Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
10. Hampir ketahuan!


__ADS_3

"Jeniffer Sukmajaya, jangan pura-pura pingsan cepat bangun sekarang." perintah suara itu kembali mengira gadis itu hanya berakting.


"Jeniffer, Jeniffer." pemilik suara itu akhirnya berjongkok dan melihat Jeniffer masih tergeletak di lantai.


"Ya Tuhan, dia benar-benar pingsan." ucapnya dengan suara yang mulai menunjukkan raut kepanikan.


Bagaimana bisa dia tidak panik, wajah Jeniffer yang tadinya memerah seketika berubah menjadi pucat dengan bulir keringat yang mengalir deras dari pori-pori kulitnya.


"Mister Andrew, cepat bawa Jeniffer ke UKS." titah sebuah suara yang menyapa gendang telinganya. Segera saja pria yang bernama Andrew, membopong gadis yang baru beranjak remaja ini menuju ruangan UKS.


Mister Andrew adalah guru BK di SMP Jeniffer bersekolah. Sedari tahun lalu, pria berusia 35 tahun itu sudah di pusingkan dengan kelakuan Jeniffer yang kadang sulit di atur. Namun jika gadis itu lagi manis kelakuannya, Jeniffer dapat bertingkah layaknya malaikat membuat Mister Andrew menggelengkan kepala.


Selepas Mister Andrew membawa Jeniffer ke ruangan UKS, seorang wanita berusia 50 tahunan menatap tajam kelima gadis yang masih meringis akibat rasa pedih di kulit tangannya akibat tersiram kuah bakso yang masih panas.


"Bisa jelaskan pada saya apa yang sebenarnya terjadi." ucapnya dengan nada tajam.


"Semua ini kerjaan Jeniffer, Miss Sella. Dia yang buat kuah bakso yang di antar mbak Farah tersiram ke kulit tangan kami."


"Jeniffer yang baru saja di bawa mister Andrew ke UKS maksud kalian." kata Miss Sella yang menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah bertaraf internasional ini.


"Iya Miss, Jeniffer yang pingsan dan di bawa sama mister Andrew." cicit seorang di antaranya.


"Memangnya kalian ada buktinya kalau Jeniffer yang lakukan hal itu. Lagian kalian bisa lihat sendiri kan kalau anak itu pingsan apa jangan-jangan kalian yang merundungnya?" tanya Michella dengan nada dinaikkan beberapa oktaf membuat semua yang ada di kantin menutup telinganya akibat kerasnya suara guru wanita itu.


Kelima gadis itu tercengang akibat omelan yang dilontarkan Miss Sella kepada mereka dan dalam hati mereka berujar kenapa seolah-olah Jennifer yang menjadi korban, padahal sudah pasti cewek yatim piatu itu yang melakukan sesuatu sehingga kuah bakso itu bisa tersiram ke atas kulit mereka.


"Tapi Miss Sella lihat kita juga dong kulit kami melepuh karena terkena siraman kuah bakso." protes salah seorang gadis itu.


"Sebelum ada bukti, jangan menuduh sembarangan. Sekarang cepat bersihkan diri kalian sebentar lagi pelajaran akan dimulai kembali." perintah Miss Sella kepada kelimanya.


***

__ADS_1


Sementara itu ruang UKS, Mister Andrew yang baru saja membaringkan tubuh Jeniffer pun bertanya kepada dokter yang berjaga di ruangan.


"Dokter, kira-kira kenapa Jeniffer bisa pingsan seperti itu?"


"Jeniffer cuma kelelahan saja, Mister Andrew. Setelah tidur nanti juga akan baikan." jawab dokter wanita itu.


"Oh, berarti keluarganya perlu di panggil atau tidak ya?" tanya Mister Andrew kembali.


"Sebaiknya jangan dulu dipanggil Mister lagi pula Jeniffer juga bukan sakit yang parah hanya kelelahan." Mister Andrew mengangguk kepala mendengar penjelasan dari dokter wanita itu.


"Baik Dok saya tinggal dulu saya mau melihat keadaan lima orang siswi yang terlibat masalah dengan Jennifer tadi mungkin Miss Sella sudah memanggil mereka semua ke ruangannya." pamit Mister Andrew kepada dokter yang sedang memeriksa persediaan obat itu.


Selepas kepergian guru BK itu, tak lama Jeniffer pun terbangun dan terkejut mendapati dirinya sedang berbaring di ranjang. Matanya memindai keadaan sekitar lalu menyadari di mana dirinya berada.


"Jeniffer, rupanya kamu sudah bangun." gadis itu langsung menoleh guna mengetahui siapa yang memanggilnya dan saat melihat wanita dengan seragam dokter barulah Jeniffer mengangguk paham.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya sang dokter.


"Kamu jangan bilang kurang tidur jadi bisa lemas dan ngantuk." kata dokter itu sambil menatap tajam Jeniffer.


