Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
85. Goodbye Jessi


__ADS_3

Gilda menatap hampa Verry yang terbujur kaku di peti mati. Dia tidak percaya putra pertamanya itu sudah tiada, air matanya berderai saat menunggu di rumah duka.


"Ini tidak dapat dibiarkan, anak sial itu harus segera diberikan pelajaran." Gilda berucap dengan sorot mata penuh kebencian.


"Cukup Gilda, mau seberapa banyak lagi kamu melihat kehancuran keluarga ini? Belumkah kamu menyadari kematian Verry adalah kesalahan kita juga?" ucap Dion sambil menepuk punggung sang istri.


"Tapi Pa, karena anak sial itu, Verry meninggal. Kasihan nasib Edward yang semuda ini di tinggalkan oleh Papanya," sahut Gilda yang belum menyadari keadaan.


"Mama, semua ini terjadi karena kita terlalu mempercayai mitos itu. Dan penyebabnya adalah kamu dan Verry yang sudah menculik Jeniffer 9 tahun yang lalu. Kalau kalian tidak melakukan itu, mungkin Jeniffer tidak akan memiliki kepribadian ganda seperti ini," ujar Dion dengan nada tinggi.


Gilda yang tidak terima akan melayangkan protesnya, tapi sebelum sempat mengatakan sesuatu beberapa petugas polisi memasuki ruangan VIP di rumah duka yang terletak di bilangan Jakarta Utara ini.


"Dengan Nyonya Gilda Kusuma? Kami dari petugas kepolisian mau melakukan penangkapan atas yang bersangkutan untuk kasus penculikan dan penyekapan terhadap Jeniffer Sukmajaya," ucapan salah seorang polisi itu mengejutkan semua orang. Bahkan Gilda sampai meronta saat 2 orang petugas polwan sudah memegang tangannya.


"Apa-apaan ini, lepaskan. Saya tidak bersalah, anak sial itu yang jelas-jelas menyebabkan semua ini terjadi." Jerit Gilda sambil terus menyumpahi Jeniffer.


Dion yang mengetahui sang istri bersalah langsung tertunduk lesu, ada kemungkinan juga kasus ini dapat menyeretnya menjadi salah seorang terdakwa karena ikut mendiamkan rencana jahat Gilda.


Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa pihak kepolisian dapat segera memutuskan dengan cepat kalau sang istri adalah otak dari rencana penculikan Jeniffer. Apakah keluarga Ongtara yang telah melaporkannya?


Risda dan Edward yang sejak tadi hanya diam hanya menatap punggung Gilda yang mulai menjauh dari ruangan yang dipenuhi oleh karangan bunga ini.


"Mama? Apakah Mama juga mau membalas kepada Ci Jeniffer?" tanya Edward lirih.


"Tidak, Nak, dari awal Mama sudah tidak setuju dengan cara Papa kamu yang menculik putrinya sendiri dan berencana untuk melenyapkannya. Tapi Mama tidak dapat berbuat apa-apa, sekarang Papa kamu meninggal juga akibat perbuatannya sendiri. Lebih baik kita meneruskan hidup dan lepaskan dendam yang akan menyakiti diri kita," ucap Risda dengan air mata yang berderai.


"Kalau begitu, apakah Mama masih mau di kota ini atau kita pindah ke tempat Phopho di Singkawang?" tanya Edward lagi.


"Itu saja kita pikirkan nanti, yang terpenting kita selesaikan proses pemakaman Papa pada besok lusa," kata Risda yang akhirnya mencoba kuat demi masa depannya dan Edward.


Dion yang mendengarnya percakapan sang menantu dan cucu langsung berujar, " Kalau kamu mau pindah ke Singkawang itu adalah hak kamu. Papa tidak bisa maksa, tapi Papa mohon kalian pulang ke sini setiap liburan,ya?"


"Iya, Pa, nanti akan aku pikir baik-baik mau pulang atau tetap di sini," ucapan keduanya harus terhenti karena ada tamu yang melayat.

__ADS_1


***


Jenis yang sudah tersadar memegang kepalanya dan meringis. Rupanya suaranya tertangkap oleh indra pendengaran Joseph, dengan cepat pria itu menghampiri ranjang sang kekasih dan bertanya.


"Syukurlah kamu sudah bangun, aku khawatir sekali karena hampir 4 hari kamu tidak sadarkan diri. Psikiater yang nanganin kamu bilang ada pergolakan antara kamu dan Jessi."


Jeniffer menatap wajah Joseph yang cemas, lingkaran hitam di bawah mata pria itu menegaskan jika Joseph kurang tidur dalam beberapa hari ini. Memang dia sempat bertarung dengan Jessi di dalam mimpi, mungkin akan dia ceritakan saat perutnya sudah terisi penuh.


"Om, aku lapar, boleh makan mie ayam atau sate Padang enggak?" tanya Jeniffer sambil menunjukkan raut wajah penuh permohonan.


"Nanti aku tanya boleh makan itu enggak sama dokter. Sekarang kamu makan makanan rumah sakit dulu ya," bujuk Joseph saat di lihatnya wajah Jeniffer cemberut.


"Makanan rumah sakit hambar, enggak enak," tolak Jeniffer sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


Joseph menghembuskan nafas panjang, bagaimana Jeniffer bisa cepat sembuh jika tidak mau makan? Sementara ada obat yang harus rutin diminum oleh gadis itu?


"Ga usah dirasain, langsung telan aja ya, nanti gitu keluar dari sini aku ajak kamu jalan dan makan yang enak," akhirnya Joseph mencoba kembali membujuk sang pacar.


