Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
76. Bertemu dengan Leo


__ADS_3

Jeniffer sudah selesai berdandan saat Aster memberi tahukan kepadanya jika Joseph sudah datang. Pria itu sudah meminta izin terlebih dahulu kemarin malam kepada Jorgie untuk mengajak gadis muda itu berjalan-jalan di sebuah mall yang ada di daerah Jakarta Utara.


"Wah cantik banget anak gadis yang satu ini," ledek Jorgie saat Jeniffer keluar dari kamar.


Joseph yang sedang berbicara dengan sang kakak ipar juga sampai terpana saat melihat Jeniffer yang terlihat girly dengan kaus pink bermotif hati berlengan pendek, celana jeans panjang, jaket jeans sebagai luarannya dan flat shoes berwarna pink.


Tiba-tiba Joseph merasa penampilan dirinya terlalu tua jika dibandingkan dengan Jeniffer. Dia memakai kemeja berwarna biru navy dan celana bahan berwarna pink. Untung saja Karina memarahinya yang akan mengenakan sepatu pantofel dengan berkata jika Joseph ini ingin berjalan-jalan dengan ABG bukannya ingin berjalan-jalan dengan rekan kantornya.


Karina sebenarnya tidak suka jika Joseph memakai kemeja dan celana bahan, tapi sang putra nampaknya keras kepala dan tidak mau menerima usulannya. Maka dari itu wanita paruh baya itu membiarkan agar Joseph terkena tulah karena mengabaikan perkataannya.


'Ma, maaf ya, coba aja kalau Joseph dengerin Mama dan ganti baju dengan yang lebih santai, enggak bakal kelihatan perbedaan usianya.


,' ucap Joseph dalam hatinya.


"Oh jelas, Jeniffer gitu, loh," ucap Jeniffer dengan kepercayaan diri yang tinggi membuyarkan lamunan Joseph.


"Sombongnya anak ini," dengkus Jorgie sambil berdecak kesal.


"Sudah, jangan bertengkar lagi, kalian mau pergi kan? Cepat pergi ntar keburu kesiangan," lerai Aster yang melihat akan ada perdebatan tidak penting.


"Oke, kami pergi dulu, ya, dadah Aqiu Qiume," ucap Jeniffer sambil mengecup pipi kanan Jorgie dan Aster yang membuat pasangan suami istri itu terkejut.


"Kami pergi dulu,ya, Ko, Kak," pamit Joseph yang hanya direspon diam.


"Sayang, itu bener Jeniffer kan,ya?" tanya Jorgie dengan bingung.


"Iya itu beneran Jeniffer, koq. Koko kaget ya, karena dia pamitan sambil cium pipi?" ucap Aster yang hanya tertawa melihat tingkah suaminya.


***


"Jeni, hari ini saya pinjem mobil Papa, jadinya enggak perlu takut kepanasan atau kehujanan," ucap Joseph saat keduanya sedang berada di lift apartemen Jorgie.

__ADS_1


"Oh, pantesan Om mau ngajak ke mall yang ada di Kelapa Gading, kita naik mobil ternyata," ucap Jeniffer dengan riang membuat Joseph makin memerah wajahnya.


"Iya, saya pikir udah weekdays kita penat Sam rutinitas harian. Kenapa enggak, pas weekend kita pergi yang agak jauh, cuma mau bawa kamu ke Puncak atau Bandung belum berani saya," ucap Joseph memalingkan wajah karena tidak kuat melihat wajah Jeniffer yang manis dalam pandangan matanya.


"Kenapa enggak berani bawa ke Puncak atau Bandung?" tanya Jeniffer yang tidak mengerti maksud Joseph.


"Lupakan yang saya bilang, ayo keluar lift," ajak Joseph yang langsung mengulurkan tangannya ke arah Jeniffer yang segera tersipu akan perlakuan pria itu.


Gadis itu segera menyambut uluran tangan dari Joseph dan keduanya berjalan menuju ke arah pelataran parkir yang terletak di basement apartemen Jorgie.


***


Jeniffer bersenandung dengan riang dalam mobil yang dikendarai oleh Joseph. Tidak menyangka jika impiannya ingin berkencan dengan pria itu terpenuhi saat ini. Joseph yang melihatnya hanya tersenyum melihat gurat kebahagiaan dari gadis muda yang duduk disampingnya.


"Om, kenapa ketawa. Penampilan aku lucu ya?" tanya Jeniffer dengan nada merajuk.


