
Baik Joseph maupun Leo terpaksa pulang sebelum dapat bertemu dengan Jeniffer yang sedang cost play sebagai putri tidur, meskipun tidak rela kedua pemuda itu harus menerimanya dengan hati yang ikhlas.
"Om, ini siapanya Jeniffer, ya, koq kelihatannya dekat sekali dengan keluarganya Jeniffer," celetuk Leo saat keduanya berada di luar pintu dan berniat untuk mengambil motornya yang berada di garasi.
"Saya ini keluarganya Jeniffer," ucap Joseph singkat, malas untuk meladeni kecemburuan tidak jelas pemuda yang berada di sampingnya.
"Oh, keluarga yang seperti apa? Jadi kalau seandainya saya mendekati Jeniffer tidak jadi masalah dong," sahut Leo yang tak lama menyeringai sinis.
"Ckckck, kamu pikir saya bakal kalah sama anak SMA kayak kamu," desis Joseph yang mulai jengah.
"Kalau begitu kita buktikan saja siapa diantara kita yang dapat memenangkan hati Jeniffer," Joseph terkesiap saat mendengar tantangan yang dilontarkan oleh Leo.
"Saya tidak ada waktu untuk meladeni permainan anak kecil," ejek Joseph yang hendak menaiki motornya.
"Kalau gitu Om pengecut berarti tidak berani menerima tantangan dari aku," ucap Leo mulai memprovokasi Joseph.
Joseph yang lelah akibat seharian bekerja hanya menghembuskan nafas berkali-kali dan langsung menyalakan mesin motornya, dia tidak akan menanggapi tantangan dari pemuda itu.
***
"Bagaimana keadaan cewek yang kamu taksir?" tanya Sovia saat Leo sudah berada di rumah.
"Masih tidur tadi Jeniffer, jadi enggak sempet ketemu," jawab Leo yang merasa lesu dan insecure saat bertemu Joseph.
"Terus kenapa kamu lesu gitu?" tanya Sovia kembali.
"Tadi ada cowo juga yang jenguk Jeniffer, kelihatannya orang kantoran dan penghasilannya juga udah besar," kata Leo yang menerbitkan tawa Sovia.
"Mama koq ngetawain Leo sih," dengan merajuk Leo membalas ucapan sang ibu.
"Habisnya kamu lucu banget sih, kenapa jadi minder gini sih?" masih dengan tertawa Sovia menjawab Leo.
"Leo mandi lagi deh terus mau tidur aja," putus Leo lalu beranjak meninggalkan Sovia yang masih tertawa.
***
"Kamu sudah pulang, koq cepet? Gimana keadaan Jeniffer?" Joseph yang baru saja mendaratkan bokongnya langsung diberondong pertanyaan oleh Karina.
"Jeniffer masih tidur jadi tadi Ai Karina suruh cepet pulang saja," jawab Joseph yang baru saja menghabiskan sebotol minuman rasa buah jeruk yang diambilnya dari kulkas.
__ADS_1
"Kenapa lesu?" tanya Karina yang mengambil duduk di samping sang putra.
"Apakah perempuan akan memilih yang seumur dengan dirinya daripada yang tua?" Karina yang merasa heran dengan pertanyaan Joseph hanya dapat terdiam.
"Apakah Jeniffer akan memilih cowo yang seumur dengannya?" Karina yang baru saja memahami maksud dari Joseph hanya tertawa kecil, rupanya sang putra merasa cemburu dengan pemuda yang waktu hari Sabtu kemarin mereka temui di Lembang.
"Ya kalau itu bisa saja terjadi, apalagi kalau cowok itu lebih perhatian dan selalu berada didekat Jeniffer," Karina yang usil berniat mengerjai Joseph.
"Jadi Joseph mesti ngapain?"
"Masa tanya Mama, kamu ini bahasa komputer yang kayak alien aja bisa kamu pecahkan. Masa hal yang menyangkut perasaan tidak bisa kamu pecahkan," sindir Karina membuat Joseph meringis.
***
Sementara itu Jeniffer baru terbangun setelah tertidur selama 3 jam segera keluar dari kamar dan berniat untuk mengisi lambungnya yang sudah meronta-ronta dan memijta jatahnya.
Camelia yang melihat sang cucu memasuki dapur tersenyum dan menawarkan mau makan apa, sebab jam sudah menunjukkan angka 6 sore. Jeniffer yang melihat ada kue coklat kesukaannya langsung menunjuk ke arah kardus yang langsung dibalas tatapan tajam sang nenek.
"Kamu makan nasi dulu sedikit baru makan kue." Jeniffer hanya memanyunkan bibirnya saat mendengar perkataan dari Camelia.
"Kenapa sih mesti makan nasi, bukannya kue itu juga makanan?" tanya Jeniffer setengah memprotes.
