Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
51. 2 pemuda menjenguk Jeniffer


__ADS_3

Leo akhirnya menemui Mister Alvin di ruangannya saat istirahat kedua berbunyi, sang guru BK yang tentu saja bingung akan kedatangan salah seorang murid yang sekaligus adalah keponakannya pun langsung bertanya kepada pemuda yang sudah duduk di depannya.


"Ada apa kamu mencari saya?" tanya Mister Alvin sembari membenarkan letak kacamata yang sudah bergeser dari posisinya.


"Mister Alvin,saya boleh tanya di mana alamat Jeniffer tidak?" tanyanya sambil kan nafas sehingga menerbangkan poni yang berada di dahi.


"Buat apa kamu tanya alamat Jeniffer?" tanya Mister Alvin dengan tatapan tajam.


"Ya mau jenguk dong Mister, soalnya udah 2 hari ini Jeniffer tidak masuk sekolah," ucap Leo sembari menyunggingkan senyum jahil.


"Jangan macam-macam kamu, saya koq nggak percaya kalau kamu ini mau jenguk Jennifer," balas Mr Alvin dengan mata memicing.


"Serius Mister, saya ini suka lho sama Jeniffer mau PDKT, eh orangnya mana tidak masuk sekolah 2 hari. Ya siapa tau aja saya bisa jenguk Jennifer sembari PDKT begitu," kata Leo lalu tertawa kencang..


Mister Alvin menghembuskan nafas berkali-kali dan menatap dengan rasa penuh kecurigaan terhadap pemuda yang duduk di depannya itu. Namun sang guru BK itu hanya menemukan keseriusan di mata pemuda yang sudah dia kenal selama 17 tahun itu.


"Oke, ini alamatnya Jeniffer," ucap Mister Alvin setelah menulis sebuah alamat di secarik kertas.


"Terima kasih Mister, saya keluar dulu," ucap Leo dengan riang.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, namun Leo masih harus latihan basket selama 90 menit ke depan. Maka dari itu dia memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu untuk kemudian berkunjung ke rumah Jennifer.


Karena kurang berkonsentrasi pemuda itu banyak melakukan kesalahan saat latihan sehingga membuat sang coach merasa marah terhadap Leo.


"Leo, ada apa sama kamu? Kenapa kamu kurang konsentrasi begini, lebih baik kamu pulang saja dan istirahat. Kamu itu bisa mengacaukan latihan seluruh tim karena fokus kamu yang kurang ini," omel sang coach berusia 20 tahunan itu.


"Maaf coach Indra, saya akui kalau beberapa hari ini memang kurang konsentrasi," ujar Leo sembari menunduk


"Ada masalah apa Leo, sampai membuat konsentrasi kamu pecah seperti ini?" tanya coach Indra simpati dengan keadaan Leo yang tampak


menggenaskan ini.


"Leo lagi jatuh cinta coach makanya dia kurang konsentrasi kayak begitu," sahut salah seorang teman tim basket Leo.

__ADS_1


"Sudah sudah kalian jangan ribut lagi, kamu pulang sekarang dan istirahat biar pikiran kamu rileks." titah coach Indra yang segera saja dikerjakan oleh Leo.


***


Sovia mendapati sang putra sudah berada di rumah saat jam 15.30 tentu saja merasa heran, wanita yang sedang membuat makan malam itu pun lantas bertanya kepada Leo.


"Tumben kamu sudah pulang jam segini kamu sakit,Nak?"


"Leo sakit cinta, Ma, pikiran Leo terbayang-bayang terus sama Jeniffer. Leo mau ke rumah Jennifer sehabis mandi buat menjenguk dia soalnya sudah dua hari Jenifer yang tidak masuk sekolah.


"Anak Mama sudah besar ya sudah merasakan jatuh cinta segala, ya sudah tapi setelah mandi kamu harus makan dulu sedikit baru setelah itu boleh pergi ke rumah Jeniffer," Leo dan lantas menuju kamarnya.


***


Jam setengah 5 sore Leo sudah bersiap berangkat ke rumah Jeniffer dengan mengendarai motor matic nya, iya bahkan bertanya kepada sang bunda barang apa saja yang harus dibawa untuk menjenguk gadis yang sedang sakit.


"Bunga, coklat dan boneka, itu tiga hal yang paling membuat para gadis senang." ucap Sovia.


Tujuan pertama Leo adalah toko bunga dan pemuda itu meminta pelayan toko itu untuk gadis yang senang didekati olehnya, pelayan toko menyarankan bunga mawar pink. Setelah itu dia menuju ke sebuah toko bakery dan meminta pelayan membungkuskan kue cake yang berlapis coklat dengan hiasan mawar berwarna pink.


Ketiga barang sudah ditangan dan pemuda itu tersenyum saat sudah berada di depan pintu rumah Jeniffer yang tidak kalah mewahnya dengan rumahnya. Seorang security membuka pintu gerbang saat mengenali bahwa seragam yang dikenakan oleh Leo sama dengan seragam yang dikenakan oleh sang nona.


"Oh teman sekolah Neng Jeniffer, ya," Leo mengangguk saat mendengar perkataan dari security itu.


