Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
63. Gilda vs Camelia


__ADS_3

Jeniffer segera dibawa ke rumah sakit dan Jorgie menghubungi keluarga Sukmajaya untuk memberi tahu jika Edward sudah ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Pemuda itu hanya perlu diberikan infusan untuk memulihkan dehidrasi dan rasa lelah yang dirasakannya.


Keluarga Sukmajaya yang memang sudah berada di rest area tol segera meluncur ke tempat yang telah dibagikan oleh Jorgie. Dalam perjalanan Gilda tidak ada henti-hentinya mengoceh sehingga membuat Verry dan Risda merasa penat. Sementara Dion lebih memilih berkendara dengan kedua putranya yang lain daripada sang istri.


Keadaan Jeniffer saat dibawa ke rumah sakit sangar pucat, dokter mendiagnosis gadis itu kelelahan secara fisik maupun mental hingga belum juga sadar meskipun sudah 4 jam berlalu.


Aster beserta Karina dan Camelia mengatakan akan menyusul mereka ke Salatiga tentunya dengan supir dari perusahaan karena ketiganya tidak ada yang bisa mengendarai mobil.


Joseph yang ikut menunggui Jeniffer merasa cemas bukan kepalang saat melihat tubuh Jeniffer yang terbaring di ranjang rumah sakit untuk kedua kalinya.


"Joseph, makan dulu, dari awal Jeniffer masuk IGD sampai sekarang kamu belum ada mengisi perut," ucap James mengingatkan sang putra.


"Joseph belum lapar, Pa, rasanya kejadian tadi sudah membuat perut Joseph kenyang," ucap Joseph lirih.


"Benar, Nak Joseph, kamu harus makan biar tidak sakit, ingat perjalanan kita masih jauh. Setelah Jeniffer diperbolehkan keluar rumah sakit kita akan pulang ke Jakarta," ucap Stanley menimpali.


"Baik, Pa, Shuk, Joseph akan cari makan dulu di kantin rumah sakit," Joseph pamit setelah selesai berkata.


"Apa menurut kamu Yoseph sudah jatuh cinta sama Jeniffer?" tanya James pada besannya.


"Sepertinya memang begitu, itu wajah orang yang khawatir kan saat lihat orang yang dicintainya sakit atau dalam bahaya," sahut Stanley.


"Pa, keluarga Sukmajaya akan segera ke mari," ucap Jorgie setelah memasuki ruang rawat Jeniffer.


"Semoga saja mereka tidak berniat buruk seperti waktu acara kematian Cici kamu 15 tahun yang lalu," ucap Stanley setelah menghembuskan nafas berkali-kali.


"Terus di mana Edward?" tanya James saat dilihatnya sang menantu hanya sendiri.


"Semoga aja keluarga itu tidak mencari masalah lagi. Edward sudah dipindahkan ke ruang rawat inap di ruang sebelah Jeniffer. Oh iya Aster berkata mereka akan menyusul kemari secepatnya dengan Pak Suyoto," perkataan Jorgie membuat Stanley membelalakkan mata.


"Buat apa para wanita itu menyusul? Apalagi keluarga suka jaya sebentar lagi juga akan datang kemari. Bukan hal yang mustahil jika Gilda akan membuat keributan dan Mamamu akan menanggapinya," ucap Stanley sambil mengusap wajah kasar.

__ADS_1


"Kalau seperti itu jadinya, saya jadi teringat karena yang bertengkar hebat dengan mantan besan kami sewaktu membawa Aster keluar rumah terkutuk itu," ucap James sambil meringis.


"Apalagi Gilda bukan tipe yang ingin mengalah, bukan tidak mungkin dia akan berusaha untuk menyalahkan Jeniffer atas semua kekacauan ini," sambung Stanley yang mulai merasa pening.


"Duduk dulu, Pa, jangan stress atau marah-marah nanti Papa sakit," ucap Jorgie sambil memapah sang ayah menuju sofa.


"Sebaiknya aku panggil Joseph dulu, semoga saja dia sudah selesai makannya," ucap James yang segera menelepon Joseph.


10 menit kemudian Joseph kembali ke ruangan, sementara Jorgie menunggui Edward karena menurut pesan yang dikirim oleh Verry mereka akan tiba dalam waktu sekitar satu jam lagi. Dan sang istri mengatakan akan tiba sekitar 2 jam lagi. Dalam hatinya Jorgie berdoa semoga saja keluarga dari pihak ayah kandung Jeniffer tidak akan berbuat macam-macam.


