Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
56. Joseph panik!


__ADS_3

Sementara itu di kediaman keluarga Zedekiah, Aster memberitahukan kepada orang tuanya dan sang adik mengenai Jeniffer yang kabur bersama Edward adik tirinya.


Karina terkejut tidak menyangka bahwa gadis manis itu dapat melakukan tindakan yang berbahaya sementara Joseph hanya terdiam dan menganalisa kira-kira ke mana gadis itu pergi.


seharusnya dia bisa melacaknya dari smartphone yang digunakannya meskipun gadis itu mengganti kartu operator seluler dia yakin akan bisa menemukannya dari GPS yang terletak dalam smartphone tersebut.


"Sebentar Ma, Pa, Joseph akan coba cari Jeniffer sampai dapat, sebenarnya entah kenapa waktu kita di Belanda saat Jeniffer meminta tolong bantuan Joseph untuk memperbaiki smartphone-nya, Joseph merasa harus memasangkan alat penyadap komunikasi gadis itu," Karina menghela nafas lega karena kemungkinan Jeniffer ditemukan akan semakin besar.


Wanita percaya dengan kemampuan sang putra dalam hal teknologi, sementara James berpikir bahwa ada kemungkinan bahwa Jenifer telah berganti smartphone yang sudah tentu tidak akan diketahui oleh siapapun juga. Apalagi ini sudah 5 jam berlalu dari kedua remaja itu kabur dari sekolah, namun pria tua itu hanya menyimpan kekhawatirannya di dalam hati.


James dan Karina memperhatikan Joseph yang sedang mengutak-atik layar laptopnya dengan wajah serius dan memakai kacamata Karina dapat melihat kekhawatiran yang nampak jelas dalam wajah sang putra.


'Apakah ini artinya Joseph sudah mulai memiliki perasaan terhadap Jeniffer, makanya dia terlihat khawatir Ddn panik seperti itu,' ucapnya dalam hati.


Satu jam berlalu namun tidak ada tanda-tanda Joseph dapat menemukan keberadaan dari Jeniffer, benar firasat James gadis itu nampaknya lebih lihai daripada para orang dewasa yang ada di sekitarnya. Buktinya dia sudah mempersiapkan hal yang sekecil ini dari waktu yang sudah lama mungkin.


"Bagaimana Jos?" tanya Karina dengan nada cemas karena melihat raut wajah Joseph yang menunjukkan raut keputus asaan.


"Sepertinya Jeniffer tidak menghidupkan atau bisa jadi dia mengganti smartphone miliknya dengan yang lain begitu juga dengan milik Edward tidak ada tanda-tanda keberadaan dari mereka di kota ini. Sinyal terakhir yang bisa temukan oleh keduanya itu berada di daerah terminal Kampung Rambutan," pekik Joseph setengah frustasi.


"Apa terminal Kampung Rambutan, apakah mereka berdua sudah meninggalkan kota ini dan menuju luar kota?" tanya Karina kembali.


"Sepertinya begitu tadi Josep tanya sama temen-temen Josep yang bekerja di daerah Kampung Rambutan dan menemukan dua remaja dengan ciri-ciri sebutkan hanya saja teman Joseph tidak tahu tujuan pasti dari kedua remaja itu," ucapnya kembali dengan lirih.


"Ya Tuhan! Mereka itu masih di bawah umur dan sangat berbahaya bagi mereka berpergian tanpa adanya pengawasan dari orang dewasa," ujar Karina yang mulai tidak bisa merasa santai dalam menghadapi masalah ini.


"Tenang Ma, kamu membuat anak kita semakin panik saja seakan-akan yang hilang itu adalah istrinya," Joseph tidak tahu harus tertawa atau menangis dalam menghadapi candaan dari James bisa-bisanya sang ayah bercanda di saat situasi genting seperti ini.

__ADS_1


"Ya kali aja di masa mendatang Jeniffer akan menjadi menantu kita," ujar Karina yang tidak sadar akan efek dari perkataannya kepada Joseph.


Membayangkan Jeniffer akan menjadi istrinya di masa mendatang sepertinya bukan hal yang buruk namun pria itu harus menunggu setidaknya sampai 10 tahun agar Jeniffer mencapai usia yang matang dalam secara emosional dan fisik untuk dapat berumah tangga.


"Ma, Pa, Joseph akan menemukan Jennifer apapun caranya," ujar Joseph dengan tekad membara.


