Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
04. 6 tahun kemudian!


__ADS_3

Seorang bocah perempuan berkepang dua yang berusia 7 tahun tampak sedang asyik menjilati es krim cone rasa favoritnya yaitu stoberi vanila sembari menunggu kedatangan seseorang yang akan menjemputnya sepulang dari sekolah. Gadis itu duduk bangku panjang yang memang tersedia di depan gerbang sekolah.


Ya, bocah berusia 7 tahun itu adalah Jeniffer Sukmajaya yang saat ini sudah berada di kelas 2 sekolah dasar Lentera Cinta Kasih. Jeni membeli es krim itu dari seorang pedagang eskrim keliling yang memakai sepeda. Dengan guru-guru yang masih mengawasi para murid yang belum di jemput oleh orang tua, wali murid ataupun pengasuh.


Jeniffer sedang menunggu kedatangan Jorgie, sang om yang berjanji akan menjemputnya tadi pagi saat Camelia sedang mendandaninya. Wanita paru baya itu merasa pusing seminggu belakangan ini dan di sarankan oleh dokter untuk banyak beristirahat dan tidak keluar rumah dulu hingga kesehatan pulih. Kombinasi asam urat dan diabetes melitus yang di idapnya semenjak memasuki usia 40 tahun membuat daya tahan tubuhnya tidak terlalu kuat.


***


Di sebuah jalan besar nampak seorang pria berpakaian kemeja lengkap dengan setelan jasnya merutuki kepadatan lalu lintas Jakarta, efek dari warganya yang lebih senang berkendara sendiri daripada naik transportasi umum yang tidak ramah, nyaman serta aman bagi penggunanya.


"Sial, kenapa mesti terjebak macet saat gua mau meeting sama klien." umpat pria itu sambil menekan klakson berkali-kali dengan harap mobil yang berada di depannya akan bergerak maju.


Hal yang tidak mungkin terwujud sebab mobil pria perlente itu terjebak di tengah-tengah puluhan kendaraan lain. Karena ulahnya yang membunyikan klakson terus menerus membuat pengemudi motor di sebelah kirinya terpantik emosinya.


Pengemudi motor itu membuka kaca helm full facenya dan memukulkan helm itu ke body mobil Toyo*a Fortuner itu sembari membentak pria perlente itu. "Hoyy, mon*et sabar. Lu kira ini jalanan moyang lu, mata lu buta apa picek. Kaga lihat mobil dan motor ga bisa jalan karena mampet. Malah bunyiin klakson kayak orang kampungan


Apakah pria perlente itu akan mengkeret ketakutan saat menerima amukan dari sang penghuni motor? Jawabannya adalah tidak, pria itu semakin emosi. Tidak tahukah kalau dia sudah ada janji dengan klien di tempat yang berjarak 10 kilometer dari sini setengah jam lagi..


"Ban*sat, siapa lu beraninya bentak gua kayak gitu." ucap pria itu dengan rasa murka yang sudah sampai ke ubun-ubun kepala. Dengan cepat pria itu membuka jasnya dan membuka pintu mobil untuk menghampiri si pengemudi motor.


Keadaan sekitar mereka berdua sudah tegang dengan aura permusuhan dan kebencian yang sangat kental. Para pengguna jalan lain hanya diam tanpa tahu harus berbuat apa ataupun berani melerai kedua pria yang sedang di kuasai oleh sang angkara murka.


Bugghhh

__ADS_1


Pria perlente itu memberikan bogeman mentah pada di pengemudi motor yang terpana sekejap.


Bugghhh bugghh


Dua pukulan di layangkan pengemudi motor karena tidak terima dirinya di pukul. Setelah itu dia menjawab dengan nada yang masih penuh kemarahan di dadanya. "Wah, si mo*et. Dasar gila, udah salah malah nyolot pula."


"Wah, orang susah kayak lu mau main-main rupanya ya." desis pria perlente itu sembari menahan sakit akibat tinju yang bersarang di kedua pipinya.


"Wah si mon*et ini sakit jiwa rupanya. Ga sadar kalau dia yang salah." balas si pengemudi motor dengan lebih murka.


