Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
28. Liburan bersama Joseph


__ADS_3

Acara pemberkatan pernikahan Jorgie dan Aster pun sudah selesai dan pengantin baru itu beserta kedua keluarga memutuskan untuk menikmati liburan pada besok harinya. Biarkan kedua insan yang telah mengucap janji suci di hadapan Tuhan memadu kasih dulu. Bahkan David, anak Aster sudah diambil alih oleh Karina.


Dan Jeniffer pun sudah berpikir apa yang harus dia lakukan selama di Amsterdam ini, bahkan dia sudah mencatat beberapa tempat wisata yang pastinya amat menarik dijadikan spot untuk mengambil swa foto dan menggunggahnya di medsos. Gadis itu tidak menyangka siaran langsungnya sesaat setelah Joseph memulihkan beberapa akun media sosialnya menarik banyak followersnya untuk menyapa dan meminta Jeniffer agar membagikan saat liburan pada IG storynya.


'Padahal aku mau deketin Om Joseph, kalau story mulu kapan deketnya?" keluh Jeniffer dalam hati.


'Ya bisa aja kan lo ikut dalam IG lo, rekam semua anggota keluarga yang ada. Jeni ga canggih ah.' cibir Jessi membuat Jeniffer mencebikkan bibirnya.


'Ya udah deh,asal bisa deket-deket sama Om Joseph.' sahutnya lagi.


'Lo sampai nulis beberapa tempat di Amsterdam yang menarik hati ya, niat banget lo.' Jessi kembali menyindir Jeniffer.


'Ya siapa tahu aja ada tempat yang romantis. Jadi tinggal bangun suasananya aja.' jawab Jeniffer sambil membayangkan berdekatan dengan Joseph.


'Jeni kenapa jadi me*um gini sih pikirannya? Mending sekarang lo tidur biar besok ga ada mata panda.' ucap Jessi menakut Jeniffer yang memang takut terlihat jelek.


'Ya, aku tidur sekarang.' ucap Jeni lalu membaringkan tubuhnya di kasur.


***


'"Jeniffer, bangun nak. Udah jam 8 pagi, mandi terus makan. Jam 10 kita mulai jalan-jalannya." Camelia berusaha membangun Jeniffer yang masih asyik terbuai dalam alam mimpinya.


"Ayo sayang, katanya mau foto-foto cantik. Ini kita ntar ke tempat yang bagus buat foto." mendengar kata foto cantik membuat mata Jeniffer berkedut dan tak lama membuka membuat Camelia menggelengkan kepalanya.


"Kita mau ke mana pho?" tanya Jeniffer setelah nyawanya sudah terkumpul semua, meskipun gadis itu masih mengucek mata.


"Kita mau ke beberapa taman kayak taman bunga tulip . Musim sama pasar jalanan."


"Bunganya sih oke, cuma kalau musium apa bagusnya Pho." ucap Jeniffer dengan cemberut.

__ADS_1


"Dasar anak muda ga menghargai warisan budaya. Lagian phopho pernah lihat ada artis atau siapa tuh yg terkenal dia foto di musium dan hasilnya bagus banget. Kamunya aja berarti ga pro ngambil sudut yang bagus." Memiliki cucu yang beranjak remaja di rumah, mengharuskan Camelia terus belajar mengenai teknologi dan perkembangannya agar tidak kalah dengan sang cucu, untungnya Jorgie bersedia membantu Camelia mempelajari semua ini.


"Iya pho, Jeniffer kan bukan tukang foto jadi ga bisa ambil sudut yang bagus." ucap Jeniffer lagi.


"Malamnya kita naik kapal sambil menikmati suasana di sini yang katanya mirip Venesia." perkataan Camelia tentu saja mengundang rasa penasaran Jeniffer.


"Oke Pho. Jeniffer makan dulu."


Jeniffer menatap penuh minat sarapan yang di sajikan yakni Wentelteefjes, French toast ala Belanda yang terbuat dari roti tawar yang dicelupkan ke dalam kocokan telur, lalu di panggang hingga adonan telurnya matang. Di sajikan dengan topping berupa kayu manis bubuk, gula, dan sirup. Gadis itu tidak bahkan sampai mengambil porsi keduanya karena saking lezatnya roti panggang itu.


