
Jeniffer pulang dari kediaman Karina dengan hati berbunga-bunga meskipun tidak berjumpa dengan sang pujaan hati. Obrolannya dengan Karina sangat menyenangkan hingga tak sadar telah menghabiskan waktu di rumah itu selama 3 jam.
'Sudah cukup senangnya, kita harus cepat melaksanakan rencana balas dendam kita kepada keluarga bang*at itu. Mungkin kita harus terus mengikuti ade tiri u itu biar tahu di mana keluarga itu tinggal.' tanpa permisi Jessi langsung berkata membuat Jeniffer menggeram kesal karena lamunannya terganggu.
'Kebiasaan banget sih lo. Kalau muncul suka tiba-tiba." omel Jeniffer kepada pribadi keduanya, dengan cepat Jeniffer mengambil cermin dan melihat tampilan dari Jessi yang tersenyum mengejek pada dirinya.
Ini adalah awal yang bagus, Jeniffer mengubah panggilan aku menjadi gua, pikir Jessi sebab itu dapat mengurangi kecurigaan orang-orang jika Jeniffer memiliki kepribadian ganda. Jangan sampai eksistensi Jessi akan dihilangkan sebelum tujuan balas dendamnya tercapai.
'Gua udah tungguin lama mau ngomong, lonya masih kayak orang gila yang senyum-senyum sendiri. Jangan salahkan gua kalau muncul tiba-tiba kayak gini.' elak Jessi.
'Masa gua kayak orang gila?" tanya Jeniffer.
'Iya Jeni sayang, makanya gua langsung muncul aja. Mending kita ikutin si Edward sampai rumah.' Jeniffer mengulang usulnya.
'Bagaimana dengan Pak Pur? Pasti dia curiga kalau kita minta ikutin Edward?' tanya Jeniffer saat teringat dengan sang supir.
'Bilang aja ga perlu di jemput, mau ke Mall.'
'Kalau tetap Pak Pur mau anterin ke Mall?' tanya Jeniffer sangsi jika ide itu akan berhasil.
'Kalau gitu, besok serahkan sama gua aja. Nah sekarang tidur, sudah malam. Biar bagaimanapun selegram harus terlihat cantik tanpa ada lingkaran hitam di mata kan?' Jeniffer tertawa saat mendengarnya, meskipun terkadang sinis tapi Jessi sangat memperhatikan dirinya. Dia yang mengingatkan Jeniffer jika sudah melakukan sesuatu dengan keras hingga tidak ingat waktu.
***
"Pho, ntar aku ga usah dijemput ya. Mau ke mall sekalian story IG." bujuk Jeniffer saat di meja makan waktu sarapan.
"Kenapa ga minta dianterin aja sih sama Pak Pur?" tanya Camelia bingung.
"Ah, Jeniffer mau sekalian barengan sama teman yang naik mobil juga." Akhirnya itulah alasan yang tercetus di dalam benak Jeniffer.
"Ya sudah kalau begitu, tapi hati-hati ya. Nak." Jeniffer tersenyum saat Camelia mengizinkannya..
"Pak Pur, aku udah bilang Phopho, ga usah jemput ntar. Mau ke mall dulu ntar pulang sekolah."
"Non mau dijemput di mall ntar pulang?" tanya Pak Pur.
"Ga usah deh, Pak. Aku mau pulang sendiri aja." tolak Jeniffer halus, dia harus berhasil membuntuti Edward.
__ADS_1
"Kalau gitu Bapak balik dulu, Non Jeniffer hati-hati ya." pamit Pak Pur sebelum melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah
'Jessi, sekarang bagaimana? Kita ga tahu kelas Edward di mana? Bagaimana cara kita cari tahunya?' tanya Jeniffer sambil memindai keadaan sekitar berharap menemukan targetnya.
'Bagaimana sebelum kita ke kelas. Kita ngider dulu ke area kelas 10. Sambil story IG aja, bilang kita mau tour sekolah.' usul Jessie membuat Jeniffer menepuk dahinya. Kenapa dia tidak terpikir hal itu?
'Ya udah, gua ambil hape dulu. Jangan muncul kalo ga penting. Soalnya Lo itu buat kaget kalo muncul.' peringat Jeniffer sebelum dia melakukan story di IG nya.
Jurusan IPS sudah terlewati tidak terlihat Edward di situ, Jeniffer memutuskan untuk melangkah ke jurusan IPA namun target yang dia cari masih tidak di temukan. Ingin rasanya menyerah dan memutuskan untuk melakukan pencarian pada waktu istirahat tiba. Kerongkongannya terasa kering dan mulai terasa sakit menyadarkan Jeniffer bahwa dia butuh minum.
Dengan langkah gontai dia mematikan kamera smartphonenya dan melangkah menuju kantin, jika saja telinganya tidak menangkap suara lelaki cempreng yang memanggil nama Edward mungkin dia akan tetap berjalan ke kantin. Jeniffer langsung memutarkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk menangkap di mana asal suara itu.
"Edward, hoi. Tungguin gua, seneng banget ninggalin." akhirnya Jeniffer menemukan seseorang yang dia cari, dengan segera dia menyembunyikan tubuh di tiang sekolah agar tek terlihat oleh adik tiri.
"Habisnya lo lama, jangan salahkan gua jadi ninggalin lo." ucap Edward dengan nada jutek.
'Oh ternyata dia mewarisi watak si bren*sek itu rupanya. Dapat berlaku sok jutek.' ucap Jessi yang disetujui oleh Jeniffer.
'Sepertinya itu ya hasil didikan anak lelaki sulung Sukmajaya.' Timpal Jeniffer.
