Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
14. Perseteruan pertama dengan Edward!


__ADS_3

Meskipun Jeniffer mencoba tidak percaya dan menyangkalnya, namun kenyataan sudah berbicara dan tak dapat di sangkal. Bahwa selama ini ayah yang selalu di rindukan olehnya ternyata adalah salah satu penyebab utama Meylani meminum sebotol pil obat tidur yang mengakibatkan sang ibu meregang nyawa.


'Bagus, biar gua yang melakukan aksi balas dendam ini kalau Lo ga berani.' gaung Jessi. kembali membuat Jeniffer terasa pusing.


'Oke, tapi please kalau kamu mau ambil alih pikiranan ku jangan tiba-tiba. Aku masih terasa pusing tahu.' keluh Jeniffer yang hanya di tanggapi tawa keras oleh Jessi.


'Bearti fisik lo kurang kuat. Cemen, segitu aja ga bisa kuat.' ejek Jessi membuat Jeniffer tersenyum masam.


'Tapi apa perlu kita membaca kembali halaman berikutnya dari buku diary mama?' tanya Jeniffer ragu, karena dia tidak akan sanggup membayangkan penderitaan sang ibu semasa hidupnya.


'Justru kita harus membacanya sampai habis dan itulah yang menjadi motivasi kita untuk membalas dendam kepada keluarga bang*at itu. Bayangan penderitaan mama semasa hidup mama lah yang akan kita pakai untuk membalas dendam kepada keluarga Sukmajaya.' desis Jessi dengan berapi-api.


Tok tok tok


Sebuah suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Jeniffer dan Jessi memilih untuk tertidur sebab pribadi kedua itu merasa lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Dengan cepat gadis itu membuka pintu kamar setelah sebelumnya menyembunyikan buku diary Meylani ke dalam laci meja makan. Terlihat Jorgie berdiri di depan pintu sambil menenteng sebuah plastik besar.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Jorgie setelah mendaratkan bokongnya di kasur sang keponakan.


"Baru searching YouTube buat referensi untuk iklanin produk endorse." jawab Jeniffer yang tentu saja adalah dusta.


"Jangan tidur malam-malam biar besok nggak kesiangan bangunnya. Aqiu tadi sempat lihat kamu di live IG teman sekelas kamu melalui handphone karyawan aqiu pas mau maksi. Jujur saja aqiu senang Jeniffer dapat membela diri. Cuma jangan keterlaluan juga ya, phopho sampai stress mikirin kamu loh." Jorgie memulai nasihatnya.


"Maunya sih gitu Qiu, cuma mereka kayak ga puas kalau belum mempermalukan Jeni. Giliran di balas udah kena mental. Berarti mereka yang cemen dong." kilah Jeniffer membuat Jorgie tertawa karena kelihaian gadis remaja itu untuk berkelit.


Masih terngiang dalam benak Jorgie saat Jeniffer akan memasuki TK, gadis itu terlihat pemalu dan pendiam. Tidak seperti kebanyakan bocah seusianya, Camelia pun sempat khawatir dengan perkembangan psikologis sang cucu yang untungnya tidak menunjukkan kendala apapun.


Namun semenjak peristiwa penculikan yang terjadi 6 tahun lalu, membuat pribadi Jeniffer agak sedikit berubah. Gadis itu lebih pandai mengemukakan apa yang dirasakan olehnya dan cenderung membalas perlakuan jahat yang di lakukan oleh teman sebayanya. Kalau untuk yang itu entah Jorgie harus bersukur atau tidak pria itu tidak tahu.


Keinginannya membalas dendam kepada keluarga Sukmajaya perlahan menghilang seiring waktu pertumbuhan Jeniffer, bagi Jorgie sudah cukuplah hanya melihat wajah sang kakak melalui sang keponakan. Dia tidak ingin kehilangan orang yang beharga hanya demi ego semata.


"Iya memang yang kamu lakukan ini adalah sebagai bentuk pertahanan diri. Aqiu bangga sama kamu, meskipun kamu tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Jeni masih bisa mandiri." ucap Jorgie sambil mengelus kepala sang keponakan.


"Iya dong, meskipun Jeni di buang oleh keluarga sedarah. Jeni harus tetap tegak berdiri agar tidak ada yang meremehkan Jeni." Jorgie mengernyit saat mendengar perkataan Jeniffer, baru saja dirinya akan bertanya lebih lanjut. Suara dering smartphone yang memekakkan telinga membuat pria itu harus pamit dari kamar gadis remaja itu.

__ADS_1


Sepeninggal Jorgie, Jeniffer memutuskan untuk tidur sebab matanya amat berat untuk dibuka seakan ada lem yang terpasang di sana. Tak lama berselang gadis itu sudah terbang dalam dunia mimpinya.


***


Jeniffer terbangun dengan perasaan yang tidak enak karena membaca 5 lembar dari buku diary Meylani. Jessi yang ada di dalam pikirannya pun semakin semangat untuk melancarkan niat balas balas dendamnya itu.


'Bagaimana jika kita mengamati dulu anak dari pria brengs*k itu?' usulan Jessi membuat Jeniffer mengerenyit.


'Maksudnya Edward, adik aku?' tanya Jeniffer memastikan.


'Iya Jeni sayang, mungkin beberapa tahun ini kita hanya dapat mengamati keluarga Sukmajaya melalui bocah perlente yang kemarin kita lihat.'


Tidak salah yang di katakan oleh Jessi bahwa Edward itu adalah bocah perlente. Meskipun mengenakan seragam sekolah, barang-barang yang di kenakan oleh remaja pria itu bukan kaleng-kaleng. Smartwatch yang sudah pasti sepaket dengan smartphone bergambar apel tergigit itu jelas adalah barang mahal. Melihat sepatu sekolah bermerek Ni*e yang sudah pasti beharga di atas satu juta rupiah.


