Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
45. Joseph yang mulai resah


__ADS_3

Joseph tidak tahu harus merasa senang atau sebaliknya, gadis yang perlahan mengusik hatinya kini berada didekatnya. Saat dia melihat Jeniffer yang menatapnya penuh permohonan agar memakan sup ayam masakannya, hati Joseph bergetar dan rasanya dia tidak ingin mengecewakan hati gadis itu.


Tadinya dia berpikir masakan Jeniffer rasanya tidak karuan, tapi di luar ekspektasinya. Rasa makanan itu masih dapat diterima oleh lidahnya, hanya dengan menambahkan sedikit garam atau kecap asin, sayur sop itu menjadi kaya rasa.


Dan sekarang Karina mengatakan bahwa ingin berlibur ke Puncak di mana Jeniffer juga ikut serta. Bagaimana seharusnya Joseph bersikap kepada gadis belia itu? Tanyanya dalam hati.


Selesai mengemas pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan selama menginap, Joseph berusaha untuk bermain game buatan dari sang teman. Namun baru saja dia menyalakan CPU komputernya, pikirannya langsung terpisah dari raganya. Hasilnya sang teman meneleponnya berkali-kali karena Joseph tidak memberikan review atau kritikan mengenai apa saja yang mesti di kembangkan dari project game yang sedang teman kerjakan.


"Joseph, mendingan lo ambil liburan dulu deh. Kelihatan kusut banget," saran sebuah suara yang berada di ujung sambungan telepon itu.


"Iya, nyokap gua besok mau ngajak sekeluarga buat ke Bandung mungkin memang ini saat yang tepat buat gua buat healing, otak gua beneran udah sumpek banget rasanya," ucap Joseph sembari menghembuskan nafas berkali-kali.


"Take your time, kalau otak sudah protes jangan dipaksa lagi. Lagian lo duitnya udah banyak ini jadi nggak usah kerja keras bagai kuda," sahut sang teman dengan candaan yang membuat keduanya tertawa.


"Ya sudah, gua mau tidur dulu. Besok mau nyupir sampai Bandung," pamit Joseph sebelum akhirnya mimpi indah menjemputnya.


***


Karina membangunkan Joseph pada pukul 4 pagi, untungnya pria itu sudah terlelap pada pukul 9 lewat jadi tidak kekurangan waktu tidur. Setelah mandi dan sarapan roti panggang. Joseph langsung menjalankan mobilnya, Karina menyeduhkan sang putra secangkir kopi hitam tanpa gula agar Joseph tidak mengantuk.


Jeniffer yang duduk dibelakang bersama Karina langsung melanjutkan tidurnya, sebab gadis itu baru tertidur pada pukul 12 malam. Karina pun tak lama ikut menyusul. James menemani sang putra mengobrol agar tidak mengantuk. Perjalanan masih setengah lagi.


Semalam James meminta tolong salah satu anak buahnya di restoran yang kebetulan sedang online untuk mencarikan 3 kamar hotel bintang 3 di Bandung dan dalam waktu satu jam sudah di lakukan. James hanya tinggal menunjukkan kode reservasi dan pembayaran yang telah dia lakukan.

__ADS_1


"Jeniffer rupanya sangat mirip mamanya," ucapan James membuat Joseph menoleh sebentar ke arah sang ayah.


"Memangnya Papa pernah lihat Mamanya Jeniffer?" tanya Joseph penasaran.


"Ya pernah lah, kami lost kontak sekitar 25 tahun lalu, yang. bahkan kamu belum lahir. Kami berdua sempat berkunjung ke rumah Stanley dan melihat Meylani. Cuma jujur saja waktu pernikahan pertama kakakmu, Papa dan Stanley kayak melupakan satu sama lain."


"Baru saat pertemuan kedua itulah Mama berdua baru saling ingat," ucap James sembari mengingat moment lucu itu.


"Ya dan akhirnya kak Aster jadi istrinya Ko Jorgie," sambung Joseph.


