
keluarga Sukmajaya akhirnya tiba di Jakarta, Edward segera ke kamarnya untuk beristirahat dan menyusun rencana untuk menghindarkan Jeniffer dari niat jahat yang akan dilakukan oles keluarganya.
Risda yang melihat gelagat aneh dari sang putra hanya dapat menghela nafas dan berdoa dalam hatinya agar tidak terjadi hal buruk lagi pada keluarganya.
Sebenarnya Risda ingin menyusul Edward ke kamar tapi tatapan mata sang mertua seakan menyerahkan bahwa dia harus terus berada di tempat ini. Akhirnya dengan terpaksa wanita berusia 39 tahun itu harus bergabung dengan keluarga Verry dan menyimak apa yang sedang mereka bicarakan.
"Jadi apa yang kita lakukan untuk menyingkirkan anak dari perempuan yang sudah mati itu?" Dion membuka rapat mendadak dengan pertanyaan yang membuat Risda terkejut.
"Ya kalau bisa jangan melalui tangan kita, setidaknya keluarga Sukmajaya tidak akan mengotori tangan untuk persoalan sepele seperti ini," sahut Gilda dengan nada lebih emosi.
"Apakah maksud Mama kita menggunakan orang lain untuk menyingkirkan anak itu?" tanya Verry yang mulai mengerti arah pembicaraan ini.
"Tapi apakah memang harus disingkirkan? Bukannya Jeniffer sudah diurus oleh keluarga dari ibunya?" tanya Risda yang keberatan dengan ide yang dikemukakan oleh Gilda.
"Anak sial itu harus disingkirkan, kalau tidak, dia akan berbahaya bagi keluarga Sukmajaya!" pekik Gilda saat mendengar Risda menyebutkan nama Jeniffer.
"Betul itu kata Mama kamu kalau kita tidak segera menyingkirkan anak itu,maka dia akan lebih berbahaya lagi untuk kelangsungan hidup keluarga Sukmajaya ini," ucap Dion yang sepakat dengan istrinya.
"Pa, Ma dan semuanya yang ada di sini, aku harap kalian mempertimbangkan untuk tidak mengganggu anak gadis itu. Bukankah kita mendapatkan pelajaran darimu dengan di bawah kaburnya Edward oleh Jeniffer?" Risda masih berusaha untuk membujuk keluarga suaminya itu.
"Ah, sudahlah! Kami sudah sepakat untuk meninggalkan anak sial itu agar mengganggu keluarga ini," ucap Gilda memutuskan pembicaraan untuk saat ini.
Dion dan kedua adik Verry segera meninggalkan rumah pria itu sementara Gilda masih berniat untuk menginap beberapa hari lagi.
***
Sementara itu di kediaman Stanley, Jeniffer yang masih terlihat lemas harga terbaring di ranjangnya membuat semua yang melihatnya merasa kasihan atas apa yang telah dialami oleh gadis itu.
__ADS_1
Bahkan Jorgie memutuskan untuk menginap bersama Aster dan David dalam beberapa hari sampai kondisi Jeniffer berangsur membaik.
Joseph sebenarnya ingin menjenguk gadis yang mulai menempati sudut hatinya, namun perkataan Edward kemarin sangat menggangu pikirannya dan dia sangat ingin bertemu dengan adik tiri Jeniffer tersebut. Lagipula dia menilai bahwa Edward itu berbeda dengan keluarga Sukmajaya. Pemuda itu terlihat mencemaskan Jeniffer walaupun tahu yang sebenarnya.
Maka dengan itu dia segera bergegas menuju ke rumahnya dan meretas smartphonenya milik pemuda itu yang sudah berada Kembali di tangan Edward. Meskipun Joseph tahu apa yang dilakukannya sangat tidak pantas, tapi hanya ini satu-satunya cara bagi pria itu untuk dapat berkomunikasi dengan Edward.
Tentunya dia tidak akan membicarakan kepada siapapun termasuk kedua orang tuanya tentang rencana yang akan dia susun bersama dengan Edward, itu juga jika pemuda itu setuju untuk berkerja sama dengan dirinya.
[Edward, ini Joseph, yang telah menyelamatkan kamu dan Jeniffer di Salatiga kemarin? Kapan kita dapat bertemu, aku terus kepikiran akan perkataan kamu yang harus berhati-hati.]
Pesan sudah terkirim dan tercentang dua, Joseph hanya tinggal menunggu jawaban pesan dari Edward. 20 menit sudah berlalu namun pesan yang dia kirimkan masih tercentang abu-abu yang menandakan bahwa Edward belum membacanya. Joseph menghela nafas kecewa mengira bahwa Edward tidak akan merespon pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Namun kekecewaan itu hanya bertahan sebentar karena tidak lama kemudian Edward membalas pesannya.
