
Jeniffer melangkahkan kakinya di sekolah baru dengan hati cemas. Bagaimana jika ada murid di sekolah barunya mengetahui kabar jika dia pernah melarikan diri dengan Edward. Sudah pasti hari-harinya tidak akan pernah tenang. Jeniffer juga memutuskan untuk berhenti menjadi selegram dalam waktu dekat dan menyelesaikan tugas mengiklankan semua produk yang tersisa.
"Jeni, jangan takut, ya, kamu sudah merubah sedikit penampilan seharusnya mereka enggak akan sadar ini kamu," ucapan Jorgie sedikit banyak menenangkan diri.
Memang benar yang dikatakan oleh sang om, Jeniffer kembali mengecat rambutnya menjadi warna hitam dan memakai kacamata yang membuat tampilannya menjadi seperti kutu buku. Semua itu dilakukan agar para penghuni sekolah barunya, yakni SMA Pelita Abadi.
Jorgie sengaja memindahkan Jeniffer ke sekolah yang tidak terlalu mahal biayanya agar tidak mengundang kecurigaan dari keluarga Sukmajaya yang dia yakini ingin membuat perhitungan dengan Jeniffer.
"Jeniffer, saya Mister Jason, guru BK di sekolah SMK Pelita Jaya ini," ucap seorang pria berusia 30 tahunan saat Jeniffer sudah masuk ke ruangan guru tersebut.
Jeniffer tertawa dalam hatinya sebab guru BK-nya semasa SMP hingga dia pindah SMA semuanya adalah pria. Apakah semua ini adalah kebetulan,ya?
"Saya Jeniffer Sukmajaya, saya harap Mister Jason akan dapat memaklumi kenakalan saya yang nantinya mungkin di luar nalar," ucap Jennifer sambil menatap lurus mata sang guru BK.
"Kamu sudah mendapatkan persetujuan dari psikiater kamu untuk bersekolah, artinya kamu cukup sehat untuk bersekolah. Om kamu juga menjelaskan kondisi khusus kamu yang tidak boleh terkena tekanan yang berlebih agar dia tidak muncul," ucap Mister Jason dengan mengurai senyum.
"Apa Mister tidak malu dengan keadaan saya?" tanya Jennifer kembali.
"Mengapa harus malu? Yang penting kamu ada niat untuk sembuh dan rutin minum obat," ucap Mister Jason mengulas senyum maklum.
"Terima kasih, Mister Jason," ucap Jeniffer.
"Sekarang mari kita ke kelas kamu di XI.IPS.II," ajak Mister Jason yang dijawab anggukan kepala oleh gadis itu.
***
"Selamat pagi, Miss Adelia, saya mengantar murid baru namanya Jeniffer Sukmajaya," ucap Mister Jason setelah mengetuk pintu kelas.
"Terima kasih, Mister, silahkan perkenalkan diri kamu, Jeniffer," ucap guru wanita yang masih berdiri di depan kelas.
Mister Jason mengangguk ke arah Jeniffer dan berkata pada gadis itu, "Saya tinggal dulu, ya,"
Setelah menghela nafas, Jeniffer membuka suaranya, "Halo semuanya, saya Jeniffer Sukmajaya, senang bertemu dengan kalian semua,"
Mister Adelia menunggu sejenak tapi gadis itu tidak juga membuka suaranya usai memperkenalkan diri karena itu sang guru matematika berkata pada Jeniffer, " Tidak ada lagi yang mau kamu sampaikan?"
__ADS_1
"Tidak ada, Miss, boleh saya duduk, kaki saya sudah terasa pegal mungkin efek dari kecelakaan yang saya alami baru-baru ini," ujar Jeniffer berdusta karena dia tidak ingin diberikan pertanyaan macam-macam oleh teman-teman sekelasnya yang terlihat antusias akan dirinya.
"Baiklah, silahkan duduk di kursi kosong dekat jendela," ucap Miss Adelia menunjuk tempat yang dimaksud.
Dengan langkah cepat gadis itu menuju ke tempat duduknya dan diiringi oleh berbagai tatapan oleh para penghuni kelas ini.
'Setidaknya aku tidak boleh terlihat menonjol agar mereka tidak mencurigaiku,' ucap Jeniffer dalam hatinya.
"Hai, nama gua Helen," ucap seorang gadis yang duduk di samping kanannya.
"Oh, hai juga, Helen," sahut Jeniffer singkat.
Suara Miss Adelia yang menggema di ruangan kelas mengurungkan niat Helen untuk bertanya lebih lanjut kepada Jeniffer membuat gadis itu menghela nafas lega.
