Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
24. Jessi vs Leo


__ADS_3

Seorang pemuda berkulit gelap akibat sering terpapar sinar matahari dengan tinggi badan menjulang pun menyapa penglihatan Jessi.


'Huh, siapa lagi ini orang?' tanya Jessi dalam hatinya.


Jessi langsung menetapkan dalam hatinya bahwa pemuda berkulit gelap dan tinggi itu akan menjadi musuhnya melihat dari tatapan matanya yang setajam elang itu seakan mengoyak tubuhnya, badan Jessi seketika terpaku akan tatapan netra coklat itu.


"Bang Leo." pemuda yang di panggil oleh Edward dan temannya hanya mengangguk membalas panggilan itu.


"Bang Leo, memangnya lagi ga ada guru di kelas sampai Abang bisa ke lapangan?" tanya teman Edward.


"Kebetulan baru habis ulangan matematika jadi bisa sekalian keluar kelas. Ed, mendingan lo cepat ganti baju deh. Ntar masuk angin kalau di biarin lama-lama basah." Edward dan sang teman langsung melangkahkan kakinya menuju loker setelah mengucapkan salam kepada Leo.


'Nikmati hidangan pembuka yang akan sebentar lagi akan lo nikmati.' ucap Jessi sambil mengurai senyum sinis saat melihat Edward meninggalkan lapangan outdoor ini.


'Lebih baik baik gua juga pergi dari tempat ini. Dia berbahaya dan gua ga suka sama dia.' ucap Jessi dalam hatinya.


"Mau kemana?" tanya Leo sambil mencekal tangan Jessi.


"Ya mau pergi dari sini, lo ga ngerasa apa kalau mataharinya semakin panas. Bisa-bisa kulit gua gosong kayak lo." ucap Jessi sinis.


"Bukannya sekarang yang musim itu orang yang kulitnya eksotis karena terkena sinar matahari." sahut Leo sambil mengurai senyum manis yang terlihat memuakkan di mata Jessi.


"Lepas tangan lo, dasar be*o makin panas mataharinya." sentak Jessi berusaha melepaskan cekalan tangan Leo.


"Kalau gua ga mau gimana dong?" ucap Leo lebih mengarah kepada ejekan.


"Dasar sinting!" umpat Jessi.


"Terima kasih atas pujiannya." sahut Leo kembali.


"Lepas be*o. Gua mau ke kantin, panas banget." perintah Jessi kembali.


"Oh panas ya?" akhirnya Leo melepaskan cekalan tangannya dan Jessi memanfaatkan itu untuk kabur. Namun sebelum dia kabur, pribadi kedua Jeniffer itu menyempatkan diri untuk menendang kaki Leo sehingga pemuda itu mengaduh.


"Kucing manis, ntar kita ketemu lagi." ucap Leo setengah berteriak sambil memegang kanannya yang baru saja di tendang Jessi.


"Ogah banget, jangan sampai gua ketemu sama cowo sinting kayak lo." teriak Jessi yang hanya ditanggapi tawa oleh Leo.


Jessi langsung menuju ke toilet, dia harus mencari cermin untuk dapat berkomunikasi dengan Jeniffer, semoga saja di toilet kosong sekarang, jadi dia tidak anggap orang gila.


"Jeniffer buruan keluar jangam enak-enakan nyantai di dalam sana." ucap Jessi pada cermin yang terpasang di dinding toilet itu.


"Kenapa sih kamu bangunin aku. Lagi enak tidur malah dipanggil." gerutu Jeniffer yang menurut pandangan Jeniffer seperti orang yang baru bangun tidur.


"Jadi kamu beneran ga lihat tanganku dicekal sama cowok sinting." tanya Jessi memastikan.

__ADS_1


"Ga, aku bener-bener tidur. Aku mimpi mama menemani aku wajahnya sangat cantik dan pakai gaun putih. Cuma sayangnya Mama tidak berbicara hanya diam saja." sunggutnya dengan mencebikkan bibirnya.


"Jeni, udah cukup kan tidurnya. Sekarang cepat keluar biar gua gantian masuk. Ogah banget ketemu ama cowok sinting."


"Cowo sinting yang mana?" tanya Jeniffer bingung.


"Ya adalah cowok sinting makanya cepetan sekarang keluar biar gua yang di sana gantian tidur." bujuk Jessi.


"Eh Jeni, gua cariin dari tadi ternyata lu di sini." kesempatan itu dipergunakan Jessi untuk mendorong Jeniffer keluar dan dirinya menggantikan gadis itu.


"Ada apa Carmen?" tanya Jennifer kepada salah satu staf OSIS itu.


"Lo mau ikut pertandingan voli nggak?" Jeniffer membesarkan matanya dengan kesal ini pasti kelakuan Jessi yang membuat dirinya terlihat sangat mahir dalam melakukan pertandingan voli


"Enggak?" jawab Jeniffer singkat, dia sangat membenci pelajaran olahraga.


"Kalau kamu tanya Kenapa aku ga mau ikut, jawabannya cukup satu MALAS." Jennifer langsung keluar dari toilet itu sebelum Carmen akan membujuknya.


***


"Kamu udah masukin baju dan perlengkapan yang lain ke dalam koper seminggu lagi kan kita mau ke Belanda?" tanya Camelia saat sang cucu baru saja tiba di rumah.


"Belum sih ma, Jeni bingung mau bawa apaan. " ucapnya langsung meneguk habis segelas air hangat. Salah satu kebiasaannya saat baru saja tiba di rumah.


