
Stanley dan Camelia serta Jorgie dan Aster sedang menunggu kedatangan keempat orang itu di rumah Stanley. Jorgie yang mendengar kabar keponakan pingsan langsung mengajak istri dan anaknya untuk menuju kediaman orang tuanya meskipun hari sudah cukup malam yakni jam 7 malam.
David sedang terlelap di sofa membuat Aster dapat sedikit merilekskan tubuhnya sejenak dengan meminum jus buah kemasan rasa leci yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin.
Tak lama berselang mobil yang dikemudikan oleh Joseph sudah memasuki garasi yang dapat memuat 4 mobil itu. Joseph masih menggendong Jeniffer karena gadis itu masih terlihat pucat dan lemas. Pemuda itu menggendong gadis itu hingga menuju ke kamarnya dan setelah itu keluar menemui semua orang yang berada di ruang tamu ini.
"Jadi bagaimana ceritanya sampai Jeniffer bisa pingsan seperti ini?" tanya Camelia dengan nada khawatir.
Karina menciptakan tentang pertemuan Jeniffer dan keluarga Sukmajaya serta perlakuan ayah dan nenek kandung Jennifer itu terhadap gadis belia itu. Camelia menggeram sembari mengepalkan tangan tak menyangka bahwa apa menjadi ketakutannya selama ini terjadi juga. Saat di mana bertemu dengan keluarga ayah kandungnya.
"Maafkan kami yang tak dapat menjaga Jeniffer sampai dia jatuh pingsan," ucap Karina dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa, itu bukan kesalahan kalian. Ini yang dinamakan bahwa kita tidak dapat melawan takdir. Sudah takdirnya Jeniffer bertemu dengan keluarga Sukmajaya," kata Stanley sembari memandang kedua besannya.
"Oh iya ini vitamin-vitamin yang harus diminum oleh Jeniffer," ujar Karina yang lalu mengulurkan sebuah kantung plastik berlogo klinik bersalin itu.
Camelia menerimanya dengan raut wajah penuh keheranan yang akhirnya berkata," Jeniffer ke klinik kandungan?"
"Klinik kandungan itu adalah yang paling dekat dengan posisi Jeniffer pingsan tadi, tidak mungkin juga membuang waktu membawanya ke klinik umum atau rumah sakit disaat wajahnya sudah semakin pucat," keterangan Karina membuat semuanya mengangguk.
"Jeniffer tidak usah diet lagi ya, Mil. Tadi dokternya bilang Jeniffer cuma anemia dan tekanan darahnya rendah,' ucap Karina dengan serius.
__ADS_1
"Aku udah bilang sama Jeniffer tidak usah diet-diet enggak jelas gitu. Apa lagi yang mau dikurusin badannya aja udah kyk lidi," sahut Camelia sembari mendengkus kesal.
"Kalau gitu Jorgie, Aster sama David pulang duluan ya. Syukurlah Jeniffer tidak sakit yang serius," perkataan Jorgie memutus komunikasi diantara kedua wanita lanjut usia itu.
Setelah Jorgie dan Aster berpamitan kini tinggallah 2 pasang pasutri lanjut usia itu dan seorang pemuda yang berada di ruangan tamu yang didesain dengan warna hitam dan putih itu.
"Besok Jeniffer sebaiknya jangan sekolah dulu, tubuhnya masih syock sepertinya," usul Stanley setelah mendengar cerita lengkap versi James dan Joseph dan feelingnya sebagai seorang yang sudah tua mengatakan bahwa Joseph memiliki perasaan untuk sang cucu.
Entah Stanley harus senang atau bagaimana dalam menanggapi perasaan Jeniffer yang ternyata berbalas ini. Haruskah dia mengizinkan sang cucu berhubungan dengan adik ipar sang anak ataukah melarang agar perasaan uang yang tumbuh diantara keduanya tidak semakin subur.
"Iya lebih baik Jeniffer istirahat 1 atau 2 hari lagi. Aku juga takut dia akan kembali pingsan apalagi ternyata aku baru tahu kalau anaknya Verry juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Jeniffer," Camelia menimpali perkataan sang suami saat dia mendengar berita itu dari temannya yang anaknya juga bersekolah di Gold Lotus Flower High School.
"Kamu serius,Ma? Apakah ini kebetulan ataukah Jeniffer memang sudah mengetahui jika anaknya Verry akan bersekolah di sana karena itu dia memaksa diri agar dapat masuk ke sana?" ucap Stanley yang mulai mengerti motif sang cucu memilih bersekolah di SMA elit tersebut.
