
Pada keesokan harinya, Jessi yang masih menguasai pikiran Jeniffer pun tidak mau berlama-lama saat sarapan, karena takut akan ketahuan jika Jeniffer sedang 'tertidur', untuk alasan yang Jessi tidak tahu penyebabnya. Padahal mood Jeniffer sedang baik-baik saja waktu bertemu dengan Karina dan saat melihat Risda dan Edward.
Tapi tidak masalah juga kan, malah bagus jika Jessi dapat menguasai seutuhnya tubuh ini tanpa harus berbagi dengan Jeniffer. Pembalasan dendamnya akan semakin sempurna dengan berkurangnya satu penghalang.
"Jeniffer, kamu tidak enak badan. Kenapa tidak di habiskan sarapannya." perkataan Camelia menghentak kesadaran Jessi dan dengan cepat pribadi kedua Jeniffer itu menghabiskan nasi goreng yang tersisa separuh itu.
Tidak mungkin pula Jessi mengatakan bahwa sarapan yang tersaji jelas bukan seleranya, dia ingin makan lontong berkuah santan pekat dengan sambal yang sangat banyak. Jessi selalu memakan makanan yang memiliki tinggi kolesterol dan lemak saat mengambil alih pikiran Jeniffer dan sesudahnya Jeni akan marah kepada dirinya karena sudah mengacaukan acara diet ketatnya selama ini.
Ya itulah Jeniffer si gadis yang takut untuk gemuk padahal tubuhnya termasuk kurus untuk ukuran seorang remaja putri seusianya, sementara Jessi adalah pribadi kedua yang sangat bebas, tidak takut apapun termasuk dengan gemuk.
"Jeniffer lagi mau makan yang pedas, makanya tadi seperti agak nggak selera pas nasi gorengnya nggak pedas." elak Jessi dengan mengurai senyum.
"Oh, kirain. Kalau gitu buat kamu ntar phopho urusin cabe rawit pake kecap asin ya. Biar kamu agak nafsu makannya." ucap Camelia sambil menuang air lemon hangat yang berada di teko ke dalam gelasnya.
"Kalau begitu, Jeniffer pamit mau sekolah dulu ya, Pho, Khung." ucap Jessi cepat sebab Jorgie telah menyelesaikan sarapannya dan akan menuju mobilnya.
Tiba-tiba Jessi berpikir, jika Jorgie sudah menikah lagi, dia akan kembali pergi berangkat ke sekolah menggunakan ojol atau bisa jadi Stanley akan membelikan Jeniffer mobil beserta supir. Dalam hatinya Jessi tersenyum karena dengan tidak adanya Jorgie akan memuluskan rencananya.
Jessi merasa terkadang Jorgie menatapnya aneh seperti saat ini, seakan-akan pria itu mengetahui sesuatu. Namun yang membuat Jessi heran, apa sampai sekarang George belum bertindak apapun terhadap dirinya. Apakah itu hanya sekedar perasaannya atau memang sebenarnya di dalam hati George pria itu sudah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Jeniffer.
"Jeniffer, ayo cepat. semakin siang jalanan semakin macet apalagi sekolahmu ini jaraknya lumayan jauh." Nah! Seperti ini contohnya Jorgie dapat berkata dengan ketus kepadanya sementara sepengetahuan Jessi, pria itu selalu bersikap lembut kepada Jeniffer.
"Iya Aqiu. Jeni ke sana sekarang." sahut Jeni dengan berteriak sambil memakai kaus kaki dan sepatunya.
'Mungkin saja pria itu lelah karena mempersiapkan pernikahannya dengan perempuan itu.' pikir Jessi akhirnya.
__ADS_1
"Jeniffer, kamu warnain rambut kamu ya." tanya Jorgie dengan menatap tajam sang keponakan.
'Oh ternyata, pria ini melaksanakan tentang warna r mmambutnya Jeni. Lagian aneh-aneh aja itu anak, ngapain pula mesti di warnain.' gerutunya dalam hati.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Jessi dengan menunduk, dia terpaksa melakukan itu untuk mengurangi kecurigaan Jorgie terhadap dirinya.
"Memangnya boleh sama guru?" pertanyaan Jorgie membuat Jessi menghembuskan nafas lega. Ternyata kecurigaannya berlebihan kali ini.
"Ya sebenarnya ga boleh sih. Cuma pengen ngerasain aja gimana rasanya warnain rambut." jawab Jessi dengan mengurai senyum canggung.
"Ckckck, pemudi zaman now. Nanti kalau di marahin sama Phopho, Aqiu ga mau belain ya. Dan ini uang jajan buat kamu. Mungkin setelah Aqiu menikah uang jajan kamu akan Aqiu transfer saja ya." decak Jorgie, tapi tak ayal pria itu merogoh sakunya dan mengambil uang sebanyak 3 lembar seratus ribuan kepada sang keponakan.