"Ntar kita juga bakal kulineran koq di sini. Jadi jangan kekeyangan makannya." ucapan Camelia sontak membuat Jeniffer terkejut lalu meringis dalam hatinya. Apa kabar dengan dietnya.


"Kamu itu ga usah mikirin diet-diet, lagi masa pertumbuhan perlu banyak nutrisi. Nanti aja dietnya kalau udah lulus kuliah. Lagian kamu kurus kayak lidi gini mau diet apa lagi." Jeniffer langsung meringis saat mendengar perkataan dari Camelia.


Sesuai dengan perkataan Camelia, mereka berdelapan termasuk baby David sudah berkumpul dan memesan sebuah mobil van untuk menuju ke beberapa tempat wisata yang sudah menjadi agenda dari agen tour ini.


Entah bagaimana caranya, Jeniffer dapat duduk di samping Joseph dan gadis itu terua mengoceh sambil mengambil pemandangan jalan melalui smartphonenya. Joseph hanya tersenyum sekilas melihat antusiasme dari gadis remaja itu.


Tujuan pertama adalah taman bunga tulip dan semua yang berada di sana langsung mengagumi keindahan dari berbagai jenis warna bunga khas negeri Belanda ini, bahkan Jeniffer mengajak kedua pasang lansia ini untuk berfoto. Energi anak remaja memang tiada yang menandinginya.


"Jeni, jangan cepat-cepat kasihan para orang tua." tegur Jorgie.


"Ga apa-apa ko, sesekali papa dan mama harus olahraga." ucap Aster membela Jeniffer.


Setelah puas memandangi ratusan bunga tulip rombongan pun beranjak menuju Albert Cuyp Market yang pasar jalanan terbesar dan terpopuler di Amsterdam. Dari barang-barang kebutuhan sehari-hari sampai bahan makanan fresh. Jeniffer memanfaatkan keadaan pasar yang cukup ramai untuk terus berdekatan dengan Joseph, bahkan gadis itu meminta Joseph untuk menemaninya membeli beberapa aksesoris tas dan baju serta beberapa snack khas Belanda.


Gadis itu membeli oliebollen yaitu donat khas Belanda. Oliebollen merupakan camilan berupa bola pastri dengan isian kismis dan diberi taburan gula bubuk. Sementara Joseph membeli bitterballen yang merupakan hidangan berupa bola daging sapi pedas yang dibaluri dengan tepung roti, lalu digoreng hingga bagian luarnya renyah dan di tambah dengan saus mustard. Orang-orang disekitar mereka berdua tersenyum memandang kedekatan dan interaksi yang terjalin, bahkan beberapa dari mereka beranggapan keduanya adalah sepasang kekasih.


Sore pun menjelang dan rombongan bersiap untuk menaiki Canal Cruise di Amsterdam. Makan malam di atas Cruise jelas adalah pengalaman pertama bagi Jeniffer dan gadis itu amat menyukainya, tentu saja sambil mencuri-curi pandang ke arah Joseph. Suasana malam di kota ini semakin menambah perasaan romantis yang dirasakan oleh Jeniffer, apalagi lampu kota menyala dengan cantiknya.

__ADS_1


Hari kedua Jeniffer memilih untuk menyewa sepeda, hal yang tidak mungkin dilakukan di Jakarta dengan segala tingkat polusi yang tinggi dan kepadatan lalu lintas membuat dia enggan melakukannya. Tentu saja dengan di temani oleh Joseph yang entah mengapa juga ingin bersepeda. Jeniffer merasa bahwa pria itu adalah jodohnya dan dia harus mendapatkan hati Joseph apa pun caranya.


Setelah puas bersepeda, gadis itu memutuskan untuk mandi dan menuju tempat yang menyediakan spot foto-foto liburan yang Instagrammable, yaitu WONDR Experience. Sebuah tempat dengan berbagai varian instalasi, dari instalasi mandi bola dengan background warna biru muda pastel yang lucu, sampai meja biliar unik dengan warna pink yang ngejreng. Jeniffer sampai berfoto ratusan kali di tempat ini.


