
Jeniffer melangkah dengan riang melewati lorong sekolah dan tak lama kemudian Jessi menyadari keberadaan Edward dan segera beritahukannya kepada Jeniffer.
'Jeni, lihat ke arah depan samping kiri elo ada Ade tiri lo tuh.' ucap Jessi sembari memberitahukan arah di mana Edward berada.
Dengan cepat Jennifer mengikuti instruksi dari pribadi keduanya, benar saja gadis itu melihat Edward yang sedang tertawa-tawa dengan teman-temannya. Sepertinya adik tirinya itu sedang menggoda seorang teman perempuannya.
'Bagaimana kalau kita mulai dari mengerjai cewek itu?" usulan Jessi membuat Jeniffer bingung apa hubungannya rencana balas dendam dengan mengerjai seseorang yang tidak ada masalah dengan dirinya.
'Mengerjai gimana maksud lo?'
'Kita buat itu cewe ilfeel sama Ade tiri lo.' sahut Jessi kembali.
'Tetep aja gua belum paham maksud.' ujar Jeniffer setengah frustasi.
'Makanya jangan BUCIN, jadinya bego kan.' sindir Jessi membuat Jeniffer cemberut.
'Jadi gini loh, Jeni sayang. Memang lo ga bisa lihat apa muka tuh anak yang kayaknya suka banget sama cewe rambut panjang itu.' Jessi mulai menjelaskan apa rencanakannya sementara Jeniffer memperhatikan gadis yang disukai oleh Edward.
'Jadi kita kerjain aja itu cewe, tapi buatnya seolah-olah Ade tiri lo yang ngerjain biar itu cewek marah besar dan gagal deh mereka jadiannya.' ujar Jessi kembali sementara Jeniffer masih memperhatikan gadis yang memiliki rambut panjang hitam yang sangat halus dan lembut kelihatannya.
'Huh? Tetap saja ga ngerti gua sama rencana lo.' ucap Jeniffer yang tetap tidak mengerti apa maksud Jessi
'Ya sudah ikuti saja kalau ga ngerti, memang dasar lo ini mesti dijelasin sambil praktek.' ucap Jessi dengan nada kesal, dia sudah lelah berbicara dengan Jeniffer.
***
Bel istirahat pun berbunyi, Jeniffer bersiap menuju kantin. Perutnya gampang merasa lapar akhir-akhir ini meskipun sudah makan 4 jam yang lalu, maka itu gadis itu memutuskan untuk menuju kantin dan membayangkan semangkuk mie ayam yang akan berpindah ke dalam perutnya menerbitkan senyumnya.
'Sepertinya tamu bulanan lo mau datang makanya lo lapar terus.' ucap Jessi saat Jeniffer memulai makannya.
'Mungkin juga, ini mie ayamnya tumben gurih.' komentar Jeniffer saat di sela kunyahannya.
'Lo ga tahu ya, tukang mie ayam yang sebelumnya udah ga jualan diganti sama anaknya.' ucapan Jessi membuat Jeniffer mengerenyit.
'Koq Lo bisa tahu?' tanya Jeniffer sembari melihat keadaan kantin yang mulai padat ini.
'Waktu lo 'tidur' gua lapar jadi gua makan, gua lihat bapak penjual mienya beda. Ini lebih mudaan.' Jeniffer hanya mengangguk saat mendengar penjelasan Jessi.
Disaat itulah mata gadis itu menangkap beberapa orang yang dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Edward dan ketiga temannya beserta 4 orang gadis. Mereka semua duduk 2 meja di depan Jennifer, karena posisi Edward memunggungi sang kakak tiri makanya pemuda itu tidak mengetahui bahwa Jeniffer juga berada di kantin.
__ADS_1
'Whoooaa, lihat Ade tiri lo gercep juga dia deketin cewe.' sahut Jessi dengan nada mengejek.
'Jadi bagaimana sekarang? Mau di kerjain?' tanya Jeniffer.
'Tentu dong, kita mulai kerjain dengan kasih sambal atau merica yang banyak sama makanan cewe itu.' sahut Jessi yang langsung ditilaj mentah-mentah oleh Jeniffer.
'Itu sama aja ga bakal berhasil. Kalau tuh cewek suka pedes ya dimakan sama dia kalau ga doyan ya ga bakal di makan karena lihat itu makanan kuahnya warna merah medok terus kita bakal ketahuan sama Edward kalau udah taro sambel yang banyak di makanan cewe itu.' Omelan Jeniffer langsung meluncur bak kereta api membuat Jessi meringis.
'Oh iya juga. Hmmm. Berarti besok aja lah, kayak ga akan makan lagi aja di kantin mereka.' ucap Jessi sembari meredakan kekesalan Jeniffer.
'Sekarang kita cari tahu dulu siapa cewek itu dan di mana kelasnya.' sahut Jessi kembali karena Jeniffer masih terdiam.
'Lihat itu mau pergi dari sini, buruan kita ikutin.' perintah Jessi pada Jeniffer yang agak mengantuk karena kekenyangan membuat gadis itu terkejut. Hilang sudah bayangan Joseph dari dalam benaknya.
