
Joseph yang mendapatkan kabar bahwa Jeniffer dan Edward terlihat di daerah Salatiga segera memberi tahukan kepada orang tuanya dan keluarga kakak iparnya. Hasilnya adalah keempat pria itu sepakat untuk menyusul ke sana dan meminta para wanita untuk menunggu hasilnya di rumah.
Joseph akhirnya mengajukan izin shooting mendadak karena alasan keluarga yang untungnya disetujui sang atasan karena Joseph jarang memakai jata cutinya selama 3 tahun ini
"Joseph, menurut kamu kenapa ya Jeniffer bisa berbuat nekat seperti itu?" tanya James saat Joseph sedang mengemudi.
"Ini baru dugaan Joseph sementara ya, Pa, Joseph pernah bertemu Jeniffer di restoran Padang anehnya saat dipanggil anak itu malah diem bengong dan setelah sadar kayak orang linglung Kenapa bisa berada di situ," ucap Joseph sembari menggali ingatannya.
"Ah, Papa kira Papa doang yang merasakan hal yang aneh mengenai Jeniffer ternyata kamu juga toh," ucapan James membuat Joseph menoleh sekilas ke arah sang ayah dengan tatapan bingung yang amat kentara.
"Maksud Papa apa?" tanya Joseph.
"Papa pernah lihat Jeniffer malam-malam mungkin jam 8 atau 9 dan anehnya dia seperti tidak mengenali Papa dan gaya pakaiannya tidak seperti Jeniffer yang biasanya feminim." Joseph terdiam saat mendengar perkataan dari sang ayah.
"Apa mungkin Jeniffer itu punya kepribadian ganda?" tanya Joseph mencetuskan yang ada dalam pikirannya.
"Papa juga tidak yakin, hanya saja dari ciri-ciri yang kamu katakan dan Papa lihat memang sepertinya Jeniffer mempunyai masalah dengan mentalnya," Joseph menghela nafas berkali-kali.
Mengapa setiap perempuan yang dekat dirinya memiliki masalah mental, masih lekat dalam ingatan Joseph bagaimana Aster, sang kakak menderita depresi dan harus mendapatkan bantuan dari psikolog untuk menyembuhkannya. Apa nanti artinya Jeniffer juga akan mendapatkan pengobatan dari tenaga ahli
"Pa, nanti di depan ada rest area gantian nyetirnya ya? Joseph udah pegel banget, kita istirahat aja dulu buat makan," ucap Joseph yang mulai merasa penat di kepalanya.
"Oke, lagipula ini sudah setengah jalan pantas saja kamu capek, Papa telepon Stanley dulu biar stop di rest area," ucap James yang segera menelepon sang besan.
Keempat pria itu memasuki restoran gerai ayam fast food yang memang paling ramai daripada restoran yang lain. Dan lagi mereka semua tidak ada yang membawa uang tunai maka pilihan restoran ayam itulah yang paling baik karena telah menggunakan sistem pembayaran uang elektronik. Mereka tidak yakin jika restoran yang ada di sekitarnya memakai sistem pembayaran yang sama.
"Jadi menurut kamu, setelah kita sampai ke Salatiga apa yang mesti kita lakukan?" tanya
__ADS_1
Stanley yang terlihat stress.
"Kita cari penginapan saja dulu buat tidur sebentar buat cari Jeniffer dan Edward," ucap James dengan tegas.
"Jangan karena kamu mau buru-buru cari Jeniffer kamu tidak istirahat dulu yang ada keburu tumbang sebelum menemukan mereka," James melanjutkan perkataannya ketika dilihatnya Stanley akan membuka suara.
"Benar apa yang Papa James bilang, Pa, Papa bukannya yang masih muda. Ingat Papa udah punya cucu," ucap Jorgie menguatkan perkataan ayah mertuanya.
"Berarti kalau Joseph yang langsung cari gitu sampai ke Salatiga enggak apa-apa dong, Pa? Joseph kan masih muda," sahut Joseph yang langsung mendapatkan jeweran di telinga kirinya.
"Kamu juga enggak boleh, memang Papa enggak tahu kalau kamu baru tidur jam 3 tadi subuh. Ntar setelah ini Papa nyetir kamu tidur," ucap James dengan nada tajam.
