
Jeniffer memandang pantulan dirinya yang berada di cermin kemeja putih yang dilapis oleh rompi kotak-kotak abu-abu serta dasi kupu-kupu berwarna abu-abu, iya itu adalah seragam dari Gold Lotus Flower High School untuk hari Senin Selasa dan Kamis, sedangkan untuk hari Rabu memakai baju setelan Pramuka dan hari terakhir pembelajaran selama sepekan yaitu Jumat memakai seragam batik dengan logo SMA tersebut dengan rok berwarna putih untuk hari Senin, sedangkan sisa harinya adalah abu-abu kecuali hari Rabu.
Tubuh langsing Jeniffer semakin sempurna dengan sepatu hitam sneaker yang membuat tampilannya layaknya remaja lainnya.
Omong-omong, ini sudah satu tahun sejak Jeniffer bersekolah di SMA elit ini dan akan bersiap untuk menyambut para murid baru alias murid kelas 10 yang akan bersekolah di sini. Jeniffer sudah menanti saat di mana rencana balas dendamnya akan di mulai saat ini juga.
Gadis itu melangkah turun ke bawah dan melihat sang om yang seperti sedang jatuh cinta, pertanyaan adalah dengan siapa Jorgie jatuh cinta, cepat juga pria itu move om dari mantan istrinya Diana yang ketahuan berselingkuh oleh Camelia di apartemen Jorgie sehingga sang om memutuskan untuk kembali tinggal di rumah Stanley sejak 2 bulan yang lalu.
"Aqiu,hayo kenapa senyum-senyum sendiri. Sedang jatuh cinta ya?" tanya Jeniffer menggoda.
"Memangnya salah kalau Aqiu jatuh cinta lagi." balas Jorgie yang membuat Jeniffer membelalakkan matanya.
"Serius nih, siapa perempuan yang kurang beruntung itu?" tanyanya kembali menggoda Jorgie dan membuat sang om mencebikkan bibirnya.
"Eits koq kamu ngomongnya begitu Jeni sayang. Itu Aqiu kamu kepincut sama mantan sekretaris Akhung kamu." sahut Camelia menengah perdebatan yang akan terjadi di antara keduanya.
"Jeni bingung deh, koq kenapa orang-orang gampang banget cerainya, memangnya ga takut dosa apa telah melanggar sumpah yang telah di ucapkan di depan Tuhan untuk tetap bersama dalam suka dan duka." baik Camelia maupun Jorgie hanya terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan dari gadis remaja yang sebentar lagi berusia 16 tahun itu.
"Begini Jeni, bukannya orang-orang tidak takut akan dosa dengan melakukan perceraian. Mereka itu termasuk Aqiu dan Aster hanyalah orang-orang yang salah dalam mengambil keputusan karena tidak melibatkan Tuhan. Dan saat tersadar kami tahu bahwa semua tidak dapat di perbaiki lagi..." Jorgie menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi dari gadis remaja itu.
"Kenapa bisa tidak melibatkan Tuhan?" tanyanya kembali.
"Karena kami terlena dengan keindahan dari dunia yang sebenarnya menyesatkan dan Aqiu akui bahwa kurang berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan." seharusnya Jeniffer mengerti bukan perkataannya, pikir Jorgie dalam hati.
"Ah, terlalu sulit untuk di pahami. Tapi yang penting Aqiu bahagia, Jeni ikutan bahagia." ucapan Jeniffer membuat Camelia dan Jorgie tertawa.
Ada satu hal yang di sadari oleh ketiga orang Atmadja ini bahwa meskipun memiliki wajah mirip dengan Meylani, namun pemikiran Jeniffer jelas sangat berbeda jauh dengan mendiang sang ibu. Gadis itu terkadang pembangkang, sulit di atur dan keras kepala. Namun di saat tertentu Jeniffer dapat menjelma menjadi malaikat yang menggemaskan.
"Ya memang belum waktunya buat kamu untuk memahami tentang pernikahan, lagian seumur gini koq belum pernah pacaran. Kalah ah sama Aqiu yang udah pacaran pas seumuran kamu." Jeniffer pun memanyunkan bibirnya sebagai tanda dia kesal atas godaan yang di lontarkan oleh Aqiu.
"Sudah jangan bercanda lagi, ini makin siang. Jeniffer cepat makan sarapannya. Akhung sudah menunggu di meja makan." ucap Camelia menggandeng keduanya menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur itu.
"Ada apa nih sepertinya kalian berdua membicarakan hal yang menyenangkan ya, sampai suara tawanya kedengaran sampai kemari." tanya Stanley melipat koran ekonomi yang telah selesai di bacanya itu.