"Silahkan masuk, Den. Neng Jeniffer dari Minggu malam pulang dari Lembang sakit," ucap sang security kembali dengan ramah.


"Terima kasih, Pak," ucap Leo sambil membawa masuk motornya ke dalam garasi.


Setelah mengetuk pintu, tampak seorang perempuan berusia 30 tahun yang berada di balik pintu itu. Leo yakin bahwa perempuan itu adalah salah satu dari art yang berada di rumah ini.


"Sebentar ya, biar saya bilang Nyonya Camelia kalau temen Neng Jeniffer datang," ucap perempuan itu sambil mengulas senyum.


Leo hanya terdiam sembari melihat-lihat interior dari rumah Jeniffer, lukisan-lukisan yang tergantung, foto-foto dari keluarga di rumah ini. Guci-guci besar sebagai hiasan, karpet import yang mahal.


Satu set sofa bed berwarna hitam dan sebuah tv berlayar besar yang terpasang di dinding ruang tamu ini membuat Leo yakin bahwa pemilik rumah ini sering menonton bersama dengan seluruh anggota keluarga ataupun para tamu.

__ADS_1


"Teman Jeniffer, siapa namanya?" pertanyaan seseorang wanita membuyarkan lamunannya, saat menoleh Leo melihat wanita berusia seusia sang nenek sedang tersenyum lebar ke arahnya.


"Iya, Oma. Saya teman sekolah Jeniffer mau jenguk dia soalnya udah dua hari Jeniffer tidak masuk sekolah," ucap Leo yang tiba-tiba berdetak dengan tidak sopannya.


"Sayangnya Jeniffer masih tidur, ini juga tidak tahu besok udah bisa masuk atau masih harus istirahat," sahut Camelia mengurai senyum menyesal kepada pemuda seusia sang cucu.


Dalam hati Camelia, dia merasa salut aka. keberanian yang dimiliki oleh pemuda bertubuh tinggi dan berkulit hitam akibat sering terkena sengatan matahari itu.


"Tidak apa-apa,Oma. Saya ke sini cuma mau tahu kabarnya Jennifer aja sekaligus memberikan ini kepada dia," ucap Leo sembari menyerahkan sebuket bunga dan sekotak kue dari toko bakery terkenal.


"Tunggu Oma, masih ada satu lagi," ucap Leo segera berlari menuju motornya, membuat Camelia menjalankan kepalanya.


Beberapa kemudian Leo sudah kembali dan membawa sebuah boneka beruang yang lumayan besar yang membuat Camelia terkejut sebentar tak menyangka akan hadiah kejutan yang diberikan pemuda ini untuk Jeniffer.


"Nama kamu siapa?" tanya Camelia yang bersandar jika sebaliknya dia tidak mengetahui nama pemuda yang berada di hadapannya ini.


"Leonardi Stevanus, Oma."


Namun belum lagi Camelia membuka suara, sebuah suara mengejutkan keduanya. "Ai, Jeniffer sudah bangun belum?"


Keduanya sontak menoleh dan melihat Joseph yang baru saja memasuki ruang tamu ini dengan memakai pakaian kerja yaitu kemeja berwarna coklat susu dan celana bahan berwarna hitam. Aura eksekutif muda terpancar dari wajah pria yang kelihatan lelah itu. Dan seketika Leo tertampar akan kenyataan bahwa keadaan keuangan Joseph tentulah jauh lebih baik daripada dirinya yang masih ditopang oleh orang tua.


"Jeniffer masih tidur, Joseph. Mungkin efek capeknya yang belum hilang," ucap Camelia membuat Joseph mengangguk.


"Saya bawakan jus jambu biji dan buah kurma, sebenarnya ini titipan Mama," ucap Joseph.


"Terima kasih ya, Nak Joseph dan Nak Leo untuk hadiahnya. Sayang sekali anaknya belum bangun, pasti dia senang sekali dijenguk oleh 2 pemuda tampan seperti kalian ini.


Joseph yang baru menyadari ada orang selain Camelia langsung memasang alarm tanda waspada dalam otaknya. Dan hatinya mencelos saat melihat pemuda yang dia yakini mempunyai perasaan terhadap Jeniffer.


Kalau saja Camelia sadar, suasana diantara keduanya sudah seperti 2 predator yang saling mempertahankan buruannya. Tatapan tajam pun mereka hadiahkan satu sama lainnya. Saling menilai kelebihan dan kekurangan masing-masing itulah yang menjadi target dari keduanya.


Dan suasana canggung itu terus berlanjut hingga Stanley pulang ke rumah, pria berusia senja itu tentu tahu apa yang sedang dilakukan oleh kedua pemuda yang saling bertarung lewat tatapan mata itu.


"Joseph, Leo, kalian berdua lebih baik pulang, besok masih harus masuk kerja dan sekolah kan," perintah Stanley dan kedua pemuda itu meninggalkan kediaman Stanley tanpa dapat berjumpa dengan Jeniffer yang sedang melakukan cost play sebagai putri tidur.

__ADS_1


__ADS_2