
Entah mengapa hati Verry tiba-tiba di liputi oleh kecemasan bahwa Jeniffer bisa jadi akan menjadi kehancuran keluarga Sukmajaya. Dia harus melakukan sesuatu agar Jeniffer dapat pergi sejauh mungkin dari kota ini bahkan mungkin pulau ini.
Dia harus merencanakan dengan cermat dan teliti bagaimana cara menyingkirkan sang putri agar keluarga mendiang sang istri tidak mencurigai bahwa dialah dalang di balik menghilangnya Jeniffer nantinya.
"Sepertinya gua mesti memantau dulu beberapa waktu agar dapat mencari celah di saat bocah itu sedang sendirian. Sekarang ada Jorgie tidak mungkin gua melakukan rencana ini sekarang. Cari mati yang ada gua." gumam Verry dalam hatinya.
Setelah mobil Jorgie melesat dan menghilang dari pandangan barulah Verry melajukan mobilnya, moodnya sudah hancur untuk kembali ke kantor sekarang. Karena ini dengan cepat dia mengambil handphonenya dan menghubungi Briana, sekertarisnya.
"Saya ga akan kembali ke kantor. Tolong jadwal ulang rencana saya selama seminggu kedepan. Saya ada keperluan di luar dari jam 11 sampai 2 siang."
Tentu saja permintaan Verry hanya dapat di setujui oleh sang sekretaris yang dalam hatinya mengumpati sang bos gila yang seenak udel menurut Briana.
***
Jeniffer masih merajuk saat Jorgie menjemputnya, ini sudah lewat 30 menit dari waktu bubaran sekolah dan perutnya sudah lapar. Bocah itu langsung menyemburkan ocehan dari bibir mungilnya kepada sang om hanya tersenyum layaknya orang kurang ingatan seons.
"Aqiu (kakak/adik laki-laki ibu) , kenapa telat banget jemput Jeniffer. Ga tahu apa kalau perut Jeni udah laper banget."
"Maaf, sayang. Mobil aqiu terjebak macet parah. Ga bisa keluar kejepit di tengah-tengah. Jadi telat jemputnya." ucap Jorgie sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ternyata bukan hanya wajah saja yang mirip dengan mendiang sang kakak, tapi juga sifat dan karakternya menurun dari sang kakak, galak dan cenderung agak temperamental. Dan selama 3 tahun terakhir, Jeniffer kerap di bawa ke rumah abu Meylani hanya sekedar melihat foto sang ibu dan berdoa sejenak .
Pernah gadis kecil itu melontarkan pertanyaan seperti ini. "Phopho kemanakah pergi mama? Kenapa kita harus mengunjungi mama di tempat yang penuh dengan rak kaca berisikan guci serta foto-foto orang dan sebuah papan. Apakah mama tidak sayang Jeniffer sehingga harus pergi ke surga?" Jorgie dan kedua orangtuanya pun terkesiap, bingung harus memikirkan jawaban apa yang tepat.
__ADS_1
"Jeniffer, mama sayang sama Jeniffer. Mama hanya sudah selesai tugasnya di dunia ini. Jadi pergi duluan dan akan nunggu kita semua di sini."
"Terus bagaimana dengan papa, masa kerja nya ga selesai-selesai. Memangnya ga kangen sama Jeniffer?" Camelia berusaha menahan gejolak dalam hatinya mendengar perkataan dari gadis itu.
Memang kenyataan berkata seperti itu, sejak Verry dan Gilda bertandang ke rumah duka saat acara ibadah penghiburan Meylani, keluarga Sukmajaya seakan tidak mau tahu mengenai kehidupan Jeniffer, seakan gadis itu hanya sekedar menyandang nama Sukmajaya tanpa ada hal di dalamnya.
"Iya, papa masih kerja nak, suatu saat jika kamu sudah mengerti akan kami jelaskan semuanya." kata Stanley sembari membirai senyum getir.
"Janji ya, kung. Nanti kalau sudah besar ceritakan semua sama Jeniffer." kelingking keduanya bertaut sebagai perlambang pinky promise telah di ucapkan. Jeniffer pun kembali mengurai senyum manis membuat ketiga orang dewasa itu dapat bernafas lega.
"Aqiu, kalau tahu macet kenapa ga dari awal jemput Jeniffer. Duh, perut Jeni makin perih." salak Jeniffer membuat sang om menyerah.