"Iya ngomongin Aqiu yang jatuh cinta sama Cici Bunga Aster." sahut Jeniffer dengan tawa riang yang khas.
__ADS_1
"Memangnya Aster sudah mau sama kamu." tanya Stanley memicingkan matanya ke arah sang putra.
"Dari tanda-tandanya sih udah mau pa, cuma pas Jorgie gombalin Aster, David ngamuk sampai Aster muntah-muntah." sahut Jorgie lirih.
Oke untuk yang ini Jeniffer tidak mengerti apa hubungannya dengan om yang menggombal sampai buat David marah dan Aster muntah-muntah. Maka dari itu gadis itu memilih untuk diam saja.
"Biar gimana nanti kalau kamu nikah sama Aster, David bakal jadi anak sambung kamu. Oh iya sudah berapa bulan sih kandungan Aster?" tanya Stanley.
"Sudah masuk 7 bulan kandungannya. Tapi yang buat Jorgie bingung kenapa setiap hamil, Aster koq kelakuan aneh-aneh. Masa kemarin itu Aster minta Jorgie buat pake kostum Gatot Kaca, untungnya bisa Jorgie bujuk buat pakai kostum Panik Manusia Milenium ya meskipun perut Jorgie one pack." meledaklah tawa Jeniffer membayangkan Jorgie memakai kostum Gatot Kaca tersebut.
"Aduh Aqiu koq apes banget sih." ucapnya setelah tawa gadis itu mereda.
"Nanti dalam waktu 10 tahun lagi juga kamu akan merasakan nikah dan hamil terus ngidam." ucap Jorgie dengan sedikit jutek.
"Ealah tadi kompak sekarang ribut." komen Camelia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau kamu serius sama Aster, papa yakin dia akan terima kamu. Cuma papa tanya sekali lagi, apa kamu ga masalah dengan status anak yang di dalam kandungannya?" tanya Stanley kembali memastikan kemantapan hati sang putra.
"Jorgie sudah yakin pa. Mungkin sebenarnya Jorgie sudah jatuh cinta sama Aster sudah lama hanya Jorgie yang menyangkalnya karena berpikir sifat kami yang sama-sama keras tidak mungkin untuk bersatu." Jeniffer tidak berani menggoda sang om karena suasananya sudah semakin serius. Dalam hatinya dia berdoa semoga omnya mendapatkan kebahagiaannya.
"Jeniffer bangun, ayo cepat mandi terus kita ke acara sebulannya David." ucap Camelia sambil membangunkan sang cucu.
"Ah malas, masih ngantuk." jawab Jeniffer terus menarik kembali selimut berwarna dusty pink itu.
Gadis itu tidur terlalu larut akibat bergadang semalaman mencari informasi mengenai ekskul yang akan di ikuti oleh Edward sang adik tiri. Jeniffer sengaja tidak menonjolkan dirinya saat penerimaan murid baru agar sang adik tiri tidak mengetahui keberadaan dirinya.
Jessi mengatakan bila ingin membalas dendam dengan cara yang halus dan tidak di ketahui oleh siapapun dan itu di mulai dari menghancurkan Edward, pemuda yang sudah memiliki tinggi 175 centimeter. Mengalahkan dirinya yang hanya memiliki tinggi 162 centimeter.
"Cepet bangun, ayo ntar abis acara sebulannya David lanjut acara lamaran Aqiu kamu." mendengar kata lamaran mau tak mau membuat Jeniffer membuka matanya meskipun rasa kantuknya masih sangat besar.
"Cepat mandi, ntar minum kopi aja kalau masih ngantuk." ucap Camelia menarik sang cucu untuk menuju ke kamar mandi. Setelah itu dia mempersiapkan baju yang akan di kenakan oleh gadis remaja itu.
'Aqiu lo aja udah mau nikah yang kedua kali, masa sampai sekarang masih jomblo aja.' ejek Jessi saat Jeniffer bercermin di kamar mandi.
'Biarin Aqiu mau nikah berapa kali asalkan bahagia. Punya pacar kayaknya ribet, aku ga mau di pusingin sama kelakuan cowo yang over protektif dan posesif.' jawab Jeniffer sembari menyalakan shower dan tak lama pancuran air dingin menyentuh permukaan kulit membuat Jeniffer merasa segar.