Tidak peduli kesalahan apapun yang dilakukan oleh Jeniffer, Joseph akan memaafkannya dan menerimanya dengan lapang dada. Dia sadar jika Jennifer masih dalam usia remaja yang rasa tahunya sedang tinggi, apalagi gadis itu tumbuh tampak kasih sayang dari kedua orang tuanya.


'Ke mana kamu Jeniffer, Apa kamu tidak tahu jika ada seseorang yang mengkhawatirkan dan merindukanmu?' monolog Joseph dalam hati.


***


Hari sudah berganti malam namun pencarian tidak juga membuahkan hasil membuat para orang dewasa merasakan kepanikan yang luar biasa. Tiga keluarga sedang sibuk mencari kedua remaja yang menghilang sejak 10 jam yang lalu. Bahkan Joseph sudah putus asa dalam mengutak-atik laptopnya, pria itu tidak tahu harus melakukan apa.


"Joseph, hari sudah malam lebih baik kamu tidur dulu mungkin lebih baik kamu tidak usah masuk ke kantor pada besok hari tolong pikiran kamu masih ruwet seperti ini. Bukannya bekerja malah mengacaukan saja," saran James yang langsung dituruti oleh Joseph.


"Pa, Mama khawatir sama Joseph, belum pernah melihat dia sekhawatir itu terhadap seorang gadis. Apakah putra kita sudah mulai menyukai Jeniffer?" tanya Karina setelah James memasuki kamar tidur mereka.


"Memang terlihat jelas sekali perasaan Joseph terhadap Jeniffer meskipun anak itu mengingkarinya,"


"Apa selamat saja Jennifer untuk Joseph, Pa?"tanya Karina kepada sang suami.


"Itu kita pikirkan nanti setelah kedua remaja itu ditemukan, Ma dan menurut Jorgie, Jennifer diduga memiliki kepribadian ganda," sahut James lirih.


"Ckckck, keluarga Sukmajaya itu benar-benar kejam. Mama kira cuman keluarga mantan suami dari astro aja yang kejam ternyata ada yang lebih mereka juga," ucap Karina geram.


"Sudahlah jangan bawa lagi masa lalu, sekarang Aster sudah bahagia dengan Jorgie," tegur James yang tidak suka saat sang istri membahas masa lalu.

__ADS_1


***


Joseph yang sedang berbaring di ranjang tidak pikirannya terus melayang kepada Jeniffer, Apakah garis itu sudah makan dan tidur di tempat yang layak, pikirnya dalam hati.


"Coba gua minta bantuan sama teman-teman kuliah gua siapa tahu aja ada petunjuk ke mana perginya mereka berdua," gumamnya mengutak atik smartphone-nya.


Dan tak lama benda pipih miliknya itu berbunyi dan terdapat puluhan notifikasi dari grup chat kuliah sebagian besar berkata akan membantu Joseph agar dapat menemukan kedua remaja yang sedang menghilang tersebut.


Namun satu cat yang membuat Joseph resah bukan main. Chat itu tertulis,[ Bisa saja mereka berdua itu sudah keluar pulau karena yang namanya anak muda sekarang itu mencari petualangannya sampai jauh-jauh]


"Dasar grup chat enggak guna, malah bikin khawatir saja," ucapnya lantas melemparkan smartphonenya ke atas kasur.


Bunyi smartphone Josep menyadarkan pemuda itu dari lamunan dan terlihat nama dari salah satu teman kuliahnya, dengan cepat Joseph mengangkat dan ingin tahu apa motif dari sang teman meneleponnya malam-malam begini.


"Joseph, sori ganggu malam-malam begini, ada kabar penting yang harus gua sampaikan sama lo," Demi Tuhan rasanya jantungnya akan copot saat mendengar nada suara yang sama teman yang begitu serius.


"Kakak gua bilang, dia melihat ciri-ciri dari kedua remaja yang lurus sebutkan di WA grup tadi,"


"Kakak Lo ada di mana?" tanya Joseph tak sabaran.


"Mereka terlihat di Sala Tiga," Joseph mencelos dalam hati, sudah sejauh itu rupanya Jeniffer pergi


"Baik, terima kasih atas informasinya, ini sangat membantu sekali,"


"Baik kalau mereka memang ada di Salatiga lebih baik buat jebol CCTV yang ada di kota itu," ucapnya yang mulai kembali menyalakan laptop.


Mata yang tadinya mulai mengantuk perlahan menjadi segar, tubuh yang tadinya lemas juga seketika segar. Memang cinta dapat membuat orang menjadi-jadi.

__ADS_1


__ADS_2