Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
19. Jeniffer bertemu dengan Karina


__ADS_3

Jeniffer diam-diam mengambil foto Joseph saat pria itu sedang tidak melihat kearahnya, bisa di bilang itu adalah foto candid Joseph yang di ambil gadis itu dengan berbagai macam gaya. Tujuannya sudah pasti adalah mengagumi adik ipar sang om.


'Woi, cium aja itu fotonya. Kaga bosan apa lo mandangin muka itu cowo. Jeniffer, ingat kita harus udah mulai rencana balas dendam kita sama keluarga Sukmajaya si*lan itu.'


Jeniffer langsung mengambil cermin lipat dan berbicara dengan Jessi melalui media itu.


'Dasar mengganggu kesenangan aku aja. Ga seneng banget kelihatannya kalau aku jatuh cinta.' ucap Jeniffer dengan kesal kepada pribadi keduanya itu.


'Gua seneng banget lo udah ngerasain jatuh cinta. Tapi bagi gua lo jadi melupakan niat awal kita untuk menghancurkannya keluarga bang*at itu.' balas Jessi tidak kalah sengit.


'Oh, Jessi. Jadi itu yang menjadi kekhawatiran lo. Tenang aja aku ga bakal lupa dengan apa yang keluarga itu lakukan sama mama. Cuma ga salah dong jika aku ingin lebih dekat dengan om Joseph.' ucap Jeniffer dengan nada merajuk.


'Bahkan lo memanggil pria itu om. Gua sangsi apakan Joseph akan melihat lo sebagai seorang perempuan ataukah malah dia melihat lo sebagai gadis kecil. Karena biar bagaimanapun Aqiu lo nikah sama Cici dia.' perkataan Jessi seakan menampar Jeniffer ke realita. .


Benar juga apa yang dikatakan oleh pribadi keduanya, apakah Joseph akan melihatnya sebagai perempuan atau malah menganggapnya sebagai keponakan. Karena yang Jeniffer terka perbedaan usia keduanya pasti di atas 5 tahun. Tanpa sadar gadis itu menghela nafas panjang.


'Baru sadar kalau perbedaan umur kalian jauh.' ejek Jessi.


'Ah Jessi ga asyik. Bukannya didukung malah jatohin semangat aku aja.' kembali Jeniffer merajuk.


'Gua hanya mengatakan kebenarannya, Jessi sayang. Daripada lo sakit hati nantinya mending sakit sekarang mumpung rasa suka Lo ini baru sedikit. Ibarat kata kayak bibit yang baru bertunas kalau ga di kasih pupuk dan di siram air pasti mati kan.'


Jeniffer lebih memilih untuk diam tidak menanggapi perkataan Jessi. Dalam hati kecilnya dia bertanya-tanya apakah benar yang dikatakan oleh pribadi keduanya itu. Bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya. Bibit yang mulai bertunas itu malah semakin besar dan bertumbuh di hatinya.


'Jeni, jangan lupa besok kita mulai rencana kita tipis-tipis aja.' suara Jessi yang bergaung di pikirannya menghentak kesadaran Jeniffer.


'Oke, berarti besok kita mulai muncul nih di hadapan Edward. Udah kepikiran belum gimana caranya?' tanya Jennifer sambil merapikan ujung rambutnya yang mulai mencuat.

__ADS_1


'Kalau risih sama rambut lo yang udah mulai kepanjangan. Kenapa kita ga ke salon aja, mumpung masih tanggal merah juga.'


'Ayo, cuma aku malas kalau cuma sendirian. Ntar orang-orang ngeliatin aku kalau lagi ngomong sendiri.' ucap Jeniffer antusias.


'Ajak phopho lah.' usul Jessi.


'Phopho itu lagi istirahat. Semalaman ngurusin nikahan Aqiu.' jawab Jeniffer sambil mengingat apa yang di kerjakan oleh Camelia semalam.


'Ya kalau gitu gua janji deh ga bakal muncul tiba-tiba. Sumpah gua risih banget lihat rambut lo yang mulai ga beraturan ini. Katanya selegram dah beauty influencer tapi penampilan kayak gembel.' ejek Jessi membuat Jeniffer cemberut mendengarnya.


'Oke, gua ke mall yang ada salonnya. Siapa tahu ada barang lucu.'


***


Karena hari ini hari libur nasional, otomatis pengunjung di mall ini meningkat drastis. Jeniffer memutuskan untuk segera menuju salon yang memberikannya voucher 250.000. Lumayan untuk mengubah gaya dan warna rambutnya. Mungkin sedikit warna coklat keemasan yang akan memantul di sinar matahari tidak akan begitu ketara di mata para guru sekolah. Pikir Jeniffer dalam hati.


Saat akan memasuki salon itu, mata Jeniffer berbinar-binar karena melihat seorang wanita seusia dengan Camelia yang baru dikenalnya itu. Secepat mungkin langkahnya menuju ke arah wanita senja itu dan berucap.


