
Edward termangu saat akan merebahkan tubuh, rasanya lelah sekali tapi nyatanya dia tidak dapat memejamkan mata barang sekejap. Padahal orang yang telah menculiknya sudah berkelana di alam mimpi.
Sesuai dengan perkataan Jessi, mereka berdua tidur dalam satu kamar hanya tidak satu tempat tidur. Tempat tidur di kamar ini memiliki 2 susun yang ternyata dapat ditarik bawahnya. Jessi tidur di atas sementara Edward tidur di bawah.
Kamar kos yang dipilih Jessi cukup luas, apalagi hanya ada 2 furniture penting seperti lemari pakaian dan meja belajar. Sedangkan masing-masing dari mereka hanya membawa 1 ransel sekolah berisi pakaian dan sebuah kantung besar berisi makanan ringan dan sebuah kantung yang berisi peralatan mandi.
"Kenapa gadis itu bisa tidur lelap di saat seperti ini?" tanya Edward yang akhirnya memilih posisi miring saat tiduran.
"Ma, Pa, semoga kalian cepat temukan keberadaan kami. Jujur Edward takut banget kalau Kak Jessi akan mencelakakan kami berdua," gumamnya pelan.
Suara dengkuran Jessi yang semakin kencang membuat Edward dilema, apakah harus melarikan diri dari gadis itu ataukah bertahan sampai ada yang akan menyelamatkan dirinya. Hari sudah malam bukan hal yang mustahil bila kedua orang tuanya sudah mendengar kabar tentang dirinya yang dibawa kabur oleh Jeniffer.
Akhirnya Edward memutuskan untuk beranjak dari posisi tidurnya dan memindai sekitar kamar kos mereka, hari semakin larut dan tidak terdengar manis suara bising dari kendaraan atau pun orang yang berlalu lalang. Seketika pemuda itu menjadi cut nyalinya bagaimana jika saat dia melarikan diri akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti bertemu makhluk halus atau sebagainya.
"Kalau lo pikir mau kabur sekarang lupakan niat itu, meskipun gua tidur tapi gua adalah tipe orang yang bakal terbangun meskipun ada pergerakan sekecil mungkin," Edward menelan salivanya saat isi mengatakan hal itu seakan mengancam dirinya untuk tidak melakukan niat yang ada di dalam pikirannya.
"Saya lapar Kak, mungkin efek dari tidur di tempatnya kasih makanya tidak bisa terlelap. Padahal udah merem dari tadi malah jadinya lapar," ucap Edward berkilah.
"Buat mie instan aja, jangan lupa buat banyakan gue juga mau," ucap Jessi yang sudah tampak lebih segar daripada tadi.
Edward menghembuskan nafas nya dia tidak pernah diperintah di rumah. Tapi lihatlah sekarang kakak tiri yang baru saja ditemuinya sudah berani memerintah dia seperti itu. Namun dia tidak punya pilihan selain mengerjakannya.
Dua bungkus mie instan beserta isian telur sudah terhidang di di mangkok mereka masing-masing. Saat perjalanan pulang dari minimarket di sini melihat ada sebuah pasar malam dan memutuskan untuk singgah sebentar untuk membeli beberapa peralatan masak dan peralatan makan.
__ADS_1
"Wow, gua nggak nyangka kalau lu bisa masak juga. Mie instannya jadi kelihatan seperti mie yang dijual restoran," ucap Jessi dengan decak kagum. Edward hanya terdiam menanggapinya.
Bayangkan saja Edward menaruh potongan sayur cabe rawit secara rapi layaknya membuat lukisan dari makanan.
"Cepat kita makan, Kak. Semoga setelah makan aku bisa tidur," ucap Edward yang sedang meniup mienya hingga tidak terlalu panas di lidah.
Sebenarnya dalam hati Jessi tidak ingin makan selarut ini, tapi apa salahnya meminta dibuatkan jika pada akhirnya dia akan tergiur saat melihat Edward yang menikmati mienya.
"Kakak tidak takut?" tanya Edward memulai bisnis.
"Takut apaan? Semua bahaya pernah gua lewati mulai dari penculikan, kebakaran sampai lolos dari mau saat balapan liar," ucap Jessi dengan pongah tanya.
"Takut berpisah dari keluarga?" tanya Edward kembali.
