Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
42. Jeniffer yang rindu dengan sosok seorang ibu!


__ADS_3

Mister Andrew Mister Alvin dan dokter Milly pun tak lama terlibat perbincangan serius meskipun Mister Andrew sesekali menatap sinis ke arah dokter Milly yang masih terlihat santai seakan hal itu tidak mengganggunya.


"Jadi menurut kalian Jeniffer bersikap seperti itu karena tidak memiliki figur orang tua?" tanya Mister Alvin memecah kecanggungan yang mulai tercipta diantara kedua orang yang berlainan jenis ini.


"Iya saya yakin sekali, Mister Alvin. Dan saya juga punya dugaan kuat juga atas kondisi kejiwaan Jeniffer," ucapan dokter Milly sontak saja membuat kepala kedua lelaki itu menoleh ke arahnya.


Dokter Milly pun menceritakan hasil analisanya dengan para profesor tempat dia mengambil spesialisasi. Baik Mister Alvin dan Mister Andrew terbelalak saat mendengar penuturan dari dokter cantik itu.


"Dokter Milly jangan bercanda!"


"Milly, kamu tahu bukan kalau tidak bisa menyimpulkan segala sesuatu dengan cepat,"


Dua reaksi berbeda ditunjukkan membuat dokter Milly tertawa kencang. Setelah tawanya mereda dia menatap tajam Mister Andrew dan berkata," Sungguh pernyataan yang sangat konyol. Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa ini hasil analisaku dengan beberapa profesor. Terserah kamu mau percaya atau tidak."


Tentu saja perkataan dokter Milly membuat Mister Andrew bungkam dan Mister Alvin yang melihatnya hanya menghembuskan nafas panjang. Dia sudah dapat mengira-ngira bahwa hubungan keduanya adalah love-hate relationship atau sebaliknya.


"Jadi menurut dokter Milly apa yang mesti saya lakukan?" tanya Mister Alvin.


"Kita hanya dapat mengamati gadis itu untuk sementara ini, Mister Alvin. Dan ingat kita harus menemukan bukti baru kita bisa melakukan tindakan selanjutnya," papar dokter Milly.


"Tindakan selanjutnya itu seperti apa dokter Milly?" Namun alih-alih menjawab dokter Milly hanya tersenyum membuat Mister Alvin merasa resah. Dia merasa akan ada buruk yang menimpa kedua keluarga itu.


"Vin, jangan terlalu mencemaskan apa yang tidak dapat lo tanggung. Itu hanya akan membuang-buang energi saja. Benar kata Milly, untuk sekarang kita hanya dapat mengawasi Jeniffer saja. Semoga saja itu hanya sebatas dugaan saja," ucap Mister Andrew sembari menepuk bahu Mister Alvin yang mulai menegang.


"Baiklah," hanya itu jawaban yang dapat diucapkan oleh sang guru BK.

__ADS_1


Ketiganya lantas larut dalam lamunannya masing-masing, tanpa ada satupun yang berniat untuk mengakhirinya.


***


Jessi yang masih menguasai pikiran Jeniffer bersenandung riang, dalam benaknya jika semua berjalan lancar bukan hal mustahil dalam waktu dekat dia akan menguasai total pikiran Jeniffer. Dia sudah bosan menjadi entitas yang keberadaannya tidak diakui oleh dunia.


Sudah saatnya merubah hati diri Jeniffer menjadi Jessi dan dia sudah tidak sabar menantikan hal itu. Sembari membayangkan pembalasan dendam yang mulai berjalan melalui Edward, Jessi dapat melihat genangan da*ah para Sukmajaya yang meratap memohon agar dirinya tidak mengayunkan tongkat eksekusinya.


'Jessi, ayo dong masuk lagi. Sebentar lagi sudah mau sampai rumah. Ntar Phopho curiga," suara rengekan Jeniffer menyadarkan Jessi dari lamunannya seketika pribadi kedua itu merenggut tidak rela jika harus kembali masuk ke dalam.


'Jeniffer sayang, gua masih mau jalan-jalan dan sekarang juga masih jam 3 sore juga. Kita refreshing dulu sebentar ya, jam 5 sore baru pulang,' bujuk Jessi yang herannya tidak dapat ditolak oleh Jeniffer.


'Kita ke Mall saja yuk, refreshing sekalian beli baju dan sepatu,' ajak Jeniffer .


***


'Jeni, itu ada minuman Boba, beli yuk biar ga terlalu panas banget,' kata Jessi sembari menunjuk ke arah stand penjual minuman dingin.


