
Dugaan Edward tidak salah, Jeniffer selalu mengganggunya saat mereka berpapasan. Entah gadis itu menyenggol bahunya yang sedang membawa makanan atau minuman sehingga terjatuh, atau pun gadis itu sengaja melemparkan bola basket atau bola voli yang mengenai dirinya. Ingin marah Edward rasanya tidak berani saat melihat tatapan sinis yang dilayangkan oleh Jeniffer. Jadilah dia hanya terdiam dalam menghadapi kelakuan Jessi yang berada di dalam pikiran Jeniffer.
Jessi terus mengerjai Edward selama setahun ini. Saat ini memang Jeniffer sudah berada ke kelas tingkat akhir yang akan menjalani ujian kelulusan kurang lebih 6 bulan lagi. Sementara Edward berada ke kelas 2 dan menjabat sebagai kapten tim basket. Tingginya pun sudah bertambah 6 centimeter dan di perkirakan akan terus bertambah tingginya .
Pemuda panggung itu sampai saat ini belum mengetahui bahwa gadis itu adalah kakak tirinya sebab Jennifer tidak pernah menyinggung soal itu kepada seluruh penghuni sekolah ini.
Saat pengambilan raport pun, hanya Risda yang mengambil raport sang putra. Sedangkan Jeniffer selalu di ambilkan oleh Jorgie. Baik Jorgie dan Risda tidak saling mengenal karena itu keduanya hanya saling berpasasan tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.
Pada semester genap ini, sebelum liburan Natal dan tahun baru. Pihak sekolah berencana untuk mengadakan kemping tahunan bagi seluruh siswa dari kelas 1-3. Sekaligus mempersiapkan perpisahan bagi murid kelas 3 yang akan menjalani ujian dalam waktu 6 bulan lagi.
'Acara kemping tahun ini lo ikut lagi kan?' tanya Jessi saat Jeniffer tengah membaca formulir persetujuan orang tua/wali murid untuk mengikuti acara perkemahan yang di adakan di daerah hutan lindung di daerah Bogor.
Acara perkemahan yang rencananya akan berlangsung 3 hari 2 malam itu, pastinya akan menjadi acara yang tidak terlupakan untuk murid yang berada di kelas 3 seperti layaknya Jeniffer.
'Ikut dong, rasanya ga sabar pengen refreshing otak. Cuma di sana ga bisa iklan untuk endorse kayaknya.'
'Kenapa ga bisa? Bisa aja kali. Mulai aja dari saat kita mau packing, pasti nyempil itu beberapa produk yang bisa di endorse.' sahut Jessi membuat Jeniffer mengangguk.
'Ekh, lagian nge-charge handphonenya aja di mana juga aku ga tahu. Dengar-dengar semua handphone bakal di serahin dulu ke wali kelas begitu kita di bis nantinya.' Jeniffer langsung berujar karena baru mengingat fakta itu.
'Ya kalau gitu di sana gua yang take over body lo ya? Sekalian lindungin lo juga dari para geng cewek cabe yang berniat jahat sama lo, sekalian jugalah kita korek-korek informasi tentang ade tiri lo itu juga.' usul Jessi kembali yang langsung di setujui oleh Jeniffer.
'Mau ngapain kamu di acara kemah nanti? Jangan yang aneh-aneh deh. Terus bagaimana cara kita cari informasi tentang Edward.' tanya Jeniffer dengan nada menuding Jessi dan pribadi kedua itu hanya tertawa keras menanggapi tudingan Jeniffer kepadanya.
'Ya tinggal bayar orang buat tanya itu bocah, dia rencananya mau sekolah di mana. Beres kan?' usul Jessi membuat Jeniffer mengangguk.
***
Acara kemping yang di nantikan oleh seluruh SMP Pelita Insan Buana yaitu sekolah tempat Jeniffer dan Edward bersekolah pun telah tiba. Para orang tua dan wali murid pun mengantarkan para bocah SMP itu menuju sekolah tepat jam 7 pagi, karena keseluruhan bis berjumlah 18 buah itu akan berangkat pada pukul 8 tepat, di mana setiap bis nya akan di awasi oleh 2 guru pendamping untuk memastikan agar suasana di dalam bis tidak akan kacau.
