
Mister Alvin hanya menatap nanaf punggung gadis yang meninggalkan ruang UKS dengan membawa sebuah gunting yang ditancapkan ke lehernya sebagai peringatan agar dia dan dokter Milly tidak mengikutinya.
"Dokter Milly Apa yang harus kita lakukan sekarang Jessi membawa pergi ke tubuh Jeniffer, saya tidak bisa mengikutinya karena dia mengancam dengan gunting!" pekik Mister Alvin ketika dilihatnya sang dokter hanya terdiam saja.
"Kita ikuti saja Jessi, berbahaya jika kita membiarkan dia berkeliaran untuk saat ini." akhirnya keduanya segera berlari dalam jarak aman agar tidak diketahui oleh Jessi.
"Ya Tuhan! Apakah saya harus memberitahukan keluarganya?" tanya Mister Alvin yang segera teringat dengan Jorgie.
"Sepertinya lebih baik begitu Mister Alvin biar bagaimanapun, mungkin dengan memberi tahu kepada keluarganya dapat membuat Jeniffer terpanggil keluar," sahut Dokter Milly yang masih berlari menyusul gadis yang menurut pandangannya menuju ke ruangan kelas 10.
"Mau apa Jessi ke kelas 10?" tanyanya bingung, saat menoleh dia tidak mendapati keberadaan Mister Alvin. Sejenak dokter wanita itu berhenti dan melihat sang guru BK yang sedang menelepon.
"Mister Alvin, dia menuju ruangan kelas 10!" teriakan dokter Milly mengejutkan Mister Alvin yang sedang menjelaskan situasi yang terjadi dengan Jeniffer kepada Jorgie yang mendengarnya dengan serius.
"Iya Dokter Milly, saya akan segera menyusul!" balas Mister Alvin dengan berteriak.
Sementara itu Mister Alvin yang sedang menjelaskan perkara terhadap Om Jennifer pun harus menelan salivanya karena nada dingin yang dikeluarkan oleh pria itu. Namun dia sadar ini adalah kelalaiannya yang tidak memperhatikan setiap siswa yang bermasalah. Karena itu Mr Alvin membiarkan saja Jorgie yang memarahinya habis-habisan dan berkata akan menyusul ke sekolah.
"Dokter Milly, di mana Jeniffer?" tanya Mister Alvin dengan nafas terengah saat mendapati dokter wanita itu tidak lagi berlari.
"Di situ Mister Alvin dan sepertinya Jessi berniat mengincar Edward!" pekik sang dokter sambil menunjuk Jessi yang sedang mengancam Edward dan keduanya berniat untuk meninggalkan ruang kelas Edward.
"Jeniffer Sukmajaya dan Edward Sukmajaya, sekarang sepertinya potongan misteri ini semakin jelas dokter Milly," ucap Mister Alvin sambil mengusap wajahnya kasar.
Mengapa dia dapat melupakan fakta bahwa Jeniffer dan Edward memiliki nama belakang yang sama? Meskipun keduanya tidak saling mengenal seharusnya dari kejadian-kejadian yang telah terjadi sebelumnya Jeniffer atau Jessi telah menargetkan Edward sebagai mangsanya.
"Mister Alvin Jeniffer membawa pergi Edward dari sekolah ini, Dan sejak kapan gadis itu memiliki peralatan berbahaya seperti itu!" teriak Dokter Milly saat melihat Jessi membuka lokernya pribadinya.
Di sana terdapat sebuah kantung plastik berisikan benda-benda tajam seperti pisau, cutter dan bom gas air mata yang di sembunyikan dengan rapi di dalam sebuah boneka anjing berwana hitam.
"Berarti gadis itu sudah merencanakannya sejak lama Dokter Milly dan ini semua ada kaitannya dengan keluarga Sukmajaya," ucap Mister Alvin dengan nada frustasi.
"Mister Alvin sudah memberitahukan keluarga Jennifer?" tanya dokter Milly sambil mengawasi pergerakan dari kedua remaja itu.
Terlihat Edward yang memucat warganya terpaksa harus mengikuti langkah kaki dari sang kakak kelas yang terlihat berbahaya itu. Kilat kemarahan dan kebencian tercetak jelas dari wajah cantik itu.
__ADS_1
"Saya sudah memberitahukan kepada Omnya dan Dia Pak Jorgie mengatakan akan segera kemari," ucap Mister Alvin dengan tercekat saat melihat kelakuan dari gadis yang dapat membahayakan nyawanya dan Edward.
Menodongkan pisau ke leher Edward jelas adalah sebuah tindakan pidana, namun dalam kasus ini bukan Jeniffer yang melakukannya atas keinginan sendiri melainkan pribadi kedua yang mengaku sebagai Jessi yang menguasai pikiran dan tubuh Jeniffer. Apakah hukumannya adalah penjara ataukah rumah sakit jiwa? Tanya Mister Alvin dalam hati.
***
Jessi yang menguasai tubuh dan pikiran Jeniffer langsung berlari keluar dari UKS sambil mengarahkan gunting ke arah lehernya dengan harapan agar sang guru BK dan dokter UKS itu tidak mengikuti langkahnya.
Tujuan utama Jessi tentu saja adalah ruangan kelas 10, tempat Edward sekarang sedang berada. Setelah menemukan targetnya langsung berteriak meminta agar Edward keluar sekarang juga.
"Buruan ikut gua sekarang!" perintah yang tentu saja tidak langsung di turuti oleh Edward.
"Tidak mau, memangnya siapa Kakak?" tanya Edward dengan mata menantang sang kakak kelas.
