Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
86. Sebuah akhir untuk awal perjalanan yang baru


__ADS_3

Jeniffer diperbolehkan untuk pulang 3 hari kemudian, karena kejadian itu membuat Jorgie menambah pengawasan dan memperkerjakan beberapa bodyguard untuk Jeniffer. Pria itu merasa resah sebab mengetahui kematian Verry dari mulut ayah mertuanya.


Tapi Jeniffer tentu saja keberatan jika harus diberikan banyak orang bodyguard dengan alasan dia bukan orang penting seperti anak pejabat atau artis terkenal.


"Tapi kamu kan selegram yang udah punya ratusan ribu follower jadi sama aja udah jadi artis terkenal," kilah Jorgie membuat Jeniffer memberengut karena kalah debat dengan sang om.


"Jeni, dengerin kata Aqiu kamu, kita enggak akan tahu bahaya apa lagi yang mengintai kamu," tegur Camelia membuat Jeniffer menghela nafas panjang.


Sekarang yang hanya dapat dia lakukan adalah pasrah dan mengucapkan selamat tinggal pada kebebasannya.


"Enggak apa-apa koq, Jeni, ini kan cuma sementara aja sampai keadaan kamu aman," Stanley ikut menghibur hati sang cucu yang semakin murung.


Sementara Aster dan Joseph hanya dapat berdiam diri tidak tahu harus menanggapi apa.


"Pak, Bu maaf di luar ada tamu yang mengaku bernama Risda dia datang bersama seorang remaja pria tanggung,' obrolan mereka harus terjeda karena sang art memberi tahukan jika ada tamu yang berkunjung.


Semua keluarga Ongtara berkerut saat mengingat Risda adalah istri dari Verry. Jorgie sampai berdecak kesal sambil berucap, " Mau apa lagi keluarga Sukmajaya datang ke sini?"


"Jorgie, tahan emosi kamu. Bukannya tadi Parti bilang kalau yang ada adalah Risda dan seorang remaja tanggung?" tegur Stanley saat mendengar sang putra terbawa emosi.


"Iya, lebih baik kita temui mereka sekarang." ajak Camelia menuju ruang tamu.


***


Risda meneguk salivanya saat melihat enam orang mulai mendekat ke arahnya dan Edward. Dia sudah membuat keputusan dan Dion akhirnya mengabulkannya dengan syarat dia akan tetap berada di kota ini.


"Selamat siang, maaf mengganggu. Saya Risda hanya ingin mengatakan jika Jeniffer tidak perlu takut dengan ancaman dari keluarga Sukmajaya. Amannya Jeni dan Edward sudah ditangkap pihak kepolisian dan kasusnya sedang berjalan," Risda menjeda ucapannya sejenak untuk memenuhi rongga dadanya dengan udara.


"Saya mengajukan penawaran kepada Papa mertua saya jika tidak akan meninggalkan kota ini asalkan mereka tidak mengusik Jeniffer. Saya sudah cukup kehilangan Papanya Edward dan tidak mau merasakan kehilangan lain jika mereka masih memaksakan kehendak untuk mencari masalah dengan Jeniffer," Risda merasa plong saat menyelesaikan kalimatnya ini.


"Mengapa kamu sampai berbuat sejauh ini? Bukannya kamu bisa memilih balas dendam?" tanya Jorgie yang penasaran dengan maksud Risda.


"Karena saya inginkan adalah ketenangan jiwa, sudah cukup mahal harga yang harus saya bayar dengan kehilangan Papanya Edward karena pertikaian ini," ucap Risda sambil menundukkan kepala.


"Tapi apa kamu yakin jika mertua kamu tidak akan mencari masalah lagi dengan Jeniffer?" tanya Jorgie dengan tajam.


"Saya yakin, apalagi kemarin saya telah membuat perjanjian hitam di atas putih yang menyatakan jika saya tidak akan pulang ke kampung dengan syarat mereka tidak akan mengganggu Jennifer lagi. Jika mereka melanggar saya akan memperkarakan kasus ini dan membawa Edward pulang ke Singkawang," jawab Risda dengan mantap.


"Baiklah kalau kamu sudah berkata seperti itu, kami akan mencoba percaya. Tapi jika mertua kamu berani mengganggu Jennifer lagi, kami tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas," ucap Stanley.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertiannya, ada satu hal yang saya ingin katakan kepada Jeniffer..." Risda memotong ucapannya dengan mata tertuju ke arah putri mendiang suaminya.


"9 tahun yang lalu, Saya minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan kamu secepat mungkin. Andai saja saya tidak ragu mungkin kamu tidak akan memiliki dua pribadi di dalam tubuh kamu," Jeniffer khasiat saat mendengar penuturan dari Risda.


"Dari mana Ai tahu jika Saya memiliki kepribadian ganda selama ini?" tanya Jeniffer sambil menunjuk ke arah Risda dan Edward.


"Aku aku yang mengatakan pada Mama Ci jika kamu memiliki kepribadian ganda," sahut Edward dengan jantung berdegup.


"Ah, lo rupanya yang bilang toh. Mulut ember juga ya, lo," ucap Jeniffer dengan nada sinis.


"Aku bukannya ember Ci, aku hanya mengatakan yang sebenarnya biar kedepannya tidak ada masalah dengan Cici dan keluarga ini," sahut Edward dengan wajah menunduk, pemuda itu merasa seperti menunggu eksekusi kematian dari malaikat maut.