__ADS_1
Stanley, Camelia dan Jorgie pun tidak ketinggalan untuk mengantar Jeniffer, bahkan semalam Stanley sampai membekali sang cucu uang sejumlah 2 juta rupiah karena takut gadis itu tidak cocok dengan makanan khas kemping dan memilih membeli di warung makan yang tersedia di sekitar lokasi perkemahan, tentunya tanpa sepengetahuan dari sang istri. Sungguh baik sekali kakek yang satu ini bukan?
Tidak jauh berbeda dengan Stanley, Jorgie pun memberi sang keponakan uang berjumlah 1.500.000 rupiah dalam bentuk pecahan 50.000 rupiah. Dan Jeniffer dan Jessi pun dengan senang hati menerima uang itu, pikirannya bermain bagaimana akan menggunakan uang itu untuk menyuruh seseorang untuk mendekati Edward.
Jeniffer duduk sendirian selama perjalanan karena tidak ada satupun teman sekelasnya yang ingin duduk di sampingnya dan gadis itupun tidak mempermasalahkannya. Malahan bagus untuk dirinya tidak di recoki oleh percakapan unfaedah alias basa basi busuk yang sudah muak dia dengarkan.
Sesampainya di tempat perkemahan, semua siswa dan siswi sudah di arahkan menuju tenda yang memuat 5 orang dan sudah di tentukan oleh pihak panitia, yakni para guru.
Dan entah ini keberuntungan bagi Jeniffer atau kesialan bagi teman-teman serendah gadis itu. Ternyata geng cabe yang pernah berniat mempermalukan dirinya saat siaran langsung IG lah yang menjadi teman-teman satu tendanya. Jessi pun menyeringai sinis menatap keempat gadis geng cabe yang memucat wajahnya.
Jessi menginginkan agar dirinya yang mengambil alih pikiran Jeniffer selama acara perkemahan sekolah ini dengan dalih untuk melindungi gadis itu dan Jeniffer pun menyetujuinya.
"So, kalian yang jadi teman satu tenda gua? Gua harap kalian hati-hati saja ya." ucap Jessi dengan nada manis namun terlihat menyeramkan bagi 4 orang gadis itu. Rencana mereka untuk mengerjai Jeniffer harus kandas saat itu juga melihat aura intimidasi yang memancar keluar dari 'Jeniffer'.
"Jeni, jangan macam-macam deh ya selama kemah ini. Kita ini mau liburan ya, bukan mau adu nyali." sembur salah seorang dari gadis cabe itu penuh ketakutan.
"Ya tergantung bagaimana sikap kalian sama gua, kalau kalian ga macam-macam, gua ga bakal balas kalian." sahur Jessi penuh dusta sebab dia sudah merencanakan hal licik kepada 4 orang gadis yang sering berseteru dengan Jeniffer.
***
Karena mereka tiba pukul 11 siang, para guru memerintahkan seluruh siswa untuk segera meletakkan barang bawaannya dan menuju ke lingkaran api unggun yang akan di nyalakan pada malam harinya untuk makan siang.
Makan siang yang pertama kali ini adalah makanan dari katering karena tidak akan cukup waktu untuk memasaknya, begitu keputusan para guru. Namun untuk selanjutnya, masing-masing kelas harus mempersiapkan dan memasaknya sendiri.
Jessi tersenyum kecut saat wali kelas yaitu Miss Erika menyuruhnya untuk memotong-motong sayuran berupa wortel dan labu untuk sayur sop. Dalam hatinya dia mengumpati sang guru yang secara sengaja menyuruh siswi yang tidak bisa memasak seperti dirinya untuk melakukan tugas itu.
Herru yang melihat gelagat 'Jeniffer' pun hanya terbingung-bingung. Mau bertanya pun pemuda itu takut karena muka jutek dan sinis dari gadis itu .
"Oi, potongin dong. Gua ga bisa nih." ucap Jessi akhirnya membuat Herru tersenyum canggung.
__ADS_1
"Aku kupasin kulitnya kamu aja yang potong, gimana? Kalau cuma sendiri ga akan keburu waktunya. Ini banyak banget soalnya yang mau di potong." Jessi mengangguk saat mendengar ucapan Herru yang memang benar itu. Tidak mungkin juga pemuda itu mengerjakan tugas memotong sayuran ini sendirian.
