
Jeniffer masih memandang Joseph dengan sorot mata kekaguman, bahkan gadis belia itu mencoba segala cara demi mendapatkan perhatian dari Joseph. Seperti mencoba menggendong baby David yang tentunya dibantu oleh Aster, dengan sabar kakak perempuan Joseph itu mengajari cara untuk menggendong bayi yang benar.
Awalnya sangat kaku dan canggung bagi g.adis remaja itu untuk menggendong bayi, Camelia yang sedari tadi mengawasi sang cucu pun tak henti-hentinya berdoa dalam hati semoga Jeniffer tidak menjatuhkan David. Karina yang melihat tingkah laku sang sahabat pun hanya tertawa dan berkata kepada adik kelasnya sewaktu SMA itu untuk tidak terlalu khawatir dengan kelakuan Jeniffer.
"Tapi, ci. Lihat itu cara Jeniffer pegang David. Buat aku merinding melihatnya. Memangnya Cici nggak takut apa David jatuh." perkataan Camelia sontak membuat Karina tertawa keras.
"Tidak, aku percaya sama Aster dia bisa menyelamatkan David andaikata apa yang di katakan kamu terjadi." tak ayal perkataan Karina membuat Camelia mendengkus.
"Ya sudah kalau Cici udan bilang seperti itu. Aku juga harus percaya kepada Jeniffer kalau dia sanggup menggendong David." Camelia akhirnya hanya pasrah saja melihat tingkah laku Jeniffer.
"Nah gitu dong, rileks. Daritadi kamu itu tegang banget."
"Iya kan aku tegang, selain karena Jeniffer, selesai acara Man Yue David, Jorgie mau melamar Aster." ucap Camelia benar apa adanya, sedari kemarin malam wanita itu merasakan ketegangan yang berkali-kali lipat, padahal ini bukan pernikahan pertama Jorgie. Tapi kenapa sensasinya mengalahkan momen saat sang putra akan menikah dengan Diana.
"Kadang aku bingung sama takdir. Kenapa ya bisa selucu itu, Aster dan Jorgie menikah juga setelah gagal di pernikahan mereka sebelumnya. Jadi mikir kenapa ga nikahnya dari dulu, masih sama-sama single. Ga repot seperti sekarang urus surat-surat buat nikah." ucap Camelia sambil menerawang.
"Ya Cici nanya aku, aku mesti tanya sama siapa? Ga tau, ya namanya takdir kita ga akan tahu. Cuma memang sebenarnya papanya Jorgie sudah lama ngincar anakmu waktu masih jadi sekretarisnya. Udah ngomong juga ke Jorgie, cuma tuh anak ngomongnya kayak gini. ' Aku sama Aster sama-sama keras kepala ma, ga kebayang nanti kalau nikah. Bukan mesra-mesraan, malahan adu bacot dan tarik urat.'" ucap Camelia sambil tertawa kecil, mengingat sepotong kenangan beberapa tahun silam.
"Ya buktinya sekarang mesra-mesraan tuh. Kalau papanya anak-anak ga sengaja masuk ruang tamu, aku rasa jatah ASI David bakal di embat juga sama Jorgie." Camelia hanya meringis saat mendengar perkataan penuh sindiran itu. Selepas dari rumah ini, Camelia berjanji akan menjewer kedua cuping telinga Jorgie agar sang putra tidak berbuat macam-macam kepada calon menantunya itu.
__ADS_1
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Umur Jorgie dan Aster juga udah kepala 3, mereka berdua pasti sudah tahu mana memilah yang buruk dan baik. Lagipula 3 bulan lagi mereka akan menikah, tugas kita sebagai orang tua adalah tidak membiarkan kedua anak manusia yang sedang di landa asmara itu untuk tidak terjerumus ke dalam dosa." ujar Karina membuat Camelia menganggukkan kepalanya.
"Ngomongin jatuh cinta, sepertinya Jeniffer suka sama Joseph. Bagaimana menurut Cici?" tanya Camelia mengalihkan topik.
"Ya kelihatan jelas sekali itu bocah wedok naksir Joseph. Ya aku ga punya hak mencampuri urusan anak-anak, biarlah mereka yang menentukan. Sekali lagi, kita sebagai orang tua hanya dapat mengawasi agar anak-anak muda itu tidak terjerumus ke dalam dosa." sekali lagi Camelia hanya dapat menyetujui apa yang dikatakan oleh Karina.
