Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
59. Kecemasan keluarga Sukmajaya


__ADS_3

Saat Mister Alvin meneleponnya, Risda merasakan ada nada cemas yang amat kentara dari suara sang guru BK. Apalagi sang guru menyuruhnya untuk membawa serta sang suami ke sekolahan Edward. Gilda yang kebetulan sedang berada di rumah tidak mau melewatkan kesempatan ini.


Dan kekhawatirannya terbukti saat mendapati keluarga mendiang istri dari Verry yang juga berkumpul dengan raut wajah tidak kalah cemasnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang mengapa mereka harus dikumpulkan dengan keluarga wanita yang sudah meninggal itu? Tanya Risda dalam hati.


Rasanya jantung Risda seakan mau lepas dari tempatnya saat mengatakan bahwa Jeniffer membawa kabur Edward dan prasangka dari sang guru yang mengatakan bahwa keduanya memiliki hubungan yang tidak direstui oleh keluarga.


Gilda langsung berteriak dan membantah jika tidak mungkin ada hubungan yang terjadi di antara keduanya karena mereka adalah kakak adik satu darah satu ayah. Keluarga Meylani tampak terkejut tidak menyangka bahwa Jeniffer dapat melakukan hal segila itu.


"Verry, cepat kita cari Edward kasihan dia kalau lama-lama di luar sana. Dasar anak gila bisa-bisanya dia melakukan hal seperti ini," pekik Gilda ketika ketiganya tiba di rumah.


"Oke, Ma, Verry anak sinting seperti itu mencelakakan Edward," sahut Verry dengan kekesalan yang memuncak.


Risda hanya terdiam mengamati percakapan di antara sang suami dan sang mertua. Di dalam pemikirannya dia beranggapan jika semua yang terjadi saat ini adalah perbuatan dari yang telah menculik Jeniffer semasa kecil dahulu.


'Apa yang harus saya lakukan sekarang ya Tuhan, semoga saja Jennifer tidak berbuat macam-macam terhadapnya,' doa Risda dalam hati.


"Ma, anak setan itu ternyata sudah meninggalkan Jakarta, posisi terakhirnya dia berada di terminal Kampung Rambutan," jerit Verry yang mendapat laporan bahwa titik GPS terakhir di sebuah stasiun bis antar kota.


"Ckckck, kalau saja waktu dulu kamu berhasil menyingkirkan anak sialan itu semua ini tidak akan terjadi," ucap Gilda menatap tajam mata Verry.


"Verry juga tidak tahu kalau anak itu selihai dan selicik itu, memang benar dia keturunan Sukmajaya Tapi sayangnya perempuan," ucap Verry yang mengakui bahwa keluarganya memang licik dalam beberapa hal.


"Sekarang dia membawa cucu kesayangan Mama, pokoknya kamu harus tanggung jawab cari Edward sampai ketemu dan bereskan segera anak sialan itu," ucap Gild film emosi yang terpancar di matanya.


"Bagaimana kita dapat mencari mereka, Ma? Seakan anak itu telah lama merencanakan hal ini," pekik Verry dengan frustasi.

__ADS_1


Sudah cukup bagi Risda untuk mendengarkan percakapan sepasang ibu dan anak itu, keduanya tidak akan pernah sadar jika semua anak itu sama berharganya. Apakah dia harus diam-diam menemui keluarga dari mendiang Meylani? Tanyanya dalam hati.


Tak lama bel pintu berbunyi dan beberapa orang memasuki kediaman Verry. Nampak Dion yang merupakan ayah Verry masuk beserta dengan 2 adik laki-laki Verry.


"Apa benar berita yang Papa dengar, kalau Jeniffer, anak dari Meylani membawa kabur Edward?" tanya Dion dengan tatapan mata marah.


Pria tua itu merasa dibohongi selama ini oleh sang istri dan putranya dengan mengatakan Jeniffer sudah tidak diketahui lagi di mana keberadaannya. Meskipun sesekali Dion masih bertemu sesekali dengan Stanley ataupun Jorgie kedua pria itu tidak ada menyinggung perihal Jeniffer.


Apa jangan-jangan mantan besanku itu tidak mau mengatakan secara jujur mengenai kabar anak itu? Tanya Dion dalam hati.


