Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
66. Memulai pengobatan


__ADS_3

"Jeniffer? Kamu harus segera yang merupakan pengobatan dari ahlinya. Aqiu tidak mau kejadian tempo hari terulang kembali akibat ulah dari pribadi kedua kamu yang menguasai pikiran kamu," ucap Jorgie.


Jeniffer hanya dapat menunduk saat mendengar perkataan dari sang om. Bahkan Stanley dan Camelia menunjukkan raut wajah kekecewaan dan sedih saat mengetahui bahwa selama ini dia memiliki masalah dengan mentalnya.


"Benar kata Aqiu kamu, Jeni, sekarang memang Jessi hanya membawa kabur Edward? Lain kali kita tidak akan mengetahui apa yang akan dia lakukan," timpal Stanley yang sudah mulai lebih tenang daripada Camelia yang menangis sejak tadi.


"Apa kalian tidak malu sama Jeni? Orang yang tahu pasti mengatakan Jessi ini gila," ucap Jeniffer masih menunduk.


"Kenapa kamu mesti malu, kamu itu cucu kami dan peninggalan terakhir dari Mama kamu dan melihat kamu tumbuh besar seperti ini pasti Mama kamu tersenyum di atas sana," ucap Camelia dengan menahan rasa sesak yang ada di dalam dada.


"Tapi banyak yang bilang Mama itu bukan di surga tempatnya tapi di neraka karena membunuh dirinya sendiri," sahut Jeniffer yang lalu menangis kencang.


"Kata siapa itu, Nak, manusia tidak punya kuasa untuk mengetahui ke mana jiwa manusia yang meninggal secara tidak wajar. Bahkan Akhung juga tidak tahu ke mana Mama kamu pergi. Tugas kita sebagai yang masih hidup adalah menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya," ucap Stanley dengan memegang bahu Jeniffer.


Gadis itu tak lama terisak dengan kencang dan membuat siapapun yang mendengar merasakan betapa hancurnya hati dari gadis itu. Camelia yang tidak dapat berkata-kata hanya membiarkan air matanya menetes dengan deras. Aster hanya dapat memeluk ibu mertuanya untuk menenangkan hati.


"Maafkan Aqiu yang sudah tahu lama tentang kepribadian ganda kamu tapi mencoba mengabaikannya. Aqiu melihat semenjak kejadian itu kamu menjadi pribadi yang lebih positif itu dukungan dari Jessi. Tapi ternyata Aqiu salah," sahut Jorgie lirih.


"Bagaimana Jeniffer? Apakah kamu mau berobat?" tanya Jorgie kembali dan Jeniffer merasa dilema akan itu. Dia sudah berjanji kepada Jessi untuk menghancurkan keluarga Sukmajaya tapi jika dia dibawa berobat otomatis keberadaan Jessi akan terhapus.


'Hey, lakukan saja apa yang menjadi keinginan dari keluarganyamu,' Jeniffer tersentak sebab Jessi menyapa dengan nada riang seakan dia melupakan apa yang telah terjadi di Salatiga tempo hari.


'Apa maksud lo?' tanya Jeniffer bingung.


'Ya lakukan saja pengobatan itu, ingat gua ini Jessi yang tidak akan kalah sebelum tujuan gua berhasil. Selama keluarga Sukmajaya masih baik-baik aja selama itu juga gua akan masih bertahan," ucapan Jessi membuat Jeniffer merinding karena tersirat ancaman yang sangat dalam.


"Baiklah Qiu, Jeni bersedia untuk melakukan pengobatan," ucap Jeniffer dengan lirih.


"Baik kita atur dulu jadwalnya, ya?" tanya Jorgie.


"Terus bagaimana dengan sekolah Jeniffer?" pertanyaan Camelia membuat kedua pria itu menoleh ke arahnya.


"Tidak mungkin lagi bagi Jeniffer untuk bersekolah di tempat yang sama dengan adik tirinya. Apalagi aku yakin keluarga Papa Jeniffer pasti tidak akan diam setelah Jeni membawa kabur Edward," ucap Jorgie mengemukakan pendapatnya.

__ADS_1


"Kalau begitu kita pindahkan saja sekolahnya Jeniffer dan jangan ada yang tahu mengenai kepindahan Jeniffer selain keluarga kita," timpal Stanley yang direspon oleh anggukan kepala oleh semua yang berada di kamar Jeniffer.


***


Jorgie langsung mempersiapkan kepindahan sekolah Jeniffer dan mencari psikiater yang bagus untuk menyembuhkan mental dari sang keponakannya. Untuk sementara Jeniffer diharuskan untuk meminum obat anti depresan agar tidak menimbulkan kecemasan saat gadis itu merasakan emosi yang luar biasa.


Jeniffer harus menenangkan emosinya agar tidak memicu stress yang berlebihan dan mengakibatkan Jessi kembali terbangun. Mengingat perkataan yang sempat diucap Jessi mereka khawatir pribadi kedua Jeniffer itu akan melakukan hal yang lebih berbahaya daripada yang sebelumnya.


"Ingat Jeni, jangan bilang apa-apa sama teman baru kamu tentang masalah kepindahan kamu?" ucap Jorgie mewanti-wanti sang keponakan..


"Tapi aku ini selegram loh, Qiu, pasti ada aja yang kenal aku satu dua orang di sekolah yang baru," ucap Jeniffer dengan lesu.


"Oh iya, Aqiu lupa itu, ya udah kalau mereka tidak tanya ya enggak usah jawab. Kalau ditanya juga kamu bisa pura-pura menghindar. Kamu kemarin udah buat story dan pemberitahuan kalau mau berhenti dari dunia selegram kan?" ucap Jorgie sambil menjentikkan jarinya.


