
"Verry!"
"Papa!"
"Koko!"
Ketiga teriakan langsung terdengar saat Verry tumbang dengan bersimbah darah yang pelakunya adalah keluarga Sukmajaya. Sementara Jessi tersentak saat sang ayah menjadi perisai hidup untuknya. Matanya membelalak dan dadanya tercekat, di saat itulah Jeniffer yang 'tertidur' langsung terbangun namun pribadi keduanya itu menghalanginya.
"Tidur saja lo selamanya! Kenapa mesti bangun sekarang?" teriak Jessi sambil memegangi kepalanya.
"Tidak ini adalah badan gua jadi lebih baik lo yang lenyap aja sekalian!" balas Jeniffer.
Semua orang terkejut saat melihat tingkah laku dari gadis itu dan hati Joseph berdenyut nyeri ikut merasakan penderitaan dari sang kekasih. Karena itu pemuda itu langsung maju dan memeluk Jeniffer dan mengatakan sebuah kalimat.
"Jeniffer, ayo kita pulang, kamu sudah aman sekarang."
Jeniffer yang alam bawa sadarnya masih bertarung dengan Jessi samar-samar mendengar suara Joseph dan dia berusaha mengalahkan pribadi keduanya itu dan berusaha untuk mengambil alih pikirannya. Namun Jessi kali ini tidak akan membiarkannya, pribadi kedua itu bertekad untuk menguasai sepenuhnya pikiran Jeniffer dan pergi sejauh mungkin dari kota bahkan negara ini.
"Tidak akan gua biarkan Jeniffer bangun, kali ini gua harus menang dan akan pergi dari sini sejauh mungkin dan kalian semua tidak akan dapat menemukan keberadaan gua!" jerit Jessi mencoba memberontak dari pelukan Joseph.
"Jeniffer, apa kamu tidak sayang sama keluarga kamu dan aku?" Joseph kembali mengajukan pertanyaan yang sekiranya dapat membangkitkan keinginan dari Jeniffer.
"Om Joseph?" Joseph menghela nafas lega karena sudah berhasil memanggil keluar Jeniffer, sekarang prioritas utamanya adalah menidurkan kembali Jessi kalau perlu untuk selamanya.
"Iya ini aku, Joseph. Pacarnya Jeniffer," kata Joseph menekankan kata pacar.
"Om Joseph, tolong aku, pria kekar yang di dalam sana mencoba untuk mele*ehkan aku. Jessi menendangi dan menghajar pria itu dengan balok kayu," terang Jeniffer yang saat kejadian berbagi penglihatannya.
Joseph menggeram saat mendengarnya tidak menyangka ada yang seperti itu dengan keluarga sendiri. Dan barulah dia bersyukur jika istilah yang menghadapi para pria berbadan kekal itu sehingga dapat menyelamatkan tubuh Jeniffer dari jamahan tangan pria-pria itu.
__ADS_1
"Iya, ini semua ada di sini untuk menemukanmu, maka dari itu sekarang kamu keluar yuk? Nanti setelah ini kita akan jalan-jalan dan makan yang enak enak," bujuk Joseph masih tidak melepaskan dekapannya.
"Dasar roman picisan..Mati saja kalian berdua!" umpat Jessi yang tidak mau kalah.
"Ini bukan roman picisan, cinta gua sama Om Joseph benar-benar terwujud!" pekik Jeniffer yang tidak terima Jessi menertawakan keromantisan mereka berdua.
"Silahkan bermimpi sampai akhir Jeni, gua yakin semua pria itu akhirnya kayak bokap yang selama ini lo rindukan. Dan lo bisa lihat sendiri dengan mata lo, pria bang*sat itu sudah terkapar dengan darah yang tercurah dari dalam kamar," ejek Jessi.
Jeniffer memaksakan diri melihat keadaan sekitar dan melihat Verry sudah dikelilingi oleh keluarganya. Gilda, Risda dan Edward bahkan menangis histeris sambil mengguncang tubuh pria itu. Sementara Dion hanya terpekur dengan tatapan kosong, hanya kedua pria usia produktif yang aktif menempuh sepertinya untuk menelepon ambulance dan pihak berwajib.
"Papa?" tanya Jeniffer dengan nada lirih.
"Iya itu Papa kamu, dia sudah melindungi kamu dari tembakan pistol yang mengarah ke kamu," terang Joseph dengan sabar.
