
Edward menatap bingung saat bis yang membawanya dan Jeniffer turun di sebuah terminal saat hari sudah beranjak malam. Hanya ada lampu penerangan jalan sebagai tanda bahwa kota ini tidak terlalu gelap.
"Kita di mana,Kak?" cicit Edward, pemuda ini takut bahwa Jeniffer atau Jessi merencanakan hal yang buruk terhadap dirinya.
"Lo bisa baca kan, tuh lihat di sana," ucap Jessi dengan sinis.
Mata Edward membelalak saat mengetahui bahwa dirinya berada di kota Salatiga, sangat jauh dari tempat orang tuanya berada.
"Apa maksud Kakak membawa aku sampai jauh ke mari?" tanya Edward berusaha tegar di hadapan gadis sinting ini.
"Tidak ada maksud apa-apa, hanya membalas apa yang pernah laki-laki ban*sat dan nenek tua itu lakukan pada gua saat masih kecil," sahut Jessi dengan penuh amarah, tangan kanannya mengepal dan Edward tahu jika dia tidak boleh memancing kemarahan gadis ini lebih lanjut lagi.
"Tapi mereka juga keluarga Kakak," jawab Edward lirih, seketika itu juga tawa Jessi meledak.
"Keluarga kata lo, bullshit. Mana ada bokap kandung yang mau menyingkirkan anaknya sendiri, apa karena gua perempuan atau karena gua mirip nyokap!" teriakan Jessi menggelegar dan Edward segera menutup kedua telinganya.
"Kak, kata Kakak tidak akan membiarkan saya kelaparan. Perut saya sepertinya sudah meminta hak untuk di isi," demi Tuhan, Edward juga tidak tahu mengapa dia dapat mengatakan lapar saat seperti ini.
"Oke kita cari makan dan jangan coba-coba kabur karena saat gua menemukan lo, gua akan memberikan pelajaran yang bahkan keluarga ban*sat itu tidak akan menyangkanya," ancaman itu berhasil Edward menunduk dan tanpa protes pemuda itu mengikuti langkah kaki Jessi.
***
Dan di sinilah keduanya berada, di sebuah restoran ayam goreng cepat saji, sebenarnya Edward agak bosan memakan menu yang sama untuk kedua kalinya pada malam ini, tapi dia tidak punya pilihan lain untuk mengisi lambungnya.
"Kak boleh saya minta ganti menunya agar tidak sama dengan siang tadi?" tanya Edward dengan menundukkan kepalanya.
"Oke, lo boleh ganti menu dan setelah gua pikir-pikir bosan juga ya makan yang sama 2 kali sehari," ucap Jessi sambil memikirkan menu apa yang enak untuknya dan Edward.
__ADS_1
"Kak, bagaimana kalau minta tambahan sup ayam dan kentang goreng?" tanya Edward yang sangat menginginkan makanan itu.
"Jadi Kakak mau pesan apa?" tanya mas kasir yang berada di depan Jessi.
Jessi akhirnya menyebutkan pesanannya, 2 paket yang terdiri 1 nasi 1 potong ayam dan minuman cola dengan tambahan 2 sup ayam dan 3 porsi kentang goreng. Terlihat agak banyak sebenarnya jika untuk di makan berdua, tapi cacing-cacing di dalam perut Jeniffer seakan merongrong untuk diberi makan juga.
Edward membawa pesanan mereka ke meja yang terletak di pinggir jendela, Jessi sengaja memilihkan tempat itu agar dapat melihat suasana di luar restoran dengan leluasa. Bukan hal yang tidak mungkin mereka akan segera ditemukan meskipun sudah bepergian sejauh ini.
"Kak, setelah ini kita tidur di mana?" tanya Edward takut-takut.
"Di rumah," jawab Jessi singkat.
Edward menggeram dalam hati saat Jeniffer mengatakan hal itu, bisa-bisanya dia bercanda di saat seperti ini. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk menghabiskan makanannya sebagai pengganti kekesalannya.
