
Edward pun terkejut saat mengetahui nama belakang dari Jeniffer yang juga sama dengannya yaitu Sukmajaya. Apa ini? Bukannya kata mama pemilik nama Sukmajaya dapat dihitung dan saling mengenal. Tapi kenapa dia tidak mengenal Jeniffer sebagai pemilik nama Sukmajaya Ada yang aneh sepertinya di sini. Pikir Edward.
"Edward! Kenapa kamu bengong saja? Cepat ganti baju kamu yang udah ketumpahan jus," perintah Mister Alvin yang langsung dituruti oleh pemuda itu.
10 menit kemudian ketiga siswa tersebut sudah berada di ruangan guru BK yaitu Mister Alvin. Sudah ada Jennifer, Edward dan Rachel yang menunduk ketakutan karena dipelototi oleh sang kakak kelas itu.
"Bisa jelaskan pada saya apa yang terjadi?" tanya Mister Alvin begitu ketiga siswa itu duduk.
"Saya lagi jalan tiba-tiba disenggol sama cewek ini Mister jadi saya jatuh," ucap Jessi yang tentu saja adalah suatu kebohongan.
"Nah sekarang benar benar apa yang dikatakan oleh Jennifer itu, Rachel?" tanya Mister Alvin dengan pandangan mata tajam ke arah gadis yang masih menunduk itu.
"Saya kurang tahu bagaimana kejadiannya Mister, saya lagi bawa mobil 5 gelas jus tiba-tiba rasanya punggung saya ada yang disenggol dan tahu-tahu jus yang saya bawa sudah mengenai pakaiannya Edward," cicit Rachel masih tidak berani mengangkat kepalanya.
"Dan kalau kamu Edward? Apa yang bisa kamu.
jelaskan dari situasi yang kacau ini?" Edward hanya meringis sangat mendengar pertanyaan dari sang merdeka yang terdengar mengintimidasi.
"Saya juga bingung bagaimana kejadiannya Mister tiba-tiba saja pakaian saya sudah basah dengan jus dan Kak Jennifer serta Rachel sedang bertengkar tadi." jelas Edward sambil mencuri-curi pandang ke arah Jeniffer.
"Jadi sepertinya kamu yang membesar-besarkan masalah ya, Jeniffer," tatap Mister Alvin dengan tajam membuat gadis itu balik menatap tajam sang guru BK.
Untuk sesaat Mister Alvin termangu melihat sorot mata Jeniffer yang tidak biasa itu, seakan itu adalah ratapan mata orang lain dan satu yang dapat Mister Alvin pastikan, saat ini Jeniffer adalah orang yang berbahaya. Meski dia juga tidak tahu harus mengkhawatirkan apa.
"Karena dia udah ngalangin jalan saya. Mister," ucap Jessi dengan ketus.
"Tapi kamu juga ga bisa main marah aja. Kasihan Rachel sampai ketakutan begini," jelas Mister Alvin dengan nada lembut. Namun respon yang ditunjukkan oleh murid perempuan yang duduk di depannya membuatnya seketika migrain.
Itu adalah reaksi dari seorang pembangkang, namun sejak kapan Jeniffer yang terkenal lembut memiliki sisi pemberontak seperti ini? Apa yang telah dia lewatkan. Pikir Mister Alvin dalam hati.
Mister Alvin menghembuskan nafas berkali-kali untuk meredakan rasa amarah yang masih bersarang didada. Saat ini dia harus berpikir dengan objektif bukan berfikir yang dikuasai oleh emosi.
__ADS_1
"Jadi Edward. Menurut kamu bagaimana?" tanya Mister Alvin kepada pemuda yang hanya terdiam dengan raut wajah bingung.
"Saya sih mau masalah ini cepat diselesaikan. Lagipula hanya tersiram jus itu tidak masalah Mister," ucapan Edward kembali memancing rasa ingin membuat adik tirinya menderita. Mungkin mengerjainya habis-habisan sampai pemuda culun itu merasa putus asa dengan hidupnya itu akan menarik.
"Rachel, kamu dengar Edward sudah tidak mempermasalahkan lagi. Lain kali hati-hati saja jika membawa banyak barang. Karena kita ga akan pernah tahu musibah apa yang akan terjadi," tegur Mister Alvin menegur Rachel namun dengan tatapan mata masih tertuju kepada Jeniffer.
"Jeniffer, lebih baik kita sudahin masalah ini. Ini hanya kesalahpahaman saja," Jessi terpaksa menyetujui perkatakaan dari sang guru BK. Lagipula dia masih harus membuat rencana-rencana untuk Edward.
"Kalian bertiga boleh keluar sekarang," perintah Mister Alvin.
