
Sepeninggalan keluarga Stanley, Gilda mengamuk hebat di ruang perawatan Edward. Wanita paruh baya itu tidak menyangka jika cucu yang amat dia benci itu ternyata berada di dekatnya tanpa dia sadari.
"Verry, memang kamu tidak memastikan di mana keadaan anak sial itu Kenapa dia bisa berada di sekolah yang sama dengan Edward?" tanya Gilda sambil menunjuk Edward yang sedang berbaring di ranjang pasien.
Edward yang merasa sang nenek menyebutkan namanya sontak menoleh dan mendapati sang ayah yang sedang dimarahi habis-habisan oleh Gilda. Sementara Risda hanya memandang dengan tatapan penuh kekesalan, apa yang sebenarnya terjadi. Edward sama sekali tidak menemukan titik temu akan keanehan ketiga orang ini.
'Apakah karena ini Cici Jeniffer mempunyai 2 kepribadian, karena Amah membencinya?' tanya Edward dalam hatinya setelah mengamati perilaku Gilda.
"Aku juga tidak tahu kenapa anaknya Meylani itu bisa satu sekolahan sama Edward, ah anak itu memang benar-benar licik dan lihai rupanya," sahut Verry yang semakin membuat Edward mengerutkan dahi.
'Padahal Ci Jeni itu anaknya Papa juga tapi kenapa Papa seperti itu?' pikir Edward dalam hatinya.
"Setelah ini apa lagi ulah dari anak sial itu? Anak itu menculik Edward dan sampai harus di rawat seperti ini? Apakah nantinya dia bakal menghancurkan keluarga Sukmajaya? Memang benar kan setiap anak perempuan pertama Sukmajaya itu pasti membawa kehancuran!" pekik Gilda dan Edward terkesiap mendengar fakta yang baru saja dia dengar.
Sepertinya dia harus mencari silsilah keluarga ini yang memiliki anak sulung perempuan, apakah memang membawa kehancuran ataukah hanya sebuah mitos belaka.
"Terus apa yang bisa kita lakukan? Kita sudah melepaskan hak asuh anak itu kepada keluarga Meylani," ucap Verry sambil mengusap wajah dengan kasar.
"Kalau itu biar kita pikirkan nanti saja setelah pulang ke Jakarta, Verry lebih baik kamu tanya dokter kapan Edward boleh pulang?" ucap Gilda.
Dan Edward merasa bahwa kali ini dia harus menggagalkan apa yang direncanakan oleh sang nenek dan ayah. Memangnya mereka tidak berpikir apa yang telah terjadi semua itu akibat ulah keduanya. Mendengar penuturan Jessi mengenai Jeniffer yang disekap di dalam villa dan keluarganya berusaha menyingkirkan gadis itu
"Apa yang dipikirkan setelah pulang ke Jakarta?" suara Dion tiba-tiba memenuhi ruangan inap Edward.
Keempatnya menatap ke arah Dion yang diikuti oleh Berry dan Herry di samping kiri kanannya.
"Pikirkan bagaimana harus menghadapi anak sial yang telah membuat Edward dirawat," ucap Gilda sinis.
"Siapa yang kamu bilang anak sial? Apakah anak dari mendiang istri Verry?" tanya Dion dengan nada tenang. Namun semua tahu dibalik ketenangan itu tersimpan amarah berbahaya yang dapat menciptakan kengerian.
"Iya siapa lagi jika anak dari perempuan yang sudah mati itu," sahut Gilda sinis.
__ADS_1
"Memangnya apa yang mau kamu lakukan sama anak itu?" tanya Dion kembali.
Di sini Edward tidak dapat menangkap maksud dari sang kakek bertanya seperti itu kepada sang nenek. Apakah setuju atau menentangnya. Lebih baik untuk saat ini dia harus diam dan mengamati tingkah laku dari keluarganya. Dia terus terang sangat tidak setuju jika anak perempuan akan membawa nasib buruk. Memangnya sekarang tahun berapa? sungutnya dalam hati.
"Ya tentu saja menjauhkan Edward dari anak sial itu," ucap Gilda dengan penuh emosi.
"Gilda bagaimana kita bisa menjauhkan Edward dari anak itu jika mereka berdua bersekolah di tempat yang sama?" tanya Dion kembali.
Edward membelalakkan mata tak menyangka bahwa sang kakek akan mendukung rencana dari sang nenek. Sepertinya dia harus memperingatkan Jeniffer untuk lebih waspada. Saat itulah dia teringat akan Joseph.
