
Jeniffer menyeringai sinis saat memikirkan bahwa ia akan bertemu dengan adik tirinya. Mungkin lebih baik untuk beberapa waktu ini baginya berpura-pura tidak mengenali Edward Sukmajaya. Gadis ini ingin mengetahui tingkah laku sang adik selama bersekolah. Siapa tahu itu akan membantunya dalam rencana balas dendamnya.
'Jadi kapan gua bisa keluar dari sini dan menggantikan lo, rasanya bosan juga terkurung di dalam sini.' sebuah suara seakan menyapa gendang telinga Jeniffer saat dia sedang bercermin di sebuah cermin lipat berwarna pink.
'Diam-diam saja di sana dulu, cukup amati keadaan dulu. Kamu ga mau kita di anggap gila dan keberadaan kamu di hilangkan sama dokter seperti yang kita sering tonton di drama.' sentak Jeniffer dalam hatinya kepada suara yang bergaung di otaknya.
'Jeniffer ga seru ih, gitu aja cemen. Lagian selama ini gua ga pernah ketahuan kan. Dan nama lo yang dapat pujiannya. Padahal aslinya gua yang bertindak.' cibir suara itu lagi di dalam pikiran Jeniffer.
'BODO AMAT!' setelah mengatakan itu, Jeniffer menutup cermin lipatnya. Telinganya sudah pengang akibat kecerewetan dari Jessi. Pribadi kedua yang memiliki sifat nakal dan bengis, berbanding terbalik dengannya yang baik dan lemah lembut
"Hey, cewe yatim piatu. Lo mau kemana?" tanya salah seorang teman sekelasnya yang bermusuhan dengannya.
"Mau be*ak. Kenapa tanya-tanya, mau ikut?" tanya Jeniffer dengan sinis membuat gadis yang berbicara kepadanya mengkeret ketakutan.
Kalau Jeniffer sudah sinis seperti ini, siapapun tidak akan berani mengganggu gadis itu jika tidak mau di balas dengan cara yang lebih sadis. Membayangkannya saja sudah membuat mereka bergidik ngeri.
Jangan salah meskipun dirinya baik dan berhati lembut ada kalanya dia akan menjawab dengan nada tak kalah sinisnya dengan Jessi.
'Nah gitu dong, lawan sekali-kali. Jangan diem terus di rumah nangis-nangis merasa di rundung. Kalau di ganggu ya kita balas.' puji Jessi yang hanya dapat terdengar oleh Jeniffer.
'Ya, whatever.' katanya kembali di dalam hati dan melangkah menuju keluar ruangan kelas.
'Jadi kita mau kemana?' tanya Jessi yang berada di dalam pikiran Jeniffer.
__ADS_1
'Kantin aja skuy,sekalian review tipis-tipis produk yang bayar kita untuk jadi model.' setelah mengucapkan itu, Jeniffer melangkahkan kakinya.
Kali ini dia akan mereview smartwatch yang baru saja meliriknya untuk di jadikan model. Dengan berbekal kamera di smartphone yang memiliki lambang apel tergigit di bagian belakang casing gadis itu mulai mempersiapkan pose yang bagus untuk mereview alat penambah waktu yang terhubung dengan smartphone-nya dan memulai live IGnya.
"Gaesss, kali ini aku akan mereview benda kecil namun sangat berguna bagi kita sebagai pelajar. Bisa kalian tebak benda apa itu, kalau berhasil menebak akan aku kasih pulsa buat 3 orang pemenang sebesar 100.000 rupiah untuk masing-masing pemenang." begitulah kalimat pembuka yang diucapkan oleh gadis cantik itu.
3 menit gadis itu melakukan siaran langsung yang melihat sudah ada 300 lebih dan sesuai dengan kesepakatan gadis itu di awal siarannya dia telah memilih 3 orang pemenang yang tepat dalam menjawab pertanyaannya.
Jeniffer dengan apik memberikan review tentang smartwatchnya membuat para followernya yang menonton siaran langsung ingin juga memiliki benda yang di pakai oleh gadis itu. 10 menit waktu yang di perlukan Jeniffer untuk melakukan siaran langsung ini, karena dia sedang berada di sekolah. Tidak senyaman saat dia melakukan siaran langsung atau mengunggah story nya di rumah.
Smartphone Jeniffer berbunyi tepat setelah siaran langsung itu berakhir, Jeniffer mengecek siapa yang menghubunginya. Ternyata staff penasaran dari produk smartwatch itu yang berterima kasih karena pre-order untuk barang-barang yang barusan di iklankan meningkatkan 20% dalam bulan ini. Staff itu bahkan mengatakan bahwa akan ada bonus yang turun untuk Jeniffer pada akhir bulan ini sebesar 10 juta rupiah.
