Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
50. Leo mencari keberadaan Jeniffer


__ADS_3

Leo yang terpaksa pulang pada hari Minggu pagi saat merasakan kekecewaan yang sangat mendalam, padahal pemuda itu masih ingin mendekati Jeniffer dan berusaha menyatakan perasaannya.


Pemuda itu merasa takut jika pria yang jelas-jelas berusia lebih tua darinya itu mendapatkan perhatian dan hatinya Jeniffer. Karena melihat dari penampilannya saja sudah jelas bahwa pria itu adalah orang kantoran dengan penghasilan yang cukup tinggi. Apalah artinya dengan dirinya yang hanya murid SMA pasti sangat jauh berbeda levelnya.


"Kamu kenapa pulang-pulang dari Bandung bukannya cerah malah makin uring-uringan?" tanya Sovia sang ibu saat mendapati putranya sudah berada di rumah.


"Leo ketemu sama cewek gebetan Leo di Bandung kemarin akhirnya jalan bareng sama temen-temen Leo dan keluarga cewek yang Leo taksir, Ma." jelas Leo yang sedang meminum kopi sacet rasa moca favoritnya.


"Lah bukannya seneng bisa jalan bareng gebetan kenapa muka kamu kusut gini?" tanya Sovia kembali.


"Masalahnya cewek itu juga lagi dideketin sama cowo yang lebih tua dan sepertinya orang kantoran yang punya penghasilan tinggi. Leo mah cuma murid SMA hanya dianggap remahan kerupuk. Mana mau Jeniffer lirik Leo sementara didepannya tersaji pizza," Sovia langsung tertawa saat mendengar curahan hati sang putra.


"Ah, Mama, kenapa ketawain Leo," ucap Leo dengan merajuk.


"Habisnya kamu lucu, ya memang kenapa kamu cowok itu lebih tua daripada kamu? Kalau jodoh tidak akan kemana-mana meskipun terpisah di ujung lautan. Lagian masa kamu cuma gini aja koq udah insecure sih? Tunjukkan pesona kamu dong," Leo yang masih memanyunkan bibirnya tetap mendengarkan perkataan sang ibu dalam diam dia merenungkannya.


"Jadi Leo tidak boleh pantang menyerah,ya?" tanyanya setelah pikirannya mulai agak waras.


"Ya namanya cowo mana boleh cemen kayak gini, ingat tugasnya cowo itu besar Nak. Saat dewasa dan sudah dalam cukup usia menikah, semua tanggung jawab dibebankan kepada pundak laki-laki, mau dikasih makan batu apa anak orang," Leo meringis saat mendengar wejangan yang diberikan oleh Sovia.


"Oke Mama, Leo tidak akan menyerah dalam mendapatkan hatinya Jeniffer," ucap Leo yang telah mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.


"Tapi ingat, ada batasan di mana kamu berjuang dan ada batasan di mana kamu harus menyerah, tapi seandainya Jeniffer sudah memiliki kekasih kamu harus mundur karena sudah pasti di hatinya tidak ada kamu," kata Sovia sebelum mulai memasak.


***


Senin paginya, Leo bangun perasaan bahagia dia sudah bertekad akan mendapatkan hati Jeniffer, masa dia kalah dari pria yang lebih tua darinya, begitu pikirnya.


Pemuda itu melongok ke arah kelas Jeniffer sebelum bel berbunyi dan upacara akan dimulai, namun dia tidak mendapati keberadaan gadis berambut panjang itu..

__ADS_1


"Leo, lo ngapain di sini? Kan ini bukan kelas lo?" pertanyaan salah seorang teman Jeniffer membuatnya gelagapan.


"Gua nyari Jeniffer, Lo ada lihat dia ga?" tanya Leo sembari menyunggingkan senyuman bodoh.


"Gua belum lihat Jeniffer dari tadi, mungkin telat masuknya kali," jawabnya kembali.


"Oh ya sudah, ntar istirahat gua ke mari lagi deh," ucap Leo dengan pasrah.


"Leoooo! Ngapain lo di sana, buruan masuk, pakai dasi dan topi Lo!" Teriakan teman sekelasnya membuat Leo mau tak mau meninggalkan ruang kelas Jeniffer, dia tidak mau dimarahi oleh Ibrahim sang ketua kelas dan Miss Olva wali kelasnya karena tidak memakai seragam lengkap saat upacara.