Mau tak mau akhirnya, Jeniffer menurut dan mulai menelan makan siangnya yang berupa bubur.


"Jadi aku merasa dalam ruangan yang kosong dan gelap, hanya ada aku sendirian. Aku berjalan tapi ga ketemu jalan keluar sampai aku cape sendiri," Jeniffer menjeda ucapannya sambil mengingat apa yang terjadi dalam mimpinya.


"Tak lama Jessi muncul dan kami berdua berdebat, katanya aku ini terlalu lemah dan tidak dapat menjaga diriku jadi lebih baik dia yang selamanya muncul menggantikan aku," ucap Jeniffer lagi.


"Bisa kamu jelaskan kejadiannya?" Tanya Joseph sambil memandang teduh mata sang kekasih.


***


Jeniffer berlari tak tentu arah sambil mencari keberadaan seseorang di tempat yang gelap dan hampa ini. Tenaganya sudah terkuras habis tapi tidak dia temukan juga jalan keluar dari tempat yang semakin menyesakkan dadanya ini.


Saat Jeniffer berhenti karena kehabisan tenaga, tiba-tiba di depannya muncul sesosok gadis yang sama persis wajahnya dengannya, hanya yang membedakannya adalah gadis yang di depannya memakai baju bergaya tomboy dengan topi yang dimiringkan ke belakang kaos t-shirt dan celana panjang training warna hitam serta outer berwarna putih untuk luarannya. Sepatu sport berwarna hitam semakin mempertegas kesan angkuh dari gadis itu.


"Jessi, apakah itu lo?" tanya Jeniffer setelah menetralkan nafasnya.

__ADS_1


"Ya ini gua Jessi muncul hanya mau memberitahukan kepada lo kalau gua mau mengambil ahli pikiran lu selamanya," ujar Jessi dengan nada sinis.


"Tidak bisa begitu biar bagaimanapun gua adalah Jeniffer bukan Jessi!" teriak Jeniffer yang mulai panik.


"Kenapa tidak bisa? Lo aja tidak bisa menjaga diri lu dengan benar jadi lebih baik gua saja yang terbangun dan lo yang tidur," balas Jessi sambil menunjuk ke arah Jeniffer.


"Bukannya balas dendam lo udah tercapai? Gua dari gambaran yang lo bagikan juga kalau Papa tertembak karena melindungi tubuh kita," timpal Jeniffer yang segera menyebut nama Verry di percakapan keduanya.


"Belum cukup! Keluarga itu belum hancur sama sekali," teriak Jessi dengan menggelegar.


"Jessi, gua mohon sama lo, hentikan balas dendam lo. Mau berapa banyak lagi nyawa yang akan dikorbankan jika kita terus berseteru dengan keluarga kita sendiri?" tanya Jeniffer dengan nada memelas.


"Lagipula gua yakin, Aqiu pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti sudah dilaporkan ke polisi atas penculikan dan penyekapan kita," lanjut Jeniffer lagi.


Jessi tertawa kencang saat mendengar perkataan Jeniffer, setelah tawanya reda dia berujar dengan nada tajam, " Bisa lo bayangkan kalau gua nggak keluar saat itu lo pasti sudah diperk*sa bergilir sama pria-pria surunan nenek tua itu."


"Gua berterima kasih samalo atas itu, tapi gua mohon lupakan dendam itu dan hilangkan kebencian. Bukannya sekarang gua sudah memiliki Om Joseph yang akan melindungi gua?" Jeniffer mencoba bernegosiasi dan Jessi terlihat berpikir.


"Hanya demi seorang pria lu jadi bucin seperti ini?" ejek Jessi yang hanya ditanggapi diam oleh Jeniffer.


"Tapi dia juga yang memanggil gua keluar saat di dalam sini dan gua yakin dia adalah pria yang terbaik untuk gua," ucap Jeniffer dengan mantap.


Hening tak lama kemudian karena keduanya tidak saling melontarkan kalimat, Jeniffer maupun Jessi tampak sedang berpikir.


"Oke, kalau lo yakin dia adalah pria yang terbaik untuk lo,gua tidak bisa apa-apa. Sebenarnya gua menunggu sampai saat seseorang yang dapat menjaga lo dari ancaman. Sepertinya dengan ataupun tanpa Joseph lo sudah bisa menjaga diri lu sendiri, ya?" ucap Jessi dengan mengurai senyum tulus dan Jeniffer terkesiap saat mendengarnya.


"Apa maksudnya lo bicara seperti itu?" tanya Jeniffer.


"Gua cuma mau bilang, selamat tinggal. Tugas gua sudah berakhir saat ini. Mulai sekarang hiduplah dengan baik bersama pria yang lo cintai. Ingat jangan panggil gua lagi, ya. Karena kalau gua sampai terpanggil lagi maka riwayat bukan hilang dan tergantikan oleh gua," ucap Jessi sambil mengurai air mata.


Keduanya lantas menangis bersama untuk menghadapi perpisahan ini. Jessi bersiap untuk berbalik untuk menuju ke ruang tanpa batas itu. Tapi sebelum itu dia berkata, " Mulai sekarang kita berdua adalah satu entitas yang tidak terpisahkan. Lo adalah gua dan begitu juga sebaliknya. Selamat tinggal Jeniffer."


Setelah mengucapkan itu Jessie dengan mantap melangkah dan Jeniffer yang tersadar langsung berucap. "Goodbye Jessi."

__ADS_1


***


Joseph hanya terdiam saat Jeniffer selesai bercerita dan dalam hatinya dia bersyukur jika Jessi sudah tidak akan menggangu Jeniffer. Sepertinya masa depan cerah sudah menanti mereka berdua.


__ADS_2