"Gua adalah Kakak kandung satu ayah sama lo, Apakah itu cukup jelas untuk membuat lu mengikuti perintah gua?" ucap Jessi dengan nada tinggi membuat Edward terkesiap.
Akhirnya gadis ini mengakui hubungan darah di antara keduanya. Apakah ini artinya bahwa sebentar lagi akan terjadi hal besar yang di luar bayangannya.
"Oke, memangnya Kakak punya bukti kalau kita ini adalah saudara kandung?" tanya Edward yang mencoba mengulur waktu agar tidak mengikuti gadis ini. Sebab perasaannya berkata jika dia sampai ikut dengan sang kakak maka nyawanya akan terancam.
"Kakak bohong. Itu tidak mungkin!" sangkal Edward yang berusaha menipu dirinya.
"Terus saja menyangkal,padahal bukti sudah di depan mata," sahut Jessi dengan sinis.
Akhirnya karena jengah dia mengarahkan gunting ke arah leher Edward dan meminta pemuda itu mengikuti langkahnya. Dengan cepat Jessi menuju loker Jeniffer dan mengeluarkan sebuah bungkusan yang membuat Edward membelalakkan matanya.
Beberapa benda tajam dan merobek boneka anjing berwarna hitam, terdapat beberapa buah bom air mata. Sebenarnya seberapa bahayanya gadis ini sehingga dapat memiliki barang ilegal seperti ini.
"Sekarang lo ikut gua, kita akan ke luar kota!" ucapan Jessi menghentak kesadaran Edward.
Ingin rasanya dia menolak keras, namun todongan gunting kini berubah menjadi pisau yang tentu saja akan melukai lehernya apabila salah berbicara sedikit saja. Karena ini akhirnya Edward terpaksa menyetujui perkataan Jeniffer yang telah dikuasai oleh Jessi.
"Lo bawa handphone ga?" tanya Jessi yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Edward.
"Good, kita ntar belanja dulu makanan selama di persembunyian. Pasti ada mobile banking kan lo?" tanya Jessi sambil menatap tajam mata sang adik tiri.
__ADS_1
"Baik, Kak," akhirnya Edward hanya dapat pasrah, tak ada gunanya lagi melawan ataupun memberontak jika nyawanya ingin selamat. Mungkin dari bibir sang kakaklah dia dapat mengetahui apa terjadi sampai gadis ini membenci keluarga Sukmajaya meskipun di belakang nama Jeniffer tersemat nama itu.
Jessi lantas melempar 2 bom gas air mata yang membuat sesak dan perih penglihatan orang-orang yang menghadang langkahnya. Saat ini Jessi seakan tidak menahan diri lagi akan perbuatan yang akan dilakukan olehnya. Satu sekolah langsung gempar karena kerusuhan yang dipicu oleh Jessi dan terpaksa memulangkan seluruh murid dengan cepat.
***
Jorgie yang datang bersama dengan Stanley dan Camelia tersentak saat mendapati ada keluarga dari suami mendiang kakeknya Meylani dan dengan cepat dia bertanya kepada Verry.
"Mengapa kalian keluarga Sukmajaya dapat berada di sini?" .
"Harusnya pertanyaan itu yang kami tanyakan kepada kalian?" tanya Gilda sinis.
"Maaf jika memanggil bapak dan ibu. Saya ingin memberi tahukan jika Jeniffer membawa kabur Edward," ucap Mister Daniel, sang kepala sekolah yang sudah tahu detail kejadiannya dari Mister Alvin.
"Bagaimana itu dapat terjadi?" tanya Jorgie terkejut.
"Apa itu mungkin seorang gadis membawa kabur seorang pria?" tanya Gilda dengan mengejek.
"Tapi itulah kenyataannya, Jeniffer menbawa kabur Edward? Apakah kalian menentang hubungan mereka karena nama belakangnya yang sama?" tanya Mister Alvin sengaja memberi umpan.
"Tidak mungkin mereka berhubungan karena mereka itu satu ayah!" jerit Gilda yang tidak terima jika asumsi sang guru tepat adanya.
"Kalau begitu adakah alasan yang logis kenapa Jeniffer dapat membawa kabur Edward?" tanya Mister Daniel yang mulai mengerti akar masalahnya.
Gilda langsung terdiam tak mungkin mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan Jeniffer sebagai keluarga Sukmajaya. Sementara Camelia mulai merasa pusing setelah mendengar kebenarannya, jika adik satu ayah Jeniffer juga bersekolah di sini.
"Lebih baik kita sertakan polisi untuk mencarinya," usul Mister Daniel.
"Untuk kali ini aku tidak akan melibatkan teman-teman polisiku, cukup kita beri laporan dan biarkan mereka yang berkerja sesuai prosedur." ucap Jorgie yang takut akan membahayakan nyawa dari teman-teman polisinya.
Cukup sudah kehilangan Armand membuatnya merasa menyesal seumur hidup. Untunglah Wisnu, anak dari Armand bekerja pada perusahaan mereka pada akhirnya sehingga Jorgie dapat menebus rasa bersalahnya dengan memberi sedikit bantuan kepada keluarga mendiang Armand.
"Baik biar Papa yang akan melapor, kalau kamu mau pulang duluan ga apa-apa. Ntar biar Wisnu yang menjemput kami." ucap Stanley sambil menepuk bahu sang putra.
Dan Risda hanya dapat menangis saat Jeniffer menculik Edward sambil berpikir mungkin ini balasan untuk mereka sebab keluarga Sukmajaya sudah menculik dan berniat melenyapkan gadis itu di masa lalu.
__ADS_1