
"Jeniffer, cepat kabur dari sini, Nak, biarkan Papa yang akan menahan mereka agar tidak menangkap kamu!" teriak Verry sambil menghajar beberapa orang dengan balok kayu yang ditemukan di sisi ruangan ini.
"Mau mencoba jadi pahlawan rupanya?" sindir Jessi kepada sang ayah.
"Jangan banyak bicara dan cepat ikuti saja apa kata Papa. Mau kamu sehebat apapun jika dihadapkan sama kekuatan beberapa orang laki-laki dewasa kamu pasti akan kalah!" balas Verry dengan nada yang masih tinggi.
Dia akan jalan pikiran gadis itu, bisa-bisanya Jennifer atau Jessi itu bersikap sesantai itu terhadap orang yang jelas-jelas akan mele*ehkannya. Tapi tak lama kemudian dia tersadar akan sesuatu itulah karakter dari keluarga Sukmajaya. Dan ada terselip rasa bangga di dalam hatinya jika putrinya tumbuh dengan baik.
"Jangan tersenyum seperti itu, enggak mempan tahu kalau mau buat hati gua luluh," desis Jessi sambil menatap tajam Verry.
"Sudah cepat kabur dari sini, lompat duluan ntar Papa menyusul kalau keadaan sudah aman," ucap Verry yang melihat ada beberapa orang pria yang menuju ke ruangan ini.
Sebenarnya Gilda membayar berapa orang sih, kenapa tidak ada habis-habisnya mereka berdatangan. Verry mulai mengeluh karena tenaganya mulai terkuras.
Jessi yang melihatnya berdecih dalam hatinya dan menertawakan kekonyolan dari sang ayah yang menurutnya ingin menebus kesalahannya. Sudah sangat terlambat baginya sebab sampai kapanpun dia tidak akan melupakan semua yang telah dilakukan oleh keluarga Sukmajaya terhadap dirinya dan sang ibu.
Tekadnya untuk menghancurkan keluarga itu sudah terpatri di dalam benaknya sejak Jeniffer memanggilnya keluar. Disaat sedang memikirkan itu tiba-tiba bayangan Edward muncul dan membuat Jessi tersenyum, hanya bocah itulah yang akan luput dari pembalasan dendamnya.
"Jessi, cepat keluar dari sini, Nak, jika kamu mau membalas perlakuan keluarga Sukmajaya kepada Jeniffer," pinta Verry dengan lirih. Entah mengapa kalimat itu dapat meluncur begitu saja dari mulutnya.
Jessi tersentak saat Verry selesai berucap dan melayangkan tatapan penuh pertanyaan kepada sang ayah.
"Karena kamu memang Sukmajaya sejati yang tidak akan berhenti sebelum tujuan kamu tercapai. Jadi Papa mohon keluarlah dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Tenaga Papa sudah semakin habis dan orang-orang suruhan Amah kamu seakan tidak ada habisnya," ujar Verry dengan nafas yang mulai tersengal.
"Baik, tapi kalau gitu mari kita keluar bersama-sama agar lo juga dapat melihat kehancuran keluarga Sukmajaya," ucap Jessi yang segera mengambil sebatang balok kayu dan ikut mengayunkannya ke arah pria-pria yang mulai berdatangan.
"Sepertinya Amah kamu membayar 50 orang lebih," kata Verry setelah membuat seorang pria terkapar.
__ADS_1
"Terus kenapa memangnya jika wanita tua itu ternyata membayar 100 orang lebih? Bukannya tujuan wanita tua itu cuma mau menyingkirkan gua," desis Jessi sambil memukul badan seorang pria yang akan menangkapnya.
"Jessi," teriak Verry saat badannya terkena sabetan pisau.
***
Gilda yang mendengar kabar jika Verry dan Edward ikut pergi untuk menyelamatkan Jeniffer berang bukan main. Bahkan dia memarahi Risda habis-habisan karena tidak mencegah keduanya.
"Dasar be*o, kenapa kamu biarkan mereka pergi? Memangnya kamu tidak tahu bahayanya situasi yang bakal Verry dan Edward hadapi?" bentakkan Gilda membuat Risda menangis tersedu.
"Kalau Mama tahu bahaya, mengapa Mama masih mau menyingkirkan Jeniffer? Tidak bisakah Mama membiarkan anak itu hidup tenang dan bahagia? Lagi pula keluarga Meylani merawatnya dengan sangat baik, itu saja sudah harus Mama syukuri," ucap Risda membalas ucapan sang mertua.
