Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
31. Joseph mulai teringat akan Jeniffer


__ADS_3

Malam harinya saat makan malam, Karina membicarakan tentang Jeniffer kepada James dan Joseph. Sambil mengunyah makanan wanita itu dengan antusias menceriterakan apa yang dia lakukan dengan cucu sang teman.


"Pa, ternyata Jeniffer anak yang menyenangkan. Tadi dia makan lahap banget sup bebek yang mama masak."


"Mama ga usah geer dulu, siapa tahu Jeniffer memang lagi lapar aja, makanya dia lahap makan masakan mama." ucapan James sontak saja membuat Karina cemberut.


"Ah, Papa mah gitu. Bukannya di puji masakan istrinya malahan di ledekin." Rajuk Karina membuat James tertawa.


"Siapa yang ledekin masakan Mama, Papa cuma bilang jangan geer aja karena biar gimana itu anak belum tentu selamanya akan cocok sama masakan Mama. Siapa tahu aja tadi memang Jeniffer lagi lapar makanya dia makan aja." jelas James setelah tawanya mereda.


"Joseph, kalau menurut kamu bagaimana sup bebeknya ?" tanya Karina kepada Joseph yang sedang melamun.


Tentu saja dia tidak memperhatikan apa yang menjadi topik pembicaraan di antara kedua orangtuanya. Karena itu Joseph tersentak saat namanya dipanggil dan dengan cepat menjawab. " Ah, tentu aja dia itu cantik, Ma."


James dan Karina sontak saja menghentikan perdebatan singkat itu dan mengarahkan kepala ke arah Joseph yang wajahnya memerah.


"Kamu melamun ya, Jos?" tanya James yang lebih terdengar seperti pernyataan.


"Iya nih, ga biasanya anak ganteng Mama melamun, ayo ngaku siapa yang kamu bilang cantik. Padahal mama cuma tanya pendapat kamu mengenai rasa sup bebek." ucap Karina sambil memicingkan matanya.


Joseph yang sadar bahwa dia telah melanin hanya dapat tersenyum canggung, mana mungkin dia mengatakan pada orang tuanya kalau Joseph SEDIKIT , catat sedikit memikirkan Jeniffer. Namun hati kecilnya dilema apakah harus membiarkan perasaan ini tumbuh mekar ataukah harus segera mematikannya?


Hey, Joseph merasa seperti pedofil saja jika sedang berjalan dengan Jeniffer. Perbedaan usia mereka yang terpaut 8 tahun membuatnya ragu untuk melangkah dan ditambah status gadis itu yang keponakan dari kakak iparnya membuat Joseph merasa tidak pantas untuk menjadikan gadis itu kekasihnya.


"Jos, apa semua baik-baik saja?" tanya James yang melihat sang putra yang hanya terdiam..


"Oh, iya semuanya baik-baik aja, Pa. JorTes Antivirus juga semakin diminati oleh banyak perusahaan." Jawab Joseph cepat tidak menyadari jika raut wajah sang ayah mulai berubah.


"Joseph, kamu tahu jika maksud papa itu bukan nanyain soal antivirus ciptaan Aster dan kamu." ucap James dengan nada tegas.

__ADS_1


"Joseph, kamu kenapa, Nak? Apa kamu kecapean? Kurangin kerjanya, ya. Kamu udah cukup sukses koq di mata mama." Joseph hanya meringis saat Karina mengkhawatirkannya untuk hal yang jelas seperti ini.


"Joseph ga apa-apa koq. Ma, Pa. Iya mungkin kecapean karena ada proyek yang sudah harus di luncurkan dalam waktu 3 bulan ini, makanya Joseph ga fokus akhirnya." Joseph memilih jawaban yang paling aman menurutnya.


"Cari duit boleh, tapi jangan lupa cari pacar juga. Mama rasa penghasilan Kamu dalam sebulan cukup untuk membeli sebuah mobil murah." ucap Karina dengan nada khawatir.


"Masalahnya belum ada cewek yang cocok di hati Joseph." kalau yang ini jelas pria itu berdusta sebab tanpa disadari olehnya, Jeniffer sudah masuk ke dalam kehidupannya dan memporak-porandakan hatinya.


"Atau sebenernya udah ada cewek yang deketin kamu, cuma kamunya yang cuek kayak gini jadi ceweknya kabur lagi." Joseph meringis saat mendengar tudingan dari sang ibu.


Dan otaknya langsung mengingat-ingat siapa saja gadis yang pernah singgah di dalam kehidupannya. Apakah Novita, teman sekampusnya yang dulu merawat Aster sang kakak yang sempat terkena gangguan jiwa termasuk? Tapi seingatnya Novita tidak memberikan kode atau tanda lain jika gadis itu menyukai Joseph. Dan lagi saat dia mulai kembali membuka memorinya dengan tidak sopannya wajah, suara dan wangi tubuh dari Jeniffer memenuhi pikirannya. Apa itu artinya dia mulai jatuh dalam pesona gadis belia itu? pikirnya dalam hati.


"Ya sudah kalau belum ketemu jodohnya, kamu perkuat aja keimanan kamu agar nanti setelah menikah dapat menjadi pemimpin keluarga yang baik. Karena biar bagaimanapun laki-laki itu dalam harus mengasihi istri dan jangan melakukan perbuatan yang akan melukai perasaan ataupun fisik istri. Kamu mengerti, Jos?" Joseph hanya mengangguk saat James memberikan sedikit wejangan untuknya.


"Dan satu lagi, jika keluarga dari calon istrimu tidak menyukai kamu. Kamu harus mundur, mama ga mau kejadian yang udah menimpa Aster terjadi juga sama kamu." ucap Karina saat mengingat penderitaan Aster saat pernikahan pertamanya.