***
"Kak Jeniffer. Tunggu!" Panggil Edward serendah berteriak sebab Jeniffer sudah berada jauh dari pandangannya. Namun Jessi yang masih menguasai pikiran Jeniffer hanya mengabaikannya saja.
Edward yang kesal langsung berlari dan mencekal tangan Jeniffer dan langsung memberondongnya dengan pertanyaan, " Jadi Kakak juga seorang Sukmajaya? Apakah alasan kebencian Kakak ada hubungannya dengan ini?"
Keduanya lantas bertatapan dengan tajam laksana 2 orang predator yang saling memindai keunggulan dan kekurangan masing-masing. Setelah beberapa saat Jessi mengurai senyum sinis sembari menepis cekalan tangan Edward.
"Kenapa tidak kakak jelaskan saja sekarang!" tuntut Edward dengan nada yang mulai meninggi.
"Kalau gitu fungsi otak lo buat apaan? Buat pajangan aja ya," jawab Jessi semakin sinis.
Edward menyerah untuk mendesak Jeniffer berbicara, seperti kata gadis itu dia akan mulai mencari tahu kebenarannya mulai saat ini. Pemuda itu hanya menatap nanar punggung Jeniffer yang makin menjauh lalu menghilang dari pandangannya.
Sesampainya di kelas, Edward langsung diserbu oleh berondongan pertanyaan dari teman-temannya dan pemuda itu menjelaskan sesuai dengan keadaan yang terjadi di ruang BK.
"Sebenarnya gua agak curiga sama Kak Jeniffer. Tadi itu tempatnya luas, tapi kenapa dia ngincernya Rachel. Dia kayak punya dendam sama itu anak," ucap salah seorang teman perempuannya.
'Dia bukan ngincer Rachel. Kak Jeniffer itu ngincer gua,' ucap Edward dalam hati, dia tidak mungkin memberitahukan kepada orang banyak tentang kecurigaannya ini.
'Tapi gua harus mulai darimana? Tidak mungkin aku bertanya pada Papa atau Amah( nenek), mereka seperti sengaja menghindar saat membahas tentang mantan istri Papa yang sudah meninggal itu,' lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Edward mengetahui jika Risda, sang ibu bukanlah istri pertama dari sang ayah. Verry sudah menikah terlebih dahulu namun sayangnya istri pertama sang ayah yang tidak pernah dia ketahui nama dan wajahnya itu sudah meninggal sekitar 15 tahun yang lalu.
***
Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi dan Edward segera pulang ke rumah, sengaja dia absen dari latihan basketnya demi untuk mencari kepingan puzzle yang hilang. Dia tidak ingin menduga-duga , tapi satu petunjuk telah terpampang di depan matanya. Yaitu nama belakang Jeniffer yang juga adalah Sukmajaya.
Risda yang melihat sang putra telah tiba di rumah sebelum jam 5 sore pun terkejut. Karena setahunya kegiatan sekolah dan ekskul Edward itu memakan waktu yang panjang, biasanya putranya baru tiba di rumah saat menjelang jam setengah 7 malam.
"Tumben kamu udah pulang sore gini?" tanya Risda bingung.
"Edward cuma cape dan ga lagi pengen latihan basket. Jadi langsung pulang," jawab Edward cepat.
"Ada apa sayang? Kenapa muka kamu tampangnya masam seperti itu. Ada yang kamu pikirkan?" tanya Risda cemas.
"Cuma masalah sama kakak kelas aja, Ma. Itu Kakak kelas nyebelin dan sering cari masalah sama Edward," ucap Edward singkat.
"Kamu tahu tidak kenapa Kakak kelas kamu seperti itu. Apa kamu pernah punya salah sama dia?" tanya Risda kembali.
"Seinget Edward sih ga punya salah. Cuma ga tahu juga ya kalau sama orang-orang yang berhubungan sama Edward?"
"Koq gitu?" tanya Risda bingung.
"Iya siapa tahu aja yang punya salah orang lain. Edward yang kena getahnya," ucapnya lagi.
"Ya kalau menurut kamu begitu. Bagaimana kalau mama yang ngomong sama kakak kelas kamu," tawar Risda.
"Ya kalau Mama mau ngomong, secepatnya ya Ma, biar Edward ga diganggu dan dibenci terus sama kakak kelas Edward."
"Namanya siapa, mungkin beberapa hari lagi Mama ke sekolah kamu." jawab Risda sembari mengusap rambut sang putra.
"Namanya Jeniffer Sukmajaya."
__ADS_1
Edward melihat wajah Risda yang memucat saat nama itu disebut dan itu menambah kecurigaannya bahwa Jeniffer memang ada kaitannya dengan keluarganya.