Awalnya gadis itu merasa bingung harus memanggil Karina apa. Apakah Phopho mengikuti panggilannya kepada Camelia ataukah Ai. Namun saat terbayang wajah tampan Joseph dengan cepat panggilan itu keluar dari bibir gadis itu. Karina yang merasa terpanggil pun menoleh dan melihat penampilan sang cucu dari temannya.


Jeniffer memakai kaus berwarna Lilac dengan jaket dan celana denim yang membuat penampilannya terlihat sangat remaja. Tidak lupa saat ini Jeniffer memakai sendal flat berwarna gold bertabur permata. Ah, dia jadi mengingat penampilan sang putri saat berusia remaja seperti ini.


"Iya mau di rapikan dan sekalian di warnain coklat tua buat nutupin uban." jawab Karina singkat.


"Kalau gitu biar Jeni temani aja Ai. Kebetulan aku juga mau potong rambut yang udah mulai ga beraturan dan mau di warnain juga." ajak Jeniffer, berharap akan menjadi lebih dekat dengan pria pujaan hatinya melalui sang ibu.


"Memangnya boleh kamu di warnain rambutnya sama phopho?" tanya Karina bingung.

__ADS_1


"Kayaknya ga boleh. Makanya aku mau warnain gold brown yang baru bisa kelihatan di sinar matahari."


Karina langsung tertawa lepas saat mendengar perkataan dari gadis belia ini. Rasanya dia kembali merasakan memiliki seorang anak perempuan. Aster, anak sulungnya akan menikah dengan Jorgie dan sudah memiliki seorang anak dari pernikahan pertamanya yaitu David. Otomatis waktu sang putri akan lebih banyak tercurah untuk mengurus keluarga kecilnya.


Sementara Joseph, anak bungsunya. Sedang merintis karir agar kehidupannya mapan sebelum menikah sudah memiliki sebuah rumah. Joseph tidak ingin wanita yang kelak menjadi istrinya bernasib sama dengan sang kakak. Meskipun Karina sudah beberapa kali menyakinkan sang putra nampaknya, Joseph memiliki pengalaman traumatis saat melihat Aster yang banyak tersakiti oleh keluarga mantan suaminya. Riko.


"Kenapa melamun, Ai. Jangan bilang mau laporin aku ke phopho." ucap Jeniffer sambil cemberut dan Karina merasa gemas melihatnya.


"Kalau gitu Ai ga berani ikutan ya kalau phopho kamu marah." ucap Karina akhirnya.


"Beres Ai. Asalkan ga ngomong ke phopho juga g bakal tahu cepat." ucapnya kembali sambil mengurai senyuman. Saat itulah Karina tahu bahwa hatinya telah terpukau oleh sifat riang dari seorang Jeniffer Sukmajaya.


'Padahal dia adalah anak secantik dan periang ini. Tapi begitu teganya keluarga Sukmajaya membuang dia karena masih mempercayai mitos yang ada.' ucap Karina penuh sesal dalam hatinya.


"Ayo Ai. Mumpung belum terlalu ramai ini salonnya. Ntar abis dari sini mau makan di restoran Jepang yang baru buka. Sekalian story di IG." ajakan Jeniffer membuat Karina tersentak dari lamunannya.


"Ayo, nanti habis dari sini Aja traktir eskrim sebelum ke restoran."


"Ih Ai, memangnya aku ini anak kecil yang masih ngiler sama eskrim. Aku ini udah biasa minum kopi loh, ya meskipun itu juga sekalian endorse." makin tertawa kencanglah Karina mendengar perkataan gadis remaja ini.


Rasanya, urat-urat yang tegang dalam mempersiapkan pernikahan Aster dan Jorgie, nampaknya Camelia juga merasakan hal yang sama. Meskipun ini bukan pernikahan yang pertama bagi Aster maupun Jorgie. Tapi mengapa Karina merasakan gugupnya melebihi pernikahan pertama Aster.


"Jangan keras-keras, Ai ketawanya. Itu kita di lihatin banyak orang loh." Karina berusaha menghentikan tawanya saat Jeniffer menyelesaikan kalimatnya.


"Oke, kita terlalu banyak membuang waktu untuk berbicara rupanya. Sekarang mari kita rubah gaya rambut kita berdua." ucap Karina sambil menggandeng tangan gadis remaja itu.


Jeniffer tersentak akan perlakuan yang di berikan oleh Karina dan hatinya langsung membingkai pertanyaan. ' Kenapa sentuhan Ai Karina beda dengan phopho, bukannya mereka sama-sama wanita? Apa yang salah?'

__ADS_1


"Ayo Jeniffer, kita masuk kedalam." rasanya Jeniffer ingin menangis saat Karina memanggilnya dengan nada lembut seperti itu.


Rasanya kekosongan yang ada di hatinya perlahan mulai terisi dengan sesuatu yang gadis itu tidak tahu apa itu. Dalam hatinya Jeniffer berdoa semoga Tuhan mempersatukan cintanya dengan Joseph.


__ADS_2