"Koq banyak banget, Qiu kasihnya?" tanya Jessi heran. Sebab Jorgie selalu memberikan uang saku sebanyak seratus ribu jika mengantarnya ke sekolah.
"Ya sesekali Aqiu kasih uang jajan agak banyakan. Lagian kamu telah membantu Aqiu dalam mendekati Aster." ucap Jorgie sambil mengusap lembut pucuk kepala Jeniffer yang mengingatkannya kepada Meylani.
"Kalau begitu baik-baik di sekolah. Belajar yang rajin, kalau nanti kenaikan kelas dapat rangking, Aqiu akan ngabulin keinginan kamu." Jessi pun langsung melambaikan tangannya saat mobil Jorgie akan melaju.
'Jeni, masih tidur?' tanya Jessi mencoba menyapa Jeniffer. Nihil tidak ada jawaban, nampaknya Jeniffer sudah terlalu nyaman di tempatnya sekarang, hingga melupakan keberadaan dirinya di dunia ini. Jessi menggeram kesal, memang dia ingin menguasai tubuh Jeniffer seutuhnya, tapi bukan saat ini. Jeniffer masih harus melihat kehancuran keluarga Sukmajaya sebelum akhirnya dia yang akan menguasai tubuh Jeniffer.
"Jeniffer, kenapa sih lo ga bangun-bangun." gumam Jessi pelan sambil memindai keadaan sekitar.
"Apa ntar sepulang sekolah gua makan aja sate Padang atau nasi Padang. Biar itu anak bangun dari tidurnya. Dia kan paling anti santan gurih dan manis." ucap Jessi sambil bersenandung pelan.
***
__ADS_1
Rupanya hari ini adalah jadwal pelajaran olahraga, pantas saja Jeniffer seakan enggan terbangun dari 'tidurya'. Nampaknya Jeniffer sengaja tidak ingin keluar dan menjadikan Jessi tamengnya dalam pelajaran yang membutuhkan stamina ini. Jessi tentu saja dengan senang hati menerima tugas yang di
"Jeni, jangan kenceng-kenceng ih dribble bolanya. Lihat itu temen-temen udah pada tepar ngadepin keganasan kamu." teriak Wina, teman sekelasnya yang sudah kehabisan nafas saat bermain bola voli dengan Jessi.
"Ah, berarti kalian aja yang kurang olahraga. Makanya cepet cape, padahal gua ga ngerasa cape tuh." ucap Jessi dengan santai namun peluh sudah membasahi seragam olahraganya.
"Bukan kita yang kurang olahraga, lo kesambet apaan sih bisa on fire kayak gini. Biasanya pelajaran olahraga malas-malesan." sunggut Ayunda, teman sekelasnya yang menjadi lawan pertandingan voli ini.
"Mungkin makan besok jadi tenaganya kuat." jawab Jessi asal.
Ini gawat, teman-teman seangkatan Jeniffer sudah curiga, sementara sang putri masih asyik dalam tidurnya. Sepertinya siang nanti sepulang sekolah dia harus memakan makanan yang paling di benci di oleh Jeniffer.
***
Jessi telah mengirim pesan kepada ketiga anggota keluarga Jeniffer bahwa dia ingin pergi berjalan-jalan dulu sepulang sekolah dan Camelia pun mengizinkannya.
'Sempurna, mungkin dengan cara ini Jeniffer akan terbangun.' ucapnya dalam hati.
Jessi telah menatap ke arah restoran Padang yang terkenal di IG, kakinya pun mantap melangkah ke dalamnya sebelum sebuah suara menyapanya.
"Jeniffer, kamu mau makan di sini juga?" Jessi pun langsung menoleh ke arah orang yang memanggilnya, terlihat Joseph sedang memakai kemeja berwarna coklat dengan celana panjang bahan berwarna hitam serta sepatu kets.
'Ah sial, pantas saja Jeniffer tergila-gila sam ini cowo, mukanya ganteng abis.' umpat Jessi dalam hatinya.
"Iya om, mau coba makan sesuatu yang berminyak sesekali." jawab Jessi singkat membuat Joseph mengangguk paham.
__ADS_1
"Ayo, kebetulan saya juga lapar dan mau makan di sini." Jessi terkesiap saat Joseph selesai mengucapkan kalimat itu. Kesadarannya makin lama makin menipis dan Jeniffer pun mengambil alih tubuhnya kembali.
Namun sesuatu yang dia sadari. Joseph akan berbahaya bagi rencananya karena pria itu dapat melenyapkan eksistensi Jessi sebagai pribadi kedua dari seorang Jeniffer Sukmajaya. Maka dari itu dia harus memisahkan keduanya sebelum benih cinta antara Jeniffer dan Joseph bersemi mekar.