Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
06. Bangkitnya monster!


__ADS_3

Sementara itu Verry segela melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju luar kota Jakarta melalui jalur tol dengan Jennifer yang masih tertidur akibat obat bius yang diberikan oleh pria itu kepada sang putri. Tangan dan kaki tubuh kecil itu di ikat dengan tali rafia yang memang tersedia di mobil Verry.


"Biar saja anak sial itu ga sadar selamanya." ujar Verry saat menyumpal mulut Jeniffer dengan sapi tangan yang telah di tetesi oleh obat bius itu.


Hati nuraninya sebagai seorang ayah sama sekali sudah hilang dan berganti menjadi kebencian kepada seorang bocah perempuan yang tidak bersalah. Adakah manusia yang dapat memilih mau menjadi apakah dirinya di lahirkan? Tentu tidak! Karena itu sudah menjadi ketetapan mutlak dari sang pemilik kehidupan yang telah menciptakan bumi beserta isinya.


Namun banyak manusia yang salah dalam menerjemahkan maksud Tuhan dalam hidupnya dan memaksa sang pencipta untuk mengikuti apa keinginan dari manusia. Yang sebenarnya adalah kita yang harus mengikuti apa keinginan dari Tuhan. Dan salah salah satu contoh manusia itu adalah Verry dan keluarganya.


Merasa memiliki kekayaan dan kemampuan melupakan bahwa manusia itu hanyalah setitik debu dalam mata Tuhan. Keluarga Sukmajaya terlalu terlena dalam buaian gemerlap dunia yang sebenarnya hanya sementara ini.


Kring kring kring


Bunyi dering smartphone Verry menyentak pria berusia 26 tahun itu dalam rencana-rencana liciknya bagaimana menyingkirkan batu sandungan yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, hanya seorang bocah yang masih suci pikirannya. Namun tindakan Verry membawa Jeniffer akan menjadi penyesalan terbesar dalam hati pria itu suatu hari nanti.


Pria itu mengambil smartphone yang memang sengaja di letakkan di samping kemudinya, dengan cepat Verry menekan ikon gagang telepon bergambar hijau dan segera berbicara.


"Halo. Siapa ini. Kalau tidak penting silahkan hubungi besok saja..."


"Verry, kemana kamu. Kata Briana sekertaris kamu sudah 5 hari ini kamu menghilang dari kantor setelah jam 11 dan baru kembali jam setengah 3 sore. Kamu ada wanita lain. Hey jangan lupa kamu ini sudah punya Risda yang melahirkan Edward bagi kamu." omelan yang di sertai dengan nada tinggi langsung meluncur dari bibir Gila membuat telinga Verry terasa berdenging.


"Kalau Verry jujur, mama janji ga akan kaget." ucap Verry dengan hati-hati.


"Jadi bener kamu punya wanita lain, ingat Verry jangan malu-maluin keluarga Sukmajaya. Dari dulu laki-laki Sukmajaya tidak ada yang berpoligami. Segera putuskan wanita ja*ang itu." Bentak Gilda kepada putra sulungnya.


"Aduh mama, belum juga Verry ngomong. Mama udah nyerocos kayak kaleng rombeng." jawab Verry santai membuat Gilda naik pitam di ujung sambungan telepon sana.


"Verry Sukmajaya, beraninya kamu mengatakan mama kayak kaleng rombeng. Mama serius cepat putuskan wanita murahan itu." titah Gilda yang membuat Verry tergelak.


"Ha-ha-ha, jadi mama percaya kalau Verry punya wanita lain. Memangnya Verry sego*lok itu mau menghabiskan uang Verry bagi wanita yang bukan istri Verry." jawabnya lagi sembari memegang kemudi mobil dengan satu tangan.


"Kalau bukan wanita lain. Apa yang menyebabkan kamu menghilang 5 hari ini. Cepat jelaskan pada mama." Gilda yang sudah tidak sabar mendesak sang putra agar segera bercerita.

__ADS_1


"Ma, aku waktu minggu lalu melihat seorang anak perempuan yang mirip dengan perempuan sial yang udah mati itu. Awalnya aku penasaran jadi aku amati dulu. Ternyata Jorgie yang menjemputnya. Jadi aku yakin itu Jeniffer." jelas Verry.


"Terus apa masalahnya, bukankah saat di rumah duka waktu itu kita sudah bilang agar tidak menuntut apa-apa dari keluarga Sukmajaya, hanya nama lah yang melekat pada gadis itu. Selain itu tidak!" tegas Gilda.


"Masalahnya saat melihat muka anak itu dan tahu kalau itu Jeniffer, hati aku rasanya was-was. Seakan-akan ada hal buruk kalau aku tidak menyingkirkan anak itu dari kota ini." jelas Verry dengan menghela nafas.


"Masa iyakah seperti itu. Kalau begitu di mana anak sial itu?" tanya Gilda dengan geram.


"Ada bersamaku saat ini. Aku membawa kabur saat Jorgie tidak bersama dengan nenek tua dan anak itu. Aku membius nenek tua itu, terus baru anak itu." papar Verry dengan tenang.


"Bagus tindakanmu itu. Mama mau lihat seberapa mirip anak itu dengan perekonomian sial itu." jawab Gilda.


"Baik ma, ini Verry lagi menuju ke villa kita yang ada di Puncak. Mama bisa nyusul sekarang. Ya sudah Verry tutup dulu teleponnya."