"Benar, Pa dan lokasi terakhirnya ada di stasiun Kampung Rambutan," ucap Verry dengan lesu.


"Melihat dari muka kamu yang lesu Papa yakin kalau kamu belum juga dapat mengetahui keberadaan mereka berdua benar begitu?" tanya Dion kembali.


"Iya, Pa dan Verry bingung harus mencari mereka berdua ke mana," ucap Verry dengan menundukkan kepalanya.


"Jadi gimana ceritanya sih, Ko, sampai Jeniffer bisa bawa kabur Edward?" tanya Berry, adik yang tepat berada di bawahnya.


Verry pun menceritakan kembali apa yang telah dikatakan oleh Mister Daniel dan Mister Alvin, ketiga pria Sukmajaya itu serempak menghembuskan nafas berkali-kali.


"Gua udah sebar anak buah yang ada di seluruh pulau Jawa ini untuk mencari keberadaan mereka berdua, gua harap mereka belum menyebrang ke luar pulau Jawa." ucap Herry, sang adik bungsu.


"Oke, thanks atas bantuannya," ucap Verry yang sudah tidak dapat berpikir, kepalanya terasa berat dan pusing karena memikirkan kejadian ini..


"Memangnya ada kemungkinan anak sialan itu bakal membawa Edward ke luar pulau?" tanya Gilda yang duduk di sofa ruang tamu ini.

__ADS_1


"Apapun bisa terjadi, Ma. Apalagi jika ini Jeniffer, mungkin Papa Mama dan Koko tidak mau tahu kabar dari anak itu, tapi percayalah dia benar-benar seorang Sukmajaya sejati," ucapan Berry membuat ketiganya termangu.


"Apa maksudnya kamu mengatakan hal itu?" tanya Gilda yang mulai merasa gemetar di dalam hatinya.


"Maksud Ko Berry adalah Jeniffer itu dia licik dan dapat membuat orang mengikuti kemauannya tanpa harus bersusah payah. Apalagi aku dengar anak itu sering ikutan balap liar, meskipun dia memakai nama samaran Jessi tapi mukanya yang mirip Soso Meylani tidak dapat menipu,"


"Kenapa kamu tahu kalau anak itu sering mengikuti balapan liar?" tanya Dion kepada putra bungsunya.


"Saat aku membawa pulang paksa Gabriel dari arena balap liar, aku melihat seseorang gadis belia yang sangat mirip Soso Meylani. Dari situ aku mulai menyelidiki latar belakang dari gadis belia itu dan hasilnya dia adalah anaknya Ko Verry," penjelasan Herry membuat semua orang mengangguk paham.


"Kalau kamu sudah tahu tentang keberadaan anak itu, kenapa tidak kamu katakan sama Papa?" tanya Dion dengan nada menuntut.


"Memangnya Papa bakal peduli kalau aku bilang ketemu Jeniffer?" tanya Herry dengan menyindir.


Dion membungkam mulutnya karena tidak dapat membalas ucapan dari Herry.


"Memangnya kalau bertengkar akan membuat kita dapat menemukan Jeniffer dan Edward?" sindir Berry yang mulai mengutak atik laptopnya.


Verry mengusap wajahnya dengan kasar, mengapa Meylani seakan tidak mau memberikan ketenangan bagi hidupnya. Sudah tinggal nama saja masih menyusahkan apalagi jika wanita itu masih hidup. Keluh Verry dalam hatinya.


"Ekh, katanya ada yang melihat mereka berdua di Sukabumi," ucap Berry sambil terus menatap layar laptopnya.


"Kalau begitu tunggu apalagi, cepat kita susul," ucap Gilda yang merasa mendapatkan angin segar.


"Tapi ada kelanjutannya, Ma. Mereka naik bis lagi yang buat nyebrang ke pulau Bali," lanjut Verry yang mulai merasa aneh akan beberapa laporan yang diterimanya.

__ADS_1


"Jadi yang bener di mana? Sukabumi atau pulau Bali!" pekik Gilda kembali histeris mendengar perkataan dari sang anak.


"Berry merasa dikadalin sama anak itu, bener-bener anak lo, Ko. Cerdik banget mainnya," ucap Berry sambil menertawakan kebodohannya yang dapat dikalahkan oleh bocah SMA.


__ADS_2