Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
43. Firasat buruk Camelia!


__ADS_3

Karina mengajak Jeniffer pulang setelah membeli selusin donut dengan berbagai toping dan rasa, wanita itu tidak memiliki satu pun makanan kecil, jadilah donut menjadi pilihan utama. Karina khawatir gadis belia ini akan kelaparan di tengah malam.


"Kali ini Mama udah siapin baju dan dalaman baru, kayak punya firasat saja kalau kamu mau nginep" ucap Karina dengan lembut.


Hati Jeniffer pun semakin menghangat, akhirnya ada seseorang yang dia panggil Mama. Tanpa sadar air matanya terus menetes dan kali ini Karina membiarkannya karena tahu alasan dibalik tangisan Jeniffer.


Dia sudah menghubungi Camelia dan mengatakan akan memulangkan Jeniffer pada Minggu sore, awalnya sang sahabat sekaligus besannya itu keberatan, namun setelah dia membujuk dengan segala cara akhirnya Camelia mengizinkannya.


***


"Ma, kenapa kamu kayak uring-uringan gitu? Bukannya Karina bilang akan memulangkan Jeniffer Minggu sore," sahut Stanley yang memang memanggil Karina dengan nama saja, karena dia berpikir usianya lebih tua dari mertua perempuan Jorgie, sang anak.


"Mama tahu kalau Joseph akan nganterin Jeniffer Minggu sore, tapi akhir-akhir ini Mama mimpi buruk tentang anak itu. Tapi anehnya saat bangun Mama seperti terlupa akan mimpi yang Mama alami itu," ucap Camelia sembari menyeruput teh lemonnya.


"Sudahlah Ma, mungkin saja itu hanya sebatas bunga tidur saja. Siapa tahu Mama kecapekan makanya bermimpi buruk," ucap Stanley sembari memijit pelan pundak sang istri yang tegang.


"Nah, mumpung Jeniffer sedang di rumah James, bagaimana kalau besok kita refreshing berdua. Ke Puncak, Pak Pur atau supir kantor yang mudaan buat bawa mobil,"usul Stanley membuat Camelia tertawa.


"Udah tua koq lagaknya kayak ABG saja kita ini. Jalan-jalan berdua, yang lihatnya pasti ngeledek,"


"Memangnya harus muda saja yang jalan-jalan berdua, Jorgie udah menikah sementara Jeniffer sedang menginap. Jadi kapan lagi kita bisa quality time berdua," Camelia tersenyum saat mendengar perkataan sang suami.


"Ya sudah kalau Papa berpikir seperti itu, Mama siapin dulu apa yang perlu kita bawa,"


"Ma, bawa baju tidur sexy juga ya. Papa mau lihat Mama pakai,"ucap Stanley dengan nada menggoda.


"Astaga Papa, inget umur. Masa udah tua kayak Mama masih di suruh pakai baju tidur seksi. Apa kata dunia, yang normal-normal aja. Lagian Puncak itu dingin loh, bisa-bisa Mama masuk angin." Omelan Camelia membuat Stanley tertawa, setidaknya sang istri tidak akan kepikiran hal yang buruk tentang Jeniffer saat ini juga.


***


Stanley akhirnya meminta Wisnu, supir kantor yang masih berusia 20 tahunan untuk mengendarai mobilnya, tentu saja dengan imbalan uang lembur serta penginapan dan makan yang ditanggung oleh Stanley.


Tentu saja Wisnu tidak menolak, apalagi uang lembur yang dijanjikan oleh Stanley cukup besar, Rp,300.000,-, lumayan untuk menambah pemasukan, pikir Wisnu.


Wisnu datang ke rumah Stanley saat jam masih menunjukkan angka 4,masih cukup gelap. Pemuda itu mengendarai motor matic berwarna hitam tahun 2015 miliknya. Namun mengingat persiapan yang akan dilakukan memakan waktu, rasanya tidak mengapa. Lalu lintas semakin siang semakin padat dan ketiganya menghindari hal itu.

__ADS_1


"Nu, kamu mau ngopi dulu ga? Biar ga ngantuk," tawar Stanley pada pemuda yang dilihatnya cekatan itu.


"Iya setelah saya mengecek mobil, saya akan minum kopi," ucap Wisnu sopan.


"Pak, maaf terdengar lancang. Bisa tidak kita selama di sana tidak makan sapi?" tanya Wisnu dengan takut-takut.


"Tentu saja bisa, berarti semuanya kamu bisa makan ya, ada lagi yang ga boleh atau bisa kamu makan?" dan Stanley suka dengan kejujuran Wisnu yang berani mengemukakan apa yang ada di dalam pikirannya.


***


Pukul 5.30 mobil Stanley sudah meluncur


meninggalkan rumah, setelah menitipkan rumah untuk di jaga oleh beberapa art dan security.


Karina memilih langsung tertidur dengan bantal kepala berbentuk lebah kepunyaan Jeniffer. Wanita itu amat mengantuk setelah baru terlelap pada pukul 2 pagi.


