dengan gambar buku dan pena.


"Sudah lama nunggunya, Mister Andrew?" tanya Mister Alvin saat dirinya sudah duduk. Dia ingin meredakan ketegangan yang sedari tadi dirasakan saat di sekolah.


Mister Andrew memicingkan mata dan meninju pelan lengan Mister Alvin seraya berkata," Please, Vin. Jangan manggil mister lagi memangnya Lo ga bosen apa di panggil Mister seharian," ucap Mister Andrew sembari tertawa kencang.


"Ya bosen juga sih. Gimana udan pesan minum atau cemilan?" tanya Mister Alvin saat melihat meja mereka kosong melompong.


"Belum pesan dan gua juga sebenernya bosen minuman kafe. Pengen cemilan kafenya aja. Oh iya jangan pake saya, kesannya formal banget. Memangnya lo ini lagi menghadapi murid bermasalahnya."


"Oke, gua kirain karena udah jadi guru BK jadi mesti jaga image sedikit.'


"Ya kita kan ga lagi di sekolah. Mendingan kita pesen minuman dan cemilan, kelihatannya yang mau lo omongin ini serius," ucap Mister Alvin sembari memanggil pelayan yang dekat dengan posisi mereka berada.


Tak lama kemudian meja keduanya sudah dipenuhi 2 gelas kopi dan 2 piring berisikan camilan. Mister Alvin memilih Hot Americano dengan tiramisu cake sementara Misteri Andrew memilih es cappucino dengan red Velvet cake.


"Maksudnya membuat para guru pusing gimana?" tanya Mister Alvin setelah menghabiskan potongan tiramisu cake yang berada di mulutnya.


"Jadi gini Vin..." Mister Alvin memasang fokusnya agar tidak melewatkan satupun penjelasan yang diberikan oleh rekannya ini. Dia tidak menyangka kelakuan Jeniffer sewaktu masih SMP ternyata sangat bengal dan pembangkang. Sangat berbeda sekali saat gadis itu mulai memasuki Gold Lotus Flower High School sebagai murid baru.


"Gua rasa mungkin salah satu faktor itu anak jadi seperti itu adalah tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Jeniffer di asuh oleh kakek nenek dan omnya semenjak usia 1 tahun. Desas desus mengatakan bahwa ibunya Jeniffer meninggal karena terlalu banyak meminum obat tidur dan ayahnya tidak mau merawatnya karena dia anak perempuan." Mister Andrew mengakhiri ceritanya dengan menghela nafas panjang.


Dia tahu yang dibutuhkan Jeniffer adalah figur orang tua, meskipun Stanley dan Camelia melimpahi gadis itu dengan kasih sayang tetap saja tidak akan pernah dapat menggantikan peran orang tua.


"Sinting! Memang sekarang udah tahun berapa? Kenapa masih saja membedakan antara anak laki-laki dan perempuan," umpat Mister Alvin saat mendengarkan cerita dari Mister Andrew.


"Ya, dan itulah kenyataannya. Meskipun keluarga Zedekiah menyembunyikan tapi tetap saja akan bocor dari keluarga Sukmajaya. Kita tahu keluarga Sukmajaya seperti apa bukan? Banyak yang memanfaatkan isu itu untuk menjatuhkan sesamanya."

__ADS_1


"Zedekiah, Sukmajaya. Ah Jeniffer Sukmajaya dan Edward Sukmajaya! Ini sepertinya mulai menemukan titik terangnya!" Pekik Mister Alvin setengah berteriak dan menyebabkan perhatian pengunjung kafe tertuju kepada keduanya. Andrew sampai harus meminta maaf atas kelakuan Alvin kepada semua orang.


"Lo kenal juga Edward Sukmajaya?" tanya Edward memicingkan mata berharap tebakannya tidak tepat.


"Dia masuk sebagai murid baru di Gold Lotus Flower High School." Andrew menghela nafas kasar, sepertinya dugaan akan menjadi kenyataan.


"Dulu Jeniffer bertingkah bengal dan pembangkang saat bertemu dengan Edward. Sebelumnya dia anak yang manis apalagi Jeniffer itu seorang selegram dengan followers mencapai ratusan ribu."


"Gold Lotus Flower High School juga merupakan SMA di mana para keturunan Sukmajaya bersekolah dan dalam kasus ini ada 2 Sukmajaya yang bersekolah di sini. Yaitu Jeniffer dan Andrew," penjelasan Mister Alvin membuat Mister Andrew melebarkan matanya.


"Dan dalam kasus ini Jeniffer sengaja memilih sekolah Gold Lotus Flower High School untuk mengincar Edward. Kenapa gua punya perasaan keduanya ada hubungan darah satu sama lainnya." ucap Mister Andrew membuat Mister Alvin terkejut.


"Kalian para pria membicarakan hal yang berat. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh Jeniffer adalah kasih sayang seorang ibu." Suara seorang wanita mengalihkan antensi keduanya.


"Dokter Milly, kebetulan sekali kita bertemu di sini, mau bergabung?" tanya Mister Andrew kepada dokter jaga yang bertugas di sekolahnya.


"Tentu saja saya mau bergabung, sudah dari kejadian Jeniffer pingsan itu, saya penasaran dengan tingkah laku Jeniffer. Dan kesimpulan sementara perilaku gadis itu adalah kekurangan kasih sayang seorang ibu."


"Tidak sopan sekali wanita ini menyela pembicaraan antara kedua pria," ucap Mister Andrew dengan sinis.


"Melihat reaksi kalian berdua, sepertinya kalian saling kenal ya?" tanya Mister Alvin sambil memandang ke arah Mister Andrew dan dokter Milly.


"Dia junior gua waktu kuliah meskipun beda jurusan," jelas Mister Andrew tak mau menatap dokter Milly.


"Dunia ini sempit sekali rupanya," sahut Mister Alvin sembari berdecak.


"Ya sesempit dunia novel dan komik," celetuk dokter Milly tidak peduli dengan ekspresi sebal yang ditunjukkan oleh Mister Andrew.


"Lebih baik kita kembali ke fokus utama pembicaraan yaitu Jeniffer Sukmajaya," Pinta Mister Alvin yang jengah melihat suasana mulai memanas.

__ADS_1


Ketiganya kembali membicarakan Jeniffer dan sepakat bahwa gadis itu memang memiliki masalah dengan kepribadiannya dan itulah tugas dari Mister Alvin sebagai guru BK untuk dapat mengungkapkan keanehan dari Jeniffer.


__ADS_2