Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
11. Bertemu dengan Edward!


__ADS_3

Camelia merasa aneh juga karena tidak ada panggilan dari pihak sekolah mengenai kelakuan sang cucu. Rasa tenang yang harusnya bagi sebagian besar wali murid tenang malah semakin meresahkan bagi wanita senja itu.


Karena tidak mau terlalu banyak berpikir keras, akhirnya Camelia memutuskan untuk membuat cemilan saja. Kali ini yang akan coba dibuatnya adalah pizza, dengan berbekal tutorial dari YouTube dan open baru yang baru datang dua hari yang lalu dia akan mencoba membuat kudapan asal Italia tersebut.


Karena belum bisa membuat kulit pizzanya maka Camelia memutuskan untuk membeli kulit pizza yang sudah jadi dan hanya tinggal ditambahkan dengan topping sosis keju dan paprika. Wanita itu tersenyum saat melihat hasil karyanya, semoga saja Jeniffer menyukainya. Pikirnya dalam hati saat oven sudah siap di gunakan.


Baru saja Camelia menutup oven itu, Darmi mengejutkan sang nyonya dengan teriakannya yang bergema di ruangan dapur ini. "Gawat, gawat. Nyonya. Coba lihat ini." pekik Darmi sembari menunjukkan layar smartphone-nya kepada Camelia.


Sontak saja Camelia terkejut dan memegang dadanya dan mengomeli artnya itu. "Darmi, apa-apaan kamu, teriak kayak di hutan saja. Untung saja saya ga jantungan."


"Maaf, Nya. Tapi coba lihat ini deh." ucap Darmi sembari smartphone-nya ke arah Camelia.


"Memang ada apaan, sampai saya harus lihat sih." gerutunya, lalu mengambil smartphone berwarna Biru itu.


Matanya terbelalak saat melihat sang cucu yang sedang bertengkar dengan teman-teman sekelasnya. Segera saja Camelia duduk karena merasa penat akan kelakuan Jeniffer yang menantang balik teman-temannya itu. Lalu ada sebuah komentar yang mengatakan jika Jeniffer bukan seperti Jeniffer yang biasanya.


"Anak itu, bisa ga sih sehari ga buat masalah." geram Camelia, segera dia mengembalikan smartphone itu ke tangan Darmi yang meneruskan menonton siaran langsung di mana majikan mudanya beradu mulut dengan geng cewek-cewek yang memakai make up menor layaknya tante-tante.


"Ekh Nya. Lihat deh, non Jeni memang lho. Followers non Jeniffer juga pada ga senang dan saling serang antara followers cewek-cewek itu." pekik Darmi girang saat melihat sang nona yang baadas menurutnya.


"Yang bener kamu?" tanya Camelia penasaran.


"Beneran nih Nya." sahutnya sambil menunjukkan layar smartphone-nya ke wajah Camelia. Mata wanita senja itu kembali terbelalak saat melihat Jeniffer tersenyum penuh kemenangan kepada teman-teman sekelasnya yang mengganggunya.


"Syukurlah, Jeniffer bisa membela diri. Saya sudah takut aja sama anak itu karena dia tidak tinggal sama orangtuanya." sahut Camelia lega.


"Non Jeni kalah? Kayaknya ga mungkin ding, lah kelakuannya aja kadang barbar gitu." ucap Darmi tergelak membayangkan tingkah laku sang nona.

__ADS_1


"Bener juga yang kamu bilang, mana pernah kalah itu anak. Tapi kelakuannya itu loh sampai buat sakit kepala." keluh Camelia pada artnya yang hanya di tanggapi oleh cengiran canggung.


Keduanya tidak tahu saja kalau Jessi yang melakukan semua itu atas persetujuan Jeniffer. Jeniffer merasa dirinya tidak akan pernah dapat melakukan hal yang menyakiti perasaan orang lain dan meminta Jessi untuk membereskannya.


***


Sementara itu di dalam kelas, Jeniffer memutuskan untuk bermain game di smartphone spesifikasi di sesuaikan khusus untuk para gamer. Teman-teman sekelasnya juga tidak ada yang berani mengusik ketenangan gadis itu jika tidak ingin di kerjai balik oleh Jeniffer.


Setelah merasa lelah, gadis itu memutuskan untuk ke kantin kembali. Semoga tidak akan ada geng cewe reseh yang akan menggangunya. Karena jujur saja Jeniffer lelah jika harus memanggil keluar Jessi, karena pribadi keduanya itu tidak akan mau untuk kembali masuk saat urusannya sudah selesai dengan dalih mau menghirup udara bebas.


Jeniffer memindai keadaan sekitar dan setelah di rasa aman. Gadis itu menuju ke penjual batagor dan meminta untuk di masukkan ke dalam plastik, sebab dia ingin berjalan-jalan sembari mengemil. Tidak lupa juga minuman kopi botol yang diambilnya dari lemari pendingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa haus.


