
Orang-orang suruhan Gilda mulai mengamat-amati Jeniffer setelah melakukan pencarian selama 2 hari. Pak Udin, sang supir yang memang diberikan kepekaan tinggi segera memberi tahu Jorgie mengenai gerak-gerik beberapa pria yang mencurigakan.
"Pak Udin awasi aja terus mereka, mulai besok saya akan berikan bodyguard untuk menjaga Jeniffer," titah Jorgie.
"Pak Udin ngomong sama siapa koq seru banget kelihatannya," pria itu langsung terlonjak karena suara Jeniffer yang cukup keras.
"Non Jeniffer ngagetin aja, tadi Bapak lagi ngomongin sama Pak Jorgie," jawab pak Udin sambil mengusap dadanya.
"Memang ada apaan, Pak, kenapa muka Bapak tegang banget?" tanya Jeniffer sambil merapikan rambutnya dengan tangan kanannya.
"Non lihat mobil warna abu-abu yang di depan?" Jeniffer mengangguk saat matanya menangkap objek yang dimaksud oleh sang supir.
Jeniffer membulatkan matanya saat pak Udin menceritakan kecurigaan terhadap beberapa pria dan Jorgie yang memintanya waspada.
"Pak, mending pulang sekarang aja atau kalau itu mobil masih ikutin kita. Bapak pilih ke kantor Aqiu atau kantornya Om Joseph yang kira-kira aman," usul Jeniffer yang langsung dituruti oleh supir berusia 50 tahun itu.
Tidak mungkin juga baginya yang sudah tua ini melawan segerombolan pria yang jelas-jelas staminanya lebih kuat dan bugar daripada dirinya.
"Kantor Den Joseph di mana, Non?" tanya sang supir saat mulai menyalakan mesin mobilnya dan memikirkan jalan raya yang ramai dan aman untuk keselamatan keduanya.
Setelah menyebutkan alamat kantor Joseph, pria tua itu segera melajukan mobilnya menuju jalan tol yang bebas hambatan karena jarak kantor Joseph yang ternyata dekat dengan pintu masuk/keluar tol dalam kota.
"Om Joseph, aku sama Pak Udin ke sana,ya? Sepertinya kami berdua dalam masalah, mobilku di ikutin sama mobil warna abu-abu," ucap Jeniffer dengan nada riang lalu mematikan sambungan telepon.
***
Joseph yang terkejut saat mendengar kalimat Jeniffer tidak menyadari jika gadis itu sudah tidak tersambung lagi dalam sambungan telepon. Pria itu bahkan harus ditepuk oleh salah seorang temannya untuk membawanya ke alam nyata.
"Astaga Jeniffer, semoga kamu tidak apa-apa," ucap Joseph sambil mengusap wajahnya kasar.
"Muka lo kenapa kok kayak tegang begini?" tanya Richard yang baru saja memasuki ruangan staff IT sehabis dari meminum kopi di pantry.
__ADS_1
"Jeniffer dalam bahaya,dia mau ke sini tapi diikutin oleh sebuah mobil," pekik Joseph yang langsung menyalakan laptopnya untuk melacak keberadaan Jeniffer melalui alat GPS.
Richard yang tahu bahwa ini adalah hal serius tidak lagi berani meledek Joseph dan ikut membantu pemuda itu dalam melacak keberadaan Jeniffer. Dengan memastikan titik di mana mobil gadis itu berada, pria itu meretas CCTV yang berada di jalanan yang dilintasi oleh kekasih Joseph itu.
"Joseph, gua berhasil dapatin nomor polisi yang ikutin Jeniffer," pekik Richard yang membuat Joseph terpengarah. Kenapa otaknya mendadak buntu saat mendengar Jeniffer dalam bahaya. Untung saja ada Richard yang membantunya kalau tidak dia akan semakin panik.
"Thanks ya," hanya itu yang dapat diucapkan oleh Joseph saat Richard menunjukkan gambar kedua mobil yang sedang beriringan menurut pandangan mata orang biasa.
"No problem, gua tahu lo lagi panik makanya gua bantuin," ucap Richard yang kembali mengawasi keadaan jalan raya yang dilintasi oleh kedua mobil itu.
"Sepertinya mobil mereka sudah masuk jalan bebas hambatan, sekarang kita hanya tinggal menunggu pergerakan dari alat pelacak yang dipasangkan di tubuh Jeniffer," ucap Richard yang membuat Joseph menghela nafas.
"Ko, Jeniffer mau ke kantor aku, cuma sebelumnya dia telepon kalau lagi diikutin oleh sebuah mobil," dengan pasrah Joseph menelepon sang kakak ipar untuk menjelaskan apa yang menjadi keresahannya.