"Jeniffer, mereka sudah minta maaf jadi kita maafkan saja. Lagi pula kalau kedepannya mereka masih cari masalah dengan kamu ya sudah biarkan dan jangan melawan kalau belum keterlaluan," kata Camelia dengan lembut.


"Hmmm, kalau kata Phopho begitu ya udah deh aku nurut saja," ucap Jeniffer sambil mencebikkan bibirnya.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya,maafkan atas kesalahan keluarga kami dan tolong ampuni kesalahan Verry agar jalannya tidak berat di sana," ucap Risda sebelum berpamitan.


Mereka semua memandang punggung sepasang ibu dan anak yang mulai menjauh lalu menghilang.


"Aqiu, lihat kan, mereka enggak akan ganggu aku jadi enggak usah pakai bodyguard segala," ucap Jeniffer dengan nada riang membuat Jorgie menghela nafas kesal.


Semua yang berada di ruangan itu ikut tertawa saat melihat Joseph yang wajahnya memerah akibat rasa malu.


"Kalau begitu saya juga mau mengatakan sesuatu, mumpung semua lengkap," ucap Joseph yang mulai menghilangkan rasa malu akibat diledek oleh Jorgie.


"Saya akan menunggu Jeniffer sampai lulus kuliah dan bekerja lalu akan melamarnya," Aster hanya tersenyum saat melihat keberanian sang adik saat melamar wanita pujaannya yang saat ini masih SMA.


"Apa kamu bisa tahan dan tidak berpaling ke wanita lain yang secara fisik dan mental siap menikah?" tanya Stanley yang ingin menguji pemuda itu.


"Saya yakin tahan, lagian hati saya sudah dicuri dan digembok sama Jeniffer jadi susah untuk melirik ke wanita lain," ucap Joseph yang membuat Jeniffer tersipu malu.


"Sumpah, Jos, koq kamu jadi pinter gombal gini sih, Kakak yang dengernya agak cringe loh," ucap Aster sambil memeluk dirinya karena merinding setelah sang adik menyelesaikan kalimatnya.


"Kalau begitu buktikan saja," ucap Stanley kembali


"Pasti," sahut Jorgie dengan mantap.


***

__ADS_1


8 tahun kemudian


Jeniffer tampil cantik dengan balutan gaun putih panjang yang ekornya mencapai 2 meter, ditambah dengan viel dan tiara yang semakin membuat penampilan gadis itu menjadi cantik. Namun dadanya berdegup kencang menantikan acara yang sebentar lagi akan berlangsung.


Jorgie juga tidak kalah gugup dengan sang ponakan. Pria itu bahkan mengelap keringatnya berkali-kali, padahal ruangan ini sangat dingin dengan AC yang berhembus di atas kepala. Aster yang berada di dalam ruangan sampai harus menyeka keringat keduanya berkali-kali.


Untung saja David yang berumur 9 tahun sudah dapat menjaga adik kembarnya yang berusia 7 tahun membuat fokus Aster tertuju kepada Jorgie dan Jeniffer.


"Kalian ini jangan tegang lihat MUA-nya sampai mesti retouch riasan kalian berkali-kali," ucap Aster dengan nada menggoda.


"Qiume enggak ngerasain jadi aku sih, tegang banget ini," rajuk Jeniffer membuat Aster tertawa.


"Lah Qiume kan udah pernah nikah jadi tahu dong. Udah bayangin aja muka Joseph yang ganteng pasti gugup kamu bilang," ujar Aster sambil menatap mata Jeniffer teduh.


"Jangan gugup, tenang saja Joseph itu pria yang bertanggung jawab dan selama 8 tahun ini enggak pernah berpaling dari kamu," Aster kembali berkata untuk menenangkan hati Jeniffer.


"Yang, aku enggak ditenangin?" protes Jorgie akhirnya.


"Kamu mau ditenangin apaan, Yang, lagian kenapa kamu jadi sentimentil gini sih ?" tanya Aster sambil mengecup pipi kiri sang suami.


"Yang ini ga dikecup?" kata Jorgie sambil memanyunkan bibirnya.


"Itu nanti malam saja," sahut Aster sambil mencubit pinggang sang suami yang menurutnya mulai ganjen ini.


"Semuanya perhatian, acara pemberkatannya mau dimulai. Mempelai wanita dan walinya sudah siap?" tanya salah satu orang EO.


"Sebentar lagi ya, Mas, ini pada tangis-tangisan jadi mesti retouch riasan lagi sebentar. Kasih 5 menit untuk kami bersiap," sahut Aster yang ditanggapi anggukan kepala oleh orang EO.


"Nah, dengar itu. Cepat kalian berdua bersiap dan jangan ada yang nangis-nangisan lagi. Mbak, tolong di touch kembali ya wajah mereka berdua." Mbak MUA segera melaksanakan tugasnya.


***


Jorgie dan Jeniffer mulai melangkah ke arah altar, kerudung Jeniffer menutupi wajah gadis itu dan keduanya perlahan tapi pasti mendekat ke arah Joseph yang sudah menunggu di altar dengan seorang pendeta yang akan memberkati.


Setelah Jorgie menyerahkan tangan Jeniffer kepada Joseph, kedua nya langsung berpegangan tangan sambil menatap wajah masing-masing lalu bersiap untuk ucapkan janji sehidup semati di hadapan Tuhan.


Keduanya memang telah mencapai akhir yang diinginkan yaitu pernikahan, tapi ini bukanlah benar-benar akhir karena sejatinya pernikahan adalah awal dari sebuah perjalanan kedua insan sampai maut memisahkan.


Ending

__ADS_1


__ADS_2