Aku Bukan Gadis Kecil, Om!

Aku Bukan Gadis Kecil, Om!
72. Bertemu secara tidak sengaja


__ADS_3

Jeniffer mulai menikmati kehidupan sekolahnya yang baru, meskipun Ineke dan Ranty selalu mengusili gadis itu yang tentu saja tidak mempan malahan keduanya yang terkena jebakan yang mereka buat untuk Jeniffer.


Sedangkan Helen yang memang tidak mengetahui apa-apa, masih Jessi perkenankan untuk berteman dengan Jeniffer karena pribadi kedua itu menilai Helen adalah sosok gadis lugu yang tidak memiliki niat buruk.


Jeniffer sedang menyantap batagor di kantin saat istirahat pertama sementara Helen meminum es jeruk karena rasa pedas yang menjalari lidah ketika selesai memakan semangkuk bakso dengan sambal sebanyak 5 sendok makan.


"Syukurin, siapa suruh naro sambel banyak-banyak. Enak kagak pedes iya," ujar Jeniffer mencibir Helen yang memerah wajahnya.


"Gua kan mau dibilang udah gede sama crush. Habis tiap pergi selalu cuma bisa makan yang manis kalau enggak asin," ucap Helen yang sedang mendinginkan lidahnya dengan es batu.


"Iya gua tahu, tapi enggak usah juga tuh sambel banyak-banyak, kan," sahut Jeniffer yang kembali asyik mengunyah batagornya.


"Terus gimana dong biar crush enggak anggap gua anak kecil lagi?" tanya Helen dengan lirih.


Jeniffer langsung teringat dengan Joseph yang memperlakukannya sebagai anak kecil. Tanpa sadar dia menghela nafas, apa bedanya dia dengan Helen.


"Kenapa muka lo koq kayak sedih pas selesai gua ngomong tadi?" tanya Helen yang tidak sengaja melihat perubahan raut wajah Jeniffer.


"Mungkin karena gua keinget sama crush gua yang anggap gua anak kecil," sahut Jeniffer lirih.


"Serius lo punya crush, kayak gimana orangnya?" tanya Helen antusias.


"Putih, tinggi, ganteng, pinter, sayang ortu dan kakak perempuannya sama tatapan matanya itu kayak buat gua meleleh," ucap Jeniffer sambil membayangkan ciri Joseph.


"Koq kenapa ciri-ciri yang lo sebut itu percis sama crush gua? Apa jangan-jangan kita punya crush yang sama?" tanya Helen setengah memekik sehingga membuat Jeniffer kesal.


"Mana mungkin crush kita sama, oon! Lagian crush gua itu adek ipar Aqiu gua. Gua mana pernah lihat dan denger om Joseph pergi sama cewe lain," balas Jeniffer dengan sengit.

__ADS_1


"Oh nama crush lo, om Joseph. Memang beda deh nama crush gua om Evan," ucap Helen yang langsung tertawa sendiri saat membayangkan wajah sang crush.


"Gua penasaran nih,ya. Memangnya umur om Evan lo itu berapa sih? Sampai lo manggilnya om?" tanya Jeniffer yang langsung menghabiskan jus sirsaknya.


"24 tahun, masih muda sih ya, cuma kalau dibandingkan sama kita yang masih 16 tahun itu kan jauh umurnya. Nah, kalau umur om Joseph lo berapa?" Helen balik bertanya.


"Sama 24 tahun juga, kenapa juga kita mesti demen cowo yang udah matang kayak mereka,ya?" tanya Jeniffer yang lalu menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Mungkin karena bokap gua meninggal pas gua umur 3 tahun kali,ya? Jadi gua mencari sosok pengganti bokap melalui cowok dewasa," ujar Helen mengemukakan apa yang ada didalam pikirannya.


"Oh, berarti gua juga gitu kali. Gua di tinggal ortu gua dan tinggal sama Akhung, Phopho dan Aqiu gua jadi saat lihat om Joseph, hati gua bergetar," ucap Jeniffer tanpa sadar yang untungnya juga tidak terlalu disimak oleh Helen karena gadis itu sedang melamun.


Bunyi bel masuk menyadarkan keduanya dari lamunan dan segera bergegas menuju kelas. Jeniffer memasang tanda alarm di otaknya. Menanti hal apa lagi yang dilakukan oleh Ineke dan Ranty untuk mengerjai dirinya.


Dengan langkah perlahan dan mata memindai keadaan sekitar, Jeniffer berjalan santai dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan kedua gadis itu jika dia sudah mengetahui jebakan apa yang dipersiapkan untuk mempermalukan dirinya.