Stanley memilih berbincang santai dengan Wisnu, seperti menanyakan sudah berapa lama dia bekerja sebagai supir dan berapa saudara usng yang pemuda itu miliki.


Wisnu dengan sopan menjawab, bahwa sudah hampiri 4 tahun. Pemuda itu juga menjawab dia adalah anak kedua dari 5 bersaudara. Stanley lebih banyak mengangguk saat mendengar perkataan Wisnu.


"Saya kerja keras karena sudah tidak punya ayah. Pensiunan ayah yang hanya memiliki pangkat rendah tidak cukup membiayai kehidupan sehari-hari dan pendidikkan saya dan saudara-saudara saya." ucap Wisnu dengan getir.


"Ayah kamu sudah meninggal?" tanya Stanley dengan raut wajah menyesal.


"Sudah pak, sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu. Ayah saya meninggal karena menyelamatkan seorang gadis kecil yang terjebak di villa saat kebakaran." Stanley terdengar saat mendengar penjelasan dari Wisnu.


"Kamu....jangan bilang anak dari Armand. Teman polisi Jorgie yang dimintai bantuan menyelamatkan Jeniffer." ucap Stanley sambil menahan rasa haru. Sudah lama Jorgie dan dia mencari keluarga Armand yang langsung menghilang saat pria itu dinyatakan meninggal oleh dokter.


"Iya pak, ini saya. Dan saya baru tahu saya kerja sama bapak baru 3 bulan yang lalu. Saat itu saya ingin menghadap Bapak Stanley atau Pak Jorgie, namun selalu tidak ada kesempatan itu," ucap Wisnu memegang stir dengan kuat.


"Karena kamu sudah bertemu saya, katakanlah apa yang ingin kamu katakan,"


"Lebih baik saya mengatakannya saat kita sudah kembali ke Jakarta, biar bagaimana Bapak dan Ibu sedang liburan,"


"Kamu sungguh pengertian sekali, Nak."

__ADS_1


Camelia yang tertidur pulas tentu saja tidak mendengarkan perkataan itu. Namun dalam tidurnya kali ini, dia merasa di sebuah tempat gelap dan sunyi. Tidak ada siapapun di sana, Camelia sudah berjalan jauh tapi tetap tidak menemukan jejak cahaya.


"Halo ada siapa di sini?" pertanyaan Camelia langsung memantul layaknya echo yang bergema. Membuat bulu kuduknya berdiri.


Namun alih-alih berhenti, Camelia terus berjalan berharap menentukan petunjuk atas semua mimpi buruk yang selama ini selalu dilupakan olehnya saat terbangun.


"Balas dendam kita harus berhasil, jangan ada keraguan lagi di hati agar semua berjalan lancar," akhirnya Camelia mendengar suara dan dia bergegas untuk menuju sumber suara itu.


"Tapi memang harus dengan cara seperti ini ya?/Bukannya kita bisa menggertak saja," balas sebuah suara yang bagi telinga Camelia terdengar sama.


"Oh tidak cukup dong, apa lo sudah melupakan perlakuan keluarga bang*at itu!" Bentak suara pertama lagi. Camelia mulai pusing membedakan siapa yang berbicara.


"Pembunuhan itu apakah dibenarkan?" Camelia semakin tersentak karena sumber suara itu sudah dekat dengan tempatnya berada.


"Mereka itu pantas untuk dibunuh, jadi untuk mereka itu adalah hal yang wajar," balas suara kedua tidak mau kalah.


"Pembunuhan, siapa yang membunuh siapa?" tanya Camelia dengan terkejut.


"Halo Phopho," ucap kedua suara itu bersamaan yang membuat Camelia seketika lemas.


Jeniffer kenapa ada dua dan keduanya memiliki ekspresi yang berbeda. Yang satu menunjukkan ekspresi penuh kelembutan serta kasih dan yang satu lagi menunjukkan ekspresi bengis dan kejam. Ada apa ini? Pikir Camelia dalam hati, namun sebuah suara kembali mengejutkan dirinya.


"Ma, tolong Meylani sekali lagi Ma, anak Mey Jeniffer dalam bahaya dan Mey percaya hanya kasih dari keluarga yang dapat menolong Jennifer."


"Mey, tunggu apa maksud kamu....."


"Mama bangun," Camelia mengerejap saat merasakan pipinya di tepuk pelan, Stanley menatapnya khawatir.


"Syukurlah mama sudah bangun, tadi mama mengigau dan untungnya kita sudah sampai rest area. Wisnu bilang lebih baik kita istirahat dulu untuk makan," ucap Stanley dengan lega.


"Iya Bu, muka Ibu pucat." timpal Wisnu yang sudah menghentikan laju mobilnya.


Camelia mengusap peluh yang mengucur deras, mimpi apa itu? Mengapa terasa nyata. Ada ada dengan Jeniffer mengapa Meylani sampai harus meminta tolong untuk menyelamatkan sang putri.


Apakah ini pertanda bahwa Jeniffer sedang berada dalam bahaya? Tanya Camelia dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2