"Tidak tuh, karena keluarga jugalah yang awalnya menciptakan gua," Edward hanya diam meskipun dalam hatinya dia dilanda kebingungan.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidur setelah 1 jam menyelesaikan makanya, kali ini Edward dapat terlelap sebelum Jessi dan pribadi kedua itu memandangi sang adik tiri dengan berbagai reaksi yang sukar diungkapkan.
'Jessi, keterlaluan sekali lo, ini bukan di kamar gua kan? Terus kenapa ada Edward?" Jeniffer yang akhirnya berhasil menggapai permukaan cahaya langsung mengomeli Jessi.
'Gua ga keterlaluan Jeniffer sayang, salah sendiri lo terlalu lama merencanakan pembalasan dendam kepada keluarga bang*at itu,' ucap Jessi setengah berteriak.
"Gua bukannya lama, hanya merencanakan agar misi kita sukses besar," ucap Jeniffer dengan geram.
__ADS_1
'Lucu sekali, padahal yang gua lihat selama ini lo itu jadi lembek setelah jatuh cinta sama cowo itu!" bentak Jessi.
Namun sepertinya dia lupa bahwa kalau keduanya adalah satu tubuh meskipun memiliki pribadi yang berbeda. Tubuh Jeniffer menegang seketika dan secara reflek memegang kedua telinga. Tak lama seketika tubuhnya menggigil seakan diserang oleh demam.
Edward yang mendengar rintihan itu sontak terbangun dan membelalakkan mata saat melihatnya. Jeniffer meletakkan cermin sedang di ranjang seakan sedang berbincang-bincang dengan seseorang.
"Siapa yang lembek? Gua memang suka Om Joseph koq," Edward termangu saat mendengar perkataan itu . Pemuda itu menantikan sejenak hal apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Iya karena rasa suka lo sama cowok dan ibunya membuat lo kehilangan fokus pada misi balas dendam lo, Jeniffer!" Edward makin termangu di tempatnya. Sang kakak ternyata berbalas omongan dengan diri sendiri berbekal cermin .
"Memangnya apa yang salah dalam menyukai seseorang, Jessi. Lo tahu sendiri selama ini gua enggak pernah suka sama cowo karena bagi gua yang baik hanya Akhung dan Aqiu." oke, Edward sudah mengkonfirmasi bahwa ada pribadi yang lain dalam tubuh Jeniffer.
Namun saat melihatnya dengan mata kepala sendiri, membuat Edward merasa ngeri. Jeniffer dan Jessi , keduanya adalah pribadi yang berbeda meskipun dalam satu tubuh dan jiwa. Ingin rasa hati menyela percakapan diantara keduanya, tapi rupanya hati kecil Edward seakan membisikkan sesuatu.
Pada akhirnya Edward diam saja mengamati perdebatan di antara Jeniffer dan Jessi , dalam hatinya dia berdoa semoga Jeniffer yang akan menenangkan perdebatan ini. Karena Jeniffer itu cukup waras, ramah dan yang pastinya lebih lembut daripada Jessi.
"Kita tidak dapat membuang waktu lagi Jeniffer, kalau tujuan lo bangun hanya untuk merecoki lebih baik sana lo masuk dan tidur lagi," ucap Jessi dengan berang.
Dari gelagatnya Edward tahu jika Jessi akan segera memukul mundur kesadaran Jeniffer. Dia ingin ke sana dan mencegahnya, tapi lagi-lagi dia hanya terpaku di tempatnya berada. Ini sudah berbahaya bagi keselamatan Jeniffer.
"Tidak mau, gua mau bangun dan sadar sekarang," Jessi pada Jeniffer yang meronta-ronta dihadapan Edward.
Keheningan pun langsung terjadi, namun Edward tahu jika kedua sedang bertengkar hebat. Tubun gadis itu semakin bergetar dan kedua tangannya masih diletakkan pada kedua telinganya akan tidak mau mendengar suara atau perkataan apapun.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Kak Jeniffer, kita ke dokter dulu. Tubuh kakak semakin menggigil," pekik Edward yang dengan sigap menahan tubuh Jeniffer.
"Dasar gadis manja, tidur sana!" bentak Jessi yMg berhasil mendorong Jeniffer untuk ke dalam kembali. Pribadi kedua itu menyunggingkan senyum saat mengetahui berhasil menenangkan pertarungan antara Jebifferu.