[Oke, Bang, cuma biar aku saja yang tentukan tempat dan waktunya. Karena kita sama-sama sibuk sekolah dan kerja bagaimana saat akhir pekan saja? Antara Sabtu atau Minggu, tapi tidak dalam waktu dekat sebab seluruh keluargaku mengawasi ke manapun aku pergi.]
Joseph tersenyum lebar saat percakapan via pesan itu berakhir. Paling tidak dia harus berusaha semaksimal mungkin menjauhkan Jeniffer dalam bahaya. Meskipun pada akhirnya keputusan akhir tetaplah di tangan Tuhan.
***
Edward tidak menyangka akan mendapatkan pesan dari pria yang telah menyelamatkan dia dan sang kakak tiri , bahkan Joseph menawarkan untuk bertemu sebab terus kepikiran akan perkataannya saat di rumah sakit kemarin.
Tanpa sadar dia menghela nafas sehingga membuat Risda yang sedang memasak untuk makan malam menoleh ke arahnya dan bertanya, "Ada apa sampai membuat kamu menghela nafas kencang seperti itu?"
"Tidak apa-apa, Ma, mungkin Edward bosan di rumah, mau jalan-jalan ke Mall. Tapi Edward sadar untuk sekarang ini pasti tidak akan diizinkan oleh oleh Papa," ucap Edward lirih.
"Nanti Mama tanya ke Papa, ya. Yang penting kamu sehatin badan kamu dulu," ucap Risda yang sedang memotong oyong untuk dibuat sup.
__ADS_1
"Bener ya, Ma? Tanyain Papa ya?" tanya Edward dengan mata berbinar. Kalau diizinkan dia akan bebas menemui Joseph tanpa khawatir dipergoki oleh keluarganya.
"Iya," sahut Risda yang kembali meneruskan memasak.
***
Gilda yang masih menginap di rumah Verry terus berpikir bagaimana caranya agar menyingkirkan Jeniffer tanpa diketahui oleh siapapun. Wanita paruh baya itu semakin tidak menyukai gadis yang semakin mirip dengan Meylani. Dia serasa melihat hantu jika melihat Jeniffer.
Gilda jadi mengingat saat dia mengetahui bahwa Meylani mengandung anak perempuan dan semenjak itu mulai membenci menantunya itu.
Tangisan Meylani tidak dia indahkan dan mengatakan bahwa perempuan itu lemah dan cengeng karena tidak dapat menyelesaikan tugas yang dia berikan. Gilda tidak memperbolehkan Verry mempekerjakan asisten rumah tangga dengan alasan untuk memudahkan Meylani melahirkan secara normal.
Tentu saja itu semua hanya akal-akalan Gilda yang ingin menyiksa fisik dan mental Meylani dengan harapan janin yang dia kandung tidak dapat bertahan dan harus digugurkan. Namun perhitungannya meleset, ternyata Jeniffer itu sudah kuat dari dalam kandungan.
"Tidak ibunya tidak anaknya, sama-sama menyusahkan saja," geram Gilda sembari meremas foto Meylani yang masih dia simpan.
"Andai saja kamu mengandung anak laki-laki, semua ini tidak perlu terjadi," ucap Gilda pada ruang kosong.
Edward yang melewati ruang tamu tentu saja melihat dan mendengar apa yang dilakukan oleh sang nenek, sebab pintu itu terbuka sedikit. Dalan hati pemuda itu dia semakin tidak mengerti akan pemikiran dari keluarganya yang mengharuskan anak sulung Sukmajaya adalah laki-laki. Bukankah itu sama saja dengan menyangkal kuasa Tuhan, pikirnya dalam hati.
Brakk
Tanpa sengaja dia menyenggol hiasan berbentuk burung yang terbuat dari plastik sehingga jatuh dan menimbulkan suara. Dengan cepat Edward segera meninggalkan ruangan tamu sebelum sang nenek menyadari keberadaan dirinya akibat terlalu fokus dengan pemikirannya. Bahkan Gilda tidak mendengar suara hiasan yang jatuh di depan kamar tamu.
"Ini sungguh berbahaya untuk Cici, bagaimana aku dapat menghindarkannya dari bahaya?" tanya Edward pada dirinya.
Akhirnya selama 15 tahun masa kehidupannya, Edward baru mengalami kekecewaan yang teramat besar dan itu semua bukan berasal dari orang lain melainkan dari keluarganya sendiri.
__ADS_1