'Wau, enak juga kerjaan lo ya. Cuma modal tampang, ngoceh-ngoceh duit mengalir.' ejek suara itu kembali berdengung di pikiran Jessi.
'Shut up, bisakah kamu tidak muncul tiba-tiba. Ngagetin aja tahu.' hardik Jeniffer kepada Jessi yang ada di pikirannya.
'Lagian dapat duit juga belum bisa gua pakai sembarangan bonus masih dipegang sama phopho.' keluh Jeniffer yang di tanggapi tawa yang kencang oleh Jessi.
'Aduh kasihan banget sih yang masih diatur sama phopho dan akhungnya.' ejek Jessi kembali.
'Kayak kamu ga takut sama phopho dan akhung kalau mereka lagi marah.' cibir Jeniffer membuat Jessi bungkam.
"Hei, selebgram jadi-jadian. Cepat minggir dari meja ini. Gua sama teman-teman gua mau makan di sini." sebuah suara menghentikan percakapan Jennffer dan Jessi.
__ADS_1
Jeniffer menatap kepada orang yang mengganggunya itu dan dia menghela nafas saat mendapati geng kakak kelasnya yang sok berkuasa dengan gaya centilnya sedang menatapnya sinis.
'Udah, biar gua yang hadapin para cabe kecil ini. Terlalu banyak untuk Lo tangani sendiri.' Jessi yang melihat kesempatan itu langsung mengambil alih pikiran Jeniffer.
"Kalau gua ga mau, lo pada mau ngapain?" tanya Jessi dengan senyuman sinis mengarah ke psikopat. Namun sayangnya para gadis itu terlalu marah untuk dapat melihat perbedaan tatapan yang di pancarkan oleh netra hitam Jeniffer.
"Dasar adik kelas ga tahu diri. Beraninya lawan kakak kelas." sentak salah seorang di antara gadis itu. Jessi tersenyum sinis memindai keadaan sekitar dan melihat apakah ada sesuatu yang dapat di gunakan olehnya untuk memberi pelajaran pada para gadis cabe ini. Pikirnya dalam hati.
Saat melihat mba Farah, anak dari mbok Rahma yang menjual bakso di kantin ini sedang membawa sebaki yang berisi 5 mangkok bakso yang masih panas, di saat itulah pikiran liciknya bermain. Apalagi sepertinya itu adalah pesanan dari para gadis cabe ini. Pikirnya setelah melihat mbak Farah melangkah menuju ke arah meja nya.
Dengan perlahan dia mengeluarkan mainan robot berbentuk tikus berwarna putih yang memakai remot dari tas kecilnya setelah menekan tombol on. Mainan robot itu terhubung dengan smartphonenya, Jessi mengutak-atik sesuatu dalam smartphone-nya dan bersiap untuk berdiri.
3...2...1.
"Adaaa tikusss." teriak mbak Farah kencang dan melempar baki itu ke arah para gadis cabe yang langsung menjerit kesakitan akibat kuah panas bakso yang mengenai tubuh kelimanya. Dan seorang gadis yang pertama kali menghardik Jeniffer yang berada di dekat mba Farah menderita luka melepuh yang cukup banyak karena paling banyak terkena kuah yang masih mengepulkan uap panas itu.
Jessi terkikik dalam hatinya saat melihat segala kekacauan yang terjadi di dalam kantin ini. Dalam hatinya dia merasakan puas saat para gadis cabe itu merintih kesakitan.
"Aduh kasihan banget deh badan kalian jadi bau kuah bakso. Ternyata pembalasan itu terjadi cepat ya." ucap Jessi dengan tertawa kencang.
"Ini pasti kerjaan lo." tuding seorang di antaranya.
"Kalau memang kerjaan gua, memang ada buktinya. Gua aja dari tadi duduk di kursi." ucap Jessi menantang.
__ADS_1
"Lo..lo." gadis itu tidak dapat membalas perkataan Jessi yang mengambil alih pikiran Jeniffer karena memang dia tidak memiliki bukti. Tikus yang menjadi sumber masalah juga sudah raib entah kemana.
"Apa-apaan ini. Jeniffer Sukmajaya ini pasti kerjaan kamu ya." sebuah teriakan mengalihkan perhatian Jessi dan kemudian Jeniffer berusaha mengambil alih pikirannya. Namun karena tidak ada satu pun yang mau mengalah tubuh Jeniffer akhirnya terkulai lemas dan jatuh tergeletak di kerasnya lantai kantin.