"Hehehe, sejujurnya memang saya kurang tidur. Begadang nonton drakor sambil posting status Ig story." ucap Jeniffer dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Dasar anak muda zaman sekarang. Bukan tidur malahan begadang ga jelas nonton drama yang hanya karangan manusia." ujar dokter wanita itu kembali.


"Ya dari pada gabut juga. Mendingan nonton aja."


"Melihat kamu yang sudah cerewet dan dapat menjawab perkataan saya, sepertinya kamu sudah segar. Lebih baik kamu kembali ke kelas, meskipun hari pertama semester ini kelas 2 dan 3 hanya main-main aja." sindir sang dokter membuat Jeniffer tersenyum canggung.


"Kalau begitu saya permisi dulu, dok." pamit Jeniffer setelah mengenakan sepatu.


Gadis itu melangkah dengan riang menuju kelasnya, meskipun Jessi berbuat ulah dirinya tidak akan pernah ketahuan. Semoga saja untuk selamanya seperti itu. pikirnya dalam hati.

__ADS_1


"Jeni, aduh tadi yang tidur di UKS enak banget ya." Jeniffer mengerutkan dahi saat memasuki kelas. Kenapa geng cabe ini tidak kapok mencari masalah dengan dirinya.


'Jeni, apa perlu gua keluar lagi dan menghadapi geng cabe ini.' pekik Jessi yang berada di dalam pikiran Jeniffer.


'Boleh deh, kebetulan aku juga lelah saat menghadapi geng kakak kelas tadi. Ingat ya mainnya yang cantik. Biar kita ga ketahuan.' setelah mengucapkan itu, Jessi mengambil alih pikiran Jeniffer.


"Oh, jelas enak banget. Tidur di ranjang empuk dan ACnya juga lumayan dingin, tidak seperti di kelas kita yang ACnya belum berfungsi dengan ba haik." jawab Jessi dengan nada menantang membuat teman sekelasnya agak menciut nyalinya.


"Huh, di ledekin gitu aja baperan." cibir gadis geng cabe.


"Kalau tahu gua baperan, ngapain lo masih ledekin gua. Emang dasar ga punya otak lo pada." hardik Jessi semakin membuat suasana kelas semakin tegang.


"Gua bingung yang jadi followers lo, apa mereka ga ketipu sama penampilan asli lo yang barbar seperti ini." ucap salah seorang gadis cabe menantang karena dia pikir tidak ada bedanya juga dengan diam ataupun melawan.


"Gua ga pernah nipu followers gua. Karena gua mereview dan mengiklankan produk yang memang sudah gua pakai dan terbukti khasiatnya di gua. Jadi bagian mananya yang menipu." sahut Jessi semakin sinis.


"Jadi lo ga tahu ya, kalau gua daritadi lakuin Live IG sesaat sebelum lo masuk dan banyak juga loh yang nonton dan kasih komentar mengenai lo. Yakin mau denger?" ucap seorang gadis cabe penuh kemenangan, akhirnya hari ini dia dapat melihat kehancuran karir selegram dari seorang Jeniffer.


Jessi merapatkan giginya saat mengetahui aksi licik yang di lakukan oleh teman sekelasnya, dengan cepat dia berfikir cara apa yang harus di lakukan agar dapat membalikkan posisi ini.


"Jadi menurut kalian, gua mesti diam aja gitu pas gua di ganggu, padahal gua habis pingsan loh." ucap Jessi memulai akting menangisnya.


"Terus wajar juga kalau saat gua lemes gini, temen-temen sekelas gua malah menjadikan bahan candaan." sukses, Jessi pun mulai mengeluarkan air mata palsunya. Meskipun terkesan licik, Jessi menerapkan playing victim untuk menyelamatkan karir Jeniffer sebagai selegram.


"Eh, tapi ada yang komen. Kenapa bahasanya Jeniffer koq pakai gua lo, biasanya aku kalian kayak bukan Jeniffer aja." Jessi kembali mengumpat dalam hatinya saat mengetahui ada salah seorang followers Jeniffer yang begitu cermat dalam memperhatikan dirinya.


"Ya, kadang kala memang pakai gua dan lo itu nyaman juga sih ya. Tapi aku minta maaf kalau itu mengganggu kenyamanan kalian." tutur Jessi meminta maaf sambil membungkukkan badannya membuat teman-teman sekelasnya speechless akan tindakan yang di lakukan oleh gadis itu.


"Jadi mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati, terima kasih sudah di ingatkan." ucap Jessi mengakhiri aktingnya.


Gadis yang melakukan siaran langsung IG pun hanya terdiam saat keadaan berbalik, para followernya dan followers Jeniffer saling serang dalam kolom komentar sehingga dia memutuskan untuk menyudahi siaran langsung itu.

__ADS_1


Jessi dan Jeniffer pun bernafas lega, karena identitas mereka tidak ketahuan. Setelah itu Jessi pun tersenyum sinis pada gadis itu seraya berkata. " Mampus."


__ADS_2