'Pemarah, egois dan tidak mau mendengarkan orang yang setara dengannya. Menghujat dan menginjak orang yang berada di bawah dan menjilat orang yang berada di atasnya." ucap Jessi membeberkan sifat dari laki-laki keluarga Sukmajaya.
'Edward di kelas X.IPA.II. Inget itu Jess.'
'Oke, kita buntutin sepulang sekolah.' .
***
Bel pulang sekolah pun berbunyi ibarat lagi merdu yang mengalun di telinga setiap siswa Gold Lotus Flower High School. Jeniffer yang sudah bersiap 10 menit sebelum bel berbunyi langsung meninggalkan ruangan kelas menuju gerbang sekolah. Gadis itu sengaja memesan ojol agar leluasa dalam membuntuti Edward.
Mas ojol datang saat bel berbunyi, Jeniffer meminta mas ojol menunggu sebentar dan mengatakan untuk membuntuti seseorang. Awal mas menolak karena akan melanggar titik antar. Namun Jeniffer memohon dan memberi tips 200.000 di muka. Selesaikan dulu titik antar dan lalu lanjutkan membuntuti Edward. Itulah saran yang diberikan oleh Jeniffer.
Mas ojol yang memang membutuhkan uang untuk membeli susu sang anak pun langsung menyetujuinya. Rencana untuk membuntuti Edward pun berhasil hingga gadis itu terbelalak saat memasuki daerah rumah pria pujaan hatinya Joseph.
'Tidak mungkin Sukmajaya dan keluarga Om Joseph bertetangga kan,ya?' tanya Jeniffer dengan tertawa. Perasaannya mulai tidak enak saat melihat motor Edward melesak lebih dalam ke perumahan yang di jaga oleh 2 orang satpam di muka gerbangnya.
Mas satpam mengenali Jeniffer karena baru kemarin gadis itu memasuki perumahan ini, maka pria berumur 30 tahunan itu langsung mengizinkan Jeniffer masuk tanpa harus meninggalkan kartu identitas.
__ADS_1
"Jadi sekarang ke mana, Mbak?"
"Mas lihat motor yang tadi kita buntutin ga? Kalau ga y udah kita ke gang XXX no 35. Saya mau ngadem di rumah sodara aja." jawab Jeniffer mulai merasa panas, dia ingin segera minum es kopi dengan banyak es batu di dalamnya.
"Wah motornya udah ga kelihatan, ya berarti ke alamat yang Mbak bilang tadi aja." setelah celingukan berapa saat mas ojol pun menjawab Jeniffer.
"Iya mas." sahut Jeniffer singkat.
"Sudah sampai Mbak. Ekh itu bukannya motor yang dari tadi kita buntutin kan, ya?" ujar Mas ojol sambil menunjuk garasi yang terparkir motor beat warna hijau daun.
"Bener juga itu motornya, astaga kenapa bisa kebetulan gini. Rumah saudara saya no 35 sedangkan rumah pemilik motor beat itu no 32." ucap Jennifer menggelengkan kepala, dia tidak menyangka rumah Joseph bertetangga dengan Joseph.
"Mbak, sudah kan tugas buntutinnya, mau nyari orderan lagi masih kurang 200.000 lagi untuk saya beli susu." pamit mas ojol.
'
"Oh, iya. Bentar ya saya lepas helm dulu." ucap Jeniffer setelah tersadar dari lamunannya.
"Saya pamit duluan ya, Mbak. Semoga apa yang Mbak rencanakan untuk pemilik motor itu berjalan sukses." Jeniffer langsung meringis saat Mas ojol mengira dirinya dan Edward memiliki hubungan dan Jeniffer akan melabrak pemuda itu.
"Mas, tunggu sebentar." ucap Jeniffer sambil membuka tas untuk mengambil dompetnya. Dengan cepat dia mengulurkan 2 lembar seratus ribuan keoada Mas ojol.
"Terima aja, Mas. Saya dapat Ilham barusan buat ngasih berkat sama Mas." ucap Jeniffer langsung menuju rumah Joseph. Biarlah dia beristirahat dan memulihkan rasa terkejutnya karena mengetahui fakta keluarga Sukmajaya bertetangga dengan Joseph.
Karina yang kaget saat melihat Jeniffer di muka pintu langsung menyuruh gadis itu masuk. Jeniffer terlihat bercucuran keringat di mana-mana, wajar saja karena Jeniffer berkendara dengan motor dan sinar matahari masih memancarkan sinarnya dengan kuat.
Setelah meneguk segelas air hangat putih, gadis itu merasa suhu tubuhnya agak mendingin. Karina juga menyajikan sepiring penuh semangka yang langsung di lahap oleh Jeniffer.
"Tumben datang kemari ga bilang-bilang." ujar Karina setelah Jeniffer sudah tidak terlihat panas lagi.
"Tadinya mau main ke Mall ga jadi karena teman ada urusan penting, akhirnya mau main ke rumah teman yang deket sini malah ga ada orangnya. Ya udah aku ke mari aja numpang ademin badan sebelum pulang ke rumah." ucap Jeniffer merangkai kebohongan, bukan tidak mungkin Karina akan menelepon sang nenek.
"Karena sudah di sini makan dulu ya, Ai masak semur tahu telur daging sapi." tawar Karina membuat Jeniffer bersemangat.
"Ayo Ai, jujur aja mulai bosan sama masakan Phopho. Tapi Ai jangan ngomong ke Phopho ya." pinta Jeniffer sambil mengurai senyuman.
"Iya Ai janji." ucap Karina akhirnya.
__ADS_1
Jeniffer pun menikmati masakan Karina, melupakan sejenak rencana balas dendamnya. Tapi satu hal yang pasti dia harus hati-hati agar keluarga Zedekiah tidak mengetahui rencananya untuk keluarga Sukmajaya.