Bagaimana sang putri di tampar dan di Jambak oleh sang mertua, Mira yang memang telah mengusir Aster.


"Mama cuma ingat perlakuan yang diterima Aster sama mantan mertuanya yang gila itu." ucap Karina sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan kanan.


"Sudahlah Ma, jangan di ingat-ingat lagi, lagian sekarang Aster sudah menikah lagi dengan Jorgie. Dia itu lelaki yang mau instrospeksi akan kesalahan yang telah dia buat dan besan kita juga orang yang pikirannya bukan yang kolor kan?" ucap James menenangkan Karina.


"Tapi Pa, saat mama lihat sorot mata Jeniffer. Mama seperti melihat ada kebencian, kerapuhan dan kemarahan yang bercampur. Mama jadi khawatir dengan gadis itu apakah Camelia dan Stanley tahu tentang ini."


"Mama juga tahu kan kalau prasangka itu belum tentu benar. Bisa jadi itu hanya sebatas kekhawatiran mama aja karena Aster sudah menikah dan mama kesepian saat Papa dan Joseph kerja." kembali James mengemukakan pendapatnya.


"Tapi apakah selama ini Papa pernah lihat prasangka Mama meleset? Bukankah karena perasaan Mama, kita dapat menyelamatkan Aster dari rumah mantan mertuanya yang gila itu." Karina tetap menampik apa yang dikatakan oleh James dan memilih membesarkan dugaannya di dalam hati mengenai Jeniffer.


"Kalau Mama sebegitu khawatir sama Jeni, ya tinggal minta dia datang aja sering-sering saat pulang sekolah. Papa lihat semenjak ada Jeniffer, Mama mau main medsos."

__ADS_1


Joseph yang pada kesempatan kali ini tidak melamun ikut meresapi apa yang dikatakan oleh Karina dan tiba-tiba ingatannya memayang pada saat dia dan Jeniffer bertemu di depan restoran Padang. Pandangan matanya amat liar setelah itu berubah menjadi kosong hingga Joseph cemas jika terjadi apa-apa dengan Jeniffer


Saat Joseph memanggil nama Jeniffer dengan kencang barulah gadis itu kembali mendapatkan kesadarannya, namun yang membuat Joseph curiga adalah Jeniffer seperti tidak menyukai berada di restoran itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu? Pikir Joseph dalam hati.


Bahkan sampai beranjak ke peraduannya, wajah Jeniffer selalu terbayang-bayang di benaknya. Joseph sudah melakukan semua daya upaya untuk mengenyahkan wajah cantik dan menggemaskan itu. Namun bukannya semakin memudar, nyatanya Jeniffer semakin kuat terpatri di dalam hati dan pikirannya.


"Huffftt, apa yang harus aku lakukan? Apa kata dunia jika aku berpacaran dengan keponakan kakak iparku sendiri."dengan mengusap wajah kasar Joseph menggerutu.


"Apa aku tes game baru saja ya?" tanya Joseph akhirnya.


Memang awalnya pria itu menikmatinya, namun pada menit ke-30, kembali wajah Jeniffer terlintas dan mengacaukan permainan Joseph. Hasilnya tentu saja dia kalah dan semakin bersunggut-sunggut.


"Minum susu aja deh. Siapa tahu bisa tidur." putus Joseph akhirnya, penampakannya sudah seperti orang yang otaknya kurang seons. Acak-acakan dengan kantung mata yang mulai membesar akibat kurang tidur beberapa lama.


Joseph pun turun menuju dapur dan membuka persediaan makanan yang ada. Sebungkus ramen pedas menarik hatinya, mungkin tidak apa-apa sesekali makan mie instan di tengah malam. Pikirnya sambil merebus air dalam panci yang khusus digunakan untuk memasak mie instan.


"Kamu malam-malam masak mie?" tanya Karina yang terbangun karena mendengar sayup-sayup suara yang berasal dari dapur.


"Iya Ma, Joseph lapar lagi jadi ga bisa tidur." jawab Joseph sambil memasukkan mie ke dalam panci tidak lupa dia menambahkan 2 potong sosis dan bakso sapi untuk menambah cita rasa dari ramen instan itu.


"Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Karina.


"Tidak ada Ma." jawab Joseph berdusta, dia belum siap menceritakan perasaan yang dia rasakan terhadap Jeniffer sekarang. Rasanya masih ada yang mengganjal.


Karina menghembuskan nafas panjang, dia tahu sang putra berbohong. Tapi untuk memaksa Joseph bercerita, Karina tahu bahwa sang putra sudah dewasa untuk mengambil keputusan sendiri. Maka dari itu dia yang akan menunggu Joseph untuk bercerita.


"Ma, kalau seandainya Joseph sudah ketemu gadis yang cocok. Apakah Mama bersedia menunggu sekitar 5 atau 6 tahun lagi agar Joseph menikah?" Karina yang mendapatkan pertanyaan seperti itu tentu saja terkejut, namun sedetik kemudian dia mengurai sebuah senyuman.


"Mama akan menunggu walau itu 10 tahun lagi, jadi biarkan hati kamu mantap dulu baru menikahi anak orang. Mama ga mau calon mantu Mama bernasib sama seperti kakak kami dulu."

__ADS_1


Joseph tersenyum saat mendengar perkataan Karina, mungkin waktu 10 tahun cukup baginya untuk menunggu Jenifer agar mencapai usia pantas untuk menikah.


'Oke, gadis kecil kamu sudah berhasil menarik perhatianku. Aku akan melihat usaha apa lagi kamu lakukan.' ucap Joseph dalam hatinya.


__ADS_2