Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
34. Cie yang tidur seatap, deg-degan ya?


__ADS_3

Akhirnya Jeniffer tiba di rumah sekitar jam 10.00 malam, Camelia dan Stanley yang sudah menunggu sang cucu di ruang tamu pun terkejut saat melihat Joseph ikut masuk bersama dengan gadis belia itu.


"Maaf Om, Tante jadinya larut mengantarkan Jeniffer pulang ke rumah. Tadi kami makan dulu soalnya terjebak macet dan perut kami berdua tidak dapat diajak kompromi lagi." ucap Joseph dengan menampakkan raut wajah menyesal.


"Kami ga marah sama kamu Joseph, kami marah sama Jeniffer, tadi bilangnya mau pergi ke mall ternyata malah nyangsangnya ke rumah kamu dan malah ngerepotin kamu untuk nganterin dia pulang ke rumah." perkataan Camelia membuat Jeniffer meringis, setelah Joseph pulang pasti sang nenek akan memarahinya habis-habisan.


"Ga apa-apa, Iie Lagipula besok aku jadwal ke luar kantor dan agak siangan. Ga perlu bangun pagi-pagi kalau ke kantor." ucap Joseph sambil mengurai senyum kepada mertua perempuan sang kakak.


"Tapi ini udah larut malam, lebih baik menginap saja ya? Iie akut banyak begal kalau malam gini, sini biar Iie yang nelepon Mama kamu ya?" Joseph meringis saat mendengar perkataan dari Camelia.


Tapi setelah dipikir-pikir, betul juga dikatakan oleh mertua perempuan sang kakak. Begal lagi marak dan yang menjadi incarannya adalah pengemudi yang berkendara seorang diri pada malam hari seperti saat ini. Apalagi tampang wajahnya sama sekali tidak menampakkan aura sangar yang dapat mengintimidasi lawan. Maka jelas pilihan menginap adalah yang terbaik saat ini.


"Joseph, Mama kamu udah izinin. Kamu tidur di kamar Jorgie aja. Letaknya sebelahan persis sama kamar Jeniffer." Joseph kembali dibuat terkejut saat Camelia mengatakan itu.


Membayangkan bahwa akan tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur gadis itu membuatnya meringis. Semoga saja tidak ada kejadian aneka rupa saat dia beranjak tidur. Harapnya dalam hati.


"Kalau mau mandi pakai aja kamar mandinya Jorgie, orangnya juga bakal jarang kemari juga kok." ucap Camelia dengan lembut setelah membuka pintu kamar Jorgie.


Pemandangan putih dan hitam langsung menyapa netranya, sepertinya sang kakak ipar menyukai kedua warna ini. Bahkan spreinya saja papan catur. Berkendara di tengah kemacetan tentu saja membuat tubuh Joseph terasa pegal, setelah melakukan peregangan di seluruh tubuh membuat Joseph sedikit rileks, untung saja dia tidak harus bangun pagi karena akan bertugas di luar kantor.


"Kak Aster, suami kakak dan keluarga ini sangat menyayangi kakak. Tidak seperti mantan suami kakak berserta keluarganya. Mungkin benar kata Mama, aku harus mulai memikirkan tentang pasangan hidup dalam waktu dekat." monolog Joseph pada dirinya.


"Jeniffer, apakah dia sudah tidur?" tanyanya lagi sambil merebahkan diri di kasur milik Jorgie.


Matanya memang terpejam, namun dirinya tidak dapat terlelap. Bayangan Jeniffer yang tidur di kamar sebelah tiba-tiba memenuhi pikirannya. Mulai dari pertemuan pertama hingga pertemuan yang tidak disengaja dan kenangan sewaktu berlibur di Amsterdam berputar layaknya sebuah film yang berputar. Dan tanpa disadari olehnya Joseph membayangkan dirinya memakai setelan jas putih dan Jeniffer yang berada di sisinya memakai gaun pengantin dengan tiara dan viel yang cantik.


"Ah, kenapa pula aku harus memikirkan gadis yang masih di bawah umur itu. Seperti pedofil saja kamu Joseph." sentak Joseph sambil memukul kepalanya kencang saat bayangan masa depan itu mulai tergambar.

__ADS_1


"Mungkin aku harus ke dapur untuk meminum segelas air dingin." ujarnya kemball.


Joseph pun langsung melangkah turun, tadi Camelia sempat menunjukkan jalan ke dapur andaikata dia ingin memakan atau meminum sesuatu saat malam-malam. Mengandalkan senter dari handphone Joseph berjalan di kegelapan malam yang hening ini.


Untunglah lampu di dapur masih menyala, sepertinya Camelia menerapkan hal yang sama dengan sang ibu yaitu membiarkan salah satu di ruangan rumah menyala pada malam hari. Pernah Joseph bertanya apa tujuannya dan Karina menjawab rasanya membiarkan rumah gelap gulita membuat rasa tidak nyaman. Sungguh alasan yang aneh bagi Joseph.