Namun keceriaannya harus terhenti saat mengunjungi musium Vincent Van Gogh. Gadis itu merasakan bosan saat melihat puluhan lukisan yang tidak dia pahami maknanya karena itu Jennifer hanya mengambil secara asal foto-foto di museum itu. Membuat Joseph yang melihat merasa geli akan tingkah dari gadis itu.


Satu yang Joseph perhatikan dari Jeniffer adalah gadis itu selalu terang-terangan menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya baik itu rasa suka maupun rasa tidak suka akan sesuatu atau seseorang. Tadi pagi ketika bersepeda pria itu melihat Jeniffer yang mendengkus saat melihat seorang pria berusia 40 tahunan yang sedang memarahi seorang gadis berusia 20 tahunan.


Dan secara tidak sadar mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya. "Dasar bapak-bapak ga punya hati, bisa-bisanya memarahi seorang gadis di tempat umum." Joseph pun tersenyum saat melihat reaksi Jeniffer yang lucu saat menggerutu. Dan pikirannya langsung berkata, mungkin saja liburannya kali ini akan menjadi yang paling berkesan di sepanjang hidupnya.


"Jeniffer sudah jangan cemberut besok-besok ada jadwalnya kita akan pergi ke pedesaan dan melihat kincir angin. Kamu bisa berfoto di sana." ucap Camelia saat mereka mencoba jajanan street food.


Camelia mencoba stroopwafel yaitu jajanan yang merupakan wafel yang berbentuk bulat dan tipis, dengan di siram sirup karamel.


Sementara Jeniffer mencoba patatje oorlog yaitu jajanan dari kentang yang di goreng. Yang membedakan dari kentang goreng kebanyakan adalah potongannya agak besar dan disajikan bersama dengan berbagai macam pilihan saus seperti saus tomat, mayonaise, bumbu kacang dan bawang bombay cincang. Jeniffer memilih saus tomat dan terlihat sekali Jeniffer sangat menikmati kudapan itu.


Joseph memilih poffertjes yang jika di Indonesia diadaptasi menjadi kuliner bernama kue cubit. Poffertjes merupakan pancake mini yang dibuat dengan cara memanggang adonan tepung dan ragi pada sebuah cetakan kecil. Joseph memilih topping buah-buahan dan orea.


Sementara yang lain mengikuti pilihan dari 3 orang itu, tentunya dengan pilihan topping yang berbeda, semua tampak menikmati makanan yang sedang di santap dan tak jarang Jeniffer menggunggah beberapa gerai street food dalam story IGnya.


***


Beberapa hari mereka putuskan untuk menjelajah kuliner hingga hari terakhir rombongan memutuskan untuk pergi ke Zaanse Schans dan Volendam. Jeniffer berdecak kagum saat memasuki Zaanse Schans yang adakan desa tradisional kecil yang terkenal dengan kincir-kincir anginnya dan rumah-rumah tradisional berwarna hijau. Gadis itu bahkan berpose dengan baju khas wanita asal negeri kincir angin ini, bukan menyewa , tapi membelinya karena dia menganggap ini baju itu adalah kenangan saat dia berlibur ke Belanda.


Sementara Volendam adalah desa nelayan terkenal dengan banyak warganya masih mengenakan baju-baju tradisional untuk kegiatan sehari-hari.. Jeniffer dengan antusiasnya mencicipi keju asli daerah itu yang ikonik.


Joseph mau tidak mau memusatkan perhatiannya kepada gadis belia yang memancarkan aura positif itu, bahkan secara tidak sadar mukanya memerah saat melihat senyum gadis itu yang terlihat menawan.


Ini bahaya, gua harus menghindari gadis ini sepulang dari Amsterdam, biar bagaimanapun dia adalah keponakan dari kakak ipar gua. Ucap Joseph sembari meneguk air mineral dalam botol.

__ADS_1


Apakah Joseph akan dapat menghindar dari Jeniffer sementara secara tidak sadar pria itu sudah jatuh dalam pesona dari keponakan dari kakak iparnya?


__ADS_2