Bahkan Jeniffer dapat melihat seringai sinis dari wajah keduanya yang hanya ditanggapi diam olehnya. Gadis itu sengaja melangkah menuju jebakan sebelum akhirnya berputar arah dengan alasan mau ke toilet dan ikut juga menyeret Helen agar tidak terkena jebakan air kotor yang di taruh di atas pintu kelas.


Sementara itu Ineke dan Ranty yang melihat targetnya menjauhi jebakan langsung memucat, karena menyadari bahwa sebentar lagi guru yang mengajar akan segera tiba di kelas. Tidak mungkin juga bagi keduanya untuk membereskan jebakan itu secepat mungkin.


Dan benar saja hanya dalam hitungan detik Jeniffer dan Helen menghilang, Miss Ribka guru bahasa Indonesia yang hari ini berdandan cetar karena akan bertemu dengan sang pacar sepulang mengajar tersentak saat kaki kanannya menyentuh tali dan tak lama kemudian ember yang berada di atas pintu jatuh mengenai guru yang berusia 25 tahun itu.


Argggghhh


Teriakan langsung keluar dari bibir Miss Ribka dan membuat kedua gadis pembuat jebakan itu meneguk salivanya. Mereka sudah membayangkan hukuman apa yang akan diterima.


***

__ADS_1


Jam pulang sekolah pun berbunyi, Helen mengajak Jeniffer untuk menemui sang crush yang katanya sih akan mengajak anak didiknya untuk makan-makan sebelum pertandingan persahabatan melawan sekolah lawan dihelat sekitar 1 minggu lagi.


Jeniffer menangkap inti cerita dari Helen yang berkata sang crush adalah tetangga dan teman dari sang kakak lelaki. Gadis itu mengangguk paham mengapa si Evan Evan itu menganggap Helen anak kecil. Bertetangga semenjak dirimu masih berada dikandungan ibumu, itu pasti membuat sang crush yang berbeda jauh umur itu memperlakukan kamu seperti anak kecil.


"Helen, katanya crush lo itu mau ajak makan anak-anak didik basketnya? Kenapa kita mesti ikutan sih? Yang ada malah menganggu," ucap Jeniffer yang mulai mengantuk. Dia tidur terlalu larut akibat kebiasaannya menonton drama. Untungnya istri omnya, Aster tidak mempermasalahkan hal itu.


Memang Jorgie yang meminta Jeniffer untuk tinggal bersamanya di penthouse demi keamanan dari gadis itu. Camelia bahkan mewanti-wanti sang cucu agar tidak terlalu merepotkan Jorgie dan Aster. Apalagi David masih di bawah setahun yang otomatis memerlukan banyak istirahat daripada orang dewasa.


"Ya enggak apa-apa, dong, Jeni, om Evan pasti enggak akan nolak," ucap Helen dengan kepercayaan diri yang tinggi. Sejenak Jeniffer melihat bahwa gadis itu memiliki persamaan dengan dirinya. Sama-sama tidak mengenal sosok ayah dan menyukai pria matang.


"Ya udah kalau gitu, cuma kalau suasananya udan mulai enggak enak ntar, janjian salahin kalau Gus kabur duluan," ucap Jeniffer dengan sedikit tertawa.


"Iya janji deh, gua enggak akan marah," kata Helen lalu menarik tangan Jeniffer untuk memasuki restoran tempat Helen mendatangi sang crush.


"Nah itu dia, orangnya," ucap Helen setelah memindai keadaan restoran.


"Om Evan, udah mulai makannya belum? Aku dan temenku ikutan,ya?" suara nyaring Helen membuat semua mata memandang ke arahnya dan tambah terkejut saat melihat siapa gadis yang berada di samping Helen.


"Jeniffer!"


"Kak Jeniffer!"


'****, kalau tahu crushnya coach Evan, gua ga bakal mau ikutan!" maki Jeniffer saat Leo dan beberapa teman seangkatan serta adik kelasnya memanggilnya.


Reaksi Leo tentu saja yang paling senang, sementara Edward antara senang dan ketar ketir karena dia yakin sebentar lagi keluarganya pasti dapat mengetahui keberadaan Jeniffer.


Helen hanya dapat bingung saat melihat Jeniffer yang ternyata kenal dengan anak-anak didik dari sang crush. Evan yang menangkap berbagai reaksi langsung mencoba menguasai keadaan.

__ADS_1


"Ehemmm, sekarang kita makan dan saya harap jangan ada yang bertanya apa-apa sama Jeniffer, mengerti?"


Jeniffer meringis dan berpikir jika hanya bersembunyi di dalam kota itu percuma saja karena terbukti hanya dalam beberapa minggu dia bertemu dengan teman-teman sekolah lamanya.


__ADS_2