"Apa tidak masalah dengan latar belakang keluarga Sukmajaya? Biar bagaimanapun di dalam darah Jeniffer mengalir darah keluarga itu?" tanya Camelia.
"Mau dia lahir dari keluarga penjahat sekalipun, aku tak masalah. Lagipula sudah sejak umur setahun Jeniffer tinggal dengan keluarga kalian kan. Aku percaya Jeniffer itu gadis yang amat manis dan baik, karena kalian telah merawat dan mengasuhnya dengan limpahan cinta kasih yang sangat banyak." jawaban Karina membuat sudut di hari Camelia merasa lega.
"Kamu ini aneh banget, Jeniffer masih kecil loh. Masih 16 tahun, sekolah dulu yang bener abis itu cari kerjaan atau membangun bisnisnya sendiri. Kalau udah malam baru mikirin nikah." sambung Karina lagi.
Kembali lagi dengan Jeniffer yang saat ini mencoba dekat-dekat dengan Joseph. Gadis itu bahkan mengambil piring yang sudah terisi makanan dan langsung duduk di samping Joseph yang sedang bermain game online, ciptaan dari teman kuliahnya. Game itu masih sebatas percobaan dan Joseph yang terpilih untuk memainkan game itu pertama kalinya dan memberi review dan kritik saran apa yang harus di kembangkan lagi dari sebuah game itu.
'Ganteng juga sih om. Bolehlah Jeni, bagi-bagi, gua keluar sekarang ya?' tanya Jessi menggoda membuat Jeniffer panik.
'Ga ada keluar-keluar sekarang. Lagian ini bukan situasi urgent ya. Jangan ganggu aku yang mau deket sama Om Joseph.' hardik Jeniffer membuat Jessi semakin tertawa kencang.
'Aduduh, Jeni udah gede sekarang.'
__ADS_1
"Kamu ga apa-apa, Kenapa melamun daritadi?" suara berat dan menenangkan itu menyapa gendang telinga Jeniffer dan membuat Jessi berhenti menggodanya.
"Eh..iya..aku ga apa-apa, Om. Hanya sedikit capek dan ngantuk karena semalam bergadang nonton Korea dan iklanin produk endorse."
"Oh kamu selegram?" tanya Joseph tanpa mengalihkan pandangan terhadap layar benda pipih yang sedang di pegangnya itu.
"Iya bisa di bilang begitu. Dan ya lumayan banyak produk yang aku endorse dalam sebulan." Jeniffer berusaha membuat obrolan tetap mengalir di antara keduanya.
"Wah kalau begitu, hebat dong. Bisa membiayai diri sendiri di usia semuda kamu." ucap Joseph dengan cuek. Konsentrasinya lebih banyak digunakan untuk bermain game di bandingkan mendengar perkataan Jeniffer.
"Ga juga om, hasil honor saya sebulan cuma cukup beli kopi 40 gelas." oke, mendengar kata kopi Joseph pun mempause gamenya.
"Ah masa sih, kopi bukannya 10 ribuan begitu harganya. Memangnya kopi apaan?" tanya Joseph penasaran.
"Iya kopi yang di jual di jual di kedai kopi yang gambarannya cewe rambut panjang latar belakang hijau." Awalnya Joseph belum mengerti, kopi apa yang di maksud Jeniffer namun setelah mengingat beberapa saat barulah dia tahu kopi yang di maksud oleh gadis itu.
"Kamu ini saya udah serius dengerin nya malah becanda." ucap Joseph sembari tertawa dan Jeniffer sepakat akan menjadikan wajah Joseph yang sedang tertawa ini sebagai pengantar tidurnya. Alias mengkhayal sebelum tidur.
"Ya kan judulnya kopi juga kan Om. Saya honornya kecil, cuma kebeli 40 gelas kopi."
__ADS_1
"Ya kamu ngopinya di Starb*cks ya cuma segitu dapat kopinya, coba kalau buat sendiri atau beli di warkop pasti lebih dari 100 gelas itu kopinya." dan entah mengapa Joseph juga ikut dalam menanggapi candaan Jeniffer seakan hatinya langsung 'klik' saat berbicara dengan gadis itu.
Namun saat mengingat bahwa Jeniffer adalah keponakan dari kakak iparnya dan perbedaan usia mereka yang lumayan jauh membuatnya memilih menghindar dari gadis yang sebentar lagi akan menjadi bagian keluarganya juga.