Kalau gitu kapan Jeni bisa masuk sekolah?" tanya Jeniffer kembali.


"Lusa, tujuan Aqiu kemari mau jemput kamu buat ke rumah sakit. Kemarin Qiume kamu bilang psikiater yang nanganin dia bagus juga meskipun gratis biaya karena pakai jaminan kesehatan pemerintah," ucap Jorgie sambil menepuk bahu Jeniffer.


"Qiume pernah ditangani oleh psikiater?" tanya Jeniffer bingung.


"Jadi Ai Karina dan Shushuk James pernah jadi korban kecelakaan pesawat?" tanya Jeniffer.


"Iya dan itu setelah mendiang anak Qiume Benjamin didiagnosa dokter terkena Celebral Palsy Syndrom," makin terkejutlah Jeniffer saat mendengar kisah hidup istri sang om yang menyedihkan sebelum bertemu dengan Jorgie.


"Tapi apa itu Celebral Palsy Syndrom?" tanya Jennifer yang semakin bingung dengan istilah yang baru dia dengar.


"Lumpuh otak, itu bahasa Indonesianya. Bisa kamu bayangkan bagaimana sedihnya Qiume kamu, kan? Mendiang anaknya sakit dan orang tuanya dinyatakan hilang saat kecelakaan pesawat itu," jelas Jorgie sambil membayangkan betapa keras dan menyakitkan hidup Aster saat masih menjadi istri dari Riko .


"Baik, Jeni mau berobat," sahut gadis itu akhirnya.


***


Jorgie membawa Jeniffer ke rumah sakit di mana dokter Dahlia, psikiater yang menangani sang istri saat terkena depresi berat. Dalam hatinya semoga saja sang keponakan akan cepat mendapatkan kesembuhan.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, ya, tenang saja. Pasti kamu akan sembuh koq," ucap Jorgie kepada Jeniffer yang sedang menunggu giliran.


"Iya Qiu, makasih, sudah mau nganter Jeni berobat," ucap Jeniffer dengan mengurai senyum.


"Jeniffer Sukmajaya, silahkan masuk,"


"Aqiu tidak ikut masuk?" tanya Jeniffer yang dijawab gelengan kepala oleh Jorgie.


"Aqiu tunggu di sini saja, setahu Aqiu, pengobatan seperti ini harus secara pribadi agar kamu nyaman. Meskipun Aqiu ini keluarga kamu tetep saja ada privasi juga,kan?" Jeniffer mengangguk lalu memasuki ruangan dokter Dahlia.


"Selamat pagi, Jeniffer, kita santai aja ya? Jangan terlalu tegang. Perkenalkan nama saya dokter Dahlia, sekarang apa kamu bisa menjelaskan secara terperinci apa yang membuat kepribadian kedua kamu muncul?" tanya dokter Dahlia.


Jeniffer menarik nafas kemudian mulai bercerita saat dia berumur 7 tahun mengalami penculikan yang pelakunya adalah sang ayah dan neneknya yang tidak menyukai anak perempuan pertama dalam keluarga Sukmajaya dan ingin berusaha menyingkirkannya sejauh mungkin.


Juga saat dimana dia disekap dan berusaha kabur yang sayangnya tidak berhasil hingga terjebak kebakaran hebat di dalam sebuah villa. Dokter Dahlia mendengarkan perkataan Jeniffer dengan seksama dan mencatat beberapa poin penting.


"Jadi kamu bilang yang menyadarkan dan menarik kamu dalam kegelapan adalah adik ipar dari Om kamu yang bernama Joseph?" tanya dokter Dahlia memastikan.


"Iya, Dok, dan herannya saat berada di keluara Om Joseph, Jessi tidak berani muncul," ucap Jeniffer yang direspon anggukan kepala oleh sang dokter.


"Begini, Jeniffer, saya menyimpulkan bahwa pribadi kedua kamu muncul akibat tekanan yang berlebihan yang kamu alami sehingga alam bawah sadar kamu menciptakan Jessi agar kamu tidak merasakan emosi negatif seperti sakit hati, kecewa dan marah. Dan langkah pertama kita menekan rasa stress kamu agar tidak terkena serangan panik yang berujung memanggil Jessi," ucap sang dokter itu kembali.


"Saya sudah diberikan obat anti depresan dari rumah sakit di Salatiga sewaktu Jessi mengambil alih sepenuhnya kendali pikiran saya," ucap Jeniffer yang segera mengulurkan satu strip obat yang baru terminum 4 buah.


"Oke, ini lanjutkan, nanti saya kasih obat penenang lagi,ya? Dosisnya sama, kita lihat perkembangan kamu 2 Minggu lagi,"


"Bagaimana sekolah saya? Dengan adanya kejadian kemarin, Om saya memindahkan sekolah dan saya mulai sekolah lusa," Jeniffer yang baru telinga langsung mencetuskan pertanyaan itu.


"Kamu masih boleh sekolah dan karena ini lingkungan baru, ya, semoga aja ya, mereka tidak akan menyadarinya," ucap sang dokter kembali.


"Saya ini selegram, Dok, followers saya udah ratusan ribu, pasti ada satu dua yang ngenalin saya," ucap Jeniffer dengan lirih.


"Ya, kalau begitu bersikap seperti biasa saja. Karena kalau kamu bertingkah berlebihan itu yang membuat mereka curiga,"

__ADS_1


"Baik, Dok," ucap Jeniffer sebelum meninggalkan ruangan praktik dokter berkerudung biru itu.


Jorgie tersenyum saat mendapati Jeniffer keluar dari ruangan praktik dokter kejiwaan itu sebagai sumringah dan hatinya berharap semoga saja ini adalah langkah yang baik dari awal perjuangan mereka mengobati Jeniffer.


__ADS_2