***
Istirahat pertama berbunyi dan seluruh teman baru Jeniffer bersorak melihatnya membuat gadis itu tersenyum simpul mengingat kenangannya saat berada di sekolah lamanya.
"Hai, Jeniffer, mau ke kantin?" tanya Helen bersama dengan 2 orang gadis yang belum Jeniffer ketahui namanya.
'Jeni, ingat waspadai sama 2 orang gadis ini, gua seperti melihat aura iri dan permusuhan dari medianya,' Jeniffer tersentak saat Jessi kembali berkomunikasi dengannya.
'Oke, thanks ya, gua kira lo enggak mau muncul lagi,' sahut Jeniffer berterima kasih.
'Pokoknya kali ini gua akan main aman jika kedua gadis ini mulai macam-macam sama lo,' ucap Jessi sebelum akhirnya menghina kembali.
"Jeniffer, kenapa?" tanya Helen dengan nada cemas karena Jeniffer hanya terdiam mematung.
"Oh, maaf, mungkin pengaruh lapar, ayo kita ke kantin," sahut Jeniffer memberikan alasan.
"Jeniffer, ini Ranty dan ini Ineke," ucap Helen sambil memperkenalkan kedua gadis yang berada di belakangnya.
Ranty memiliki tipe wajah chubby yang membuat orang gemas ingin mencubitnya, sementara Ineke memiliki tinggi badan yang terbilang cukup jangkung untuk ukuran gadis Indonesia pada umumnya, Jeniffer memperkirakan jika tingginya 168 CM.
Dilihat sekilas memang tidak ada yang aneh dengan kedua gadis itu, tapi setelah Jeniffer memperhatikannya secara cermat memang terlihat sedikit kilatan licik dan iri dari keduanya. Untung saja Jessi sempat memperingatkannya, jika tidak Jeniffer mungkin akan tertipu.
__ADS_1
"Jeniffer pindahan dari mana?" tanya Helen yang membuat Jeniffer meringis.
Sesuai dengan skenario awal Jorgie, Jeniffer harus mengatakan jika terkena amnesia saat diberikan pertanyaan oleh teman-teman sekolah barunya.
"Aku tidak ingat karena efek kecelakaan, Om aku bilang aku pindah sekolah karena pengobatan yang aku lakukan lebih dekat di sini," ucap Jeniffer dengan wajah memelas.
"Oh, kasihan sekali, gua enggak bisa membayangkan jika jadi lo," ucap Helen dengan nada simpati.
"Terima kasih," ucap Jeniffer tulus.
Sementara itu, kedua gadis yang bersama Helen tersenyum licik sambil melempar kode untuk mengerjai murid baru yang mereka kira culun itu.
Jeniffer yang sudah memasang alarm waspada akan kedua gadis itu hanya tersenyum kecil, dia menantikan hal apa yang mereka lakukan kepadanya. Apakah dia harus memanggil Jessi? Karena kata pribadi keduanya itu dia akan bermain aman kali ini.
"Jeni, mau makan apa?" tanya Helen dengan lembut.
"Bakso sama mie instan," jawab Jeniffer singkat.
"Oke, bakso di kantin ini laris manis, loh. Bakal ketagihan lo kalau udah nyicipin," sahut Helen sambil menunjuk ke arah penjual bakso yang ramai akan siswa yang mengantri.
"Oh, betul juga, itu ramai juga antriannya," ucap Jeniffer kecewa.
"Tenang aja, kita yang beliin, lo duduk aja," ucap Ineke yang menampilkan senyum palsu yang tampak jelas dalam pandangan mata Jeniffer.
"Oke, gua beli minum dulu," ucap Jennifer yang melangkah ke arah penjual minuman yang sedang kosong antrian.
Gadis itu membeli 1 botol teh kemasan yang baru saja di ambilnya dari dalam lemari pendingin berserta 3 botol air mineral botol untuk teman-teman barunya.
"Jeni, ini baksonya," ucap Ineke yang membawakan semangkuk bakso yang masih mengepulkan asap.
Helen baru saja selesai mengantri di pedagang soto dan bergabung dengan ketiganya. Ineke dan Ranty memakan mie ayam pangsit dengan lahapnya.
Jeniffer yang baru saja menyuapkan sesuap bakso langsung merasakan pedas lada pada lidahnya yang membuatnya meringis dan menerbitkan senyum licik Ranty dan Ineke. Dengan cepat Jessi mengambil alih pikiran Jeniffer dan memakan habis bakso itu serta membuat kedua gadis yang berniat jahat itu terpengarah, apalagi gadis itu menampilkan senyum manis yang bagi keduanya mengerikan.
'Jangan macam-macam dengan gua,' itulah arti tatapan Jessi yang dipahami keduanya dan membuat mereka meringis.
__ADS_1