Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
13. Jeniffer menemukan diary Meylani!


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Camelia sudah memberondong sang cucu dengan berbagai macam pertanyaan membuat Jeniffer kewalahan untuk menjawabnya. Di tambah dengan sang asisten rumah tangga, Darmi ikut-ikutan memuji Jeniffer atas aksi gadis itu dengan gaya hebohnya membuat Jeniffer hanya tersenyum canggung menanggapinya.


"Jeni, phopho ga mau ya kalau Jeni ladenin itu geng yang selalu cari masalah sama kamu." nasehat Camelia pada gadis yang beranjak dewasa itu.


"Jeni udah diam loh pho, ekh itu cewek-cewek geng cabe-cabean yang mulai duluan. Terus Jeni harus diam gitu saat para cewe cabe itu mulai ganggu Jeni." kilah Jeniffer dengan menunjukkan senyum terbaiknya berharap sang nenek akan luluh.


"Iya bener apa yang non Jeni bilang, mosok di ganggu kita diem aja yang ada kesenengan itu tukang ganggu." sahut Darmi membela sang nona.


"Ah, pusing phopho ngadepin kelakuan kamu. Phopho harap setahun ini ga akan ada panggilan dari sekolah." Jeniffer kembali menyunggingkan senyum canggung saat Camelia berkata dengan nada penuh omelan.


"Nya, jangan marah-marah mulu. Ntar tekanan darah tingginya naik, Nyonya ga mau kan tambah satu penyakit lagi di badan nyonya. Memangnya kencing manis dan asam urat ga cukup apa, Nya?" alih-alih membujuk sang nyonya, yang ada Camelia semakin meradang mendengar perkataan dari sang asisten rumah tangganya itu.


"Kamu ini nyumpahin saya banyak penyakit." sembur Camelia dengan mata mendelik membuat Darmi meringis.


"Ampun Nya, ekh sepertinya pizza buatan Nyonya udah matang tuh. Saya cek ya, semoga yang kedua ini hasilnya lebih bagusan." dengan langkah seribu Darmi langsung menuju dapur untuk melihat pizza kedua buatan sang nyonya.


Pizza pertama yang di buat Camelia hasilnya agak keras, karena wanita itu salah memperkirakan waktu pemanggangan di oven dan Darmi dengan senang hati menghabiskan hasil eksperimen sang nyonya yang gagal.


"Ga apa-apa gagal Nya, yang penting saya bisa makan. Ga pernah saya makan makanan bule kayak gini." celetuk Darmi polos membuat Camelia tersenyum.


Meskipun Darmi, sang asisten rumah tangga terkadang ceroboh dan sering membuat tensi ketiga orang dewasa di rumah ini naik, namun wanita berusia 40 tahun itu adalah sosok yang jujur, apa adanya dan blak-blakan. Selain itu yang terpenting Darmi itu bukan tipe wanita genit yang akan menggoda sang majikan laki-laki.


10 menit kemudian, Darmi pun membawa sebuah nampan berisi pizza yang kali ini tampilan cantik dan layak untuk di makan. Jeniffer pun telah mengganti seragamnya dengan baju rumah yang nyaman di pakai yakni kaos tangan buntung berwarna pink dan celana pendek berwarna hitam.


"Phopho baru nyoba buat pizza, kulitnya beli jadi sih isiannya yang buat sendiri. Semoga kamu suka." ucap Camelia lembut, sementara Darmi masih berdiam di meja makan dengan harapan akan di ajak untuk berpesta pizza oleh kedua wanita berbeda generasi itu.

__ADS_1


"Darmi kamu ngapain masih berdiri di situ?" tanya Camelia dengan heran melihat sang art yang terdiam sembari menatap penuh minat terhadap nampan yang telah berkurang isinya.


"Kirain saya di ajak makan pizza lagi kayak tadi, Nya. Ternyata ga ya, Nyah?" tanya Darmi salah tingkah.


"Ya Tuhan Darmi, itu perut apa karet?. Tadi kamu udah ngabisin seloyang pizza bantet, masa sekarang masih lapar lagi." pekik Camelia sembari menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuanku sang art.


"Wah, ada apa nih. Dari luar sudah ramai suara mama?" tanya Jorgie yang baru memasuki ruang makan yang menyatu dengan dapur ini.


"Biasa kelakuan Jeniffer dan Darmi buat kepala mama pecah. Oh iya, kamu sudah makan?" tanya Camelia kepada anak bungsunya itu.


"Memang mereka berdua ngapain?" tanya Jorgie pura-pura tidak mengerti.