"Udah buruan, Phopho masak SOP ayam. Tadi Joseph dan Leo datang ke mari, mereka sama-sama bawa makanan. Tapi khusus Leo dia bawa bunga dan boneka," antara terkejut dan senang yang dirasakan oleh Jeniffer.
"Om Joseph datang ke mari tadi, koq Jeniffer enggak dibangunin sih?" protes pun dilayangkan oleh Jeniffer.
"Kamu itu tidurnya pules banget, Phopho jadi tidak tega bangunin kamu, lagian besok-besok kan bisa ketemu lagi kan sama Joseph dan Leo," ucap Camelia yang sedang memotong buah apel.
"Om Joseph aja, Leo enggak mau," sahut Jeniffer ketus.
"Kenapa kamu judes banget sama Leo, dia itu kelihatannya baik loh," hanya Camelia.
"Ya, pokoknya Jeniffer nggak suka sama Leo," jerit Jeniffer dan Camelia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
***
Jeniffer melangkahkan kaki menuju ke dalam sekolah, setelah 2 hari terbaring sakit, akhirnya dia dapat bersekolah kembali. Fokusnya adalah membalas dendam kepada keluarga Sukmajaya dengan beberapa perubahan karena pertemuannya dengan Verry, Gilda dan Risda pada hari Minggu kemarin.
'Jessi, kemana sih lo, dari hari Minggu sore enggak nongol?' Jessi menatap cermin saku berharap pribadi keduanya itu muncul.
__ADS_1
"Jessi, akhirnya lo masuk juga. Gua kemarin sampai ke rumah buat jenguk tapi lonya lagi tidur," Jeniffer terkejut saat Leo yang tepat berbicara di telinganya. Reflek gadis itu mendorong tubuh Leo hingga pemuda itu terjengkang.
"Lo apa-apaan ngomong di kuping gua," amuk Jeniffer.
"Lonya terlalu serius natap kaca jadi enggak sadar kalau gua udah panggil lo berkali-kali, ya udah akhirnya gua ngomong aja di kuping lo," ucap Leo yang meringis akibat rasa sakit di bokongnya yang mencium lantai.
"Minggir, gua mau ke kantin!" jerit Jeniffer memecahkan atensi di kelas, semuanya menatap tajam keduanya.
"Gua ikut," sahut Leo menyusul Jeniffer yang sudah berada jauh.
***
Kejutan yang dialami Jeniffer nampaknya tidak berhenti, sorenya saat sepulang sekolah dia mendapati Joseph yang sedang menunggunya di atas motornya.
'Memangnya pria ini tidak berkerja apa, sampai bisa menjemput gua ?' tanya Jeniffer dalam hatinya.
"Jeniffer, ayo pulang, tadi saya sudah izin sama Phopho kamu. Makanya kamu tidak melihat ada supir keluarga kamu yang jemput kan?" Jeniffer lantas memutar kepalanya ke kanan dan kiri, benar saja Pak Amir, supir keluarganya beserta mobil Stanley tidak nampak.
"Oh iya bener juga, cuma kalau mau makan dulu sebelum pulang bagaimana, Om?" tanya Jeniffer dengan penuh harap.
"Sebenarnya izinnya langsung pulang, cuma ya sudah kalau mau makan. Biar ntar sebelum magrib udah nyampe di rumah," Jeniffer mengepalkan tangan saat Joseph mau menerima usulannya membuat pemuda itu tersenyum geli akan tingkah laku gadis belia ini.
"Yeeyyy, aku mau makan di restoran Jepang aja, Om," pintanya dengan penuh harap.
"Cepat naik, biar tidak membuang waktu." Perintah Joseph yang langsung dituruti oleh Jeniffer.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap adegan itu dengan raut geram, merasa kalah langkah atas pemuda itu.
"Lihat saja, Jeniffer pasti mau jadi pacar gua," ucapnya dengan tekad membara.
***
Keesokan harinya saat istirahat Leo kembali menghampiri Jeniffer di kelasnya membuat gadis itu menjadi jengah. Tidak mengertikah Leo jika dirinya tidak menyukai pemuda itu, Jeniffer hanya menyukai Joseph seorang.
"Jeniffer kasih gua kesempatan untuk lebih dekat dari sama lo," ucapan yang membuat Jeniffer tersentak karena tak menyangka pemuda itu lebih gamblang menunjukkan perasaannya dibandingkan Joseph.
Selama ini Jeniffer tidak mendengar dari mulut Joseph bahwa pria itu mulai menyukainya meskipun tindakan yang ditunjukkan sangat jelas. Oh, ayolah. Jeniffer butuh kepastian berupa ucapan bukan hanya tindakan semata.
Gadis itu tiba-tiba merasa dilema, apakah yang harus dia lakukan. Tetap menyukai Joseph ataukah mencoba membuka hati untuk Leo?
__ADS_1