"Baiklah lebih baik kita semua istirahat dulu sebelum memulai pencarian," ucap Stanley dengan lesu.
"Ekh, cewek dan cowok yang kemarin makan disini kayaknya masih sekolah deh, koq bisa ya orang tua membiarkan anak-anak itu pergi tanpa pengawasan orang tua ke luar kota," para pria memasang telinga saat mendengar para pelayan restoran sekitar yang makan di gerai ayam fast food ini.
"Tapi gua lihat mereka itu mirip mukanya masa iya kawin lari? Mungkin saudara kali mereka?" tanya si pelayan 1 dengan nada bingung.
"Mirip dari mananya yang cewek mukanya tampang jutek gitu dan kulitnya putih sementara yang cowo tampangnya agak ramah dan kulitnya agak gelap,"
Mendengar ciri-ciri yang disebutkan oleh para pelayan itu, keempatnya menduga bahwa itu adalah Jeniffer yang membawa kabur Edward.
"Sepertinya jejak mereka sudah dekat, lebih baik Jorgie tanyakan saja ya sama para gadis pelayan restoran itu," ucap Jorgie langsung menghampiri meja yang berjarak 1 meteran dari tempat mereka berada.
Ketiga pria itu dengan seksama memperhatikan Jorgie yang sedang berbicara dengan serius kepada 2 orang gadis pelayan restoran dan diakhirnya Jorgie mengetikkan sesuatu di layar smartphonenya.
"Benar, itu mereka dan kita sudah dekat dengan mereka," ucap Jorgie dengan senyuman lega.
__ADS_1
"Ayo tunggu apalagi, kita harus segera bergegas." ucap Stanley dengan semangat yang mulai membara.
***
Mereka berempat tiba di Salatiga sekitar jam 5 sore dan segera mencari penginapan dengan fasilitas bintang 3. Jorgie memesan 1 kamar untuk mereka karena berpikir efisen karena tujuan mereka bukan untuk berlibur.
"Lebih baik kita segera tidur untuk mengisi ulang tenaga kita," ucap Jorgie yang memilih tidur di ranjang bawah.
Melihat sang ayah dan mertua sudah terlelap membuat Jorgie menegakkan tubuhnya dia melihat bahwa Joseph sedang mengutak-atik sesuatu di laptopnya. Karena penasaran dia menghampiri sang adik ipar.
"Tidur, Joseph, kita tidak tahu pencarian kita akan membuahkan hasil berapa lama. Lebih baik simpan energi kamu dengan tidur saat sudah malam seperti ini," ucap Jorgie lalu menepuk bahu Joseph lembut.
"Ko, aku khawatir Jeniffer kenapa-napa, apalagi aku kayak punya firasat buruk jika pelarian ini bukan atas kemauan Jeniffer sendiri," ucap Josep lirih.
"Iya, aku juga tahu itu. Seperti ada yang menggerakkan Jeniffer untuk melakukan kejahatan ini," sahut Jorgie kembali.
"Ko, ini baru kecurigaan aku aja, Jeniffer kayak punya kepribadian ganda," ucap Joseph memaparkan kecurigaannya.
"Sebenarnya aku sudah mencurigainya, tapi anak itu sepertinya lihai menyembunyikan sehingga Papa dan Mama tidak sadar. Aku merasa Jeniffer mulai berubah saat dia diculik oleh Papa kandungnya sendiri saat berusia 7 tahun," Joseph tersentak saat mendengar perkataan dari Jorgie.
"Kalau Koko sudah tahu dari dulu harusnya Koko membawa Jeniffer untuk berobat agar tidak disorientasi identitas," ucap Joseph dengan nada tertahan karena tidak ingin membangunkan kedua pria lanjut usia itu.
"Seperti yang aku bilang anak itu terlalu lihai dan selama ini aku tidak menemukan hal yang aneh dengan Jeniffer. Jadi aku pikir tidak masalah membiarkannya, tapi ternyata aku salah...."
"Salah karena membiarkan kedua pribadi itu hidup di tubuh yang sama dan menyebabkan kekacauan yang besar seperti ini?" ucap Joseph memotong perkataan dari sang kakak ipar.
Jorgie hanya terdiam dan Joseph termangu melihatnya. Semoga saja mereka akan cepat menemukan Jeniffer dan membuktikan kebenaran dari dugaan mereka selama ini.
__ADS_1