Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
48. Jeniffer sakit


__ADS_3

'Nampaknya pertemuan Jeniffer dengan keluarga Papanya menimbulkan trauma mendalam baginya,' ucap Joseph.


Pemuda itu melihat Jeniffer yang masih terkulai di gendongannya, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin serta wajahnya pun pucat pasi.


"Sepertinya Jeniffer terlalu syock saat bertemu dengan keluarga ayah kandungnya," ucap Karina sembari menyeka keringat Jeniffer.


"Jadi gosip yang beredar mengenai keluarga Sukmajaya itu tepat rupanya dan sombong. Hanya karena Jeniffer anak perempuan, mereka seakan-akan tidak mau mengakui bahwa anak ini juga keturunan Sukmajaya," dengan geram Karina berbicara sambil mengingat kelakuan dari keluarga sinting menurut pendapatnya.


"Apakah kita harus memberitahukan kepada keluarga Ko Jorgie atas pertemuan Jeniffer dan keluarga papa kandungnya?" tanya Joseph yang raut wajahnya masih nampak kekhawatiran.


"Kita harus memberitahukan Stanley dan Camelia karena mereka adalah wali asuh Jeniffer saat ini," ucap James sembari berkendara untuk mencari klinik yang terdekat.


"Papa, lihat itu di depan ada klinik kandungan," perkataan Karina sontak saja membuat kedua pria itu terdiam.


Memang Jeniffer membutuhkan penanganan dokter secepatnya namun jika membawa gadis ini ke klinik kandungan apa pandangan orang-orang terhadap gadis itu. Memangnya Karina tidak berpikir sampai sejauh itu apa.


"Mama, Jeniffer kan tidak hamil kenapa kita bawa ke klinik kandungan?" tanya James dengan nada ragu bercampur takut. Dia tidak ingin membangkitkan amarah dari sang istri.


"Papa yang namanya klinik dan dokter itu sama saja, dokter kandungan juga pernah ambil dokter umum kan? Udah, jangan banyak protes, kita bawa Jeniffer ke klinik itu," James menyerah tidak mau mendebat sang istri meskipun logikanya mengatakan Jeniffer harus di bawa ke klinik umum biasa.


"Istrinya kenapa,Pak?" tanya seorang suster dalam ruangan IGD saat melihat Joseph yang menggendong Jeniffer.


Pemuda itu terkesiap tak tahu harus menjawab apa, yang dilakukannya hanya berdiam diri.


"Bapak, bapak! Istrinya kenapa?" suster yang gemas melihat tingkah Joseph akhirnya memanggil pria itu dengan berteriak.


Joseph menoleh mencari keberadaan Karina namun sang ibu tidak terlihat, pantas saja sang suster menganggap Jeniffer adalah istrinya. Seorang pria muda yang menggendong wanita muda ke IGD klinik bersalin, semuapun pasti sepemahaman dengan sang suster.


"Maaf Sus, gadis ini syock jadi dia pingsan. Bisakah tolong diperiksa kondisi tubuhnya. Soalnya dari tadi dia pingsan," akhirnya hanya kalimat ini yang mampu diucapkan oleh Joseph.

__ADS_1


Sang suster menatap Joseph dengan sinis seakan dia adalah seorang penjahat yang menyiksa korbannya, bahkan pemuda itu dapat menangkap suara decakan kecil yang keluar dari mulut suster itu.


"Dasar pria, mentang-mentang istrinya kecil begini di hajar saja pas lagi hamil," makin bingunglah Joseph akan perkataan suster bermulut pedas layaknya netizen maha benar.


"Joseph, bagaimana? Jeniffer sudah ditangani belum?" tanya Karina dengan nafas terengah-engah. Dia baru saja kembali dari toilet karena tidak tahan menerima panggilan alam.


Dibelakang Karina, James menyusul dengan raut wajah cemas sembari berkata," Stanley dan Camelia bilang mereka akan menyusul ke mari. Apakah Jeniffer sudah ditangani?"


"Belum Pa,Ma. Suster di IGD kayaknya sinis melihat muka Joseph. Memang salah Joseph dimana ya?" tanya Joseph lalu mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Memangnya kamu ngomong apa sama susternya, sini biar Mama yang cari suster dan dokternya," ucap Karina dengan geram lalu meninggalkan ranjang tempat Jeniffer berbaring.


10 menit kemudian, Karina datang dengan seorang wanita berbaju putih yang James dan Joseph yakini adalah seorang dokter, kedua pria itu meringis saat mendapati wajah Karina yang memerah menahan amarah.


"Mama, itu dokternya kan?" tanya James mencoba memecahkan ketegangan yang ada.


"Dokter, cepat periksa anak saya. Dia sudah hampir satu jam pingsan!" Perintah Karina pada dokter berusia 30 tahun-an itu.


"Siapa yang hamil, anak saya syock dan ini adalah klinik terdekat. Jadi saya bawa saja ke mari, jangan bilang kalian hanya mau terima pasien ibu hamil saja. Hehhh! Ini anak saya udah makin pucat mukanya masa saya harus berkendara lagi sampai ke klinik atau rumah sakit terdekat. Yang ada telat penanganannya," ucap Karina dengan nada menggelegar membuat seluruh mata yang berada di dalam ruangan ini menatap ke arahnya.