Joseph terkesiap saat mendengar tudingan yang dilontarkan oleh Jeniffer. Padahal Joseph tertawa karena gadis ini sangat manis menurut pandangannya. Karena itu dengan cepat pemuda itu memberikan alasan agar Jeniffer tidak marah.


"Eh, eh, saya tertawa karena kamu manis," ucap Joseph tegas membuat Jeniffer kembali tersipu.


"Saya enggak gombal, koq, kamu memang manis," makin merah padamlah wajah Jeniffer saat mendengar kalimat Joseph barusan.


"Hey, kenapa diam saja? Kamu marah sama saya?" tanya Joseph yang tidak mengetahui efek perkataannya kepada Jeniffer.


"Aku enggak marah, koq, Om, cuma lagi nahan diri aja," Joseph hanya terdiam tidak mengerti maksud Jeniffer.


Sisa perjalanan itu mereka berdua habiskan dengan mendengarkan siaran radio yang sepertinya hari ini mendukung kencan mereka. Lagu bertema jatuh cintalah yang selalu diputar oleh sang penyiar membuat Joseph merenungkan apakah dia harus menyatakan perasaannya kepada Jeniffer.


"Akhirnya sampai juga, kamu mau makan dulu atau mau ke bioskop untuk lihat jadwal film?" tanya Joseph setelah mematikan mesin mobil.


"Ke bioskop dulu, Om, kalau jadwal masih lama kita makan kalau tinggal bentar lagi kita beli popcorn sama minuman aja dulu," usul Jeniffer yang langsung menarik tangan Joseph saat keduanya turun dari mobil.

__ADS_1


Seperti yang sudah Joseph duga saat di apartemen sang kakak ipar. Keduanya menjadi pusat perhatian, meskipun wajah keduanya sama-sama good looking menurut Joseph, tapi karena pemilihan baju yang dikenakan oleh pria itu yang membuat dirinya serasa seperti pedo*il. Membawa gadis di bawah umur yang seperti bocah SMP sementara dia seperti sugar Daddy dengan pakaian khas orang kantoran.


"Om, gimana kalau kita nonton ini saja?" usul Jeniffer sambil menunjuk sebuah poster film romantis besutan sutradara Hollywood.


"Oke, memang jam berapa mulainya?" tanya Joseph yang sedang mempersiapkan smartphone miliknya untuk membayar 2 tiket itu.


"1 setengah jam lagi, sepertinya yang jam pertama baru di mulai," jawab Jeniffer yang dijawab anggukan kepala oleh Joseph.


"Oke saya bayar dulu terus kita makan dulu saja. Masih banyak waktu untuk mengisi perut, kan?" ucap Joseph yang langsung menuju ke kasir dan melakukan pembayaran.


***


Joseph membawa Jeniffer untuk makan di restoran yang menjual makanan Jepang. Awalnya gadis itu menolak karena ingin makan burger dan kentang goreng. Namun tatapan mata Joseph yang tajam membuat gadis muda itu menurut.


"Paling enggak di sini ada salad sayurnya, di bandingkan resto yang lain," ucap Joseph yang mulai mencampur mayonaise dan saus sambal dan mengambil salad sayur dengan sumpit.


"Tapi sayur itu kurang enak," protes Jeniffer yang memang menghindari sayur jika di luar rumah.


"Makanya coba dulu pakai mayonaise dan saus sambal," ucap Joseph yang mulai memasukkan potongan ebi furai ke dalam mulutnya.


"Beneran enak nih?" tanya Jeniffer ragu tapi saat melihat Joseph makan dengan lahapnya membuat gadis itu tertarik untuk mencobanya.


"Wah enak juga ternyata sayur pakai saus sambal dan mayonaise," ucap Jeniffer sambil memegang pipi kanannya.


"Nah kan, apa saya bilang, sayuran itu enak," ucap Joseph meneruskan makannya.


"Jeniffer!" Sapaan itu membuat keduanya menoleh dan melihat Edward yang sedang berdiri dekat dengan meja tempat mereka duduk.


Jeniffer dan Joseph menggeram dalam hati karena merasa terganggu akan kehadiran pria yang sudah pasti akan menganggu kencan Mereka pada hari ini.


'Leo kampret!'

__ADS_1


'Dasar bocah SMA penganggu!'


Keluh keduanya dalam hati.


__ADS_2