Prittttt


Sebuah suara peluit menghentikan pertengkaran antara kedua pengguna jalan itu, seorang polisi lalu lintas yang menerima aduan beberapa orang warga langsung menuju ke tempat terjadinya perkelahian.


"Maaf, saya tidak ada waktu lagi. Kata bapak selesaikan di sini saja. Bapak minta berapa?" tukas si pengemudi motor sembari mengeluarkan 10 lembar uang senilai seratus ribuan.


Petugas polisi tersebut memerah padam akibat tindakan yang dilakukan oleh pria perlente itu. Dengan cepat dia mengeluarkan surat tilang dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Sementara pengemudi motor yang memang lengkap surat-surat mengenai motor dan SIM di persilahkan untuk meninggalkan tempat.


"Kenapa dia ga kena tilang, sementara saya kena." protes si pria perlente itu tidak terima.


"Alasan saya tidak menilang pengemudi motor itu adalah sikapnya yang sopan saat menjawab pertanyaan saya, surat-surat untuk kelengkapan mengemudi pun lengkap dan yang terakhir tidak berusaha untuk menyuap petugas." petugas polisi yang memiliki tubuh kekar karena latihan yang sering dilakukan olehnya.


"Maksud bapak apa?" tanya pria perlente itu dengan bingung.

__ADS_1


"Kami aparat negara di larang untuk menerima suap demi untuk kepentingan pribadi. Jadi bapak Verry Sukmajaya, saya harap bapak dapat memenuhi panggilan sidang nanti." ujar petugas polisi itu kepada pria perlente yang ternyata adalah Verry Sukmajaya.


"Kalau begitu saya pamit permisi dulu, selamat siang." setelah berpamitan petugas polisi itu melajukan kendaraan roda duanya.


Verry menggeram kesal sembari meremas surat tilang itu, ini semua karena Petra, sang putra yang merengek minta jalan dan di belikan mainan. Kalau saja Petra mau mengerti bahwa besok hari Sabtu dan kegiatan perkantoran di liburkan, maka semua ini tidak akan terjadi.


"Dasar anak manja." desis Verry sembari menyalakan mesin mobilnya.


Saat melewati sekolah dasar Lentera Cinta Kasih, matanya terbelalak saat melihat seorang bocah perempuan berkepang dua yang tampilannya sangat mirip dengan mendiang istrinya yang tidak berguna itu.


Karena sudah terlambat dari waktu janjiannya dengan klien maka, Verry membatalkan meeting dengan memberi tahu kepada sekretarisnya untuk menjadwalkan ulang. Setengah penasaran Verry menepikan mobilnya dan memperhatikan bocah perempuan yang ternyata Jeniffer.


Verry melihat dari balik kaca mobilnya, kalau bocah itu mulai bersunggut-sunggut dan kelakuannya itu sangat persis dengan Meylani. Seketika pemikiran bahwa bocah itu mungkin adalah putrinya membuat Verry harus memastikan. Namun dengan cara apa? tanyanya dalam hati.


Saat sedang berfikir itulah, sebuah mobil Pajero sport berhenti di depan gadis kecil itu. Verry melihat bahwa bocah itu masih merajuk dengan orang yang menjemputnya, terbukti dari sikap gadis itu yang tidak ingin ikut masuk kedalam mobil itu.


Gotcha!


Verry tersenyum puas, saat melihat Jorgie yang merupakan mantan adik iparnya keluar dari mobil Pajero itu dan menggendong Jeniffer dengan posisi masih membujuk keponakannya.


Pria itu tahu bahwa Jorgie belum menikah sampai sekarang, jadi itu sudah pasti adalah Jeniffer. Namun melihat kemiripan antara Jeniffer dan mendiang istrinya membuat bulu kuduk Verry meremang, seakan Meylani bangkit dari kematian dan merasuki tubuh seseorang. Entah mengapa hati Verry tiba-tiba di liputi oleh kecemasan bahwa Jeniffer bisa jadi akan menjadi kehancuran keluarga Sukmajaya.


Dia harus melakukan sesuatu agar Jeniffer dapat pergi sejauh mungkin dari kota ini bahkan mungkin pulau ini. Verry akan melakukan segala cara agar Jeniffer tidak menjadi batu sandungan baginya di masa mendatang.

__ADS_1


__ADS_2