Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
70. Leo yang curiga dengan Joseph


__ADS_3

Joseph terus terbayang akan pemuda yang menghampiri mejanya saat dirinya akan makan bakso dengan satu timnya saat selesai meeting di luar kantor. Dalam benak pria itu, teman sekolah Jeniffer yang lama memiliki perasaan kepada gadis itu.


Membayangkan itu membuat Joseph uring-uringan di kamarnya. Karina yang melihat raut wajah sang putra yang masam saat pulang ke rumah pun menghela nafas panjang.


Dengan perlahan wanita paruh baya itu memasak kamar anak bungsunya dan mengajaknya berbicara," Ada apa, Jos? Koq Mama lihat kamu sejak pulang tadi kayak uring-uringan gitu?"


"Tadi pas lagi kelar meeting dan mau makan bakso, meja Joseph didatangi bocah SMA tempat Jeniffer sekolah yang dulu. Dia tanya keberadaan Jeniffer dimana," sahut Joseph dengan lesu.


"Yang bener kamu, terus kamu enggak jawab kan di mana keberadaan Jeniffer sekarang," ucap Karina agak terkejut.


"Enggak Joseph jawab, Joseph bilang tidak tahu keberadaan Jeniffer,"


Karina yang masih melihat sang putra lesu segera memiliki pemikiran jika Joseph cemburu dengan teman Jeniffer. Tak lama dia pun tersenyum, mungkin tak lama lagi buat Joseph untuk benar-benar menyadari perasaannya kepada Jeniffer.


"Terus apa masalahnya? Kan kamu enggak ada bilang di mana Jeniffer," ucap Karina yang memilih pura-pura tidak mengetahui permasalahannya yang dihadapi Joseph.


"Joseph juga tidak tahu, Ma," ucapnya sambil memegang kepalanya.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, dijalani saja dulu nanti kamu juga akan mengerti apa yang kamu rasakan," kata Karina sambil menepuk bahu Joseph.


"Iya juga sih, Ma, mungkin Joseph akan menghalangi bocah SMA itu untuk dapat menemukan keberadaan Jeniffer," ucap Joseph dengan mengepalkan kedua tangannya.


Karina hanya tersenyum saat melihat tingkah laku dari Joseph dan berkata dalam hatinya, ' Joseph sudah dewasa rupanya. Sudah mulai merasakan apa itu rasa tertarik dengan lawan jenis, meskipun yang dia sukai itu adalah bocah SMA.'


"Terserah kamu mah itu, Mama ada buat martabak telur nih, kamu mau enggak? Papa udah di ruangan makan soalnya, barusan tanyain kamu mana," ucap Karina lagi.


Joseph yang mendengar kata martabak tentu tidak menampik makanan yang satu itu. Apalagi ini buatan sendiri sudah pasti kebersihannya terjamin.


"Mau dong, Ma, ayo kita keluar sekarang," ajak Joseph.

__ADS_1


***


Ternyata kemarin itu bukan pertemuan terakhir Joseph dan Leo, hari ini dia juga bertemu dengan bocah SMA itu saat sedang selesai mengecek sebuah program keamanan perbankan di sebuah bank swasta.


Leo yang berniat untuk mengambil uang di ATM yang ada di bank itu langsung mengenali Joseph dan memanggil pria itu. Kali ini Leo meminta maaf atas kelancangan dirinya dan berniat untuk mentraktir Joseph sebagai bentuk penyesalan mau.


Joseph tertawa dalam hatinya saat mendengar Leo uang yang mengajaknya makan serta salut akan keberanian pemuda itu untuk meminta maaf dan mengakui keberadaan.


"Sungguh percaya diri sekali kamu anak muda," ucap Joseph sambil menyugar rambutnya.


"Iya saya cukup percaya diri karena saya memiliki uang untuk mentraktir Om makan," ucap Leo dengan tenang.


"Baik, aku suka akan keberanian kamu. Ayo kita makan sekarang," ajak Joseph.


***


Leo memilih restoran steak yang menurutnya tidak terlalu mahal untuk budgetnya. Keduanya saling berhadapan seakan saling memindai satu sama lainnya.


"Saya mau makan steak ikan saja, kebetulan minggu lalu saat meeting sama klien makan itu dan rasanya enak juga di lidah saya," ucap Joseph membuat Leo meringis.