***


Yang ditunggu akhirnya datang, 2 mobil keluarga Sukmajaya sudah memasuki rumah sakit. Stanley dan Jorgie menanti dengan cemas apakah yang akan diperbuat oleh Gilda terhadap Jeniffer.


Stanley hanya berharap jika sang istri akan segera datang untuk menghadapi Gilda yang mulai menunjukkan amarahnya.


"Mana anak sial itu!" jerit Gilda di ruang perawatan Edward. Stanley dan Jorgie akhirnya memasuki kembali ke ruang perawatan pemuda itu sementara Jeniffer ditunggui oleh James dan Joseph.


"Ya anak sial yang kerjanya bikin cucuku seperti ini," pekik Gilda dengan mata membelalak.


"Tidak ada yang namanya anak sial. Kenapa kita sebagai manusia mencoba melawan ketentuan Tuhan?" ucap Stanley yang balas menatap tajam Gilda.


"Kalau bukan anak kecil namanya apa semenjak kelahirannya dia tidak ada satupun yang berjalan beres semenjak dia lahir," Stanley sebenarnya tidak tahan akan kalimat penghinaan yang dilontarkan oleh Gilda, namun tidak pantas rasanya jika laki-laki maupun orang perempuan.


"Siapa yang bilang jika cucuku itu anak sial!" jerit Camelia saat memasuki ruangan inap Edward.


James, Karina dan Aster segera menyingkir ke ruangan Jeniffer dan membiarkan kedua keluarga itu membereskan masalahnya.


"Ya anak yang dilahirkan perempuan yang sudah mati itu," ucap Gilda sambil menunjuk Camelia.


"Memangnya karena siapa anak kami meregang nyawa dengan cara yang tragis seperti itu," balas Camelia sengit.

__ADS_1


"Ckckck, itu karena anakmu saja yang lemah mentalnya sampai memilih kematian seperti itu," sahut Gilda kembali dengan sinis.


"Siapa yang akan kuat jika diperlukan seperti itu oleh keluarga kalian malahan kamu menikah saat istrimu masih dalam keadaan lemah saat melahirkan," jerit Camelia tidak terima.


Semua orang yang berada di ruangan Edward hanya dapat meneguk salivanya saat mendengar pertengkaran diantara kedua wanita paru baya itu. Bahkan teriakan Gilda sampai ke luar ruangan dan membuat suster segera memanggil pihak keamanan.


"Berhenti kalian, ini di rumah sakit, bukan arena tinju," ucap seorang security perempuan yang diikuti oleh 2 orang rekan security pria.


Keduanya lantas diam namun masih memancarkan aura kebencian yang sangat pekat. Sang security wanita pun melanjutkan perkataannya.


"Yang tidak berkepentingan di ruangan ini saya harap meninggalkan ruangan ini."


Stanley, Camelia dan Jorgie langsung keluar rumah dan mengarah ke ruangan inap Jeniffer. Ketiganya tersenyum lega saat mendapati jika gadis itu sudah terbangun meskipun raut wajah pucatnya masih terlihat jelas.


"Jeniffer, setelah ini kamu harus mendapatkan bantuan dari psikiater agar pribadi kedua kamu tidak bertindak nekad," ucap Jorgie menatap sang keponakan dengan tajam.


"Apa maksudnya pribadi kedua?" tanya Camelia bingung.


"Yang membawa kabur Edward adalah Jessi pribadi kedua dari Jeniffer dan sebelum dibawa ke rumah sakit Jessi sempat mengancam bahwa semua ini belum berakhir dan saat dia terbangun kembali kita semua akan menyesal," ucap Joseph menjelaskan maksud dari sang kakak ipar.


"Sejak kapan kamu seperti ini, Nak?" tanya Camelia dengan berderai air mata.


"Sejak penculikan itu," ucap Jeniffer sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu menutupinya dari kami?" tanya Stanley dengan nada menyesal.


"Karena aku merasa sakit hati dengan keluarga Sukmajaya yang mau menyingkirkan aku jauh dari kalian," jawab Jeniffer sambil terisak.


"Oh Sayang, tidak apa-apa, kita lewati sama-sama ya biar Jessi tidak kembali menguasai pikiran kamu," ucap Camelia sambil mendekap tubuh sang cucu erat.


Dalam hatinya Jeniffer merasa bersalah karena harus membohongi keluarganya karena dia masih ada janji yang harus dia selesaikan dengan Jessi. Mungkin lebih baik untuk sementara ini pikiran untuk membalas dendam harus dia pending untuk waktu yang lama.

__ADS_1


__ADS_2