"Tapi, Pa Ma Joseph baru teringat jika pernah melihat ketiga orang itu berada di sekitar rumah kita beberapa hari yang lalu. Apakah mungkin keluar busuk majaya bertetangga dengan kita?" Josep yang tiba-tiba teringat akan kejadian yang dilihatnya beberapa hari yang lalu.
Dalam memorinya pemuda itu melihat Gilda membentak-bentak seorang pemulung yang sedang mengais tempat sampah mencari barang yang sekiranya dapat ditukarkan dengan uang. Dan lama kemudian keluarlah seorang wanita yang lebih muda yang menatap jijik pemulung itu.
"Hey, bagaimana bisa pemulung seperti kamu dapat masuk ke komplek ini. Jangan-jangan kamu masuk saat nggak ada yang mengawasi di pintu gerbang. Ngaku kamu mau mencuri ya!" bentak Risda pada pemulung wanita yang terlihat lelah dan layu itu.
Dan jangan lupakan juga ada di mana hari Joseph melihat Verry yang dengan seenaknya membuang puntung rokok dan sampah bungkus makanan kecil di selokan perumahan mereka yang mengakibatkan saluran air itu tersumbat.
__ADS_1
"Kamu serius Joseph! Tidak salah lihat atau mengenali orang?" tanya Stanley sambil memegang bahu pemuda itu dengan bergetar.
"Tidak mungkin saya saya lihat bahkan karena geram dengan perbuatan-perbuatan mereka saya sampai mengambil foto-foto tentunya tanpa sepengetahuan mereka." kata Joseph kukuh dengan apa yang telah dilihatnya beberapa hari yang lalu.
" Ini kalau tidak percaya kalian dapat bandingkan sendiri muka ketiga orang yang tadi kita temui sama atau berbeda," ucapnya lagi sembari mengeluarkan smartphone-nya yang berada di dalam tas selempang.
Keempat orang tua itu secara bergiliran melihat dan beberapa saat kemudian mereka semua menghembuskan nafas berkali-kali sukar menerima kenyataan bahwa keluarga Sukmajaya ternyata berasa didekat mereka selama ini tanpa disadari.
"Benar itu keluarga Sukmajaya, koq kita ga tahu ya mereka tetanggaan sama kita?" tanya Karina bingung.
"Ya wajar saja kita tidak tahu kalau tetanggaan sama keluarga Sukmajaya, kita kan belum lama tinggal di sana," ucap James sembari menepuk bahu istrinya.
"Berarti kita sekarang hanya dapat berbuat semampu kita untuk menghindarkan pertemuan antara Jeniffer, jadi seandainya di masa mendatang anak kita ketemu sama keluarga ayah kandungnya itu di luar kuasa dan kehendak kita sebagai manusia," sahut Stanley dengan pasrah.
Mungkin sudah saatnya juga membiarkan Jeniffer mengenal keluarga ayah kandungnya meskipun Sukmajaya tidak mengakui gadis itu sebagai keturunannya. Itu hak dari kedua pihak mau bersikap seperti apa, yang pastinya dia dan Camelia akan membesarkan satu-satunya peninggalan sang putri yang tersisa yaitu Jeniffer.
Setidaknya hingga gadis itu menikah dan menemukan pria yang akan menggantikan peran mereka untuk menjaga Jeniffer barulah Stanley akan merasa lega. Kali ini tidak akan dia biarkan Jeniffer salah memilih calon suami karena Stanley tidak ingin kejadian yang menimpa Meylani juga dirasakan oleh Jeniffer.
"Kalau seandainya Jeniffer memiliki motif terhadap keluarga ayah kandungnya bagaimana?" pertanyaan Joseph yang tiba-tiba menghentak kesadaran Stanley.
"Motif seperti apa yang kamu maksud?" tanya Stanley yang tidak dapat mengalihkan pikiran buruknya mengenai Jeniffer dan keluarga Sukmajaya.
__ADS_1
"Entahlah, Shuk. Aku merasa banyak hal yang janggal disini tapi aku tidak tahu harus menjelaskan dan menjelaskan seperti apa, yang jelas perasaanku berkata akan ada hal buruk yang bakal terjadi di masa depan," ucap Joseph sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Para orang dewasa sudah mencurigai Jeniffer akankah Jeniffer dan Jessi menjalankan aksi membalas dendam terhadap keluarga yang sudah membuang bahkan pernah mencelakakan dirinya?