"Kamu juga mau buat kepala mama makin pecah. Oh iya kapan rencana pernikahan kamu sama Diana?" tanya Camelia mengganti topik pembicaraan. Darmi segera dari ruangan ini karena merasa pembicaraan yang di angkat sudah mulai memasuki ranah pribadi.


"Diana maunya sekitar 2 tahun lagi. Ya sudah, Jorgie ikut aja apa kata Diana." Camelia langsung memberengut saat mendengar berita yang di sampaikan oleh Jorgie..


"Jorgie juga kurang tahu kalau soal itu. Mungkin belum siap melepas karirnya sebagai model." sahut Jorgie lirih.


"Phopho, ini isiannya kurang banyak." sambar Jeniffer karena gadis itu tidak ingin melihat Camelia semakin sedih memikirkan nasib pernikahan sang om yang masih abu-abu itu.


"Tapi enak tidak?" tanya Camelia.


"Ya selama kulitnya phopho beli ya pasti ga akan gagal." sahut Jeniffer membuat Camelia menunjukkan raut wajah masam.


"Jeni, kamu ini kalau ngomong suka bener." timpal Jorgie sembari tertawa.

__ADS_1


'Setidaknya phopho dapat melupakan sejenak tentang pernikahan aqiu Jorgie.' ucap Jeniffer dalam hati.


"Jeni, bisa ambilkan handphone phopho di kamar?" pinta Camelia yang langsung di turuti.


Gadis itu melangkah memasuki kamar kakek dan nenek yang selama ini merawatnya. Jeniffer melihat smartphone sang nenek tergeletak di meja berdampingan dengan sebuah buku biru bewarna biru langit yang menarik perhatiannya.


Segera gadis itu mengambil smartphone dan buku itu dalam satu genggaman dan berlari ke lantai atas untuk menaruh buku biru itu ke dalam laci meja belajarnya, setelah itu Jeniffer berlari untuk menghampiri Camelia yang sudah pasti kesal menunggunya yang menurut sang nenek 'lambat' dalam menjalankan perintah.


Benar saja begitu tiba ke ruangan makan, Camelia sudah berkacak pinggang sambil berdecak kesal saat melihat kehadirannya. "Lama banget ambil handphonenya, ngerem dulu kamu?" sindir Camelia saat smartphonenya sudah berada di tangan.


"Jeni kebelet pipis, jadinya lama." sahutnya asal.


"Kalau begitu, Jeni mau ke kamar dulu ya. Mau bobo sore dulu, ngantuk berat." Jeniffer mengemukakan alasan palsu agar dirinya dapat segera membuka buku bersampul biru langit Itu.


Jeniffer langsung melesat dengan kecepatan angin saat Camelia mengangguk. Dengan berdebar gadis itu mulai membuka halaman pertama, lihat nama Meylani Atmadja, gadis itu pun tersentak bukankah itu adalah nama mendiang ibunya jangan-jangan buku ini adalah diary sang ibu? tanyanya dalam hati.


'Udah buka aja ga usah banyak mikir.' titah Jessi yang berada di dalam pikirannya.


Seperti layaknya Camelia, Stanley dan Jorgie yang terkejut saat membaca halaman pertama dari curahan hati Meylani. Jeniffer pun rasakan hal yang sama ah bukan gadis itu lebih merasakan kemarahan dan rasa ingin membalas dendam akibat perlakuan dari keluarga Sukmajaya terhadap mendiang ibunya. Hanya karena mempercayai mitos bahwa anak pertama perempuan akan membawa kehancuran bagi keluarga itu sang ibu harus meregang nyawa dengan sia-sia.


'Kalau begitu kita akan buktikan rumor itu. Bahwa anak pertama perempuan dari Sukmajaya akan membawa kehancuran keluarga bang*at itu.'umpat Jessi, kemarahannya sudah memenuhi ubun-ubun kepalanya saat ini. Namun sekali lagi dia harus bersabar setidaknya untuk beberapa tahun untuk melaksanakan rencananya.


'Jeniffer, masih mau membela keluarga sampah dan toxic itu.' pekik Jessi kembali.


'Baiklah, mulai saat ini aku akan menuruti keinginan kamu dalam membalas dendam kepada keluarga itu.' ucap Jeniffer lirih.

__ADS_1


Meskipun dia mencoba tidak percaya dan menyangkalnya, namun kenyataan sudah berbicara dan tak dapat di sangkal. Jeniffer pun membenci sang ayah dan keluarganya!


__ADS_2