"Jangan mepet-mepet packingnya, ntar ada yang ketinggalan. Oh iya terus kita jalan-jalan loh ntar sekitar 5 harian. Phopho sudah minta Aqiu kamu untuk minta izin ke sekolah.


Membayangkan bertemu Joseph membuat semangatnya berkobar, mungkin dia akan sekalian story saja saat packing sekalian membagi ilmunya kepada followers tercinta.


"Maka itu jangan mepet-mepet packingnya ya." ujar Camelia lagi.


"Pho, internet di sana gimana? Lancar jaya kan?" pertanyaan Jeniffer membuat Camelia menggelengkan kepala.


"Kamu ini ya koq yang ditanyain internet sih nak?" tanya Camelia sambil menghela nafas berat.


"Ya pasti lah pengen internet kan bisa sekalian story sambil menyapa follower aku Pho." sahut Jeniffer kembali mencari alasan.


"Ya sudah, cuma jangan sampai merusak acara pemberkatannya ya. Foto dan live secukupnya saja " Jeniffer pun mengangguk saat mendengar, tentunya sambil membayangkan Josep Joseph.


.


***


Sarapan pagi ini Jeniffer lalui dengan hati riang, Jessi tidak merecoki dirinya dari kemarin di toilet sekolah. Seakan pribadi kedua itu lebih memilih tidur atau lebih melarikan diri dari Leo yang sudah Jessie tetapkan menjadi musuh.


"Wah, lihat siapa yang baru datang ini." Jeniffer yang memang tidak tahu perihal Leo tentu saja diam saat pemuda itu mengajaknya bicaranya.

__ADS_1


"Maaf kak, bisa permisi saya mau masuk ke kelas." pinta Jeniffer sopan membuat Leo seketika mengernyit.


'Aneh, kenapa rasanya gadis ini berbeda dengan yang kemarin. Apa dia lupa ingatan. Tapi kenapa rasanya aura dia hari ini terasa lembut.'' tanya Leo di dalam hatinya.


"Maaf kak, bisa kasih jalan?" tanya Jeniffer mengulang permintaannya.


"Oke, silahkan." ucap Leo setelah pulih dari rasa terkejutnya.


"Benar-benar gadis yang aneh. Emh sepertinya menarik juga." gumam Leo dalam hati.


***


Bel istirahat pertama pun berbunyi, perut Jeni yang lapar memaksa gadis itu melajukan kakinya ke kantin, namun sebelum dia tiba di kantin. Edward dan beberapa orang temannya menghadang jalan Jeniffer.


"Kak, yang masukin tikus mainan dan kotorin baju seragam aku di loker kemarin pasti ulah kakak kan?" tanya Edward dengan mata menyalang.


Jeniffer merasa ngeri akan situasi sedang di hadapinya. 4 orang pemuda yang berbadan tinggi besar daripadanya mengeroyok dirinya. Keringat mulai bercucuran dari pelipisnya akibat rasa panik yang melanda. Pusing yang hebat juga terasa sangat kuat pada kepalanya.


'Jeni, masuk. Biar gua yang handle.' titah Jessi yang berada di dalam pikirannya. Jeniffer menurut dan membiarkan pribadi keduanya itu untuk mengambil alih tubuhnya.


"Memang ada buktinya kalau gua yang melakukan itu?" hardik Jessi yang mengejutkan 4 orang pemuda ini bahkan kelimanya sudah menjadi tontonan banyak mata yang berada di kantin.


"Ya siapa lagi pelakunya Kaka bukan kakak. Kakak kan dari SMP ga pernah suka sama saya." kata Edward dengan nada berapi-api.


"Wait, kuping gua kayaknya salah denger." ucap Jessi sambil mengorek telinga kanannya dengan jari kelingking.


"Kak, jangan bercanda dan akui saja perbuatan kakak." sentak Edward sambil memegang kedua bahu Jessi dengan kedua tangannya.


"Lepasin tangan kotor lo dari pundak gua." hardik Jessi, dia tidak suka ada sembarang laki-laki yang menyentuh dirinya itu karena dia menghargai Jeniffer yang memiliki trust issue terhadap kaum lelaki.


"Tinggal akui saja sih kak." tuntut Edward membuat Jessi menjadi murka.


Dengan cepat dia menendang kedua kaki sang adik tiri dan memukulinya bertubi-tubi di titik vital Edward membuat pemuda itu melolong kesakitan.


"Bukannya gua udah peringatkan lo." ucap Jessi dingin membuat ketiga teman Edward seketika menciut nyalinya.


"Ada apa ini?" tanya sebuah suara yang mulai kemarin Jessi benci pemiliknya, siapa lagi kalau bukan Leo.


"Kalian berempat cepat kembali ke kelas, lagian apa kalian tidak mau mengeroyok seorang gadis yang lemah." Jessi mendecih dalam hatinya mendengar pembelaan Leo yang terkesan menyindirnya itu.


"Lo ga apa-apa?" tanya Leo setelah membubarkan kerumunan yang mulai terbentuk sedari tadi.


"Menurut lo?" tanya Jessi sinis membuat Leo kembali mengernyit.


"Kelihatannya ga apa-apa sih." ujar Leo sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sekarang bisa minggir gua mau beli makanan." titah Jessi dengan nada tidak ingin.


"Hmmm dari tadi gua penasaran deh. Tadi pagi sama siang lo berbeda. Apakah lo ini punya rahasia?" pertanyaan Leo membuat Jessi terkesiap. Apakah mungkin pemuda ini mengetahui rahasianya.


__ADS_2