"Papa senang kakakmu itu sudah menemukan pria yang benar-benar mencintai dan memahami dirinya. Memang kita sebagai pria tugasnya berat, Mengasihi dan menghargai istri yang telah Tuhan tetapkan sebagai pendamping hidup kita." lanjut James setelah meneguk setengah isi botol air mineral ukuran tanggung.


"Papa harap kamu dapat mengambil pelajaran dari kegagalan pernikahan pertama kakakmu, jangan mengikuti nafsu dan ego semata.Kamu harus meminta petunjuk dan tuntutan Tuhan dalam memilih pendamping hidup kamu nantinya," setelah itu James mengakhiri kalimatnya.


"Iya, Pa. Joseph akan ingat semua perkataan papa, sudah mengingatkan Joseph," James menanggapi perkataan sang putra dengan tersenyum.


"Mama bukannya gitu, gitu di mobil pasti tidur apalagi kalau jaraknya jauh," Keduanya tak lama tertawa dan habiskan setengah perjalanan dengan bersenda gurau.


***


Jeniffer langsung meletakkan tas ranselnya yang berisi beberapa pakaian dan alat kosmetik. Perutnya lapar dan ini sudah jam 11, sudah hampir jam makan siang juga.


Tring

__ADS_1


[Jeni sayang, kita keluar buat makan siang terus jalan-jalan, bawa jaket ya. Kita mau ke Tangkuban Perahu.]


Jeniffer tersenyum saat membaca pesan itu, dia akan mengikuti apa yang orang dewasa makan. Lagipula liburan gratis maka dari itu jangan ngelunjak. Pikir Jeniffer dalam hati.


"Jessi, lihat ini. Kita di Bandung," ucap Jeniffer menatap tampilan dirinya di cermin, namun tidak ada jawaban dari Jessi.


"Ya sudah, ntar juga dia muncul sendiri," gumamnya kembali.


Joseph terlihat segar dengan kaus berwarna biru langit dan celana jeans, sementara kesan imut khas remaja Jeniffer menguar saat mengenakan kaus oversize berwarna pink bergambar hati dan celana legging berwarna hitam dengan sepatu sneaker berwarna hitam.


Keduanya saling mengamati penampilan satu sama lainnya, James dan Karina bukannya tidak mengetahui gelagat aneh dari kedua muda mudi ini, keduanya tahu namun hanya membiarkan. Karena Joseph masih belum menunjukkan perasaannya secara tegas kepada Jeniffer.


"Kita makan mie kocok Bandung gimana?" usul Karina yang langsung disetujui oleh ketiganya.


Kuah harum dan panas menggugah selera keempat orang itu, ditambah dengan cuaca dingin kota Lembang membuat Jeniffer dan Joseph masing-masing menghabiskan 2 mangkuk mie dan segelas teh hangat tawar. James dan Karina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku keduanya.


"Sudah makannya, sekarang kita ke Tangkuban Perahu," perkataan Karina menerbitkan senyuman di bibir Jeniffer yang hari ini dipoles lip tint berwarna pink cerah.


Degghh


Hati Joseph seperti tertusuk sesuatu saat melihat senyum ceria itu, dengan cepat dia memegangi dadanya mengecek apakah ada yang salah dengan dirinya. Karina hanya terdengar melihat kelakuan sang putra yang akhirnya mulai mengenal apa itu rasa suka terhadap lawan jenis.


Jeniffer yang bergerak lincah saat menaiki gunung dan membeli dagangan dari pedagang sekitar tak luput dari pengamatan Joseph. Semua yang dilakukan oleh gadis belia itu seperti menghipnotis mata Joseph untuk terus tertuju padanya.

__ADS_1


Bahkan menghembuskan nafas berkali-kali dan meminum air tak juga membuat pikiran Joseph kembali fokus. Rasanya pemuda itu ingin merestart pikirannya yang mulai kusut ini layaknya seperti yang dia lakukan kepada beberapa laptop komputer milik perusahaan yang mulai hang.


Tapi Joseph sadar bahwa pikiran manusia bukan mesin, jadi satu-satunya cara yang terbaik saat ini adalah membiarkan rasa ini mengalir apa adanya sampai suatu saat nantinya dia dapat mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya.


__ADS_2