"Papa berkorban buat aku?" kata Jeniffer dengan mata menyalang.
"Ini kan yang kamu mau, membalas dendam kepada keluarga Sukmajaya," sindir Jessi yang mencoba menggoyahkan Jeniffer.
"Kalau gua enggak muncul 9 tahun lalu, lo udah tinggal nama aja sekarang," desis Jessi.
Joseph yang mendengar perdebatan antara kedua pribadi itu hanya menghela nafas berat. Melumpuhkan gadis ini sekarang akan beresiko sebab dia tidak tahu siapa yang akan bangun setelah sang pacar membuka matanya.
Stanley dan Jorgie hanya terdiam melihat pertempuran Jeniffer itu dan Jorgie menyesali keputusannya untuk mengabaikan penyimpangan pribadi dari sang keponakan.
"Iya bilang gua berterima kasih untuk itu, tapi sekarang bisakah lu pergi dari pikiran gua?" kata Jeniffer dengan nafas terengah-engah. Tenaganya terkuras habis dan dia yakin kesadarannya akan hilang sebentar lagi.
"Jadi biasakah lo pergi? Di sini ada keluarga dan pacar yang menyayangi gua jadi apa yang perlu gue takutkan?" sentak Jeniffer.
Akhirnya Jeniffer memenangkan pertempuran ini dan tak lama tubuhnya terkulai lemas diperlukan Joseph. Saat itulah terdengar suara serine yang memekakkan telinga. Ternyata itu adalah ambulans yang ditelepon oleh Berry beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Verry dan Jeniffer langsung di bawa ke rumah sakit terdekat dengan ambulans yang sama.. Gilda yang bersikeras ikut dengan Verry langsung dicegah oleh Heri. Sementara untuk para polisi dan pria berbadan tegap itu ditangani langsung di TKP. Kebanyakan dari mereka mengeluh sesak nafas dan kehilangan banyak darah dari luka sekujur tubuh.
***
Gilda tindak henti-hentinya menangis saat Verry dibawa ke ruang ICU untuk mengambil peluru yang bersarang di tubuhnya. Risda bahkan harus dirawat karena pingsan dan Edward yang menemaninya.
Dion dan kedua putranya hanya dapat menunggu dengan rasa panik yang mencekik. Ketiganya baru menyadari akan kesalahan keluarga mereka yang telah mempercayai mitos.
"Pa, ini tidak bisa dibiarkan gara-gara anak sial itu Verry seperti ini!" pekik Gilda sambil mengguncang bahu sang suami.
"Ma, sudahlah jangan mencari gara-gara lagi dengan keluarga Ongtara, kamu mau melihat keluarga ini semakin hancur," sentak Dion sambil menepis tangan Gilda.
"Apa maksud Papa kata seperti itu? Papa akibat dari mempertahankan anak perempuan itu?" tanya Gilda yang belum menyadari kesalahannya.
"Mama, sudah cukup! Semua ini terjadi juga awalnya karena ulah kalian berdua," balas Dion dengan geram.
"Sekarang Verry akibat dari perbuatannya, tidakkah Mama masih belum mengerti hukum sebab dan akibat," lanjut Dion dengan dada yang mengembang kempis.
Berry dan Herry hanya dapat terdiam dalam menanggapi pertengkaran diantara kedua orang tuanya. Tapi jujur saja di dalam hati keduanya mereka tidak yakin jika Verry akan selamat melihat begitu banyaknya luka danq darah yang keluar dari tubuhnya.
Dan terjawab saat lampu operasi mati dan seorang dokter keluar dengan raut wajah sukar untuk dilukiskan.
"Dengan keluarga Verry Sukmajaya?"
Keempatnya langsung mendekat ke arah dokter dan Gilda yang paling dekat dengan dokter pria itu.
"Maaf kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami tidak dapat memutuskan nyawanya,"
Gilda yang mendengar itu langsung lemas dan kedua kakinya seakan tidak dapat menopang bobot tubuhnya. Jika saja Herry tidak menahannya mungkin tubuh sang ibu sudah mencium dinginnya lantai rumah sakit ini.
__ADS_1
James yang mendengar ucapan dokter dari kejauhan hanya dapat mendoakan agar keluarga Sukmajaya dapat diberikan kekuatan dan kedamaian di dalam hatinya agar perseteruan ini tidak berlanjut hingga Jeniffer meregang nyawa.