
"Joseph, kamu kenapa, dari tadi mama lihat kamu melamun saja?" tanya Karina berpura-pura tidak tahu apa yang dirasakan oleh sang putra.
"Joseph terlalu banyak memasukkan sambal dalam mie Joseph, makanya jadi banyak minum air biar menghilangkan rasa pedas yang ada di lidah," ujar Joseph mencari-cari alasan.
Sementara Jeniffer, gadis itu entah dia menyadari perubahan ekspresinya atau berpura-pura tidak tahu. Joseph tidak dapat meraba hal itu. Tanpa sadar dia menghembuskan nafas berkali-kali, kenapa gadis yang seharusnya dia anggap sebagai keponakan ini terus mengganggu pikirannya.
"Ayo kita pergi sekarang mumpung masih siang, katanya kalau sore udah berkabut di gunungnya," ajakan Karina menghentakkan kesadaran Joseph.
Pemuda itu memindai keadaan sekitar dan melihat kedua orang tuanya beserta Jeniffer sudah beranjak berdiri dari kursi. Joseph melihat betapa senangnya hati gadis belia itu seakan jalan-jalan ini adalah perjalanan pertamanya dalam berlibur. Padahal hatinya mengatakan bahwa keluarganya pasti sering mengajaknya berlibur.
Tanpa dia duga saat melihat senyum Jeniffer yang manis membuat hatinya berdebar-debar. Apakah ini artinya dia harus mengakui bahwa telah jatuh cinta kepada Jeniffer, entahlah Joseph juga bingung.
Brukkk
"Aduhhh!"
Sebuah tabrakan dan Jeniffer yang berteriak mengalihkan perhatian ketiga orang dewasa itu. Terlihat gadis beli yaitu sedang jatuh terduduk dan gerimis menahan sakit sementara pemuda yang bertabrakan dengan gadis itu masih belum mencerna situasi.
Joseph dengan cepat membantu Jennifer untuk berdiri dari posisi duduknya seraya bertanya," Yang mana yang sakit?"
"Bahu dan bokong aku sakit, aduh keras banget sih badannya sampai aku bisa mental kayak begini," adu Jeniffer sembari mengusap-usap bahu kirinya.
"Saya minta maaf," sebuah suara akhirnya terucap dari bibir pemuda yang bertabrakan dengan Jeniffer.
"Kamu itu matanya ke mana sih masa jalan aja masih bisa nabrak aku yang segede gini!" protes akhirnya Jeniffer layangkan kepada si penabrak.
Namun gadis itu sebelum melihat siapa sang penabrak karena masih fokus dengan aroma tubuh Joseph yang membantunya berdiri. Dari kejauhan James dan Karina yang melihat adegan itu hanya tersenyum-senyum sendiri, romansa masa muda, pikir keduanya.
__ADS_1
"Makanya aku mau minta maaf karena udah nabrak kamu," ucap sang pemuda lagi dengan nada menyesal.
"Udah ga usah minta maaf lagian gua udah jatuh ketabrak...." Jeniffer tak melanjutkan ucapannya karena terkejut melihat siapa sang penabrak.
"Jeniffer? Kebetulan kali kita ketemu di sini maafin gua udah nabrak lo, ya," ucap dengan nada senang bercampur terkejut.
"Kalian saling kenal?" tanya Joseph saat menyadari bahwa suasana antara kedua remaja sudah berubah menjadi canggung.
Jeniffer tiba-tiba menunjukkan muka dan jenisnya sementara sang pemuda yang belum diketahui namanya menunjukkan raut wajah senang bercampur antusias saat melihat gadis yang sedang dirangkulnya ini, seketika Joseph tidak menyukai pemuda yang berkulit legam dan agak berotot ini.
"Saya teman sekolahnya Jenirfer, Om. Perkenalkan nama saya Leonardi Stevanus," Joseph makin tidak menyukai pemuda ini hingga harus dipanggil Om oleh pemuda SMA ini.
Karena itu dia hanya sekedar menyambut uluran tangan dari pemuda itu yang jika dapat dihitung dalam waktu mungkin hanya sepersekian detik, terlihat tidak sopan tapi itu masih lebih baik daripada tidak menyambutnya sama sekali, bukan?
Leo yang menyadari pandangan mata Joseph langsung meringis dalam hatinya dan bertanya-tanya punya salah apakah dia terhadap pria yang lebih tua darinya beberapa tahun ini. Tapi dengan segera dia tepis perasaan itu, Jeniffer ada di sini dan mungkin dia akan dapat mencuri sedikit saja perhatian gadis yang telah memikat hatinya. Gadis pertama yang disukainya sepanjang usianya yang menginjak umur 16 tahun ini.