***


Leo menghela nafas lega karena bel istirahat berbunyi, saatnya dia menuju kelas Jeniffer kembali. Pemuda itu bahkan mengabaikannya ajakan dari teman-temannya untuk makan di kantin, pikirannya hanya tertuju pada satu gadis yang telah membuat hatinya berdebar-debar.


"Jeniffer tidak masuk cuma sepertinya sudah izin deh, soalnya guru-guru tidak nanyain kabarnya," penjelasan teman sekelas Jennifer membuat Leo kecewa.


"Sepertinya sih sakit soalnya dia enggak ada buat story IG dari kemarin sore, Jeniffer itu kan paling lama ga story ya pas lagi ada kelas atau tidur," Leo makin mengangguk saat mendengar perkataan dari murid perempuan berkacamata itu.


"Terima kasih," ucap Leo sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.


"Bang Leo, kenapa mukanya kusut bukannya kemarin kita baru habis dari Lembang?" tanya teman sekelas Edward yang sedang membawa segelas minuman berwarna coklat. Di susul dengan Edward yang hanya terdiam dengan wajah yang kusut.


Edward memang tidak ikut pergi ke Lembang dan memutuskan untuk berakhir pekan di Jakarta saja, pikirannya kusut saat mengetahui fakta bahwa Jeniffer ada hubungannya dengan keluarga Sukmajaya.


Bahkan dia juga menolak tawaran dari kedua orang tua dan sang nenek untuk berlibur, dia hanya ingin sendiri saja di rumah yang sepertinya adalah ide yang bagus karena pada saat malam ketiganya pulang ke rumah dengan wajah masam dan kusut seakan mereka habis bertemu dengan hantu atau musuh saja.


"Gua lagi nyari Jeniffer tapi kata teman sekelasnya dia tidak masuk," ucap Leo dengan lirih.


"Bang, lo ga salah nyariin itu cewek preman?" tanya teman sekelas Edward bingung.

__ADS_1


"Enggak, karena gua suka sama Jeniffer," Edward dan sang teman seketika terganga saat mendengarnya.


"Bang, lebih baik elu jangan suka sama itu cewek deh Bang, dia itu berbahaya!" pekik Edward frustasi. gadis yang memiliki otak kriminal seperti itu, pikir Edward dalam hatinya.


"Berbahaya seperti apa sih? Dia itu hanya seorang gadis loh dan apa sih yang dapat dilakukan oleh gadis manis seperti itu?" Leo menyangkal perkataan Edward.


"Dia berbahaya karena dia adalah Jeniffer Sukmajaya!" erang Edward dengan mengacak-acak rambutnya.


"Jeniffer Sukmajaya dan Edward Sukmajaya? Gua sadar kalau nama belakang kalian sama, apakah kalian ada hubungan saudara?" tanya Leo kembali.


"Mungkin seperti itu, kami ada hubungan saudara selama ini, cumaguanya aja yang nggak tahu, Bang," perkataan Edward menimbulkan rasa akhirat kepada dua pemuda yang berada di dekatnya.


"Apa maksudnya?" tanya Leo dengan penasaran.


"Gua juga ga yakin," jawab Edward lirih dan ketiganya langsung diam bermain dengan pikiran masing-masing.


***


Hari berganti dan Leo masih bersemangat untuk mencari keberadaan Jeniffer, bahkan dia berpikir untuk bertanya pada Mister Alvin alamat dari gadis itu seandainya Jeniffer juga tidak masuk sekolah hari ini.


"Masih nyari Jeniffer?" tanya murid berkacamata yang kemarin ditanya-tanya oleh Leo.


Leo pun mengangguk dan gadis itu menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Leo, " Jeniffer sakit, kemarin sore wali kelas kami baru mengatakannya. Katanya sih anemia dan masuk angin jadi mukanya pucat."


Pemuda itu tersentak saat mendengar perkataan dari murid perempuan itu, seingatnya waktu Sabtu kemarin wajah gadis itu masih bersemu merah dan tidak menandakan bahwa mengalami anemia. Kalau masuk angin mungkin dapat dipercaya, mungkin saja Jeniffer telat makan dan akhirnya sakit.


"Oh begitu ya, tahu alamat Jeniffer?" tanya Leo penuh harap.


"Tidak tahu, kami belum pernah ke rumahnya," Leo mengusap wajahnya kasar, kalau sudah begini hanya Mister Alvin harapan terakhirnya untuk mendapatkan alamat Jeniffer.

__ADS_1


__ADS_2