***


Tidak jauh berbeda dengan Joseph, Jeniffer juga gelisah membayangkan bahwa pria pujaannya tidur di sebelah kamarnya. Gadis itu sudah terpejam namun herannya rasa kantuk tidak juga menghampirinya berbagai gaya tidur pun sudah dia coba, dari berguling ke kiri ke kanan, tengkurap, terlentang, miring hingga kepala berada di lantai dan kaki berada di kasur sudah Jennifer lakukan namun nihil gadis itu tetap tidak dapat terlelap.


"Lebih baik gua buat mie instan deh. Siapa tahu abis makan perut kenyang jadi bisa tidur. Ini sudah jam 12 lewat pula jangan sampai ga tidur gua." gumam Jeniffer pelan dan semenjak keberadaan Joseph, Jessi memilih untuk tidak mengacaukan Jeniffer. Pribadi kedua itu lebih memilih bersembunyi sementara waktu, jujur saja dia semakin tidak menyukai aura Joseph yang semakin kuat itu.


Gadis itu berjalan ke dapur sembari membayangkan mie instan rasa apa apa yang akan di buat olehnya. Mungkin menambahkan selembar rumput laut kering dan beberapa isian lainnya akan membuat cita rasa mie instan itu akan semakin enak di lidah.


Begitu sih awal yang ada di dalam pikiran Jeniffer, tapi saat ada seseorang pria yang berdiri memunggungi dirinya membuat gadis itu seketika lupa tujuan awal dirinya menginjakkan kaki di dapur.


"Tapi mau makan mie instan." gerutunya lagi.


"Ah, masa bodo. Perut perut gua ngapain mikirin pandangan orang lain ga bakal bikin kenyang." tekad gadis itu akhirnya.


"Om, lagi buat susu coklat? Mau sekalian di buatin mie instan ga?" tanya Jeniffer sambil mengeluarkan beberapa bahan yang dibutuhkan dari dalam kulkas.


"Kamu masih lapar? Tadi kita makannya cukup banyak loh?" tanya Joseph terkejut saat mengetahui kapasitas perut Jeniffer.


"Om, ngaku deh. Meskipun banyak kita ga ada nasinya. Aku ini ga bisa kalau ga ketemu nasi sehari, bawaannya masih lapar." Joseph mengangguk dan membenarkan perkataan gadis belia itu. 2 potong ayam, seporsi kentang goreng dan satu cup kecil cream sup rasanya tidak cukup untuk mengenyangkan perut.


"Memang kamu bisa buat mie instan?" tanya Joseph menggoda.

__ADS_1


"Biarpun aku ga bisa masak, aku bisa goreng telor ceplok dan datar sama masak instan sama goreng Frozen food meskipun pakai air fryer." Josep tertawa mendengarnya dan setuju jika air fryer adalah teknologi canggih yang memudahkan pekerjaan rumah.


"Ya kalau gitu saya juga mau icipin rasa mie instan yang kamu buat." goda Joseph membuat Jeniffer salah tingkah.


"Ka..ka.. kalau gitu Om duduk aja. Lagian ruangan makan gelap gulita ini." ucap Jeniffer dengan tergagap.


Joseph memperhatikan punggung gadis yang sedang memotong-motong bahan isian dari mie instan yang akan mereka santap. 6 buah bakso 2 sosis dan beberapa udang telah terpotong dan di cuci bersih. Pemuda itu juga memperhatikan saat Jeniffer memotong bawang merah dan putih, meskipun masih kaku yang jelas potongan bawang itu cukup rapi.


"Rupanya dia pakai 2 panci." ucap Joseph pelan saat melihat Jeniffer mulai memasukkan 2 bungkus mie instan rasa kari ayam di


kuali, sementara gadis itu mulai menumis bawang putih dan merah di panci berbahan teflon itu.


"Setidaknya dia tahu cara menumis bawang." ujarnya kembali mengomentari cara masak Jeniffer. Entah mengapa pria itu amat menyukai tampilan Jeniffer yang penuh dengan peluh akibat terkena panas dari kompor.


5 menit kemudian mie instan buatan Jeniffer pun sudah siap dan Joseph mencium aroma sedap yang belum pernah dia cium selama ini, karena penasaran Joseph mengangkat objek yang menimbulkan aroma sedap itu. "Oh, kamu pakai rumput laut kering pantes aromanya tambah kuat.'


"Iya lihat dari temen sesama selegram, dia masak mie instan pakai bahan yang aneh-aneh. Ad rumput laut a yang pake susu cair, kental manis sama ini rumput laut." ucap Jeniffer sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Saya suka." ucap Joseph kembali dan akhirnya menyadari kesalahannya.


"Om suka apaan?" tanya Jeniffer dengan pipi merona.


"Tentu...saja saya suka mie instannya." ucap Joseph setelah menguasai diri.


'Ini bahaya, gadis kecil ini semakin memporak-porandakan hatiku saja.' ujarnya dalam hati.


Dan mereka berdua menghabiskan sisa makanan yang ada di dalam mangkuk dalam diam, seakan jika mengatakan sesuatu akan ada kata-kata aneh yang akan terucap.

__ADS_1


__ADS_2