"Kebetulan sekali kita ketemu sama teman sekolah Jeniffer, Nak Leo sama siapa ke sini?" tanya Karina memecahkan keheningan yang tercipta diantara ketiga orang itu.
"Sama teman-teman satu klub basket di sekolah, Oma," jawab Leo dengan sopan.
"Waduh, apa tidak bahaya bagi kalian anak SMA untuk berpergian ke luar kota tanpa bimbingan dari orang tua?" tanya Karina terkejut tak menyangka bahwa anak SMA zaman sekarang berani berpergian tanpa bimbingan orang dewasa.
"Tidak Oma, karena sudah terbiasa makanya orang tua kami tidak khawatir lagi," Leo menjawab pertanyaan Karina dengan diiringi senyuman.
"Kalau begitu bagaimana kalau kalian para anak remaja ikut kami saja, kalian ke sini pasti nyewa mobil atau naik rental mobil kan?" tawar Camelia yang merasa khawatir meninggalkan para anak remaja tanpa adanya orang dewasa disekitar mereka.
"Kami nyewa mobil plus supirnya," Karina hanya tersenyum saat mendengar jawaban dari pemuda yang sedang ditatap tajam oleh sang putra.
__ADS_1
"Baik, biar saya beritahu teman-teman saya dulu," jawab Leo dengan riang merasa bahwa ini untuk mendekati Jeniffer.
"Mama, apa-apaan sih? Kenapa mesti mengajaknya para bocah SMA itu untuk ikut dalam liburan kita," jawab Joseph dengan nada protes.
"Justru karena mereka para bocah SMA yang kita harus mengawasinya, sudah kamu jangan banyak protes Joseph," ucap Karina dengan nada final yang tidak ingin terbantahkan.
Joseph hanya dapat menghembuskan nafas berkali-kali saat Karina mengajak para bocah SMA untuk ikut dalam liburan mereka. Perasaannya makin tak karuan rasanya kalem menatap Leo yang terang-terangan mencuri pandang ke arah Jeniffer, ingin rasanya Joseph mencolok kedua mata pemuda itu agar tidak terus menatap ke arah gadis yang sedang menikmati pemandangan alam dari gunung Tangkuban Perahu.
"Jeniffer, ayo kita foto di sana," seruan itu tak pelak membuat Joseph menoleh dan melihat kedua remaja yang sedang mengambil swafoto dari berbagai spot.
Meskipun Jeniffer tak menanggapi Leo lama sekali tapi nyatanya pemuda itu terus gencar dalam mendekati gadis itu bahkan Joseph sering melihat raut wajah penuh kekesalan yang ditunjukkan oleh Jenifer kepada Leo yang terang-terangan mengikutinya.
Joseph tertawa kencang saat melihat gerakan tangan Jeniffer yang seakan menghalau Leo agar menghilang dari pandangan matanya. Karina yang melihat kelakuan sang putra hanya dapat menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak takut Jeniffer akan berpaling pada pria yang membuatnya nyaman?" Joseph tersentak saat sang ibu dengan tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu.
"Maksud Mama apaan, Joseph tidak mengerti," elak Joseph mencoba menipu Karina.
"Ga usah pura-pura tidak tahu Joseph Zedekiah, kamu bisa lihat sendiri kan pemuda itu dengan terang-terangan mendekati Jeniffer meskipun tidak mendapatkan perhatian dari gadis itu."
"Dan kamu mesti ingat ini baru lama-lama akan hancur terkena tetesan air dan itu juga berlaku untuk perasaan manusia. Kamu pikir Jeniffer tidak akan luluh hatinya saat ada pemuda yang memberikannya perhatian segencar itu," ucapan Karina membuat Joseph serasa tertampar kenyataan.
Mengapa dia dapat melupakan fakta bahwa perasaan manusia bukan seperti mesin yang dapat dia atur sesuka hatinya, tanpa sadar Joseph menggelengkan kepala memikirkan kemungkinan itu.
"Memangnya Mama setuju jika Joseph bersanding dengan Jeniffer?" tanya Joseph dengan rasa ragu.
Karina tergelak saat mendengar pertanyaan dari sang putra dan setelah dapat meredakan tawanya barulah dia berkata, " Jalani dulu saja lagipula kalian berdua masih muda terlebih lagi Jeniffer jalannya masih panjang untuk menuju pernikahan."
__ADS_1
"Dan lagi 10 tahun lagi kamu baru berusia 34 tahun masih tergolong usia produktif untuk menikah," pipi Joseph bersemu saat Karina membicarakan tentang rencana dalam jangka waktu yang panjang.
"Om, ayo kita foto di sana, yuk," ajakan Jennifer tak ayal membuat Joseph melonjak kegirangan dalam hatinya dan memandang dengan raut penuh kemenangan terhadap Leo yang memandang mereka berdua dengan tatapan merana.