Leo tahu jika dia masih seorang bocah SMA yang belum memiliki penghasilan besar seperti pria yang berhadapan wajah dengannya. Tapi apakah Joseph harus menegaskan perbedaan diantara keduanya? Keluh Leo dalam hatinya.


"Oke, Mbak, pesan 1 steak ikan, 1 steak sapi dan minumnya 1 es teh manis kalau Om minumnya apa?" tanya Leo saat mbak pelayan mencatat pesanan keduanya.


"Saya minumnya milkshake coklat banyakin esnya ya," timpal Joseph.


"Oke saya ulangi ya pesanannya, 1 steak ikan, 1 steak sapi, 1 es teh manis dan 1 milkshake coklat dengan banyak es," setelah mengulangi pesanan kedua pria berbeda usia itu mbak pelayan undur diri untuk memberikan pesanan itu kepada chef yang memasak.


20 menit kemudian pesanan mereka telah tersaji dan keduanya menikmati makanannya dalam diam sebab tidak ada satupun dari Joseph atau Leo yang berniat untuk memulai percakapan. Suasana canggung pun tercipta diantara keduanya.

__ADS_1


Saat Joseph menoleh ke kiri dan kanan, matanya membelalak saat melihat Jeniffer yang memasuki restoran steak ini bersama dengan ketiga gadis yang Joseph yakini adalah teman dari sekolah baru gadis itu.


'Sial, kenapa mesti ketemu Jeniffer saat gua sedang berada di sini bersama Leo. Pemuda ini pasti akan bertanya pada gadis itu di mana sekolah dan tempat tinggal Jeniffer uang yang sekarang. Apa yang mesti gua lakukan?' umpat Joseph dalam hatinya.


"Om kenapa? Koq kelihatannya gelisah?" pertanyaan Leo membuat Joseph tersentak dari lamunannya.


"Eh, eh, kamu sudah mau keluar belum? Saya baru ingat ada janji sama teman abis magrib. Ini sudah jam setengah 5 lewat. Kalau sudah kelar, biar saya antar sampai rumah," ucap Joseph memberikan alasan palsu.


Joseph tentu saja tidak ingin jika Leo bertemu dengan Jeniffer di tempat ini. Maka satu-satunya jalan adalah mengalihkan perhatian dari bocah SMA ini.


"Sebentar lagi, Om, tanggung habisin kentang dan minumannya," ucap Leo membuat Joseph meringis dalam hatinya.


'Dasar bocah, bener-bener nih anak enggak mau rugi rupanya,' ucap Joseph dalam hatinya.


"Oke, biar saya yang bayar, kebetulan saya lagi ada promo cashback 20% pakai uang elektronik," kata Joseph menahan Leo yang akan membayar makanan mereka.


Joseph melihat meja Jeniffer harus melalui kasir dan saat ini posisi Leo sedang membelakangi gadis itu dan teman-temannya. Maka dari itu Joseph membuat alasan palsu untuk mencegah Leo berjumpa dengan Jeniffer.


***


Joseph baru dapat bernafas lega saat dirinya dan Leo meninggalkan restoran steak itu tanpa bertegur sapa dengan Jeniffer. Dan kejadian yang baru saja dialaminya membuat Joseph sadar jika kemungkinan Jeniffer untuk bertemu dengan teman sekolah lama atau keluarga Sukmajaya itu ada.


Mengingat itu membuat Joseph panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin juga Joseph melarang Jeniffer untuk keluar dan berdiam diri di rumah seusai pulang sekolah. Karena Jorgie mengatakan jika gadis itu tidak boleh mengalami guncangan mental yang hebat karena itu mungkin saja akan kembali membangkitkan Jessi yang telah berhasil ditidurkan.


"Lain kali saya akan mentraktir Om, bukan sebaliknya. Tapi terima kasih untuk traktirannya, Om," ucap Leo saat Joseph mengantarkan dirinya sampai rumah.


"Oke, saya menantikan hari itu. Sampai jumpa lagi dan maaf saya buru-buru," setelah mengucapkan itu Joseph melajukan motornya meninggalkan kediaman Leo.


"Aneh sekali Om Joseph, seperti ada yang disembunyikan," monolog Leo saat motor Joseph sudah tidak terlihat.

__ADS_1


Leo sudah menyadari keanehan Joseph saat di restoran tadi, tapi pemuda itu memilih untuk mengabaikannya saat ini.. Leo sadar jika yang harus dicurigai adalah Joseph dan dia berharap semoga melalui Joseph dia berhasil menemukan Jeniffer.


__ADS_2