Saat melintas ke depan kelas 1-5, matanya tidak sengaja melihat seseorang yang amat mirip dengan sang ayah, Verry Sukmajaya. Karena itu Jeniffer memutuskan untuk berdiam sejenak di depan kelas itu sembari mengamati keadaan kelas dari jendela kaca yang terletak di hadapannya.


'Jeni, apa menurut kamu. Dia adalah anak dari pria itu?' tanya Jessi yang berada di dalam pikiran Jeniffer.


'Lo masih mau panggil pria itu papa. Baik sekali hati lo ini. Kalau gua sih ga Sudi anggap dia papa.' desis Jessi dengan rasa murka yang membuncah.


'Tapi kalau ga ada papa, kita ga akan ada.' kilahnya kembali.


'Yah, whatever. Memang ingatan lo udah gua ambil alih waktu itu. Jadi lo ga akan tahu seberapa busuknya pria itu.' sindir Jessi membuat Jeniffer terdiam.


"Jeniffer Sukmajaya, sedang apa kamu di depan kelas ini?" sebuah suara mengejutkan keduanya dan Jessi memilih untuk diam sebab dari penglihatannya melalui mata Jeniffer, Mister Andrew sedang menuju ke arah tempat mereka berdiri.


"Saya cuma pengen jalan aja di dalam sekolah, mumpung kegiatan belajar mengajar belum efektif. Ekh ga tahu kaki saya diam sendiri di depan kelas ini, Mister." jawab Jeniffer asal membuat Mister Andrew mengerutkan dahinya.


"Kamu ga ada merencanakan yang aneh-aneh kan?" tanya Mister Andrew dengan mata menyipit karena curiga dengan tingkah laku gadis yang ada di depannya ini.

__ADS_1


"Kan bapak lihat saya lagi makan batagor, memangnya bisa buat ulah?" tanya Jeniffer.


Kalau untuk sekedar mendebat Jeniffer tidak masalah, maka dari itu Jessi yang sering mengajarkannya bagaimana cara mendebat seseorang, hingga orang itu tidak dapat menjawab.


"Berarti memang benar kamu ada niat buat ulah." ujar Mister Andrew tajam membuat Jeniffer tersenyum canggung.


Baru saja Jeniffer akan menjawab, dari kelas itu keluar beberapa murid pria yang salah satunya menjadi targetnya. Gadis itu terdiam untuk mengetahui apa yang hendak di lakukan para murid baru ini.


"Kalian ada apa keluar kelas?" tanya Mister Alvin pada salah seorang diantaranya.


Kesempatan itu di manfaatkan Jeniffer untuk melihat nama siswa yang menjadi targetnya melalui name tag yang terpasang di bagian dada sebelah kanan. Edward Sukmajaya. Jeniffer mengeja nama itu dalam hati. Bahkan dia memindai dari atas kepala sampai ke bawah kaki untuk mengamati perawakan adik tirinya.


Rambut hitam, muka putih dan memiliki kesamaan dengan sang ayah, benar-benar Verry Sukmajaya versi muda, menurut pemikiran Jeniffer dan Jessi.


'Sepertinya benar itu Edward Sukmajaya. Anak dari pria bang*at itu.' ucap Jessi dengan nada sinis yang tidak dia tutup-tutupi.


'Terus bagaimana selanjutnya?' tanya Jennifer.


'Kita amati dulu beberapa tahun ini. Lagian ada yang bilang kalau mau membalas dendam itu mesti di rencanakan dengan baik bukan?' jawab Jessi dengan nada dingin.


'Tapi apakah sampai harus membalas dendam? Tidak bisakah kita melupakan semua yang telah terjadi. Bukannya setelah kejadian 6 tahun lalu, papa dan keluarganya ga ngusik-ngusik kita lagi?' pinta Jeniffer dengan memelas, dia rasanya tidak tega jika melihat sang ayah menderita.


'Lupakan kata lo, gua masih ingat bagaimana dia berniat untuk melenyapkan kita. Andai saja gua ga keluar, lo udah mati. Jeni. Dan lagi apa pantas seorang ayah berbuat seperti itu kepada darah dagingnya.' sentak Jessi membuat Jeni terdiam karena apa yang di ucapkan oleh pribadi keduanya itu sangat tepat.


'Kalau lo ga sanggup lihatnya, saat gua yang eksekusi nanti. Lo cukup tidur saja oke, lagian Jeniffer itu anak manis yang ga akan bisa berbuat jahat, karena itu serahkan saja sama gua.' Jeniffer hanya terdiam menanggapi perkataan Jessi.


"Jeniffer, kamu masih di sini? Cepat kembali ke kelas." perintah Mister Andrew yang langsung di turuti oleh gadis itu.

__ADS_1


'Keluarga Sukmajaya, tunggu saj kehancuran kalian.' janji Jessi dalam hati yang tidak di ketahui oleh Jeniffer.


__ADS_2