__ADS_1
15 menit waktu yang di butuhkan oleh Jeniffer untuk mandi, saat dia keluar dari kamar mandi di ranjangnya sudah tergeletak dress selutut berwarna Lilac dengan hiasan pita di pinggang. Segera saja gadis itu mengenakan yang terbuat dari bahan sifon di luarnya dan dilapisi
bahan satin di dalam. Sembari mengatur rambut gadis itu mengiklankan produk sisir blow dry kepada para followernya.
Camelia yang hendak berteriak pun urung karena melihat tampilan dalam handphone Jeniffer yang sedang menunjukkan bahwa gadis itu tengah melakukan siaran langsung di medsosnya. Karenanya wanita itu menunggu hingga sang cucu menyelesaikan pekerjaannya barulah Camelia akan membuka suara.
Penantian Camelia pun berbuah manis, gadis itu menyelesaikan siaran langsungnya 10 menit kemudian, kemudian barulah wanita berusia 60 tahun itu berbicara.
"Nak, ayo cepat sudah jam 10 sayang. Acaranya David jam 11." ucapnya sembari menarik tangan Jeniffer. Setelah memastikan lampu dan AC di kamar sang cucu sudah mati barulah Camelia menutup pintu kamar yang berwarna pink itu.
Untunglah lalu lintas di hari Minggu tidak sepadat hari kerja, mereka berempat tiba di kediaman James Zedekiah yang merupakan ayah dari Aster Zedekiah. Calon istri dari Jorgie, Aster sudah melahirkan tepat 1 bulan yang lalu. Dan atas kesepakatan James dan sang istri Karina, mereka sepakat untuk melakukan acara sebulan kelahiran David yang lebih di kenal dengan istilah Man Yue.
Ruangan tamu sudah di dekor dengan hiasan serba merah dan emas perlambang dari keberuntungan yang di harapkan terus mengikuti baby David. Jeniffer memanfaatkan beberapa spot tempat yang menarik untuk mengambil swa foto dan mengunggahnya di medsosnya.
Gadis itu terpukau akan keindahan dekorasi yang tersaji di rumah James dan berfikir dalam hatinya, apakah dulu dirinya sempat di buatkan acara seperti ini oleh Meylani dan Verry. Namun kesadaran langsung menghentak pikiran Jeniffer dan memancing Jessi untuk berbicara.
'Hey, memangnya dalam buku diary itu mama pernah mengatakan ada acara seperti ini?" ejek Jessi membuat Jeniffer tersenyum kecut.
'Ga ada sih tulisan yang mengatakan bahwa mama mengadakan acara seperti ini.' sahut Jeni lirih.
Di saat dia sedang bersedih, sebuah suara pria menyapanya membuat gadis itu menoleh. Sedetik kemudian Jeniffer terpukau akan sosok yang telah memanggilnya itu. Seorang pria yang Jeniffer tidak siap ketahui namanya namun Jeniffer tahu bahwa dia adalah salah satu anggota keluarga Zedekiah.
"Dek, koq melamun saja. Tidak baik melamun takutnya kesambet." Jeniffer makin terpukau saat mendengar suara itu lebih lanjut. Suara yang berat namun juga dapat menenangkan hatinya. Jeniffer seakan tidak mau bangun jika ini semua hanyalah sebuah mimpi.
"Joseph, saya cari dari tadi rupanya kamu di sini sama keponakan saya."
Wait, bukannya itu suara sang om. Tadi Jorgie juga menyebut Joseph, apa mungkin nama pria ini adalah Joseph. pikir Jeniffer dalam hatinya.
"Iya Ko, tadi ini anak bengong terus makanya saya ajak ngobrol. Takutnya kesambet." ucap Joseph menjawab pertanyaan Jorgie. Dan demi Tuhan Jeniffer semakin terpana akan ketampanan dari pria yang bernama Joseph ini.
"Ini anak emang sering bengong, tapi ga apa-apa koq. Memang dia kadang cari inspirasi buat konten di medsosnya dengan bengong gini. Oh iya kenalin ini keponakan saya Jeniffer ,Sukmajaya dan ini adik ipar Aqiu Joseph Zedekiah." ucap Jorgie saling memperkenalkan keduanya
Jadi pria ini adik ipar dari omnya? Boleh dong Jeniffer gebet. Pikirannya mulai berkelana membayangkan dirinya akan menjadi kekasih dari Joseph.
Sebab selama usianya yang sudah menginjak 16 tahun, baru kali ini Jeniffer merasakan jatuh cinta pada seorang pria. Sebab gadis itu memiliki trust issue terhadap laki-laki akibat perbuatan dari sang ayah yang menyebabkan sang ibu meregang nyawa dengan membunuh dirinya.
__ADS_1