'Sepertinya pemuda yang mengejar kami berdua aku pernah melihat wajahnya di dekat rumah. Mungkin aku harus mencari tahu tentang orang itu,' ucap Edward dalam hati
"Ma, apa Mama pernah melihat seorang pemuda berpakaian kantor di dekat rumah?" Risda tersentak saat mendengar pertanyaan random Edward.
"Ed, pemuda berpakaian kantor banyak loh dekat rumah kita? Kamu itu kenapa sih, pertanyaannya aneh banget?" celetuk Risda sambil mengusap rambut Edward.
"Yang Edward tahu kulitnya putih tinggi juga dan tampak pintar," ucap Edward yang kembali membuat Risda termangu.
"Dia yang telah menolongku tadi dan aku mau mengucapkan terima kasih, terus saat lagi bengong tadi aku ingat sepertinya pernah melihatnya di dekat rumah," Risda mengangguk saat mendengar perkataan Edward.
"Nanti setelah kita sampai ke rumah, kita akan mencarinya dan kita harus berbicara di luar rumah. Ada yang mau Makan katakan juga," bisik Risda di dekat telinga sang putra.
Edward langsung mengangguk saat sang ibu selesai mengucapkan kalimat itu.
"Sudahlah, sekarang yang terpenting menemui dokter untuk bertanya kapan Edward bisa pulang," ucapan Gilda yang keras mengejutkan sepasang ibu dan anak itu. Keduanya lantas bersikap biasa saja.
***
Dokter memperbolehkan Edward pulang setelah cairan infus pemuda itu habis membuat semua orang merasa lega. Tidak mungkin meninggalkan pekerjaan lama-lama. Keempat pria Sukmajaya itu sudah terpikir akan beberapa proyek yang mengganggu karena perginya mereka keluar kota.
Edward tidak sengaja melihat Joseph yang baru saja kembali dari warung depan rumah sakit untuk membeli makanan. Tadi dia ragu untuk memanggil atau tidak sebab dia melupakanmu nama yang sempat disebut oleh Jessi...
__ADS_1
'Ah, masa bodo, gua samperin aja,' ucap Edward sambil berlari menuju ke arah Joseph.
Joseph yang merasa bahunya ditepuk pun menoleh dan mendapati Edward yang memandangnya dengan berbagai ekspresi.
"Kamu sudah pulih rupanya, sudah boleh pulang, ya?" tanya Joseph sambil mengurai senyum di wajahnya yang lelah.
"Terima kasih, Om, eh Bang," ucap Edward yang canggungnya menyebut panggilan untuk Joseph." Terima kasih karena sudah menemukan dan menyelamatkan kami, jujur saya takut saat Jessi yang bersama saya seharian."
"Sama-sama, saya memang bertujuan untuk mencari dan menyelamatkan kalian. Mau lihat kondisi Jeniffer?" tawar Joseph yang langsung ditolak olehnya.
"Saya sebenarnya mau melihat keadaan Cici, cuma jika saya melakukan itu akan berbahaya," ucap Edward getir.
"Bahayanya gimana?" tanya Joseph tidak mengerti.
"Pokoknya bahaya, Bang, sepertinya keluarga saya berniat buruk terhadap Cici, aku tidak mau hal itu terjadi makanya pas lihat Abang saya reflek langsung saya panggil," ucap Edward kembali.
"Kenapa kamu memberi tahu saya tentang rencana keluarga kamu?" tanya Joseph bingung.
"Karena saya tidak suka akan pemikiran kolot bahwa anak perempuan pertama keluarga Sukmajaya bakal membawa kehancuran," ucap Edward dengan suara bergetar dan Joseph dapat menyimpulkan bahwa pemuda itu tulus dalam memperingatkannya.
"Baik kalau memang niat kamu seperti itu, kami akan berhati-hati, terjadi terima kasih ya," ucap Joseph kembali.
"Nama Abang siapa? Kenapa sepertinya muka Abang itu saya pernah lihat di deket rumah?" tanya Edward menuntaskan rasa penasarannya.
"Joseph Zedekiah dan memang kita tetanggaan koq, cuma 2 rumah jaraknya," jawab Edward membuat Edward terkesiap.
"Koq Abang bisa tahu kami tinggal dekat Abang?" tanyanya kembali.
"Ya, dari sikap Oma kamu yang sering marah-marah sama orang lain, jadi terkenal keluarga kalian," ucapan Joseph membuat cengiran bodoh di wajah Edward.
"Oh, kalau gitu saya permisi, sudah terlalu lama keluar dari ruangan, saya takut akan dicari sama Mama, mari, Bang, sampai ketemu di Jakarta," ucap Edward lalu pergi dari hadapan Joseph.
__ADS_1
Setidaknya dia sudah memperingatkan pemuda itu untuk berhati-hati dan itu membuat beban di hatinya sedikit berkurang.