Komunikasi pun terputus dan Verry pun kembali mengemudikan mobil dengan konsentrasi penuh dengan tujuan dapat segera menuju tempat tujuan tanpa sadar bahwa Jeniffer sebenarnya sudah sadar dan mendengarkan percakapan Verry sedari tadi.


Jeniffer mengetahui bahwa Verry adalah ayah kandungnya, karena keluarga Atmadja tidak pernah membuang foto pernikahan Meylani dan Atmadja, alasannya adalah biar Jeniffer mengetahui wajah dari sang ayah.


'Bagaimana aku dapat kabur dari papa ya. Akhung, phopho sama aqiu pasti cemas cariin aku.' pikirnya lagi.


***


Jeniffer masih berpura-pura tidur saat mobil telah berhenti melaju dan mesin mobil di matikan. Setidaknya dia tidak boleh panik saat ini, itulah yang selalu Stanley dan Jorgie ajarkan pada dirinya sedari dia mulai bersekolah.


"Berat juga ini anak sial. Makan nya pasti banyak." dumel Verry yang menimbulkan sakit hati pada Jeniffer, dalam hatinya dia bersumpah bahwa akan melakukan diet agar tubuh gempalnya menjadi kurus jika dia dapat kembali ke keluarga Atmadja dengan selamat.


Verry membaringkan tubuh Jeniffer pada sebuah ranjang di villa yang memiliki dua kamar ini. Selang 20 menit kemudian Gilda menyusul dengan di temani oleh Risda.


"Mama, ngapain bawa istri Verry. Terus Edward siapa yang jaga!" protesnya pada sang ibu.


"Edward ada papa kamu yang jaga. Mama sengaja bawa Risda biar kita bisa lakukan niat kita nyingkirin anak ini." kata Gilda membuat Jeniffer yang masih berpura-pura tidur menjadi ngeri. Namun dia sadar jika tidak boleh panik apalagi memelas kepada ketiga orang dewasa yang berniat menyingkirkan dirinya.

__ADS_1


'Tenang Jeniffer, serahkan semuanya kepadaku. Kita akan selamat dari sini dan bertemu dengan akhung, phopho dan aqiu. Kamu cukup tidur saja, biar aku yang bereskan semua dari sini.' sebuah suara tiba-tiba menghentak kesadaran Jeniffer dan tak lama suara itu mengambil alih tubuh bocah kecil itu. Sebuah pribadi lain telah mengambil alih kendali pikiran atas tubuh Jeniffer.


"Emph emph emph." Jeniffer mulai menggeliat sebagai pertanda kalau dirinya sudah 'sadar'.


"Hey, Verry. Anak itu sudah sadar rupanya, cepat lepaskan ikatan mulut anak itu. Mama risih lihatnya dia uget-ugetan kayak ulet." titah Gilda yang langsung di turuti oleh Verry.


"Heh, bocah. Enak tidurnya?" tanya Gilda di sertai seringai sinis.


"Di mana ini, cepat pulangkan Jeniffer ke keluarga Atmadja." jawab 'Jeniffer' dengan mata menyalang.


Seharusnya jika ketiga orang dewasa itu mengamati dengan seksama, ada yang berbeda dari tatapan dari mata Jeniffer. Tatapan penuh kebencian, amarah murka dan dendam meliputi gadis kecil itu.


"Besar juga nyali kamu, bocah tengik. Sepertinya keluarga Atmadja mengajarkan kamu dengan hebat agar tidak panik dalam situasi mendesak." sindir Gilda yang hanya di balas oleh tatapan tajam bak laser oleh 'Jeniffer'.


"Ya karena darah tidak akan berbohong. Meskipun tidak di akui tetap saja sebagian dari darah ini adalah darah Sukmajaya." jawab 'Jeniffer' dingin membuat Verry dan Gilda tersentak,


Risda yang sedari tadi mengamati percakapan Jeniffer pun mulai menyadari ada yang janggal dengan putri dari suaminya itu, namun wanita itu hanya dapat membungkam mulutnya tidak berani membantah suami dan mertuanya.


"Wah, sepertinya keluarga Atmadja tidak menyembunyikan apapun dari gadis sekecil ini rupanya." Gilda berkata dengan nada mencemooh.


"Ha. Aku lapar dan obrolan kosong yang tak berguna ini semakin membuat perutku keroncongan. Cepat belikan Jeniffer makan." perintah 'Jeniffer' dengan nada dingin.


"Anak kurang ajar. Beraninya membalas perkataan orang tua." pekik Gilda.


"Sudahlah ma, kita belikan makanan. Hitung-hitung sebagai tanda perpisahan dari kita." ucap Verry menenangkan Gilda.


"Oke, Risda kamu belikan 4 bungkus nasi Padang di restoran depan sana." suruh Gilda pada menantunya itu. Risda segera berlari keluar dari villa karena merasakan perasaan yang tidak enak mengenai Jeniffer.


"Ah, kenapa mesti ramai segala restoran Padangnya." gerutu Risda saat melihat antrian panjang dari restoran yang di datanginya.


20 menit yang Risda butuhkan untuk kembali ke villa tempat keluarga Sukmajaya, hingga dia membola saat langkahnya sudah berada 5 meter dari tempat tujuan. Villa itu terbakar, kericuhan, teriakan pun menguar dari tempat ini. Hingga dia tersadar

__ADS_1


__ADS_2