"Jangan bertengkar lagi, lebih baik kita segera susul mereka berdua. Mama tahu alamat penyekapan Jeniffer, kan?" Tanya Dion dengan nada dingin.
Gilda saja sampai tidak berani untuk menimpali ucapan sang suami. Sementara Risda hanya menangis karena merasa hal buruk akan terjadi. Firasatnya sejak tadi pagi tidak enak ditambah dengan pecahnya bingkai foto pernikahan mereka dan mengakibatkan foto itu tersobek di bagian wajan Verry.
"Benar kata Papa, Ma, sekarang kita susul saja Verry dan Edward. Biar Berry yang menyetir," ucap Herry sambil menatap layar tabletnya.
"Sudah cepat, gua lagi kontekan sama orang yang dekat dengan ruko yang di Cikarang itu!" Perintah Herry yang tidak mau didebat.
Tadinya Dion memerintahkan agar kedua wanita itu diam saja di rumah yang tentunya ditolak mentah-mentah oleh Gilda dan Risda.
***
Teriakan Verry rupanya mengaung ke luar roko berlantai 4 ini dan menimbulkan ketegangan bagi yang mendengarnya. Jessi terbangun dan entah ada kejadian apa setelah ini, mereka semua tidak tahu.
"Kemana rekan polisi kamu, Jorgie?" tanya Stanley saat mencium ada yang tidak beres di dalam sana .
__ADS_1
"Jorgie tidak tahu apa mereka semua disekap semua penculiknya Jeniffer?" tanyannya dengan cemas.
"Keluarga Sukmajaya ini memang tidak ada kapoknya mencari masalah," ucap Stanleydengan berang.
"Maafin keluarga Edward, ya, Khung, karena mereka semua ini terjadi," ucap Edward dengan tercicit. Seketika Stanley merasa bersalah kepada bocah SMA itu yang juga menjadi korban dari keegoisan Sukmajaya.
"Semua ini bukan salah kamu, jadi jangan terlalu diambil hati," kata Stanley sambil menepuk lembut bahu Edward.
"Tapi tetap saja, karena keluarga Edward Ci Jeni dalam bahaya sekarang," Stanley hanya dapat menghela nafas agar tidak lagi terpancing emosi yang dapat membuat pemuda ini takut.
"Sudahlah, kita fokus untuk penyelamatan Jeniffer dan Verry saja dulu," ucap James mencoba menurunkan tegangan yang terjadi.
"Di mana anak dan cucuku?" sebuah suara tinggi mengejutkan semua orang yang sedang berdiri di depan ruko kosong. Saat kelimanya menoleh nampak Dion berserta yang lain sedang berjalan menuju ke arah tempat mereka berdiri.
"Ini cucu kamu," ucap Stanley sambil menunjuk Edward yang sedang menangis.
"Edward! Heh, ini pasti kerjaan kalian yang bikin Edward nangis," tuding Gilda langsung menarik sang cucu ke dalam pelukannya.
"Amah! Edward nangis Karena Papa ikut masuk ke dalam barusan terdengar suara Papa teriak," ucap Edward sambil melepaskan pelukan dari sang nenek.
"Bagaimana Papamu bisa masuk ke dalam sana?" tanya Gilda dengan mata memicing.
"Begitu Mah, jadi Papa bagaimana? Mana mereka belum keluar dari tadi," kata Edward yang semakin cemas saat sudah menceritakan detil kejadian selengkapnya.
Para pria dewasa Sukmajaya hanya mengusap wajahnya dengan kasar sementara kedua wanita berbeda generasi itu hanya dapat menangis.
"Itu mereka berdua sudah keluar!" teriakkan James mengalihkan perhatian semuanya dan saat melihat keadaan Verry yang menggenaskan Risda langsung meluruh ke bawah dan merasa bumi yang dipijaknya semakin menjauh.
__ADS_1
Gilda langsung menjerit histeris karena melihat sekujur tubuh sang putra yang dipenuhi luka-luka. Bahkan dari pelipisnya mengucur darah yang amat banyak. Belum lagi hilang rasa terkejut semua orang sebuah suara tembakan terdengar dan diiringi dengan tubuh Verry yang menamengi sang putri agar timah panas itu tidak mengenai Jeniffer.
Verry pun tumbang setelah berucap, " Akhirnya Papa dapat menebus rasa bersalah Papa sama kamu. Semoga dengan tertumpahnya darah Papa akan menghentikan semua pertikaian ini "