
Edward yang terkejut saat tangannya ditarik oleh Jessi segera mengikuti langkah gadis itu untuk berlari. Dia sempat melihat seorang pemuda yang memanggil nama Jeniffer membuatnya yakin jika keberadaan mereka berdua sudah diketahui oleh keluarga gadis itu.
'Bagaimana caranya supaya aku bisa kabur dari Jessi, selama hampir 24 jam aku bersamanya membuatku yakin bahwa pribadi kata dua Kak Jeni itu sangat berbahaya. Dia menyimpan dendam terkadang Papa dan Amah.' monolognya dalam hati.
"Kak Jessi, okay aku bakal ikut lari sama Kakak tapi lepaskan tanganmu, kita tidak mungkin akan bisa berlari dengan bergandengan tangan seperti ini," ucap Edward yang berusaha untuk lepas dari Jessi.
"Gua nggak percaya, yang ada malahan lo bakalan kabur dari gua dan menemui orang yang memanggil Jeniffer itu," ujar Jessi dengan berteriak.
"Tapi sangat tidak efektif kita berlari sambil bergandengan tangan seperti ini. Resiko kita tertangkap akan jauh lebih besar," balas Edward juga dengan berteriak karena untuk berbicara dengan nada pelan.
"Itu karena lo yang enggak bisa lari dengan cepat, katanya atlet basket tapi kenapa lari lo sangat pelan sekali?" ejek Jessi membuat Edward tersinggung.
"Oke, kita lari tapi biarkan aku yang di depan," sahut Edward yang terpancing emosinya.
Jessi tersenyum dalam hati sebab pancingannya berhasil. Dia tahu tidak akan mungkin dapat menarik Edward yang lebih besar bobot tubuhnya yang lebih besar daripada dirinya untuk berlari dengan kencang kecuali jika Edward yang melakukannya.
Jessi menoleh ke belakang dia melihat Joseph yang semakin mendekat ke arah muka berlari dalam hatinya dia mengutuk pemuda itu yang mungkin saja akan membahayakan bahkan mungkin bisa menghilangkan eksistensinya.
"Jangan ikuti kami jika lo enggak mau Jeniffer dan Edward celaka!" jerit Jessi saat Joseph sudah hampir meraih tangannya membuat pemuda itu tersentak untuk beberapa saat lamanya.
"Siapa kamu?" tanya Joseph yang mulai mengurangi kecepatan larinya dia ingin menjaga jarak aman antara kedua remaja itu.
"Oh rupanya lu sudah tahu ya kalau gua bukan Jeniffer," ucapnya dengan sinis.
"Iya dari cara lo memanggil Jeniffer itu yang membuat gua yakin kalau bukan Jennifer yang berada di sini," sahut Joseph yang mulai terengah-engah nafasnya dalam hati dia merutuki diri yang nggak pernah berolahraga lagi semenjak kuliah.
"Ckckck, gua ternyata terlalu banyak memberikan clue rupanya," ucap Jessi sambil berdecak kesal.
"Jadi siapa Lo?" Joseph mengulang pertanyaannya sebab dia perlu tahu siapa yang menguasai pikiran dari Jennifer.
"Panggil gua Jessi, bisakah kita hentikan lari-larian ini gua lihat lo sudah mulai capek. Jadi biarkan kami pergi dari sini," ucap Jessi dengan mengejek.
__ADS_1
Edward yang percakapan antara kedua orang itu hanya beberapa terdiam sambil melanjutkan larinya. Dalam hati bagaimana dapat menuju ke arah pemuda itu.
"Tidak bisa, gua ke sini untuk menjemput Jeniffer dan Edward, bagaimanapun caranya gua akan membawa keduanya untuk pulang ke Jakarta!" pekik Joseph membuat Edward memikirkan langkah nekad.
Adik tiri Jeniffer itu segera memutar arah dan menepis tangan Jessi yang mencengkramnya dengan erat. Berhasil, dia sudah lepas dari pribadi kedua Jeniffer yang menakutkan. dengan segera dia berlari dan melompat ke arah Joseph yang sudah menantinya.
Jorgie yang sudah dapat menyusul menangkap Edward ke dalam dekapannya agar tidak tertangkap lagi oleh Jessi. Pria itu mengatakan kepada Edward jika dia sudah aman dan tidak perlu khawatir lagi. Meskipun dia membenci keluarga sukmaja ya tapi Edward di dalam hal ini tidak bersalah sudah menjadi kewajibannya untuk menolong pemuda yang sedang gemetar ketakutan itu.
"Makasih Shuk, Kakak.. bukan Cici Jeniffer dalam bahaya pribadi keduanya yang sedang menguasai pikirannya," ucap Edward setelah berhasil menetralkan nafasnya.
"Tidak apa-apa yang penting sekarang kamu sudah selamat, patokan pribadi tujuan itu biar kita serahkan sama Joseph," ucap Jorgie yang sedang menunggu Stanley dan James ke tempat mereka.
"Joseph, pria yang tadi mengejar aku dan Cici?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Jorgie.