"Baik Bu, segera kami lakukan tindakan secepatnya untuk anak ibu," sang dokter langsung menciut nyalinya saat melihat kemarahan Karina yang layaknya induk singa.


Karina menghembuskan nafas lega saat melihat tangan kanan Jeniffer sudah dipasangkan infusan. Artinya gadis belia itu tidak akan kekurangan cairan tubuh karena pingsan dalam waktu lama.


Hasil darah Jeniffer menunjukkan gejala anemia dan tekanan darah rendah, hanya itu dan dokter mengatakan bahwa gadis itu dapat dibawa pulang setelah menghabiskan sebotol cairan infus.


James segera mengabari Stanley kondisi terkini sang cucu dan pria itu mengatakan bahwa akan menunggu Jeniffer di rumah saja. Bsok James dan Joseph menghela nafas lega karena tidak akan menemui keluarga sang besan di klinik bersalin ini. Keduanya takut bila terjadi salah paham diantara kedua keluarga yang sudah terikat oleh pernikahan Jorgie dan Aster.


Tepat di setengah botol infusan Jeniffer tersadar, Karina tersenyum lega saat melihat keadaan gasif itu yang sudah membaik meskipun masih terlihat pucat .

__ADS_1


"Aku di mana?" tanya Jeniffer dengan nada lemah.


"Di klinik, kamu sedang diberikan cairan infus. Setelah infusnya habis kita boleh pulang, Joseph sedang menebus obat dan vitamin yang mesti kamu minim. Kamu itu kurang darah jadi Mama tidak mau lihat kamu diet-diet lagi, mau kurus gimana lagi kamu," omelan Karina mulai terdengar namun anehnya Jeniffer terasa nyaman mendengarnya.


'Apakah ini rasanya dimarahi oleh seorang Mama?' tanyanya dalam hati.


"Iya Ma, Jeni enggak akan diet lagi." jawab Jeniffer dengan air mata yang menggenang.


'Jessi, kamu di mana?' tanya Jeniffer pada pribadi keduanya itu, namun Jessi tidak menjawabnya dan hal itu menimbulkan kecurigaan dalam hati Jeniffer.


Seingatnya saat bertemu dengan keluarga sang ayah, hatinya dipenuhi oleh ketakutan, rasa benci dan amarah yang membuncah. Setelah itu Jessi mendobrak pertahanannya dan menerobos masuk. Dia tidak dapat mengetahui apa yang dibicarakan oleh Jessi dan keluarga Sukma kata.


Diapun berusaha mendobrak pintu yang menguncinya namun nihil dan kegelapanpun meliputi penghilangannya. Di saat tersadar dia melihat 2 wajah yang memandangnya dengan khawatir. Wajah dari Karina dan James, Jeniffer merasa untuk pertama kalinya dia membenci pribadi keduanya itu.


Jeniffer merasa bahwa tindakan Jessi sudah di luar kendali dirinya sebagai pribadi utama. Seakan Jessi ingin menguasai tubuh dan pikirannya seutuhnya serta menyingkirkannys jauh ke dalam.


"Yang mana yang terasa sakit?" tanya Karina dengan panik saat melihat Jeniffer menangis.


"Hatiku yang sakit, Ma," jawab Jeniffer tanpa sadar dan kedua orang tua itu hanya dapat diam dalam menanggapinya.


Sudah jelas apa yang menjadi kekhawatiran dari Karina mengenai Jeniffer. Dia tahu meskipun gadis itu selalu mengumbar senyum ceria dan tawa namun dalam hati terkecilnya Jeniffer merasa tertolak sebagai seorang anak.


Melihat sang ayah yang berjalan dengan istri baru serta nenek yang memandangnya dengan penuh kebencian pastilah membuat hati gadis belia itu remuk seketika.


"Menangislah kalau hatimu yang sakit," akhirnya hanya itu perkataan yang diucapkan oleh Karina


Wanita itu tahu Jeniffer tidak membutuhkan banyak kalimat motivasi dan penghiburan. Yang gadis itu butuhkan adalah didengarkan dan dihibur tanpa digurui. Tangisan Jeniffer tak lama pecah menimbulkan rasa iba bagi yang mendengarkannya. Karena dalam tangisnya Jeniffer menumpahkan semua perasaan yang ada di hatinya.


Bahkan Joseph yang baru saja memasuki ruangan IGD tak kuasa untuk merengkuh gadis mungil itu ke dalam dekapannya. Pria itu ingin menghilangkan rasa sakit yang dialami oleh Jeniffer.

__ADS_1


Namun dia sadar ada 2 pasang mata yang sedang mengawasinya. Karena itu Joseph hanya terdiam sambil merelakan sang ibu yang memeluk Jeniffer layaknya seorang ibu memeluk anak gadisnya.


'Masih ada kesempatan lain kali untuk menghibur gadis ini dan untuk menentukan sikap apakah aku menyukainya ataukah hanya sebatas perasaan seorang Om terhadap keponakannya,' ucap Joseph dalam hatinya yang mulai meragu dengan apa yang dirasakan olehnya terhadap Jeniffer.


__ADS_2