"Terus kamu mau makan apa? Ntar phopho marah loh, masakannya ga di makan." tembak Jorgie langsung, biasanya kalau sudah merajuk seperti itu ada yang di inginkan oleh sang ponakan.
"Mau makan itu, Qiu." tunjuk Jeniffer pada pedagang sosis bakar keliling yang sedang mangkal di depan gerbang sekolah bocah it
Keduanya memesan masing-masing 4 buah sosis bakar dengan varian rasa sapi dan ayam. Khusus untuk Jorgie di tambahkan saus sambal selain saus tomat dan mayonaise.
"Nah, sekarang kita pulang princess. Udah di tunggu phopho." ajak Jorgie sambil membuka pintu mobil untuk gadis kecil itu.
***
Sepertinya yang telah di rencanakan oleh Very, pria itu mengintai keadaan sekolah sang putri dan melihat celah kapan dia akan dapat membawa Jeniffer dan melarikan ke luar kota Jakarta ini secepatnya. Jika memungkinkan dari luar kota akan dia kirim gadis itu ke luar negara ini. Biarkan saja keluarga mendiang istrinya kelimpungan mencari Jeniffer, dia tidak peduli. Yang jelas Verry harus melenyapkan ancaman bagi keluarga Sukmajaya secepatnya.
__ADS_1
3 hari pertama pengintaian Verry tidak berbuah hasil, Jorgie selalu datang 5 menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Menanti dengan manis di depan pintu gerbang sembari mengunyah jajanan yang memang di jual di depan sekolah ini.
"Sial kalau gini caranya, gimana gua bisa bawa kabur itu anak." Verry menggeram dengan frustasi, sepertinya rencananya akan gagal karena penjagaan Jorgie yang ketat.
***
Di hari keempat dan kelima pun begitu, malahan Camelia ikut menjemput sang cucu membuat Verry semakin berang. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengikuti mobil Jorgie untuk mengetahui kemana ketiga orang itu akan pergi..
Verry tersenyum licik saat mengetahui tujuan mereka adalah pusat perbelanjaan. Dia harus membius Camelia dan Jeniffer agar keduanya tidak sadar saat berada jauh dari Jorgie.
Pria yang tidak pantas di sebut ayah itu semakin di rasuki iblis. Mata hatinya tertutup oleh rasa takut akan kehancuran keluarga Sukmajaya andaikata Jeniffer masih bebas berkeliaran di kota Jakarta ini.
Akhirnya kesempatan itu datang, Verry melihat keduanya akan ke toilet dan Verry berjaga serta menghalau orang-orang yang akan menggunakan toilet dengan alasan rusak. Umpatan pun keluar dari para wanita yang sudah tidak tahan ingin membuang air di dalam kantung kemihnya. Namun dia tidak peduli.
Camelia mendadak pusing dan limbung saat seseorang membekap mulutnya dengan sapi tangan. Tak lama kesadarannya pun terenggut dan dia tergeletak di lantai. Jeniffer yang melihat sang nenek terkapar bersiap untuk berteriak. Namun Verry lebih cepat, dia melakukan hal yang sama dengan mantan mertuanya. Dengan cepat Verry membawa lari tubuh sang putri keluar dari pusat perbelanjaan.
Sementara itu, Camelia yang di temukan pingsan di bawa ke ruang klinik pusat perbelanjaan ini. Jorgie pun menyusul saat mendengar pengumuman dari speaker yang mengatakan telah di temukan seorang wanita tua dengan ciri yang sama dengan sang ibu.
Camelia terisak saat sadar dari pingsannya dan menemukan sang cucu tidak berada di sampingnya. Jorgie yang baru masuk pun terkejut dengan teriakan sang ibu yang terus memanggil Jeniffer.
"Ma, ada apa ini?" tanyanya sambil mengulurkan sebotol air mineral dalam botol.
"Mama ga tau Jorgie. Saat keluar dari toilet, mama seperti ada yang membekap mulut mama dan mama tak sadarkan diri." ucap Camelia sambil meraung.
__ADS_1
"Maaf pak, bu. Mendengar dari cerita ibu anda sepertinya anak yang bernama Jeniffer di culik. Bapak dan ibu bisa laporan ke polisi atas kasus penculikan ini." ucap seorang dokter yang berjaga di klinik ini.
Jorgie mengusap wajahnya dengan kasar, memikirkan nasib sang keponakan yang tidak di ketahui di mana rimbanya. Semoga saja anak itu dapat segera di temukan. Harap Jorgie dalam hati.