Tidak lama kemudian kedua pria tua itu tiba dan Jorgie akhirnya menyerahkan pemuda itu ke tangan kedua pria paru baya itu. Setelah itu pria itu berlari menyusul Joseph dan keponakannya.
Jorgie tak lama berhasil mengejar Joseph dan Jeniffer yang sedang berkejaran, nampak sekali Joseph sudah ngos-ngosan dengan keringat yang sudah membasahi seluruh pakaian belakangmya. Namun anehnya dia tidak melihat jika sang keponakan kelelahan seakan sudah terbiasa melakukan kegiatan fisik seperti olahraga.
"Jessi, berhenti dulu apa lo nggak kelelahan?!" perkataan Joseph setengah berteriak mengejutkan Jorgie. Apa maksud dari adik ipar yang memanggil Jessi kepada Jeniffer. Apa itu nama pribadi kedua dari sang keponakan.
"Tidak mau!" teriak Jessi masih berlari dan kegiatan mereka bertujuan menjadi tontonan banyak orang karena menyaksikan dua pria dewasa yang mengejar seorang gadis remaja.
"Jeniffer!" apa yang di dalam pikiran Joseph tapi dia langsung memanggil nama Jenirfer dengan harapan gadis itu akan bangun dari tidurnya.
Namun sepertinya cara yang Joseph lakukan itu berhasil dia sih terlihat melambatkan larinya sambil memegang kepala dan pemuda itu melihat hal itu sebagai kesempatan untuk melumpuhkan Jessi.
"Jeniffer, Jeniffer Sukmajaya!" besok memanggil nama Jennifer berulang kali membuat gizi semakin mencengkram kepalanya dengan kuat.
Joseph semakin dekat dan terus menyebut nama Jeniffer, Jessi akhirnya jatuh berlutut sembari mengoceh tidak jelas.
"Sudah gua bilang jangan pernah bangun lagi, sekarang lo tidur aja lagi,"
__ADS_1
"Tidak itu tidak akan terjadi, lo telah melakukan semuanya kelewat batas dan sekarang apa hasilnya mereka menemukan juga kan di mana keberadaan lo,"
Joseph yang awalnya bingung mendengar Jessi bersahutan dengan dirinya sendiri akhirnya memahami jika Jeniffer sudah mulai terbangun dan melakukan perlawanan agar dirinya dapat menguasai pikirannya kembali.
Sementara Jorgie yang melihat keadaan sangka keponakan langsung meneteskan air mata, setelah ini dia bertekad aka membawa Jennifer ke psikiater untuk menghilangkan pribadi keduanya itu.
"Jeniffer, kamu bisa denger suara aku?" Joseph ikut serta dalam pertarungan antara kedua pribadi itu. Dia berharap suaranya akan dapat menyadarkan Jeniffer sepenuhnya.
"Om Joseph?" Joseph menghembuskan nafas lega karena dugaannya tepat karena itu dia akan melakukan percakapan kembali dengan Jeniffer.
"Iya ini Joseph, sekarang bisa tidak kamu bangun dan menemui aku?" tanya Joseph kembali.
"Diam lo, gua sudah tahu dari awal jika keberadaan lo akan membahayakan kehadiran gua dan sekarang terbukti kan? Lo berusaha untuk menghilangkan gua!" jerit Jessi yang berusaha menang dari pertempuran mental ini.
"Jeniffer ayo bangun, setelah ini selesai aku akan mengajak kamu jalan-jalan." ucap Joseph berusaha tidak terpengaruh akan provokasi Jessi.
Jorgie hanya termangu mendengar percakapan antara kedua orang itu. Entah kenapa dia merasa jika ada 3 orang yang berbicara.
"Diam lo, jangan banyak bicara!" kembali Jessi berteriak.
"Hey, beraninya lo jangan bentak Om Joseph!" Jeniffer balas berteriak.
"Jeniffer ayo bangun dan lihat wajah aku." ucap Joseph yang langsung merangkum wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
Jessi berusaha kuat memejamkan mata agar tidak menatap mata Joseph namun suara pria itu yang terus menerus memanggil nama Jeniffer membuatnya pribadi kedua itu kalah dan akhirnya membuka mata.
Saat kedua mata itu bertemu, keberadaan Jessi semakin mengecil dan akhirnya tertidur namun sebelum itu pribadi kedua itu sempat berkata, " Lihat saja Jeniffer, suatu saat nanti lo akan membutuhkan bantuan gua untuk menghancurkan keluarga bang*at itu! Camkan perkataan gua ini dan lo Joseph Zedekiah saat gua keluar lagi berhati-hatilah karena gua akan membuat perhitungan dengan lo."
"Om Joseph, ini beneran Om?" ucap Jeniffer sebelum kesadarannya menghilang, Joseph dengan sigap menangkap tubuh gadis itu dan berniat untuk membawanya ke rumah sakit atau klinik terdekat.
Jorgie pun dengan cepat menghubungi Stanley dan mengatakan untuk menjemput mereka bertiga sesuai dengan titik yang dia kirimkan.
__ADS_1
"Apakah ini memang sudah berakhir?" gumam Jorgie tidak yakin saat mengingat perkataan dari Jessi sebelum akhirnya Jeniffer berhasil menguasai pikirannya kembali.