"Kenapa, lo takut tidur di jalan?" tanya Jessi mengejek.
"Iya saya takut apalagi ini adalah kota lain ketahuan dan situasinya, memangnya Kakak tidak merasakan itu juga?" Edward memutuskan untuk jujur mengenai ketakutannya, mungkin saja Jeniffer akan membawa mereka ke tempat yang layak untuk meluruskan punggung setelah seharian menempuh perjalanan jauh.
"Bagaimana kita bisa tidur satu kamar Kak kita ini kan laki-laki dan perempuan?" protes Edward
"Tapi kita adalah saudara saya jadi itu bisa saja gua nggak mau mengambil resiko membiarkan elu tidur di kamar terpisah dari gua," atas jawaban yang diberikan Jessi kepadanya.
***
Ternyata tempat yang dimasukkan oleh Jessi adalah sebuah kos-kosan elit yang memiliki kamar mandi dalam dan fasilitas AC dan TV untuk setiap kamarnya, tersedia juga kompor listrik bagi para penghuni kos yang ingin memasak makanannya sendiri. Serta wastafel untuk mencuci peralatan makan yang kotor.
"Lo bisa masak enggak?" tanya Jessi kepada Edward.
__ADS_1
"Paling bisa masak mie instan dan goreng telur ceplok atau dadar," jawab Edward singkat.
"Oke mulai besok lo yang masak, kita akan beli rice cooker yang paling kecil," Edward membelalakkan matanya saat mendengar perkataan dari sang kakak.
"Kak yang benar saja, masa kita setiap hari makan mie instan atau telur?" Edward mencoba agar Jessi mengurungkan niatnya. Lebih baik membeli makanan di luar daripada memasak yang hasilnya akan tidak enak.
Namun tatapan mata yang diberikan Jessi membuat Edward tidak lagi melayangkan protes, lebih baik mengikuti perintah gadis cantik yang sayangnya gila ini jika mau nyawanya selamat.
"Kita beli Frozen food aja lah, praktis tinggal goreng," ucap Jessi yang semakin membuat Edward meringis, selamat tinggal makanan sehat.
"Terus sayurnya gimana, Kak? Masa kita makan tidak ada sayurannya?" tanya Edward yang berusaha menyelamatkan lambungnya dari makanan yang memiliki kandungan pengawet dan penyedap rasa dalam jumlah banyak.
"Tinggal cemil aja wortel tomat dan timun. Praktis enggak usah pake di masak," Edward langsung mengusap wajahnya kasar saat mengetahui sifat tidak mau repot yang dimiliki oleh Jeniffer.
"Kak, saya mau mandi cuma ga ada pealran mandi."
"Kita ke minimarket yang buka 24 jam, gua juga yang lupa beli barang-barang itu, Ingetnya cuma baju,"
"Terus kalau urusan baju gimana Kak, siapa yang nyuci?" tanya Edward yang baru sadar bahwa jumlah pakaian yang mereka bawa itu sangat sedikit.
"Tinggal di laundry aja, oh ya besok kita ke pasar beli baju-baju lagi, sama beli bahan makanan yang harus lo masak," ucap Jessi dengan santai, dia ingin memerintah Edward sepuas hati, sambil terus merencanakan hal gila yang ad dalam pikirannya.
"Kakak ini kayak kakak tiri yang senang membuat adiknya susah,"
Plakk, Edward langsung menepuk mulutnya karena telah keceplosan saat berbicara.
"Gua memang kakak tiri lo dan memang ini tujuan gua, tapi kan laki-laki tidak mungkin lo berubah jadi Cinderella," sahutnya sambil menepuk-nepuk pipi kanan Edward dengan sedikit kencang.
__ADS_1
Edward merinding saat mendengar perkataan dari Jeniffer, otaknya membayangkan hal-hal buruk dan tanpa sadar membuat pemuda itu mengemeletukkan giginya.
Habislah dia kali ini dan dalam hatinya Edward hanya dapat berdoa agar mereka berdua dapat segera ditemukan.