"Dasar keluarga sia*an, mereka rupanya sudah terang-terangan dalam mengincar Jeniffer. Tadinya aku kira mobil itu hanya sebatas mengawasi saja, terus bagaimana pergerakan Jeniffer?" tanya Jorgie dengan geram.
"Masih bergerak di jalan bebas hambatan dan setengah perjalanan ke kantor aku," jawab Joseph yang matanya masih mengawasi layar laptopnya.
"Joseph ini aneh, pergerakan Jeniffer sepertinya agak tersendat di satu titik, memangnya jam sekarang jam macet di jalan tol?" tanya Richard uang yang segera menarik Joseph untuk melihat layar komputernya.
"Sayangnya di jalan tol yang mau ke kantor kita itu enggak ada CCTV yang terpasang satupun," ucap Joseph setengah terpekik.
"Kalian berdua kenapa mukanya tegang gitu?" tanya Pak Andre saat memasuki ruangan untuk staff IT.
"Mobil Jeniffer diikutin sama mobil lain dan ada pergerakan yang aneh," jawaban Joseph yang panik tak ayal membuat pak Andre bingung.
"Kamu itu ngomong apaan sih Jos, saya enggak ngerti, coba kamu yang tenang dulu" tanya pak Andre.
"Gini Pak, pacarnya Joseph yang namanya Jeniffer katanya lagi diikutin sama mobil warna abu-abu. Menurut pantauan terakhir mobil Jeniffer di jalan tol yang mau ke kantor kita," Richard yang akhirnya mengambil alih untuk menjawab pertanyaan dari sang atasan karena Joseph yang semakin resah sambil terus memandangi layar laptopnya.
"Jeniffer, Jeniffer Sukmajaya maksudnya kamu?" tanya pak Andre yang mengingat foto Jeniffer di ponsel Joseph.
__ADS_1
"Iya Pak," Pak Andre langsung lemas saat mengenali jika gadis itu adalah keponakan tersayang dari Jorgie Ongtara.
"Kalau gitu kita harus bergegas untuk menjemput di pintu tol, jangan sampai dia tertangkap orang-orang jahat itu. Bisa-bisa Pak Jorgie mengamuk ntar!" pekikan pak Andre membuat Richard terkejut.
"Baik Pak, perlu tidak kita panggil polisi?" tanya Richard kembali.
"Saya saja yang panggil teman polisi saya. Kalau kamu yang panggil enggak akan dianggap karena tidak ada bukti kejahatan," ucap Pak Andre yang segera berlari ke ruangannya.
"Lo denger kan kata Pak Andre tadi, ayo cepat kita jalan jemput cewek lo." titah Richard yang segera menyeret Joseph keluar dari ruangan mereka.
Keduanya langsung disambut dengan beberapa pertanyaan dari 10 rekan kerja pria dari berbagai divisi karena mereka diberi titah oleh Pak Andre untuk mengikuti mereka.
"Sudah jangan banyak tanya, misi kita menyelematkan Jeniffer Sukmajaya, keponakannya dari Jorgie Ongtara," ucap Richard karena Joseph sibuk memperhatikan layar ponselnya untuk memantau pergerakan Jeniffer yang masih terpusat di satu titik.
***
Joseph masih dapat menghela nafas karena alat pelacak Jeniffer masih bergerak menuju ke luar pintu tol yang sedang dia dan rekan-rekannya berdiri untuk menunggu mobil gadis itu keluar.
10 menit kemudian yang dinanti pun datang, Joseph mulai melihat plat mobil Jeniffer keluar dari pintu tol ini tapi entah dari mana segerombolan pria menghadang mobil itu dan berusaha memecahkan kaca mobil in*va hitam itu menggunakan balok kayu dan tongkat besi.
Pria itu tercekat saat melihatnya, ingin segera dia menuju ke arah Jeniffer untuk menyelamatkan gadis itu. Tapi Richard dan 3 orang temannya menahan tubuh Joseph yang tentu saja memberontak.
"Joseph, jangan bahayakan diri lo, sebentar lagi polisi datang," teriak Richard yang masih terus memegang perut Joseph agar berpikir jernih.
"Bagaimana gua bisa tenang, Chard, kalau Jeniffer dalam bahaya !" Joseph balas berteriak dan mengerahkan tenaganya untuk terbebas dari Kungkungan 4 orang pria.
Semuanya terjadi begitu cepat di mata Joseph, seorang pria melemparkan bom gas air mata dan begitu udara mulai bersih suara teriakan Jeniffer terdengar di gendang telinganya sebelum sebuah mobil terdengar meninggalkan tempat yang sudah dipenuhi dengan kekacauan ini.
"Lepasin gua dasar orang-orang bren*sek. Lihat saja Om Joseph pasti tidak akan membiarkan kalian semua!"
"Jeniffer!" teriak Joseph sebelum akhirnya meluruh ke bawah.
__ADS_1