'Kebiasaan Jessi, nongol suka ngagetin.' omel Jeniffer tapi tetap menuruti perintah Jessi.
'Sori Sistah, habisnya lo ngebayangin pujaan hati lo mulu sih.' inilah salah satu yang dibenci oleh Jeniffer, keduanya seakan tidak memiliki rahasia karena pikiran mereka saling terkoneksi satu dengan yang lainnya meskipun sebenarnya kadang Jeniffer tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Jessi.
Jeniffer pun segera membuntuti Edward dan semua temannya dengan perlahan agar tidak menimbulkan kecurigaan sang Adik tiri, dia tidak mau rencananya akan ambyar.
"Oh, ternyata cewek itu kelasnya di sebelah anak itu." gumam Jeniffer pelan.
***
Sepulang sekolah Jeniffer meminta supirnya Pak Pur untuk pergi ke beberapa tempat sebelum pulang ke rumah, meskipun bingung tapi sang supir menuruti majikan mudanya.
'Apa sih yang Non Jenifferr mau lakukan dengan barang-barang ini.' ujar Pak Pur sambil memandangi semua barang yang tergeletak di kursi belakang.
'Apapun itu semoga aja Non Jeniffer ga buat masalah, seperti waktu saat SMP.' lanjut Pak Pur dalam hatinya.
"Pak Pur tolong bawa semuanya ke dalam kamar saya." ucap Jeniffer saat mobil yang dikendarai oleh Pak Pur sudah memasuki garasi rumah Stanley.
"Oke Non." jawab Pak Pur singkat.
Jeniffer memandang dengan puas saat mulai menyusun barang-barang yang akan digunakan untuk mengerjai cewek yang menjadi incarannya Edward.
'Oke Jeniffer lebih baik kita tidur dulu sekarang, besok kita akan melihat pertunjukan yang sangat seru.
***
__ADS_1
Matahari sudah terbit menggantikan sang rembulan yang sudah lelah bertugas semalaman, Jeniffer yang biasanya susah terbangun kali ini sudah rapi saat waktu menunjukkan angka 05.50 membuat Camelia dan Stanley terkejut.
"Tumben sepagi ini kamu sudah rapi, Jen." tanya Stanley sambil memicingkan mata tanda dia curiga dengan tingkah laku sang cucu.
"Kemarin ga bergadang jadinya bangun cepat. Khung." jawab Jeniffer dengan tenang, dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan sang kakek.
Stanley hanya mengangguk saat mendengar perkataan dari Jeniffer. " Kalau begitu kamu jangan bergadang terus kan bisa bangun pagi."
"Ya itu tergantung Khung, kalau ada drama yang bagus ya Jeniffer nonton." sahut Jeniffer sambil mengurai senyuman meledek.
Stanley langsung menghela nafas panjang bingung menghadapi kelakuan sang cucu, tak lama Camelia datang dengan membawa senampan lauk gorengan yaitu telor ceplok sebanyak 3 buah, tambahan sosis 3 buah untuk Jeniffer dan lalapan berupa tomat dan timun.
Camelia langsung meminta keduanya langsung memakan sarapannya karena waktu yang sudah merangkak semakin siang.
Selesai sarapan, Jeniffer langsung meminta Pak Pur untuk mengambil barang-barang yang sudah dia siapkan dari hari kemarin. Untunglah Camelia sudah kembali sibuk di dapur dan Stanley harus segera ke kantor karena ada meeting internal dengan para staff kantor.
***
"Terima kasih Pak Pur, nanti tunggu saya WA saja ya baru Bapak jemput." ucap Jeniffer setelah Pak Pur membantu menurunkan barang-barang Jeniffer.
"Iya Non." ucap Pak Pur.
Jeniffer langsung membawa barang-barang itu ke lokernya, saat ini tidak ada siapapun di tempat ini jadi tidak ada saksi mata seandainya rencananya ini berhasil. Sebagian dari barang itu dia letakkan di atas meja gadis itu sebagai 'hadiah' disertai dengan tulisan yang di cetak menggunakan tinta merah muda. Isi dari tulisan itu mengatakan bahwa hadiah itu berasal dari Edward.
Gadis itu menyeringai lebar saat kedua target sudah terlihat depan mata. "Terimalah hadiah dari gua. Adik ipar tersayang."
"Tania, lihat ada hadiah di atas meja lo." seru seorang gadis yang berasal dari kelas gadis yang menjadi incaran Edward.
"Oh ternyata namanya Tania. Maaf melibatkan lo, siapa suruh mau aja dideketin sama Edward." gumam Jeniffer pelan.
Setelah itu tidak terdengar suara, Jeniffer menduga gadis yang bernama Tania itu sedang membuka hadiah itu. Dia menunggu hingga beberapa hitungan.
"Argggghhh! Dasar Edward kurang ajar!" teriakan pun bergema di dalam kelas itu membuat Jeniffer tertawa puas.
Jeniffer melihat dengan mengendap-endap Tania menuju ke arah kelas Edward dan menamparnya.
"Dasar cowo kurang ajar." maki Tania yang membuat Edward seketika termangu, apakah kesalahannya sehingga Tania marah besar seperti itu.
"Rasain!" seru Jeniffer dengan senang.
__ADS_1