"Jeniffer, kebetulan sekali kita ketemu di sini," Jeniffer reflek menoleh dan dia melihat Karina yang sedang menenteng beberapa tas belanjaan.


Brukkk


Jeniffer sontak saja 'mendorong' Jessi dan akhirnya dia berkuasa penuh atas dirinya. Seketika Jessi marah, namun entah mengapa di hadapan wanita tua ini dia tidak dapat berkutik seakan Karina telah memegang kendali atas pikiran Jeniffer dan dia tidak suka itu. Keluarga Zedekiah akan menghalangi rencananya saja..


'Dasar tidak anaknya tidak ibunya, bisa membuat pribadi Jeniffer menguat, bagaimana gua bisa menghalangi pertemuan di antara mereka pada masa mendatang,' ucap Jessi dalam pikirannya yang bahkan tidak dapat ditembus oleh Jeniffer.

__ADS_1


"Ai, tumben belanja sendirian. Kenapa ga ajak Qiume aja atau Om Joseph,' ucap Jeniffer berbasa-basi.


"Qiume kamu itu lagi sibuk sama David yang lagi demam. Jadi dia ga bisa nemenin Ai belanja, karena kebetulan kita ketemu bagaimana kalau sekalian belanja saja. Biar Ai izinkan sama Phopho kamu biar dia ga khawatir," ucap Karina sembari mengusap lembut rambut kecoklatan Jeniffer.


Omong-omong mengenai rambut Jeniffer yang diwarnai, Camelia sudah mengetahuinya 4 hari yang lalu dan sang nenek marah besar sehingga Stanley tidak berani untuk membela sang cucu. Jeniffer akhirnya di hukum untuk membersihkan piring dan gelas bekas dia makan selama sebulan penuh. Bahkan Camelia mewanti-wanti para art agar tidak mencucikan peralatan makan milik Jeniffer.


Jeniffer terkesiap akibat sentuhan itu, kenapa rasanya beda sekali antara Camelia yang mengelusnya dengan Karina yang melakukannya. Ibu pria pujaan hatinya seakan memiliki aura keibuan yang lebih pekat daripada Camelia.


"Kenapa, Jeni sayang?" dan lagi saat Karina memanggilnya sayang hatinya bergetar.


Tes tes tes


Karina tersentak saat mendapati gadis belia yang berada dihadapannya ini menangis, seingatnya dia tidak melakukan kesalahan yang dapat membuat Jeniffer kesal atau sedih. Jadi apa yang menyebabkan cucu dari sang teman menangis, pikirnya dalam hati.


"Jeni, kamu sakit? Kalau begitu kita pulang saja ya?" akhirnya hanya kalimat itu yang diucapkan oleh Karina, setidaknya dia harus menenangkan hati gadis belia ini , apapun caranya.


"Boleh tidak aku nginap di rumah Ai?" tanya Jennifer tanpa sadar.


"Tentu saja boleh, memang kamu mau ngapain di rumah?" tanya Karina kembali.


"Aku mau dibacakan dongeng sebelum tidur, dipeluk sama Mama, mau didandani sama Mama dan melakukan semua hal seperti yang dilakukan anak perempuan sama Mama," Karina terenyuh saat Jeniffer yang tanpa sadar menceritakan isi hatinya.


Memang ada hal yang tak dapat digantikan oleh Camelia yaitu kasih sayang seorang ibu. Karina jadi berpikir apakah dia sanggup menggantikan peran ibu bagi seorang Jeniffer, karena jujur saja dia merasa kasihan dengan remaja belia itu.


"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang, Jeni sayang," ajakan Karina membuat Jeniffer tersadar dan segera menghapus air mata yang membandel ini.

__ADS_1


"Ayo, Ma," Jeniffer pun tanpa sadar memanggil Karina mama yang semakin membuat wanita tua itu merasa dibutuhkan oleh gadis ini. Gadis itu menggenggam tangan Karina dengan kuat seakan takut jika terlepas, kebahagiaan yang di rasakan olehnya juga terlepas.


Memangnya kenapa kalau Jeniffer itu cucu temannya, hatinya sebagai seorang ibu meronta-ronta saat melihat gadis yang merindu akan sosok seorang ibu di dalam hidupnya. Meskipun akhirnya Joseph tidak berjodoh dengan Jeniffer sekalipun, Karina tidak peduli.


__ADS_2