Di tambah dengan postur sang adik tiri yang berwajah tampan dan berkulit putih membuatnya layaknya artis dalam drama khas Asia Timur. Oh jangan lupakan juga tinggi badannya yang mencapai 155 centimeter untuk ukuran anak remaja pria berusia 12 tahun. Edward nampaknya benar-benar menyadari pesona yang di milikinya.


"Jeniffer sudah siap belum. Ayo sarapan dulu nak." panggilan Camelia di muka pintunya menyadarkan bahwa dia belum mandi.


Dengan secepat kilat gadis itu menuju ke kamar mandi dan mengambil mandi singkat. Hanya butuh 2 menit bagi Jeniffer untuk mempersiapkan diri, sebelum sang nenek akan kembali memanggilnya.


"Maaf, pho. Jeni bergadang nonton drama Asia dan iklanin produk endorse." kilah gadis itu.


"Sudah ma, sudah semakin siang. Ntar Jeniffer terlambat." ucap Stanley dengan raut wajah lesu.


"Akhung kenapa mukanya lesu gitu?" tanya Jeniffer bingung.


"Sekertaris Akhung kamu hari ini benar-benar resign. Makanya Akhung sedih banget." Camelia menjawab apa yang menjadi keheranan dari gadis remaja itu.


"Oh, yang putih cantik itu. Siapa ya Ester, Aster ya namanya." jawab Jeniffer sembari mengingat wanita muda yang kerap mendatangi rumah ini untuk mengantar berkas atau meminta tanda tangan dari Stanley, meskipun terkadang hari libur sekalipun.


"Aster namanya. Iya Akhung kamu galau, sebab ga ada yang kinerjanya bagus seperti Aster." kali ini Jorgie yang menjawab sambil mengingat kelakuan dari wanita yang kerap bertengkar dengannya dan tidak mau mengalah.


"Oh, kirain ada apaan. Lagian aqiu bukan dari dulu di nikahin. Sekarang orangnya kabur kan." ceplos Jeniffer membuat Jorgie membelalakkan mata.

__ADS_1


"Aqiu ga ada rasa suka sama Aster, masa di suruh nikahin. Yang ada ribut terus setiap hari dong." sambar Jorgie cepat.


"Ya sudahlah, cepat selesaikan makannya nanti keburu siang kamu berangkat ke sekolah." titah Stanley yang membuat kedua orang itu terdiam.


***


Jeniffer di antar oleh Jorgie ke sekolah dan tidak lupa pria itu memberikan selembar uang seratus ribuan untuk uang jajan dari sang keponakan. Gadis itu menerimanya dengan hati senang.


Namun kegembiraan itu ternyata harus beralih dengan kemarahan sebab baru saja dia melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah sebuah teriakan menyapa gendang telinganya.


"Jeniffer awas minggir, itu bola basketnya mau ngarah ke muka lo."


Peringatan yang terlambat, karena bunda bundar berwarna orange itu keburu mencium wajah mulus dari Jeniffer dan mengakibatkan gadis itu harus terhuyung karena rasa pusing yang tiba-tiba dirasakannya.


"Jeni, OMG. Lo mimisan." pekik sebuah suara yang belum Jeniffer kenali siapa orangnya.


"Bawa ke UKS, Jeni. Lo lo masih bisa jalan nggak?" perlahan gadis itu mulai mengenali siapa yang mengajaknya berbicara. Fernita, satu-satunya teman di sekolah ini yang julid dan iri kepadanya namun sayangnya mereka harus berbeda kelas pada kelas 2 ini.


Jeniffer mengangguk dan Fernita membantu memapahnya menuju ke UKS. Dalam hatinya dia mengumpati dan menyumpah kepada siapapun orang yang melempar bola basket itu kepada dirinya meskipun tidak sengaja.


Karena insiden itu, Jeniffer terpaksa tidak mengikuti pelajaran pertama sampai bel istirahat berbunyi akibat rasa pusing yang masih dirasakannya. Pintu UKS di buka dan nampaklah orang pemuda memasuki ruangan tempat Jeni masih berbaring.


"Maaf kak, tadi pagi kita main bola basketnya kekencangan sampai lemparannya kena muka kakak." Jeniffer menoleh ke arah sumber suara itu dan dia mendelik kesal saat mengetahui siapa pelaku lemparan bola basket itu tak bukan adalah adik tirinya Edward Sukmajaya.


"Mata Lo aja yang buta, gua segede gini masih kena lemparan bola basket dari lo. Kalau ga bisa main basket ga usah sok gaya-gayaan." sentak Jessi yang langsung mengambil alih pikiran Jeniffer tanpa permisi.


"Kakak koq nyolot sih, kita kan udah minta maaf." balas Edward tidak terima sementara teman sang teman hanya terdiam melihat perdebatan kedua orang yang berada di sampingnya itu.


PLAKKKKK


Tanpa permisi, Jessi langsung menampol kepala Edward dengan kekuatan maksimal membuat pemuda itu meringis kesakitan.


"Bagaimana enak atau sakit?" tanya Jessi dengan penuh sindiran. Tak di perdulikannya rasa sakit tangannya yang berdenyut karena memukul kepala sang adik tiri.

__ADS_1


Edward pun hanya terdiam saat melihat raut wajah Jessi dengan tatapan serasa ingin membunuhnya. Sepertinya sisa tahun-tahun di SMP ini akan di habiskan dirinya untuk berurusan dengan kakak kelas yang gila ini. Helaan nafas berat pemuda tanggung itu pun keluar dari mulutnya.


__ADS_2