"Oi, gitu lulus lo mau lanjut ke SMA mana?" tanya Jessi basa basi, dia merasa garing juga jika harus berdiam-diaman dengan Herru selama 90 menit kedepan.
"Mungkin mau masuk sekolah media atau SMA Gemalokkha aja." Jessi pun mengangguk saat mendengar jawaban Herru.
"Soalnya gua berencana untuk kerja di Sukmajaya Grup kayak kakek dan bokap gua yang mengabdi pada keluarga itu." Jessi melebarkan mata saat mendengar nama Sukmajaya terucap dari bibir Herru.
"Oh kalau penerus Sukmajaya biasanya nerusin SMA di mana?" tanya Jessi iseng-iseng, berharap Herru akan menjawab pertanyaannya.
"Kalau penerus keluarga Sukmajaya biasanya nerusin SMA di SMA Gold Lotus Flower." ucap Herru secara tidak sadar akibat sedang mengupas kulit wortel dan menyerahkan kepada 'Jeniffer' untuk di potong.
Jessi pun tersenyum licik saat mengetahui SMA yang akan menjadi tujuan dari Edward, namun dia harus memastikan sendiri dari bibir sang adik tiri Jeniffer. Sepertinya setelah makan malam, dia harus mencari orang yang akan membantunya.
"Ya ampun, Jeni. Ini kenapa potongannya ga sama. Ada yang gede ada yang kecil." sebuah suara yang tiba-tiba terdengar mengejutkan keduanya. Terlihat Miss Erika yang memang sedari awal Jeniffer masuk kelas 3 ini, memang tidak menyukainya.
"Yang penting masuk perut juga Miss, lagian ini bukan lomba master Chef yang perlu memperhatikan estetika dari sebuah masakan." sahur Jessi tidak kalah sinis.
"Iya cuma kalau potongannya ga tapi gini, orang juga ga semangat makannya." Jessi yang melihat air dalam sebuah ember kecil di sebelah wali kelasnya pun langsung menyeringai sinis. Dengan gerakan tidak ketara gadis itu menendang ember yang mengenai tubuh sang wali kelas.
"Aduh, koq itu ember bisa ada di situ ya Miss? Sepertinya itu ember punya kaki." sahut Jessi sambil menahan tawanya.
Kejahilan Jessi tidak hanya di rasakan oleh Miss Erika namun hampir separuh dari peserta kemping yang memang memiliki masalah sebelumnya dengan Jeniffer. Jeniffer yang tertidur tentu saja tidak mengetahui perilaku dari pribadi keduanya itu.
Ada yang di kerjai oleh Jessi dengan menghilangkan sepatunya. Ada pula yang Jessi takut-takuti saat jurit malam berlangsung. Bahkan yang lebih gilanya, Jessi mencampurkan sebotol obat pencahar dalam masakan kelasnya, tentu saja saat dirinya tidak kedapatan tugas memasak. Hanya Herru yang berlaku baik padanya, Jessi luputkm dari bahaya sakit perut massal itu.
Dan tidak ada satupun dari mereka yang dapat menyalahkan Jessi karena mereka tidak memiliki bukti bahwa gadis itu yang melakukannya. Sungguh permainan yang rapi yang di tampilkan oleh pribadi kedua Jeniffer itu.
***
__ADS_1
Acara perkemahan pun telah usai dan semua bersiap untuk memasuki bis yang akan membawa para siswa itu untuk kembali ke sekolah. Dan pada perjalanan pulang kali ini, Herru bersedia untuk duduk di sampingnya untuk alasan yang Jessi tidak tahu. Yang pasti pemuda itu tidak merepotkan dan tidak berbicara jika tidak di ajak bicara duluan olehnya dan Jessi menyukai hal itu. Setidaknya dia tidak akan merasa kesepian di sisa masa sekolah SMP nya ini. Pikir Jessi.
Mengenai Edward, Jessi sudah mendapatkan informasi yang dia mau dan memang benar keluarga Sukmajaya baik itu cucu dalam maupun cucu luar, semuanya bersekolah di SMA Gold Lotus Flower. Ini artinya Jessi harus dapat membantu Jeniffer agar gadis itu dapat masuk ke sekolah elit yang bertaraf internasional tersebut apapun caranya.